Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

Perhatianku teralih dering telepon. Edward mengeluarkan ponsel dari saku dalam jasnya, melihat sebentar ke layar sebelum menjawab.

“Halo, Charlie,” sahutnya hati-hati.

“Charlie?” Dahiku berkerut.

Charlie… agar sedikit kurang bersahabat sejak kepulanganku ku Forks. Ia menyikapi pengalaman burukku dalam dua sikap. Terhadap Charlie, ia teramat bersyukur dan berterima kasih. Di sisi lain ia sangat yakin semua ini salah Edward—sebab kalau bukan karena Edward, aku tidak akan meninggalkan rumah. Dan Edward sama sekali tidak menentangnya. Belakangan ini Charlie memberlakukan beberapa peraturan yang tak pernah diterapkannya padaku sebelumnya : jam malam… jam berkunjung.

Sesuatu yang dikatakan Charlie membuat mata Edward membelalak tak percaya, kemudian senyuman langsung mengembang di wajahnya.

“Kau bercanda!” Ia tertawa.

“Ada apa?” desakku.

Ia mengabaikanku. “Biarkan aku bicara padanya,” saran Edward, kegembiraannya tampak nyata. Ia menunggu sebentar.

“Halo, Tyler, ini Edward Cullen.” Suaranya sangat ramah, tapi hanya di permukaan. Aku mengenalnya cukup baik untuk menangkap kejailan di baliknya. Apa yang dilakukan Tyler di rumahku? Kebenaran mengerikan mulai terbentuk di benakku. Sekali lagi aku memandang gaun yang kukenakan atas paksaan Alice itu.

“Aku menyesal kalau ada semacam kesalahpahaman, tapi Bella sudah punya teman kencan malam ini.” Nada suara Edward berubah, dan ancaman dalam suaranya tiba-tiba jauh lebih nyata saat ia melanjutkan katakatanya. “Dan sejujurnya dia takkan punya waktu untuk siapapun kecuali aku, setiap malam. Jangan tersinggung. Aku menyesal malammu tidak menyenangkan.” Ia sama sekali tidak terdengar menyesal. Kemudian ia menutup telepon, senyum lebar menghiasi wajahnya.

Wajah dan leherku merah pedam karena marah. Aku bisa merasakan air mata kemerahan menggenangi mataku.

Ia terkejut melihatku. “Apakah bagian terakhir tadi kelewatan? Aku tak bermaksud menyinggung perasaanmu.”

Aku mengabaikan kata-katanya.

“Kau mengajakku ke prom!” teriakku.

Sekarang semua sudah jelas. Kalau saja aku memperhatikan sejak awal, aku yakin pasti bisa melihat tanggal di poster-poster di seluruh penjuru sekolah. Tapi aku tak pernah menyangka ia bakal mengajakku. Tidakkah Edward mengenalku sama sekali?

Ia tidak mengira reaksiku bakal begitu, itu sudah jelas. Ia mengatupkan bibir dan matanya menyipit. “Jangan mempersulit keadaan, Bella.”

Aku menoleh ke luar jendela; kami sudah setengah jalan menuju sekolah.

“Kenapa kau melakukan ini padaku?” tanyaku cemas.

Ia menunjuk tuksedonya. “Sungguh, Bella, menurutmu apa yang kita lakukan?”

Aku merasa dipermalukan. Pertama, karena aku tidak melihat apa yang tampak jelas di depan mata. Juga karena kecurigaan samar—sebenarnya harapan—yang berkembang di hatiku seharian ini, mengingat Alice mencoba mengubahku jadi ratu kecantikan, benar-benar jauh melenceng. Harapanku yang setengah mengerikan kelihatannya sangat konyol sekarang.

Aku sudah menduga sesuatu sedang terjadi. Tapi prom, yang benar saja! Itu sama sekali tak terpikirkan olehku.

Air mata kemarahan menetes di pipiku. Aku cemas mengingat aku tak terbiasa mengenakan maskara. Bergegas kuusap bagian bawah mataku agar maskaranya tidak belepotan. Tanganku tidak hitam ketika kutarik; barangkali Alice tahu aku membutuhkan make up antiair.

“Ini benar-benar konyol. Kenapa kau menangis?” tanya Edward kesal.

“Karena aku marah!”

“Bella.” Mata keemasannya menatapku lekat-lekat.

“Apa?” gumamku, bingung.

“Ayolah,” desaknya.

Tatapannya mencairkan segenap kemarahanku. Mustahil bertengkar dengannya kalau ia bersikap curang seperti itu. Aku menyerah.

“Baiklah.” Bibirku mencebik, aku tak mampu memelototinya segalak yang kuinginkan. “Aku akan ikuti maumu. Tapi nanti akan kaulihat. Nasib burukku belum berakhir. Barangkali aku akan mematahkan kakiku yang lain. Lihat sepatu ini! Ini jerat kematian!” Aku menjulurkan kakiku yang sehat sebagai buktinya.

“Hmmm.” Ia memandangi kakiku lebih lama dari seharusnya. “Ingatkan aku untuk berterima kasih pada Alice untuk hal itu nanti malam.”

“Alice akan datang?” ini sedikit menenangkan.

“Bersama Jasper, dan Emmett… dan Rosalie,” ia mengakui.

Perasaan tenang itu langsung lenyap. Hubunganku dengan Rosalie tidak mengalami kemajuan, meskipun hubunganku dengan suami-sekali-waktunya bisa dibilang baik. Emmett senang berada di dekatku— menurut dia, reaksi manusiaku sangat menghiburnya… atau barangkali kenyataan aku sering kali terjatuh itu membuatnya menganggapku sangat lucu. Rosalie bersikap seakan-akan aku tidak ada. Setelah menggelenggelengkan kepala untuk mengenyahkan pikiran itu, terpikir olehku hal lain.

“Apakah Charlie terlibat?” aku bertanya, tiba-tiba curiga.

“Tentu saja.” Ia nyengir, lalu tergelak. “Meski begitu, kelihatannya Tyler tidak.”

Kugertakkan gigiku. Aku benar-benar tidak mengerti mengapa Tyler bisa punya pikiran konyol seperti itu. Di sekolah, tempat Charlie tak bisa ikut campur, Edward dan aku tak terpisahkan—kecuali pada hari-hari cerah yang sangat jarang terjadi.

Kami sudah di sekolah sekarang; mobil Rosalie tampak mencolok di lapangan parkir. Hari ini langit berawan tipis, secercah sinar matahari tampak jauh di sebelah barat.

Edward keluar dan mengitari mobil untuk membukakan pintuku. Ia mengulurkan tangan.

Aku tak bergerak dari tempat duduk, tangan terlipat, diam-diam berpuas diri. Lapangan parkir dipenuhi orang berpakaian formal : para saksi. Ia tak dapat memindahkanku secara paksa dari mobil seperti yang mungkin dilakukannya seandainya kami hanya berdua.

Ia mendesah. “Waktu seseorang hendak membunuhmu, kau seberani singa—kemudian saat seseorang menyebut-nyebut soal dansa…” Ia menggeleng.

Aku menelan liurku. Berdansa.

“Bella, aku takkan membiarkan apa pun melukaimu—bahkan tidak dirimu sendiri. Aku takkan pernah melepaskanmu, aku janji.”

Aku mempertimbangkannya dan tiba-tiba merasa jauh lebih baik. Ia bisa melihatanya di wajahku.

“Sudah, sudah,” katanya lembut, “takkan seburuk itu.” Ia membungkuk dan memeluk pinggangku. Aku menggenggam tangannya yang lain dan membiarkannya mengangkatku dari mobil.

Ia tetap memelukku erat-erat, menyokongku saat aku terpincang-pincang menuju sekolah.

Di Phoenix, prom diadakan di ballroom hotel. Di sini, pestanya berlangsung di ruang gym. Barangkali itulah satu-satunya ruangan di kota ini yang cukup luas untuk pesta dansa. Ketika kami sampai di dalam, aku tertawa geli melihat balon-balon dan pita-pita krep pastel yang menghiasi dinding.

“Ini seperti film horor yang menunggu saatnya dimulai,” olokku.

“Well,” gumamnya saat kami pelan-pelan mendekati meja tempat penjualan karcis—meskipun ia praktis menggendongku, tapi aku masih harus melangkah tertatih-tatih—“ada lebih dari cukup campir hadir di sini.”

Aku melihat ke arah lantai dansa; bagian tengah lantai tampak lenggang, hanya ada dua pasangan berputar-putar anggun. Pasangan-pasangan lain merapat di pinggir lantai untuk memberi mereka ruang—tak ada yang ingin tampak kontras di dekat kedua pasangan yang memukau itu. Emmett dan Jasper tampak mengintimidasi dan tanpa cela dalam balutan tuksedo klasik. Alice tampak memukau dalam gaun satin berpotongan leher V yang memamerkan kulitnya yang putih bagai salju. Dan Rosalie… well, ya Rosalie. Penampilannya sungguh di luar dugaan. Gaun merah menyalanya berpunggung terbuka, melekat ketat sampai ke betis yang kemudian melebar jadi tumpukan rimpel yang memanjang di belakangnya. Garis leher gaunnnya jatuh hingga ke pinggang. Aku mengasihani semua gadis di ruangan itu, termasuk diriku sendiri.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka