Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

“Kau mau aku mengunci pintu-pintu supaya kau bisa membantai orang-orang kota tak berdosa ini?” bisikku penuh konspirasi.

“Dan apa peranmu dalam adegan itu?” Ia menatapku geram.

“Oh, tentu saja aku bersama kelompok vampir.”

Ia tersenyum enggan. “Apa pun asal kau tidak perlu berdansa.”

“Apa pun.”

Ia membayar tiket kami, kemudian membimbingku ke lantai dansa. Kupeluk lengannya, dan menyeret kakiku.

“Aku punya waktu semalaman,” ia mengingatkan.

Akhirnya ia menarikku ke tempat keluarganya sedang berdansa elegan—boleh dibilang dengan gaya yang sangat tidak sesuai dengan musik masa kini. Aku memperhatikan mereka dengan ngeri.

“Edward.” Tenggorokanku benar-benar kering, hingga aku hanya bisa berbisik. “Aku benar-benar tidak bisa berdansa!” Bisa kurasakan rasa panik bergejolak dalam dadaku.

“Jangan khawatir, bodoh,” ia balas berbisik. “Aku bisa.” Ia melingkarkan tanganku di lehernya, mengangkatku, lalu meletakkan kakinya di bawah kakiku.

Kemudian kami pun berdansa.

“Aku merasa seperti berumur lima tahun,” aku tertawa setelah beberapa menit berdansa waltz tanpa perlu bersusah payah.

“Kau tidak kelihatan seperti berumur lima tahun,” gumamnya, sesaat menarikku lebih rapat, sehingga kakiku sedikit terangkat dari lantai.

Alice dan aku bertemu pandang saat kami berputar dan tersenyum menyemangati—aku balas tersenyum padanya. Aku terkejut menyadari aku menikmatinya… sedikit.

“Oke, ini tidak terlalu buruk,” aku mengakui.

Tapi tatapan Edward kini terarah ke pintu, wajahnya tampak marah.

“Ada apa?” aku bertanya keras-keras. Aku mengikuti arah pandangannya, tidak fokus akibat berputarputar, namun akhirnya aku bisa melihat apa yang mengganggunya. Jacob Black, tidak mengenakan tuksedo melainkan kemeja putih lengan panjang dan dasi, rambutnya ditarik licin dalam kuncir kuda. Ia berjalan menghampiri kami.

Setelah kaget waktu mengenalinya tadi, kini aku merasa kasihan pada Jacob. Ia jelas-jelas merasa tidak nyaman—teramat sangat tidak nyaman. Penyesalan terpancar di matanya saat kami beradu pandang.

Edward mengeram sangat pelan.

“Jaga sikapmu!” desisku.

Suara Edward terdengar sinis. “Dia ingin mengobrol denganmu.”

Jacob sampai di tempat kami, perasaan malu dan menyesal makin jelas di wajahnya.

“Hei, Bella, aku memang berharap kau ada di sini.” Jacob terdengar seperti mengharapkan sebaliknya. Tapi senyumnya tetap hangat.

“Hai, Jacob.” Aku balas tersenyum. “Apa kabar?”

“Boleh aku meminjamnya?” tanyanya ragu-ragu, memandang Edward untuk pertama kali. Aku terkejut Jacob tak perlu mendongakkan kepala. Ia pasti telah bertambah tingi beberapa senti sejak pertama kali aku melihatnya.

Wajah Edward tenang, ekspresinya hampa. Satu-satunya jawabannya adalah dengan hati-hati membiarkanku berdiri di atas kakiku sendiri, lalu mundur selangkah.

“Terima kasih,” kata Jacob ramah.

Edward hanya mengangguk, menatapku lekat-lekat sebelum berbalik menjauh.

Jacob menaruh tangannya di pinggangku, dan aku mengulurkan tangan ke bahunya.

“Wow, Jake, berapa tinggimu sekarang?”

Ia tampak bangga. “Seratus delapan puluh lima senti.”

Kami tidak benar-benar berdansa—mustahil dengan kondisi kakiku saat ini. Sebagai gantinya, dengan canggung kami bergoyang dari satu sisi ke sisi lain tanpa menggerakkan kaki. Itu bagus juga, dengan tingginya sekarang ia jadi tampak kurus, jangkung, dan tak seimbang, hingga barangkali ia bukan pedansa yang baik daripada diriku sendiri.

“Jadi, bagaimana ceritanya kau bisa di sini?” aku bertanya tanpa benar-benar ingin tahu. Melihat ekspresi Edward tadi, aku bisa menduga jawabannya.

“Kau percaya, ayahku memberiku dua puluh dolar supaya aku datang ke prom kalian?” ia mengakui, sedikit malu-malu.

“Ya, aku percaya,” gumamku. “Well, kuharap setidaknya kau menikmatinya. Ada yang kau suka?” aku menggodoanya, memberi isyarat ke sekelompok cewek yang berbaris di dekat dinding bagai sekumpulan gaun warna pastel.

“Yeah,” ia mendesah. “Tapi ia sudah bersama seseorang.”

Ia menunduk untuk sesaat melihat tatapan penasaranku—kemudian kami sama-sama berpaling, merasa jengah.

“Omong-omong, kau cantik sekali,” ia menambahkan malu-mal.

“Mm, trims. Jadi kenapa Billy membayarmu supaya datang ke sini?” aku buru-buru bertanya, meskipun aku tahu jawabannya.

Jacob tidak kelihatan senang karena topik pembicaraan kami berubah. Ia memalingkan wajah, sekali lagi merasa jengah. “Katanya, di sini tempat yang ‘aman’ untuk berbicara denganmu. Aku bersumpah orang tua itu mulai kehilangan akal sehatnya.”

Aku ikut tertawa, namun lemah.

“Lagi pula, katanya, kalau aku mengatakan sesuatu padamu, dia akan membelikan master cylinder uang kubutuhkan,” ia mengaku sambil tersenyum malu-malu.

“Kalau begitu, katakan saja padaku. Aku ingin kau bisa menyelesaikan mobilmu.” Aku balas tersenyum. Setidaknya Jacob tidak mempercayai satu pun kegilaan ini. Itu membuat keadaan sedikit lebih mudah. Sambil bersandar di dinding Edward memandang wajahku, sementara wajahnya sendiri datar. Aku melihat cewek kelas sophomore bergaun pink mengawasinya malu-malu, namun sepertinya Edward tidak menyadari keberadaan cewek itu.

Jacob berpaling lagi, merasa malu. “Jangan marah, oke?”

“Tidak mungkin aku marah padamu, Jacob,” aku meyakinkannya. “Aku bahkan tidak akan marah pada Billy. Katakan saja apa yang harus kaukatakan.”

“Well—ini bodoh sekali, maafkan aku, Bella—dia ingin kau putus dengan pacarmu. Dia memintaku untuk memohon padamu.” Ia menggeleng jijik.

“Dia masih percaya takhayul, eh?”

“Yeah. Dia… seperti kebakaran jenggot waktu kau mengalami kecelakaan di Phoenix. Dia tidak percaya…” Dengan sadar Jacob tidak meneruskan kata-katanya.

Mataku menyipit. “Aku terjatuh.”

“Aku tahu itu,” Jacob menyahut.

“Pikirnya, Edward ada kaitannya dengan kecelakaan yaang menimpaku.” Itu bukan pertanyaan, dan terlepas dari janjiku, aku merasa marah.

Jacob tak berani menatapku. Kami bahkan tak lagi repot-repot bergoyang mengikuti musik, meskipun tangannya masih di pinggangku, dan tanganku melingkar di lehernya.

“Begini, Jacob, aku tahu Billy barangkali tidak bajal percaya, tapi hanya supaya kau tahu”—dia memandangku sekarang, bereaksi terhadap ketulusan dalam suaraku—“Edward benar-benar telah menyelamatkan nyawaku. Seandainya bukan karena Edward dan ayahnya, aku pasti sudah mati.”

“Aku tahu,” ujarnya. Sepertinya ucapan tulusku telah sedikit mempengaruhinya. Paling tidak mungkin nantinya ia bisa meyakinkan Billy.

‘Hei, aku menyesal kau harus datang dan melakukan ini, Jacob,” aku meminta maaf. “Setidaknya, yang penting kau mendapatkan onderdilmu, ya kan?”

“Yeah,” gumamnya. Ia masih tampak canggung… kecewa.

“Ada lagi?” tanyaku tak percaya.

“Lupakan saja,” gumamnya, “aku akan mencari pekerjaan dan menabung sendiri.”

Aku memelototinya sampai kami bertemu pandang. “Katakan saja, Jacob.

“Ini buruk sekali.”

“Aku tak peduli. Beritahu aku,” desakku.

“Oke.. tapi, hhh, ini kedengarannya buruk sekali.” Ia menggeleng. “Dia menyuruhku memberitahumu, bukan, memperingatkanmu, bahwa—dan ini kata-katanya, bukan aku”—ia mengangkat satu tangannya dari pinggangku dan membuat tanda kutip—“Kami akan mengawasi.” Dengan hati-hati ia menunggu reaksiku.

Kata-katanya terdengar seperti di film-film mafia. Aku tertawa keras-keras.

“Aku menyesal aku harus melakukan ini, Jake,” olokku.

“Aku tidak terlalu keberatan.” Ia tertawa lega. Pandangannya tampak memuji saat sekilas menelusiri gaunku. “Jadi, haruskah aku menyuruhnya untuk tidak ikut campur?” tanyanya penuh harap.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.