Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

“Alice,” desahku, terkejut.

“Ya, teman kecilmu. Aku terkejut melihatnya di lapangan itu. Jadi kurasa pengalaman ini tidak burukburuk amat bagi kelompoknya. Aku mendapatkanmu, tapi mereka mendapatkannya. Satu-satunya korban yang berhasil kabur dariku, suatu kehormatan, sebenarnya.

“Dan aromanya memang sangat lezat. Aku masih menyesal tak sempat mencicipinya… Aromanya bahkan lebih lezat daripada kau. Maaf—aku tak bermaksud menyinggungmu. Aroma tubuhmu sangat menyenangkan. Bunga-bungaan, bagaimanapun…”

Ia maju selangkah lagi, sampai jaraknya tinggal beberapa senti. Ia mengangkat beberapa helai rambutku dan mengendusnya dengan lembut. Lalu perlahan-lahan ia mengembalikannya lagi di tempat semula, dan aku merasakan ujung jarinya yang dingin di leherku. Ia mengangkat tangannya dan mengelus pipiku sekilas dengan ibu jarinya, wajahnya penasaran. Aku ingin sekali menjauhkan diri darinya, tapi tubuhku membeku. Aku bahkan tak bisa beringsut.

“Tidak,” gumamnya pada diri sendiri, lalu menjatuhkan tangannya, “aku tak mengerti.” Ia mendesah. “Well, kurasa kita selesaikan saja sekarang. Kemudian aku bisa menelepon teman-temanmu dan memberitahu mereka di aman bisa menemukanmu, dan pesan kecilku.”

Aku benar-benar mual sekarang. Ada rasa sakit yang mendekat, dan aku bisa melihat di matanya. Ia tidak akan puas hanya dengan menang, memangsaku, lalu pergi. Takkan berakhir cepat seperti yang kuharapkan. Lututku gemetaran, dan aku khawatir bakal jatuh.

Ia melangkah mundur dan mulai mengelilingiku, dengan wajar, seakan-akan mencari sudut pandang yang lebih baik dari patung di museum. Wajahnya masih ramah dan terbuka saat memutuskan dari mana harus memulai.

Kemudian ia mencondongkan tubuh, dan senyumnya yang menawan perlahan melebar, semakin lebar, hingga tidak menyerupai senyuman sama sekali melainkan deretan gigi, terpapar jelas dan berkilauan.

Aku tak dapat menahan diri—aku mencoba lari. Sama sia-sianya seperti yang kuperkirakan, selemah lututku saat itu. Kepanikan menguasaiku dan aku melesat ke pintu darurat.

Dalam sekejap ia sudah di depanku. Aku tidak melihat apakah ia menggunakan tangan atau kakinya, terlalu cepat. Entakan keras menghantam dadaku—tubuhku melayang ke belakang, dan aku mendengar suara pecahan saat kepalaku menghantam cermin. Kacanya hancur berantakan, serpihan-serpihannya berserakan dan bertebaran di lantai di sampingku.

Aku kelewat terkejut untuk bisa merasakan sakit. Aku tak bisa bernapas.

Perlahan-lahan ia menghampiriku.

“Itu efek yang sangat menyenangkan,” katanya mengamati kaca-kaca yang berserakan, suarnya kembali ramah. “Kupikir ruangan ini cukup dramatis untuk film sederhanaku. Itu sebabnya aku memilih tempat ini untuk berjumpa denganmu. Sempurna, ya kan?”

Aku mengabaikannya, dengan tangan dan lutut aku merangkak ke pintu lain.

Ia langsung menghadangku, kakinya menginjak kakiku. Aku mendengar suara retakan itu sebelum merasakannya. Tapi kemudian aku merasakannya, dan aku tak dapat menahan jerit kesakitanku. Aku berbalik untuk meraih kakiku, dan ia berdiri menjulang di atasku, tersenyum.

“Apakah kau mau memikirkan kembali permintaan terkahirmu?” tanyanya ramah. Ibu jarinya menekan kakiku yang patah dan aku mendengar lengkingan kesakitan. Aku terkejut menyadari akulah yang menjerit itu.

“Tidakkah aku lebih ingin Edward berusaha mencariku?” ujarnya.

“Tidak!” seruku parau. “Tidak, jangan Edward—” Lalu sesuatu mengantam wajahku, melemparkanku kembali ke cermin yang sudah pecah.

Selain sakit di kakiku, aku merasakan robekan tajam di kulit kepalaku, di tempat pecahan kaca itu menusukku. Cairan hangat mengalir deras di antara helai rambutku. Aku bisa merasakannya membasahi bagian bahu kausku, mendengarnya menetes-netes di lantai kayu di bawahku. Aromanya membuatku mual.

Dalam keadaan pusing dan mual aku melihat sesuatu yang tiba-tiba memberiku secercah harapan terakhir. Matanya, yang sebelumnya penuh tekad, kini membara dengan hasrat tak terkendali. Darah yang mengalir—meninggalkan noda kemerahan di kaus putihku, dengan cepat menggenang di lantai—membuatnya sinting karena dahaga. Terlepas dari tujuan awalnya, ia tak dapat menahan diri lebih lama lagi.

Biarlah segera berlalu sekarang, hanya itu yang bisa kuharapkan saat aliran darah dari kepalaku muloai membuatku tak sadarkan diri. Mataku memejam.

Aku mendengar, seolah dari kedalaman air, raungan terakhir si pemburu. Aku bisa melihat, lewat lorong panjang yang terbentuk di mataku, sosok gelapnya menghampiriku. Dengan kekuatan terakhir, tanganku terangkat menutupi wajah. Mataku terpejam dan aku pun tak sadarkan diri.

 

 

23. Malaikat

Saat aku tak sadarkan diri, aku bermimpi.

Aku melayang-layang dibawah permukaan air yang gelap, dan mendengar suara paling menyenangkan yang bisa ditangkap pikiranku—suara yang indah, membahagiakan, sekaligus mengerikan. Suara geraman lain; lebih dalam, lebih ganas, dan sarat amarah.

Aku diseret naik, nyaris mencapai permukaan, oleh rasa sakit tajam yang menusuk-nusuk tanganku yang terulur, namun aku tak punya cukup tenaga untuk membuka mata.

Kemudian aku tahu aku sudah mati.

Karena, dari kedalaman air, aku mendengar suara malaikat memanggil namaku, memanggilku ke satusatunya surga yang kuinginkan.

“Oh, tidak, Bella, tidak!” malaikat itu berseru putus asa.

Di belakang ratapan itu ada suara lain—keributan mengerikan yang berusaha kuhindarkan. Ruangan penuh ancaman, gelegar amarah yang mengerikan, dan lengkingan kesakitan, sekonyong-konyong pecah…

Namun aku berusaha berkonsentrasi pada suara si malaikat.

“Bella, kumohon! Bella, dengar, kumohon, kumohon, Bella, kumohon!” ia memohon.

Aku ingin mengatakan ya. Apa saja. Tapi aku tak bisa mengucapkannya.

“Carlisle!” si malaikat berseru, kesedihan mendalam memenuhi suaranya yang sempurna. “Bella, Bella, tidak, oh kumohon, tidak, tidak!” Dan si malaikatpun menangis tersedu-sedu.

Malaikat tak seharusnya menangis, itu tidak benar. Aku mencoba menemukannya, memberitahunya semua baik-baik saja, tapi airnya sangat dalam hingga menekanku, dan aku tak bisa bernapas.

Kepalaku seperti ditekan. Rasanya sakit. Kemudian, saat rasa nyeri itu menembus kegelapan dan menggapaiku, aku merasakan sakit yang lain, lebih kuat. Aku menjerit, tersengal keluar dari kolam yang gelap.

“Bella!” si malaikat berseru.

“Dia kehilangan banyak darah, tapi luka di kepalanya tidak begitu dalam,” suara tenang itu memberitahuku. “Hati-hati kakinya patah.”

Geram kemarahan nyata di bibir malaikat.

Aku merasakan tusukan tajam di dadaku. Ini tidak mungkin surga, ya kan? Terlalu banyak rasa sakit.

“Kurasa beberapa tulang rusuknya juga patah,” pemilik suara merdu itu melanjutkan kata-katanya.

Tapi rasa sakit yang tajam itu telah lenyap. Ada rasa sakit baru, rasa terbakar di tanganku yang mengalahkan semua rasa sakit yang kurasakan.

“Edward.” Aku mencoba memberitahunya, tapi suaraku terdengar sangat pelan dan berat. Aku tak bisa memahami diriku sendiri.

“Bella, kau akan baik-baik saja. Kau bisa mendengarku, Bella? Aku mencintaimu.”

“Edward,” aku mencoba lagi. Suaraku sedikit lebih jelas.

“Ya, aku disini.”

“Sakit,” rengekku.

“Aku tahu, Bella, aku tahu,”—kemudian, menjauh dariku, terdengar amat sangat ketakutan—“tak bisakah kau melakukan sesuatu?”

“Tolong ambilkan tasku… Tenangkan dirimu, Alice, itu akan membantu,” Carlisle berjanji.

“Alice?” erangku.

“Dia disini, dia tahu dimana menemukanmu.”

“Tanganku sakit,” aku mencoba memberitahunya.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka