Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

“Tidakkah rasaku seenak aromaku?” Aku balas tersenyum. Dan itu membuat wajahku terasa sakit.

“Lebih baik, bahkan—lebih baik daripada yang kubayangkan.”

“Maafkan aku,” ujarku menyesal.

Ia menatap langit-langit. “Dari semua yang perlu dimaafkan.”

“Apa lagi yang harus kumintai maaf?”

“Karena nyaris mengenyahkan dirimu selamanya dariku.”

“Maafkan aku,” aku meminta maaf lagi.

“Aku tahu kenapa kau melakukannya.” Suaranya menenangkan. “Tentu saja itu masih tidak masuk akal. Kau seharusnya menungguku, seharusnya memberitahuku.”

“Kau takkan membiarkanku pergi.”

“Memang tidak,” ia menimpali dengan geram. “Takkan kubiarkan.”

Beberapa ingatan yang sangat tak menyenangkan mulai menghantuiku. Aku merinding, kemudian meringis.

Edward langsung waswas. “Ada apa, Bella?”

“Apa yang terjadi pada James?”

“Setelah aku menjauhkannya darimu, Emmett dan Jasper membereskannya.” Kata-katanya sarat dengan penyesalan yang amat dalam.

Ini membingungkanku. “Aku tidak melihat Emmett dan Jasper disana.”

“Mereka harus meninggalkan ruangan… darahmu berceceran di mana-mana.”

“Tapi kau tetap tinggal.”

“Ya, kau tetap tinggal.”

“Dan Alice dan Carlisle…” aku bertanya-tanya.

“Mereka juga menyayangimu, kau tahu.”

Kelebatan ingatan menyakitkan dari saat terakhir aku melihat Alice, mengingatkanku akan sesuatu. “Apakah Alice melihat rekamannya?” tanyaku waswas.

“Ya.” Suaranya berubah kelam, samar-samar menguarkan kebencian.

“Alice tak pernah mengerti, itu sebabnya dia tidak ingat.”

“Aku tahu. Aku memahaminya sekarang.” Suara Edward tenang, tapi wajahnya kelam oleh amarah.

Aku mencoba meraih wajahnya dengan tanganku yang lain, tapi sesuatu menghentikanku. Aku memandang ke bawah, melihat kantong transfusi menahan tanganku.

“Auw.” Aku meringis.

“Ada apa?” tanyanya waswas—perhatiannya teralihkan, tapi hanya sedikit. Kesedihan tak sepenuhnya memudar dari matanya.

“Jarum,” aku menjelaskan, memalingkan pandang. Aku berkonsentrasi menatap langit-langit dan berusaha menarik napas panjang dalam-dalam dan mengabaikan nyeri di sekitar rusukku.

“Takut jarum,” ia bergumam pelan pada dirinya sendiri, sambil menggeleng. “Oh, vampir sadis yang berniat menyiksamu sampai mati, tentu, tidak masalah, dia langsung lari menemuinya. Tapi jarum infus…”

Aku memutar bola mataku. Aku senang mengetahui setidaknya reaksi seperti ini tidak menyakitkan. Kuputuskan untuk mengubah topik.

“Kenapa kau ada di sini?” aku bertanya.

Ia menatapku, pertama bingung, kemudian kepedihan terpancar di matanya. Alisnya bertaut saat wajahnya menekuk. “Kau ingin aku pergi?”

“Tidak!” protesku, ngeri membayangkannya. “Bukan, maksudku, kenapa ibuku pikir kau ada di sini? Aku harus tahu apa yang harus kuceritakan saat dia kembali.”

“Oh,” kata Edward, dahinya kembali mulus bak pualam. “Aku datang ke Phoenix untuk berbicara dari hati ke hati, untuk meyakinkanmu agar kembali ke Forks.” Matanya yang lebar tampak jujur dan tulus, hingga aku sendiri nyaris mempercayainya. “Kau setuju menemuiku, dan kau mengemudi ke hotel tempatku menginap bersama Carlisle dan Alice—tentu saja aku kesini ditemani orangtua,” ia menambahkannya lugu, “tapi kau terpeleset ketika sedang naik tangga menuju kamarku dan… well, kau tahu kelanjutannya. Tapi kau tak perlu mengingat detailnya; kau punya alasan bagus untuk tidak mengingatnya dengan jelas.”

Aku memikirkannya beberapa saat. “Ada beberapa kekurangan dalam cerita itu. Tak ada jendela yang pecah, misalanya.”

“Tidak juga,” katanya. “Alice terlalu banyak bersenang-senang ketika menciptakan barang bukti. Setelah semua diatasi, kami membuatnya sangat meyakinkan—barangkali kau bisa menuntut hotelnya kalau mau. Kau tak perlu mengkhawatirkan apa pun,” ia berjanji, mengusap pipiku dengan sentuhan paling ringan. “Sekarang tugasmu hanya sembuh.”

Aku tidak terlalu tenggelam dalam rasa sakit atau pengaruh obat hingga tidak bereaksi terhadap sentuhannya. Suara bip di monitor langsung bergerak tak terkendali—sekarang bukan ia satu-satunya yang bisa mendengar irama jantungku yang mendadak liar.

“Ini bakal memalukan,” gumamku pada diri sendiri.

Ia tertawa, dan tatapannya mengira-ngira. “Hmmm, aku jadi penasaran…”

Ia mencondongkan tubuh perlahan; suara bip semakin cepat bahkan sebelum bibirnya menyentuh bibirku. Tapi ketika akhirnya bibir kami bersentuhan, meskipun teramat lembut, bunyi bip itu mendadak berhenti.

Ia langsung tersentak, ekspresi waswasnya berubah lega saat monitor menunjukkan jantungku berdetak lagi.

“Sepertinya aku harus lebih berhati-hati lagi denganmu daripada biasanya.” Dahinya berkerut.

“Aku belum selesai menciummu,” aku mengeluh. “Jangan buat aku pergi menghampirimu.”

Ia tersenyum, dan membungkuk untuk mencium lembut bibirku. Monitor langsung bergerak kacau lagi.

Tapi kemudian bibirnya menegang. Ia menarik diri.

“Kurasa aku mendengar ibumu,” katanya, tersenyum.

“Jangan tinggalkan aku,” aku berseru, rasa panik yang tak masuk akal merasukiku. Aku tak bisa membiarkannya pergi—ia mungkin akan menghilang dari diriku lagi.

Sekejap ia melihat ketakutan di mataku. “Aku takkan meninggalkanmu,” ia berjanji, sungguh-sungguh, kemudian tersenyum. “Aku akan tidur sebentar.”

Ia pindah dari kursi plastik keras di sampingku ke sofa bersandaran dari kulit sintetis warna turquoise di ujung tempat tidur, lalu berbaring dan memejamkan mata. Posisinya diam tak bergerak.

“Jangan lupa bernapas,” bisikku sinis. Ia menarik napas panjang, matanya masih terpejam.

Aku bisa mendengar ibuku sekarang. Ia sedang berbicara dengan seseorang, mungkin perawat, dan ia terdengar lelah dan sedih. Ingin rasanya aku melompat dari tempat tidur dan berlari padanya, untuk menenangkannya, meyakinkan semuanya baik-baik saja. Tapi keadaanku tak memungkinkan aku melompat, jadi aku menunggunya dengan tidak sabar.

Terdengar suara pintu berderit, dan ia mengintip dari sana.

“Mom!” aku berbisik, suaraku penuh sayang dan lega.

Ia melihat Edward yang tertidur di sofa bersandaran dan berjingkat menghampiriku.

“Dia tak pernah pergi, ya kan?” gumamnya pada diri sendiri.

“Mom, aku senang sekali bertemu denganmu!”

Ia membungkuk dan memelukku lembut, dan aku merasakan air mata hangat menetes di pipiku.

“Bella, aku sedih sekali!”

“Maafkan aku, Mom. Tapi sekarang semua baik-baik saja, tidak apa-apa,” aku mencoba menenangkannya.

“Aku senang akhirnya kau tersadar.” Ia duduk di tepi tempat tidur.

Aku tiba-tiba menyadari aku tak tahu ini hari apa. “Berapa lama aku tak sadarkan diri?”

“Sekarang hari Jumat, Sayang, kau tak sadar cukup lama.”

“Jumat?” aku terkejut. Aku mencoba mengingat hari ketika… tapi aku tak ingin memikirkannya.

“Mereka harus terus memberimu obat penenang untuk sementara waktu, Sayang—luka-lukamu parah sekali.”

“Aku tahu.” Aku bisa merasakannya.

“Kau beruntuk dr. Cullen ada di sana. Dia baik, meskipun masih sangat muda. Dan dia lebih mirip model daripada dokter…”

“Kau bertemu Carlisle?”

“Dan adik Edward, Alice. Dia gadis yang menyenangkan.”

“Memang,” aku menimpali sepenuh hati.

Ia menoleh ke arah Edward, yang berbaring di kursi dengan mata terpejam. “Kau tidak bilang punya teman-teman yang baik di Forks.”

Aku tersenyum, kemudian mengerang.

“Apa yang sakit?” Mom bertanya waswas, kembali menghadapku. Mata Edward berkilat menatapku.

“Tidak apa-apa,” aku meyakinkan mereka. “Aku hanya perlu mengingat untuk tidak bergerak.” Edward kembali pura-pura tidur.

Aku mengambil kesempatan untuk mengalihkan topik. “Di mana Phil?” tanyaku cepat.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka