Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

“Kau akan sembuh,” ia mengingatkanku.

Aku menarik napas panjang untuk menenangkan diri, mengabaikan nyeri yang muncul karenanya. Aku menatapnya, dan ia balas menatap. Wajahnya tidak menunjukkan kompromi.

“Tidak,” kataku pelan. “Aku takkan sembuh.”

Kerutan di dahinya semakin dalam. “Tentu saja kau akan sembuh. Paling-paling akan meninggalkan satu atau dua bekas luka…”

“Kau keliru,” aku berkeras. “Aku bakal mati.”

“Sungguh, Bella.” Sekarang ia cemas. “Kau akan keluar dari sini beberapa hari lagi. Paling lama dua minggu.”

Aku menatapnya geram. “Aku mungkin takkan mati sekarang… tapi suatu saat. Setiap menit dalam hidupku aku semakin dekat ke kematian. Dan aku akan menjadi tua.”

Wajahnya merengut saat ia memahami arti ucapanku. Ia menempelkan jemarinya yang panjang ke dahinya, matanya terpejam. “Itulah yang mestinya terjadi. Yang seharusnya terjagi. Yang akan terjadi seandainya aku tidak ada—dan aku seharusnya tidak ada.”

Aku mendengus. Ia membuka mata, terkejut. “Itu bodoh. Itu seperti mendatangi orang yang baru menang lotere, mengambil uangnya, dan berkata, ‘Begini, kita kembali saja ke bagaimana segalanya seharusnya terjadi. Lebih baik begitu.’ Dan aku tidak mempercayainya.”

“Aku bukan hadiah lotere,” geramnya.

“Benar. Kau jauh lebih baik.”

Ia memutar bola matanya dan merapatkan bibirnya. “Bella, kita tidak akan membahasnya lagi. Aku menolak mengutukmu mengalami malam tak berujung, dan inilah keputusanku.”

“Kalau kaupikir ini akhirnya, berarti kau tidak mengenalku,” aku mengingatkannya. “Kau bukan satusatunya vampir yang kukenal.”

Matanya kembali kelam. “Alice takkan berani.”

Dan untuk beberapa saat ia tampak sangat mengerikan hingga aku tak dapat mencegah untuk mempercayainya—aku tak dapat membayangkan ada orang yang cukup berani untuk membuatnya marah.

“Alice sudah melihatnya, ya kan?” Aku mencoba menebak. “Itu sebabnya hal-hal yang dikatakannya membuatmu marah. Dia tahu aku akan jadi seperti dirimu… suatu hari nanti.”

“Dia keliru. Dia juga melihatmu mati, tapi itu juga tidak terjadi.”

“Kau takkan mendapatkanku bertaruh melawan Alice.”

Lama sekali kami bertatapan. Suasana hening kecuali bunyi deru mesin, bunyi bip, tetesan, dan detak jam besar di dinding. Akhirnya ekspresinya melembut.

“Jadi bagaimana kesimpulannya?” aku bertanya-tanya.

Ia tertawa dingin. “Aku yakin itu namanya jalan buntu.”

Aku mendesah. “Auw,” gumamku.

“Bagaimana perasaanku?” tanyanya, sambil melirik tombol untuk memanggil perawat.

“Aku baik-baik saja,” aku berbohong.

“Aku tidak percaya,” katanya lembut.

“Aku tidak mau tidur lagi.”

“Kau harus beristirahat. Semua perdebatan ini tidak baik untukmu.”

“Jadi menyerahlah,” aku menyarankan.

“Usaha bagus.” Ia menggapai tombol.

“Jangan!”

Ia mengabaikanku.

“Ya?” terdengar suara dari speaker di dinding.

“Kurasa Bella sudah siap untuk obat penghilang sakitny,” katanya tenang, tak memedulikan kekesalan yang terpancar di wajahku.

“Aku akan menyuruh perawat ke sana.” Suara itu terdengar bosan.

“Aku takkan meminumnya,” aku berjanji.

Ia memandang kantong cairan di samping tempat tidurku. “Kurasa mereka takkan menyuruhmu meminum apa-apa.”

Detak jantungku mulai memburu. Ia melihat ketakutan di mataku, dan mendesah putus asa.

“Bella, kau sakit. Kau perlu tenang supaya bisa sembuh. Kau benar-benar keras kepala. Saat ini mereka tidak akan memasang jarum lagi di tubuhmu.”

“Aku tidak takut jarum,” gumamku. “Aku takut memejamkan mata.”

Kemudian ia tersenyum simpul, dan memegang wajahku dengan kedua tangannya. “Sudah kubilang, aku takan pergi ke mana-mana. Jangan khawatir. Selama kau senang karenanya, aku akan di sini.”

Aku balas tersenyum, mengabaikan rasa sakit di pipiku. “Itu berarti selamanya, tahu.”

“Oh, kau akan melupakannya—kau cuma naksir aku.”

Aku menggeleng tak percaya—itu membuatku pusing. “Aku terkejut waktu Renée mempercayai ucapanku itu. Aku tahu kau tahu lebih baik darinya.”

“Itulah hal terindah menjadi manusia,” ia memberitahuku. “Segala sesuatu berubah.”

Mataku menyipit. “Jangan kelewat berharap.”

Ia tertawa ketiak perawat masuk sambil mengacungkan suntikan.

“Permisi,” katanya pada Edward.

Edward bangkit dan pergi ke ujung ruangan, bersandar di dinding. Ia bersedekap dan menunggu. Aku terus menatapnya, masih waswas. Ia menatapku tenang.

“Nah, ini obatnya, Sayang.” Perawat tersenyum saat menyuntikkan obat ke tabung infusku. “Kau akan merasa lebih baik sekarang.”

“Terima kasih,” gumamku datar. Hanya sebentar. Aku langsung merasakan kantuk menetes-netes dalam aliran darahku.

“Kurasa sudah bereaksi,” gumamnya, saat kelopak mataku mulai memejam.

Perawat pasti sudah meninggalkan ruangan, karena sesuatu yang dingin dan lembut menyentuh wajahku.

“Tinggallah.”Kata itu nyaris tak terdengar.

“Aku akan ada di sini,” ia berjanji. Suaranya indah, bagai nina bobo. “Seperti kataku, selama ini membuatmu bahagia… selama ini adalah yang terbaik untukmu.”

Aku mencoba menggerak-gerakkan kepala, tapi terlalu berat. “’Tu tidak sama,” gumamku.

Ia tertawa. “Sudah, jangan khawatirkan itu, Bella. Kau bisa berdebat denganku saat kau bangun nanti.”

Kurasa aku tesenyum mendengarnya. “Oke”

Aku bisa merasakan bibirnya di telingaku.

“Aku mencintaimu,” bisiknya.

“Aku juga.”

“Aku tahu,” ia tertawa pelan.

Aku menoleh sedikit, mencari. Ia tahu apa yang kucari. Bibirnya menyentuh lembut bibirku.

“Terima kasih,” desahku.

“Sama-sama.”

Aku sudah nyaris tak sadarkan diri. Tapi aku melawannya dengan sisa-sisa tenagaku. Tinggal satu lagi yang ingin kukatakan padanya.

“Edward?” aku berusaha mengucapkan namanya dengan jelas.

“Ya?”

“Aku bertaruh memegang Alice,” gumamku.

Kemudian aku pun tertidur.

 

 

EPILOG : ACARA ISTIMEWA

Edward membantuku naik ke mobilnya, sangat berhati-hati dengan sutra dan chiffon-nya, bunga-bunga yang baru saja disematkannya di rambutku yang ditata ikal penuh gaya, serta tongkat berjalanku. Ia mengabaikan bibirku yang cemberut sangat marah.

Setelah aku duduk nyaman, ia menyelinap ke jok pengemudi, dan melaju dari jalanan sempit dan panjang itu.

“Kapan tepatnya kau akan memberitahuku apa yang terjadi?” gerutuku. Aku benar-benar tidak suka kejutan. Dan ia tahu itu.

“Aku benar-benar terkejut kau belum mengetahuinya juga.” Ia tersenyum mengejek, dan aku tercekat. Apakah aku bakal terbiasa dengan kesempurnaannya?

“Aku sudah bilang kau terlihat sangat tampan, bukan?” ujarku.

“Sudah.” Ia tersenyum. Aku belum pernah melihatnya mengenakan hitam. Warna itu sangat kontras dengan kulitnya yang pucat, membuat ketampanannya benar-benar bagaikan mimpi. Itu yang tak dapat kusangkal, bahkan kalaupun kenyataan dirinya mengenakan tuksedo membuatku sangat gugup.

Tidak segugup yang ditimbulkan gaunku. Atau sepatu yang kukenakan. Sepatuku hanya satu, berhubung kakiku yang lain masih rapat terbalut gips. Tapi hak stiletto yang kukenakan hanya dipegangi tali sutra, dan itu jelas takkan membantuku saat berjalan terpincang-pincang begini.

“Aku takkan bertamu lagi kalau Alice akan memperlakukanku seperti Barbie percobaan,” sahutku seraya mencengkeram jok kursi. Aku menghabiskan sebagian besar hariku di kamar Alice yang sangat luas, menjadi korban tak berdaya saat ia berperan jadi penata rambut dan penata rias. Setiap kali aku merasa tak nyaman atau mengeluh, ia mengingatkanku bahwa ia sama sekali tidak ingat bagaimana rasanya menjadi manusia, dan memintaku tidak menghancurkan kesenangannya. Kemudian ia memakaikan gaun paling konyol—warna biru gelap, berimpel, dan tanpa lengan, dengan label berbahasa Prancis yang tidak kumengerti—gaun yang lebih cocok dikenakan dalam peragaan busana daripada di Forks. Tak ada yang bagus dari pakaian formal kami, aku yakin itu. Kaciuali… tapi aku takut menguraikan kecurigaanku, bahkan dalam pikiranku sendiri.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka