Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

Tak ada taksi satu pun.

Aku tak punya waktu. Alice dan Jasper entah hampir menyadari aku menghilang, atau malah sudah. Mereka akan menemukanku dalam sekejap.

Pintu shuttle menuju Hyatt sedang menutup, jaraknya beberapa meter di belakangku.

“Tunggu!” aku berseru, melambai-lambai ke arah pengemudinya.

“Ini shuttle ke Hyatt,” si pengemudi berseru bingung saat membukakan pintu.

“Ya, napasku tersengal-sengal, “itu tujuanku.” Aku bergegas menaiki undakannya.

Ia ragu-ragu melihatku tidak membawa bawaan, tapi kemudian mengangkat bahu, tidak mau repotrepot bertanya.

Kebanyakan kursinya kosong. Aku duduk sejauh mungkin dari penumpang lain dan memandang ke luar jendela saat mula-mula jalan setapak, kemudan bandaranya melesat dari pandangan. Aku tak bisa menahan diri membayangkan Edward berdiri di ujung jalan saat menemukan ujung jejakku. Aku belum boleh menangis, aku mengingatkan diri. Jalan yang kulalui masih panjang.

Keberuntungan masih bersamaku. Di depan Hyatt, pasangan yang kelelahan tampak mengeluarkan koper terakhir dari bagasi taksi. Aku melompat dari shuttle dan berlari ke taksi, menyelinap ke jok di belakang pengemudi. Pasangan itu dan si pengemudi shuttle menatapku. Kuberitahu sopir taksi yang terkejut itu alamat ibuku. “Aku harus tiba di sana secepat mungkin.”

“Itu di Scottsdale,” protesnya.

Aku melempat emat puluh dua dolaran ke kursi di sebelahnya.

“Apakah itu cukup?”

“Tentu, Nak, tidak masalah.”

Aku bersandar lagi di jok, melipat tangan di pangkuan. Kota yang familier mulai melesat di sekelilingku, tapi aku tidak memandang keluar jendela. Aku memaksa diriku tetap penuh kendali. Kuputuskan untuk tidak menyerah, mengingat rencanaku sudah berjalan dengan baik. Tak ada gunanya larut dalam ketakutan, juga kekhawatiran. Takdirku telah ditentukan. Sekarang aku hany tinggal mengikutinya.

Jadi, sebagai ganti panik aku memejamkan mata dan menghabiskan dua puluh menit perjalanan itu bersama Edward.

Aku membayangkan tetap tinggal di bandara untuk bertemu Edward. Aku membayangkan aku berdiri berjinjit untuk melihat wajahnya lebih dulu. Betapa luwes dan anggun gerakkannya di antara keramaian orang yang memisahkan kami. Kemudian aku lari mendekat—kikuk seperti biasa—dan aku pun berada dalam pelukan tangan pualamnya, akhirnya aman.

Aku bertanya-tanya kemana kami akan pergi. Ke suatu tempat di utara, agar ia bisa keluar di siang hari. Atau mungkin di tempat yang sangat terpencil, supaya kami bisa berbaring di bawah matahari bersama-sama lagi. Aku membayangkannya di pantai, kulitnya berkilauan bagai air laut. Tak peduli betapa lamanya kami harus bersembunyi. Terperangkap dalam kamar hotel bersamanya akan menjadi surga dunia bagiku. Aku masih menyimpan banyak sekali pertanyaan untuknya. Aku bisa mengobrol dengannya selamanya, tak pernah tidur, tak pernah meninggalkan sisinya.

Bisa kulihat wajahnya sangat jelas sekarang… bahkan nyaris mendengar suaranya. Dan terlepas dari semua ketakutan dan keputusasaanku, aku merasa bahagia. Aku begitu larut dalam lamunan, hingga tak menyadari betapa cepat waktu berlalu.

“Hei, berapa nomornya?”

Pertanyaan sopir taksi membuyarkan lamunanku, dan bayangan indahku pun lenyap. Rasa ngeri yang dingin dan tanpa kompromi menanti untuk mengisi ruang kosong yang ditinggalkannya.

“Lima-delapan-dua-satu.” Suaraku tercekat. Sopir taksi menatapku, khawatir aku sakit atau apa.

“Kalau begitu, kita sudah sampai.” Ia ingin sekali mengeluarkan aku dari mobilnya, barangkali berharap aku takkan meminta kembalian.

“Terima kasih,” bisikku. Tak ada alasan untuk takut, aku mengingatkan diriku sendiri. Rumahnya kosong. Aku harus bergegas; ibuku menantiku, ketakutan, mengandalkan aku.

Aku lari ke pintu, mengulurkan tangan ke atasnya dan mengambil kunci. Kubuka pintunya. Di dalam gelap, kosong, normal. Aku berlari menghampiri telepon seraya menyalakan lampu dapur. Di sana, di whiteboard, tampak sepuluh digit angka yang rapi. Jemariku gemetaran menekan nomor itu, beberapa kali keliru. Aku harus menutup dan memulai lagi. Kali ini aku hanya berkonsentrasi pada tombol-tombolnya, dengan saksama menekannya satu per satu. Berhasil. Aku mendekatkan gagang telepon ke telinga dengan tangan gemetar. Hanya berdering satu kali.

“Halo, Bella,” suara tenang itu menyambut di ujung telepon. “Ini sangat cepat. Aku terkesan.”

“Apakah ibuku baik-baik saja?”

“Dia sangat baik-baik. Jangan khawatir, Bella, aku sama sekali tak punya masalah dengannya. Kecuali kau tidak datang sendirian, tentunya.” Ringan, senang.

“Aku sendirian.” Aku tak pernah sesendiri ini seumur hidupku.

“Bagus sekali. Sekarang, kau tahu studio balet di belokan dekat rumahmu?”

“YA, aku tahu jalan ke sana.”

“Well, kalau begitu, kita akan bertemu sebentar lagi.”

Aku menutup telepon.

Aku lari meninggalkan ruangan, melewati pintu muka, menuju panas yang menyengat.

Tak ada waktu untk menoleh dan memandang rumahku, dan aku tak ingin melihatnya seperti saat ini— kosong, simbol rasa takut dan bukannya tempat berlindung. Orang terakhir yang memasuki ruang-ruang yang sangat kukenal itu adalah musuhku.

Dari sudut mata aku nyaris bisa melihat ibuku berdiri di bawah bayangan pohon kayu putih tempat aku biasa bermain ketika masih kanak-kanak. Atau berlutut di gundukan tanah di sekitar kotak pos, makam segala macam bunga yang coba ditanam Mom. Ingatan-ingatan itu lebih baik daripada kenyataan mana pun yang bakal kulihat hari ini. Tapi aku menjauh dari semua itu, menuju belokkan, meninggalkan semua di belakangku.

Aku merasa sangat lamban, seperti berlari di pasir basah—seolah-olah aku tak memiliki kekuatan untuk menyusuri jalanan ini. Beberapa kali aku terpeleset, sekali jatuh, menahan tubuhku dengan tangan, lalu tertatih-tatih bergerak maju. Tapi akhirnya aku sampai di ujung jalan. Tinggal satu ruas jalan lagi sekarang. Aku berlari, peluh menetes-netes di wajahku, napas terengah-engah. Sinar matahari terasa panas di kulitku, kelewat terang saat memantul di aspal putih dan menyilaukan pandangan. Aku merasa terekspos habishabisan. Lebih mengerikan daripada yang pernah kubayangkan, aku kini mengharapkan hutan-hutan hijau Forks yang protektif… rumahku.

Ketika berbelok di sudut terakhir, menuju jalan Cactus, aku bisa melihat studio itu, seperti yang selama ini kuingat. Lapangan parkir di depannya kosong, semua kerai jendela tertutup. Aku tak bisa lari lagi—aku tak sanggup bernapas, kelelahan dan ketakutan mengalahkanku. Aku memikirkan ibuku agar bisa terus bergerak, langkah demi langkah.

Ketika semakin dekat, aku bisa melihat tanda di balik pintu. Ditulis tangan di atas kertas pink menyala, tulisan itu berbunyi ‘studio tari ditutup selama libur musim semi’. Kusentuh gagang pintunya, menariknya membuka perlahan. Tidak dikunci. Aku berusaha mengatur napas, dan membuka pintu

Lobi gelap dan kosong, sejuk, terdengar deru suara pendingin ruangan. Kursi plastik lipat ditumpuk sepanjang dinding, karpetnya beraroma shampo. Lantai dansa sebelah barat gelap, aku bisa melihatnya lewat jendela yang terbuka. Lanpu-lampu di lantai dansa sebelah timur yang lebih besar menyala, tapi kerai jendelanya tertutup.

Ketakutan mencengkramku begitu kuat hingga seperti menjeratku. Aku tak bisa memaksa kakiku melangkah.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka