Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

Kepalanya menoleh, matanya terpaku padaku, ekspresinya masih hampa, aneh. Aku langsung tersadar ia tidak berbicara padaku, ia menjawab pertanyaan Jasper.

“Apa yang kau lihat?” kataku—suaraku yang datar dan tak peduli tidak mencerminkan pertanyaan.

Jasper menatapku tajam. Aku menjaga ekspresiku tetap hampa dan menunggu. Mata Jasper kebingungan saat dengat cepat menatap wajahku dan Alice, merasakan kepanikan.. karena sekarang aku bisa menebak apa yang dilihat Alice.

Aku merasakan ketenangan meliputi sekelilingku. Aku menyambutnya, menggunakannya untuk megendalikan emosiku.

Alice sendiri juga berhasil mengontrol dirinya.

“Tidak ada apa-apa, sungguh,” akhirnya ia menjawab, suaranya luar biasa tenang dan meyakinkan. “Hanya ruangan yang sama seperti sebelumnya.”

Alice akhirnya memandangku, ekspresinya lembut dan tenang. “Kau mau sarapan?”

“Tidak, aku makan di bandara saja.” Aku juga terdengar sangat tenang. Aku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Hampir seolah meminjam indra istimewa Jasper, aku bisa merasakan keinginan Alice— meskipun tersembunyi dengan baik—agar aku meninggalkan kamar dan ia bisa berdua saja dengan Jasper. Supaya ia bisa memberitahu Jasper bahwa mereka melakukan sesuatu yang keliru, bahwa mereka bakal gagal…

Aku bersiap-siap seperti robot, berkonsentrasi pada setiap hal kecil. Rambutku dibiarkan tergerai, berayun menutupi wajah. Suasana damai yang diciptakan Jasper mempengaruhi dan membantuku berpikir jernih. Membantuku menyusun rencana. Aku merogoh-rogoh tasku hingga menemukan kaus kakiku yang berisi uang. Aku mengosongkannya dan memasukkan uangnya ke saku.

Ingin sekali rasany segera tiba di bandara, dan aku merasa lega ketika kami berangkat pukul tujuh. Kali ini aku duduk sendirian di belakang. Alice menyandarkan tubuh di pintu, wajahnya menghadap Jasper, tapi dari balik kacamata hitamnya ia melirikku setiap beberapa detik.

“Alice?” tanyaku cuek.

Ia menjawab hati-hati, “Ya?”

“Bagaimana cara kerjanya? Hal-hal yang kaulihat itu?” Aku menatap ke luar jendela, suaraku terdengar bosan. “Kata Edward hal yang kaulihat tidak berarti final… bahwa hal-hal berubah?” Menyebut namanya jauh lebih sulit dari yang kukira. Pasti itulah yang membuat Jasper waspada dan mengerahkan gelombang ketenangan baru di mobil yang kami tumpangi.

“Ya, hal-hal bisa berubah…” gumam Alice—mudah-mudahan, pikirku. “Beberapa hal lebih pasti dari yang lain.. seperti cuaca. Manusia lebih sulit. Aku hanya melihat hal yang mereka lakukan ketika mereka sedang melakukannya. Begitu mereka berubah pikiran—membuat keputusan baru, tak peduli betapa kecil— seluruh masa depan pun berubah.”

Aku mengangguk penuh perhatian. “Jadi kau tidak bisa melihat James di Phoenix sampai dia memutuskan datang ke sini.”

“Ya,” ia menimpali, kembali waspada.

Dan ia tidak melihatku di ruangan cermin itu bersama James sampai aku membuat keputusan untuk menemuinya di sana. Aku berusaha tidak memikirkan apa lagi yang mungkin dilihatnya. Aku tidak ingin kepanikanku membuat Jasper semakin curiga. Mereka akan mengawasiku lebih ketat lagi sekarang, terutama setelah penglihatan Alice. Rencanaku nyaris tak mungkin terlaksana.

Kami tiba di bandara. Keberuntungan berpihak padaku, atau barangkali kebetulan saja. Pesawat Edward mendarat di terminal empat, terminal paling besar tempat mendaratnya semua penerbangan—jadi fakta itu bukan sesuatu yang aneh. Tapi toh itulah terminal yang kubutuhkan : yang terbesar, yang paling memusingkan. Dan ada pintu di lantai tiga yang bisa jadi satu-satunya kesempatan.

Kami parkir di lantai empat, di garasi berukuran raksasa. Aku menunjukkan jalan, berhubung pengetahuanku tentang bandara ini lebih baik daripada mereka. Kami menggunakan lift untuk turun ke lantai tiga tempat para penumpang turun. Lama sekali Alice dan Jasper memandangi papan jadwal penerbangan. Aku bisa mendengar mereka mendiskusikan pro dan kontra tenang New York, Atlanta, Chicago. Tempat-tempat yang tak pernah kulihat. dAn takkan pernah kulihat.

Aku menungu kesempatan, tidak sabar, tak mampu menghentikan jari kakiku mengetuk-ngetuk. Kami duduk di barisan kursi panjang di dekat pendeteksi logam, Jasper dan Alice berpura-pura memperhatikan orang-orang yang lalu lalang, tapi sebenarnya mereka mengawasiku. Lirikan cepat mereka mengikuti setiap gerakanku. Benar-benar tak ada harapan. Apakah aku lari saja? Apakah mereka berani menggunakan kemampuan mereka untuk menghentikanku di tempat umum seperti ini? Atau mereka hanya mengikuti?

Aku mengeluarkan suara tak beralamat itu dari sakuku dan meletakkannya di atas tas kulit hitam Alice. Ia menatapku.

“Suratku,” kataku. Ia mengangguk, menyelipkannya di balik penutup bagian atas. Edward akan segera menemukannya.

Menit-menit berlalu dan waktu kedatangan Edwad semakin dekat. Betapa menakjubkan, setiap sel tubuhku sepertinya mengetahui kedatangannya, menginginkan kedatangannya. Itu membuatnya sangat sulit. Aku mendapati diriku memikirkan alasan untuk tetap tinggal, untuk melihatnya dulu, baru melarikan diri. Tapi aku tahu akan mustahil kabur kalau Edwad sudah disini.

Beberapa kali Alice menawarkan menemaniku membeli sarapan. Aku memberitahunya belum ingin sarapan.

Aku memandang papan jadwal kedatangan, memperhatikan saat penerbangan demi penerbangan tiba tepat waktu. Penerbangan dari Seattle merangkak mendekati batas teratas.

Ketika aku hanya punya tiga puluh menit untuk melarikan diri, angka-angka itu berubah. Pesawatnya tiba sepuluh menit lebih cepat. Aku tak punya waktu lagi.

“Kurasa aku mau makan sekarang,” kataku buru-buru.

Alice berdiri. “Aku ikut bersamamu.”

“Kau keberatan kalau Jasper saja yang menemaniku?” tanyaku. “Aku merasa sedikit…” Aku tidak menyelesaikan kalimatku. Mataku cukup liar sehingga bisa menyampaikan apa yang tidak kukatakan.

Jasper bangkit berdiri. Mata Alice tampak bingung,tapi—yang membuatku lega—dia tidak curiga. Ia pasti menganggap perubahan dalam penglihatanya sebagai hasil rencana si pemburu, bukannya penghianatanku.

Jasper berjalan tanpa suara di sisiku, tangannya di punggungku, seolah membimbingku. Aku berpurapura tidak tertarik pada beberapa kafe yang mula-mula kami lihat, pandanganku mencari-cari apa yang sesungguhnya kuinginkan. Dan di sanalah, di belokan, di luar jangkauan mata Alice yang tajam : toilet wanita lantai tiga.

“Kau keberatan?”” tanyaku pada Jasper saat kami melintasinya. “Aku tidak bakal lama.”

Begitu pintu menutup di belakang, aku lari. Aku ingat saat tersesat dari kamar mandi ini karena pintunya ada dua.

Pintu yang lain tak jauh dari lift. Aku hanya perlu lari sebentar, dan kalu Jasper tetap menunggu di tempat, ia takkan bisa melihatku. Aku tidak menoleh ke belakang saat berlari. Ini satu-satunya kesempatanku, bahkan kalaupun Jasper melihat, aku harus terus berlari. Orang-prang menatapku, tapi aku mengabaikannya. Di belokan lift sudah menanti, dan aku berlari, mengulurkan tangan di antara pintunya yang hampir menutup. Lift itu penuh sesak oleh orang-orang yang akan turun. Aku menyelinap di antar pengguna lift yang kesal, dan memastikan tombol lantai satu sudah ditekan. Sudah menyala, dan pintu lift pun menutup.

Begitu pintunya membuka, aku lari lagi meninggalkan gerutuan jengkel di belakangku. Aku memperlambat lariku saat melewati petugas sekuriti di rel pemindai koper, dan lari lagi begitu mendekati pintu keluar. Aku tidak tahu apakah Jasper sudah mulai mencariku atau belum. Aku hanya punya beberapa detik kalau ia mengikuti bau tubuhku. Aku melompat keluar dari pintu otomatis, nyaris menabrak kacanya ketika pintu itu membuka terlalu pelan.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka