Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

Kemudian suara ibuku memanggil.

“Bella? Bella?” Nada histeris yang sama. Aku berlalri ke pintu, menuju sumber suara.

“Bella, kau membuatku takut! Jangan pernah lakukan itu lagi!” Suaranya berlanjut ketika aku berlari memasuki ruangan panjang berlangit-langit tinggi itu.

Aku memandang sekeliling, berusaha menemukan dari mana datang suaranya Mom. Aku mendengarnya tertawa, dan aku pun berputar menghadap ke arah suara itu.

Dan di sanalah dia, di layar televisi, mengacak-acak rambutku, merasa lega. Rekaman itu diambil saat Thanksgiving, waktu usiaku dua belas. Kami pergi mengunjungi nenekku di California, itu tahun terakhir sebelum ia meningal. Suatu hari kami ke pantai, dan aku menjulurkan tubuhku terlalu jauh ke bibir dermaga. Ia melihatku nyaris jatuh, berusaha menggapai keseimbanga. “Bella? Bella?” ia memanggilku ketakutan.

Kemudian layar televisi berubah menjadi biru.

Perlahan-lahan aku berbalik. James berdiri mematung di ambang pintu belakang, begitu kaku hingga awalnay aku tak mengenalinya. Ia memegang remote control. Lama kami bertatapan, kemudian ia tersenyum.

Ia berjalan menghampiriku, lumayan dekat, lalu melewatiku untuk meletakkan remote di sebelah VCR. Aku hati-hati berbalik, memperhatikannya.

“Maafkan hal tadi, Bella, tapi tidakkah lebih baik kalau ibumu tak perlu terlibat urusan kita?” Suranya sopan, ramah.

Dan tiba-tiba aku tersadar. Ibuku aman. Ia masih di Florida. Ia tak pernah menerima pesanku. Ia tak pernah dibuat ketakutan oleh mata merah gelap milik wajah amat pucat di depanku ini. Ibuku aman.

“Ya,” aku menjawab, suaraku lega.

“Kau tidak terdengar marah meskipun aku telah mengelabuhimu.”

“Memang tidak.” Suaraku meninggi memicu keberanianku. Apa artinya sekarang? Sebentar lagi segalanya bakal berakhir. Charlie dan Mom takkan pernah terluka, tak perlu merasa takut. Aku nyaris pusing. Bagian analitis dalam benakku mengingatkan bahwa aku nyaris meledak akibat tekanan yang kurasakan.

“Betapa aneh. Kau benar-benar tulus dengan perkataanmu.” Matanya yang gelap menilaiku dengan sangat tertarik. Irisnya nyaris hitam, hanya ada sedikit nuansa kemerahan di sekelilingnya. Haus. “Kalian manusia bisa lumayan menarik. Kurasa aku bisa membayangkan gambaranmu. Mengagumkan—sebagian kalian sepertinya sama sekali tidak memikirkan kepentingan sendiri.”

Ia berdiri beberapa meter dariku, tangan dilipat, menatapku dengan sorot mata penasaran. Tak ada kebengisan pada wajah atau sikap tubuhnya. Hanya kulitnya yang putih dan mata berkantong yang sudah biasa bagiku. Ia mengenakan kaus lengan panjang biru pucat dan jins belel.

“Kurasa kau akan memberitahuku bahwa kekasihmu akan membalaskan dendam untukmu?” ia bertanya, dan bagiku ia seperti berharap-harap.

“Tidak, kurasa tidak. Setidaknya, aku memintanya untuk tidak melakukanya.”

“Apa katanya?”

“Aku tidak tahu.” Rasanya aneh sekali bisa berkomunikasi dengan pemburu yang sopan ini. “Aku meninggalkan surat untuknya.”

“Betapa romantis, surat terakhir. Dan menurutmu dia akan menghargainya?” Suaranya hanya sedikit tegang sekarang, nada sinis mewarnai nada bicaranya yang sopan.

“Kuharap begitu.”

“Hmmmm. Well, kalau begitu harapan kita berbeda. Kau tahu, semua ini sedikit terlalu mudah, kelewat cepat. Sejujurnya, aku kecewa. Aku mengharapkan tantangan yang lebih besar. Lagi pula, aku hanya memerlukan sedikit keberuntungan.”

Aku menunggu dalam diam.

“Kalau Victoria tak dapat menyentuh ayahmu, aku menyuruhnya mencari tahu lebih banyak tentangmu. Tak ada gunanya berlari mengejarmu ke seluruh dunia padahal aku bisa menunggu nyaman di tempat yang kutentukan. Jadi, setelah berbicara dengan Victoria, kuputuskan untuk pergi ke Phoennix mengunjungi ibumu. Kudengar kau ingin pulang. Awalnya, aku tak pernah mengira kau bersungguh-sungguh. Kemudian aku bertanya-tanya. Manusia bisa sangat mudah ditebakl mereka suka berada di tempat yang familiar, tempat aman. Dan bukankah ini rencana yang sempurna, pergi ke tempat terakhir yang mungkin menjadi tempat persembunyianmu—tempat yang katamu akan kau datangi.

“Tapi tentu saja aku tidak yakin, itu hanya dugaan. Aku biasanya punya insting mengnai mangsa yang kuburu, kau boleh menyebutnya indra keenam. Aku mendengarkan pesanmu setibanya di rumah ibumu, tapi tentu saja aku tak yakin dari mana kau menelepon. Memiliki nomormu tentu sangat berguna, tapi kau bisa saja berada di Amerika, dan permainan ini takkan berjalan kecuali kau di dekat-dekat sini.

“Kemudian kekasihmu naik pesawat ke Phoenix. Victorian mengawasi mereka untukku, tentu saja. Dalam sebuah permainan dengan banyak pemain, aku tak bisa bekerja sendirian. Jadi mereka memberitahu apa yang kuharapkan, bahwa kau ada di sini. Aku sudah siap; aku telah menyaksikan semua video rekamanmu yang menarik. Kemudian tinggal sedikit gertakan saja.

“Sangat mudah, kau tahu, tidak terlalu memenuhi standarku. Jadi, begini, kuharap kau salah mengenai kekasihmu. Edward, bukan?”

Aku tak menyahut. Nyaliku benar-benar ciut. Aku punya firasat sebentar lagi ia akan mencapai tujuannya yang sebenarnya. Dan kemenangannya sama sekali tak ada hubungannya denganku. Tak ada kepuasan dalam mengalahkan diriku, manusia lemah ini.

“Apakah kau sangat keberatan kalau aku meninggalkan pesan untuk Edward-mu?”

Ia mundur selangkah dan menyentuh video kamera digital seukuran telapak tangan, dengan hati-hati meletakkannya di atas stereo. Nyala lampu merah kecil menandakan alat itu sudah mulai merekam. Ia mengaturnya beberapa kali, melebarkan lensanya. Aku menatapnya ngeri.

“Maafkan aku, tapi aku hanya berpikir dia takkan mampu menahan diri untuk tidak memburuku setelah menyaksikan ini. Dan aku tak ingin dia melewatkan apa pun. Tentu saja, ini semua untuknya. Kau hanya manusia, yang sayang sekali berada di tempat yang salah, pada waktu yang salah, dan tak diragukan lagi, boleh kutambahkan, berada bersama kelompok yang salah.”

Ia menghampiriku, tersenyum. “Sebelum kita mulai…”

Perutku mual ketika ia berbicara. Sesuatu yang tidak kuperkirakan.

“Aku senang memanas-manasi sedikit. Sebenarnya jawabannya sudah ada di sana selama ini, dan aku begitu takut Edward akan mengetahuiny dan merusak kesenanganku. Hal seperti itu pernah terjadi, oh, sudah lama sekali. Satu-satunya mangsaku yang berhasil kabur dariku.

“Kau tahu, vampir yang begitu tololnya untuk jatuh cinta pada korban kecilny aini mengambil keputusan yang tak sanggup diambil oleh Edward-mu yang lemah itu. Ketika vampir tua itu tahu aku mengincar teman kecilnya, dia menculik gadis itu dari rumah sakit jiwa tempatnya bekerja—aku takkan pernah mengerti obsesi yang dimiliki beberapa vampir terhadap kalian manusia—dan begitu vampir tua itu membebaskannya, dia membuat gadis itu aman. Gadis itu sepertinya bahkan tidak merasakan sakitnya, makhluk kecil malang. Dia telah terperangkap dalam lubang hitam itu terlalu lama. Ratusan tahun sebelumnya dia bisa saja dibakar karena pengliatannya. Pada tahun 1920-an, hukumannnya adalah rumah sakit jiwa dan terap syok. Ketika gadis itu membuka mata, kemudaannya yang baru membuatnya kuat, seolah-olah dia belum pernah melihat matahari. Si vampir tua menjadikannya vampir baru yang kuat, dan tak ada alsan lagi bagiku untuk menyentuhnya.” Ia mendesah. “Sebagai balas dendam, aku menghancurkan si vampir tua.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.