Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

“Di Florida—oh, Bella! Kau takkan menyangka! Tepat sebelum berangkat, kami mendapat berita terbaik!”

“Phil mendapatkan kontrak?” aku menebaknya.

“Ya! Bagaimana kau tahu? The Suns, kau percaya?”

“Itu hebat, Mom,” kataku, berusaha terdengar bersemangat, meskipun aku tidak begitu mengerti apa artinya itu.

“Dan kau akan sangat menyukai Jacksonville,” Mom sibuk meracau sementara aku hanya terpaku menatapnya. “Aku sedikit khawatir saat Phil mulai membicarakan Akron, salju dan semuanya, karena kau tahu betapa aku sangat membenci dingin, tapi sekarang Jacksonville! Matahari selalu bersinar, dan kelembapannya tak seburuk itu. Kami menemukan rumah yang paling menggemaskan, warna kuning dengan bingkai putih, dan teras persis seperti di film-film tua, dan pohon ek raksasa, dan jaraknya hanya beberapa menit dari laut, dan kau akan memiliki kamar mandimu sendiri—”

“Mom, tunggu sebentar!” selaku. Mata Edward masih terpejam, tapi ia kelihatan terlalu tegang untuk bisa dibilang tidur. “Apa yang kau bicarakan? Aku takkan pergi ke Florida. Aku tinggal di Forks.”

“Tapi kau tak perlu lagi, dasar bodoh,” ia tertawa. “Phil bisa tinggal bersama kita lebih sering sekarang… kami sudah sering membicarakannya, dan kalau dia harus melakukan perjalanan jauh, aku akan tinggal separuh waktu denganmu dan separuh lagi dengannya.”

“Mom.” Aku meragu, bertanya-tanya bagaimana bersikap diplomatis tentang hal ini. “Aku ingin tinggal di Forks. Aku sudah bisa menyesuaikan diri dengan baik di sekolah, dan aku punya beberapa teman cewek”—ia melirik ke arah Edward saat aku mengingatkannya aku punya teman, jadi aku mencoba alasan lain—“dan Charlie membutuhkanku. Dia sebatang kara disana, dan dia sama sekali tak bisa memasak.”

“Kau mau tinggal di Forks?” tanyanya, heran. Ide ini tak terbayangkan olehnya. Lalu matanya kembali melirik Edward. “Kenapa?”

“Sudah kubilang—sekolah, Charlie—aduh!” Aku mengangkat bahu. Bukan ide bagus.

Tangannya bergerak ke sana kemari, mencoba menemukan bagian tubuhku yang bisa ditepuk-tepuk. Ia menaruh tangannya di dahiku, karena bagian itu tidak diperban.

“Bella, Sayang, kau tidak menyukai Forks,” ia mengingatkanku.

“Tidak terlalu buruk, Mom.”

Ia merengut, lalu memandangku dan Edward bergantian, kali ini benar-benar disengaja.

“Apakah karena anak laki-laki ini?” bisiknya.

Aku hendak berbohong, tapi mata Mom mengamati wajahku, dan aku tahu ia bisa melihat jawabannya disana.

“Dia salah satu alasannya,” aku mengakui. Tak perlu kuakui, dialah alasan terbesarku. “Apakah kau sempat berbicara dengan Edward?” tanyaku.

“Ya.” Ia bimbang, memandangi Edward yang diam tak bergerak. “Dan aku ingin bicara denganmu tentang hal ini.”

Uh-oh. “Tentang apa?” tanyaku.

“Kurasa anak lak-laki itu jatuh cinta padamu,” tuduhnya, berusaha menjaga suaranya tetap pelan.

“Aku juga berpikir begitu,” ujarku.

“Dan bagaimana perasaanmu padanya?” Ia tak bisa menutupi rasa penasaran dalam suaranya.

Aku mendesah, memalingkan wajah. Meskipun aku sangat menyayangi ibuku, ini bukan sesuatu yang ingin kubicarakan dengannya. “Aku cukup tergila-gila padanya.” Nah—itu kedengarannya seperti sesuatu yang mungkin dikatakan seorang remaja cewek tentang cowok pertamanya.

“Well, dia kelihatan sangat baik, dan, ya Tuhanku, dia luar biasa tampan, tapi kau masih sangat muda, Bella…” Suaranya terdengar ragu-ragu; sejauh yang bisa kuingat, inilah pertama kalinya sejak aku berusia delapan tahun ia nyaris menunjukkan otoritasnya sebagai orangtua. Aku mengenali nada masuk-akal-namuntegas dari percakapan yang pernah kualami dengannya ketika membahas cowok.

“Aku tahu itu, Mom. Jangan khawatir. Aku cuma naksir,” aku menenangkannya.

“Benar,” ia menimpali, langsung senang.

Kemudian ia mendesah, dan dengan perasaan bersalah melirik jam bundar besar di dinding.

“Kau harus pergi?”

Ia menggigit bibir. “Phil seharusnya menelepon sebentar lagi… Aku tak tahu kau akan segera sadar…”

“Tidak apa-apa, Mom.” Aku berusaha menyembunyikan rasa legaku supaya perasaanku tidak terluka. “Aku tidak akan sendirian.”

“Aku akan segera kembali. Aku tidur di sini, kau tahu,” ujarnya, bangga pada dirinya sendiri.

“Oh, Mom, kau tak perlu melakukannya! Kau bisa tidur di rumah—aku takkan menyadarinya.” Pengaruh obat tidur penghilang sakit di otakku membuatku sulit berkonsentrasi sekarang, meski nyatanya aku telah tidur berhari-hari.

“Aku terlalu tegang,” ia mengakui malu-malu. “Telah terjadi tindak kejahatan di kompleks kita, dan aku tidak suka berada di sana sendirian.”

“Kejahatan?” tanyaku kaget.

“Seseorang menerobos ke studio tari di pojokan dekat rumah dan membakarnya hingga rata dengan tanah—sama sekali tidak bersisa! Dan mereka meninggalkan mobil curian tepat di halaman depan. Kau ingat dulu kau menari di sana, Sayang?”

“Aku ingat.” Aku bergidik dan meringis ngeri.

“Aku bisa tinggal, Sayang, kalau kau membutuhkanku.”

“Tidak, Mom, aku akan baik-baik saja. Edward akan menemaniku.”

Ekspresinya menunjukkan bahwa sepertinya itulah alasannya ingin tinggal. “Aku akan kembali malam ini.” Kedengarannya itu seperti peringatan sekaligus janji, dan ia kembali menatap Edward saat mengucapkannya.

“Aku sayang kau, Mom.”

“Aku juga sayang kau, Bella. Cobalah untuk lebih berhati-hati ketika berjalan, Sayang, aku tak ingin kehilangan dirimu.”

Mata Edward tetap terpejam, tapi senyum lebar mengembang di wajahnya.

Perawat masuk untuk memeriksa semua infusku dan kabel-kabel yang menempel di tubuhku. Mom mengecup dahiku, menepuk-nepuk tanganku yang diperban, kemudian pergi.

Perawat memeriksa catatan di monitor jantungku.

“Kau tegang, Sayang? Irama jantungmu sedikit lebih tinggi di bagian ini.”

“Aku baik-baik saja,” aku meyakinkannya.

“Akan kuberitahu dokter bahwa kalau kau sudah sadar. Dia akan ke sini sebentar lagi.”

Begitu perawat menutup pintu, Edward langsung berada di sisiku.

“Kau mencuri mobil?” Alisku terangkat.

Ia tersenyum, sama sekali tidak menyesal. “Mobil bagus, lajunya sangat cepat.”

“Bagiamana tidur siangmu?” tanyaku.

“Menarik.” Matanya menyipit.

“Apa?”

Ia menunduk ketika menjawab, “Aku terkejut. Kupikir Florida… dan ibumu… well, kupikir itulah yang kau ingingkan.”

Aku menatapnya tidak mengerti. “Tapi kau harus berada di dalam ruangan seharian bila berada di Florida. Kau hanya bisa keluar pada malam hari, seperti vampir sejati.”

Ia nyaris tersenyum, tapi tidak juga. Lalu wajahnya serius. “Aku akan tinggal di Forks, Bella. Atau di mana pun yang keadaannya seperti di sana,” ia menjelaskan. “Di tempat aku tak bisa melukaimu lagi.”

Awalnya aku tak langsung memahaminya. Aku terus menatapnya hampa saat kata-katanya satu per satu tersusun dalam benakku bagai kepingan puzzle mengerikan. Aku nyaris tak menyadari detak jantungku yang semakin memburu, meskipun, saat napasku semakin liar, aku merasakan nyeri di dadaku.

Ia tidak mengatakan apa-apa; ia memperhatikan wajahku dengan saksama ketika rasa sakit yang tak ada hubungannya dengan tulang-tulang yang patah, rasa sakit yang jauh lebih parah, mengancam menghancurkanku.

Kemudian perawat lain melangkah pasti memasuki ruangan. Edward duduk tak bergerak saat perawat mengamati ekspresiku dengan pandangan terlatih, sebelum beralih ke monitor.

“Waktunya untuk obal penghilang sakit, Sayang?” tanyanya ramah, sambil menepuk-nepuk kantong infus.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka