Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

Charlie mengejutkanku karena ekspresinya tampak marah.

“Orang-orang di kota ini,” gumamnya. “Dr. Cullen ahli bedah genius dan dia bisa saja memilih bekerja di rumah sakit dimana pun di dunia ini, dengan gaji sepuluh kali lipat daripada yang didapatkannya disini,” lanjutnya, suaranya makin keras. “Kita beruntung memilikinya—beruntung istrinya mau tinggal di kota kecil. Dia aset bagi komunitas kita, dan perilaku anak-anak mereka baik dan sopan. Aku memang pernah ragu ketika mereka pertama pindah kesini, dengan anak-anak remaja adopsi itu. Kupikir mereka akan menimbulkan masalah. Tapi mereka sangat dewasa—aku belum mendapat satu masalahpun dari mereka. Sesuatu yang belum pernah dilakukan anak-anak yang orangtuanya telah tinggal disini selama beberapa generasi. Dan keluarga itu hidup seperti keluarga biasa—pergi kemping setiap 2 akhir pekan sekali… Tapi hanya karena mereka pendatang baru, lalu orang-orang menggunjingkan mereka.”

Itu ucapan terpanjang yang pernah kudengar dari Charlie. Ia pasti tidak menyukai apa pun yang dikatakan orang-orang.

Aku mundur sedikit. “Bagiku mereka sepertinya cukup ramah. Hanya saja kulihat mereka sepertinya menyendiri. Mereka sangat menarik,” tambahku.

“Kau harus bertemu dr. Cullen,” kata Charlie tertawa. “Untunglah pernikahannya bahagia. Banyak perawat di rumah sakit sulit berkonsentrasi bila dia berada di sekitar mereka.”

Kami kembali terdiam ketika selesai makan. Charlie membersihkan meja sementara aku mencuci piring. Ia kembali menonton TV, dan setelah selesai mencuci piring—dengan enggan aku naik untuk mengerjakan PR Matematika-ku. Aku bisa merasakan sebuah tradisi ketika mengerjakannya.

Malam itu suasana tenang. Aku tertidur dengan cepat, kelelahan.

Sisa minggu itu berlangsung membosankan. Aku terbiasa dengan rutinitas kelasku. Pada hari Jumat aku sudah bisa mengenali wajah, kalaupun bukan nama, hampir semua murid di sekolah. Di gymnasium anak-anak sudah paham untuk tidak mengoper bola padaku dan tidak buru-buru melangkah di depanku kalau tim lain mencoba memanfaatkan kelemahanku. Dengan senang hati aku menyingkir dari mereka.

Edward Cullen tidak kembali ke sekolah.

Setiap hari, dengan waswas aku memperhatikan sampai seluruh keluarga Cullen memasuki kafetaria tanpanya. Setelah itu baru aku bisa santai dan ikut nimbrung dalam pembicaraan makan siang. Sering kali obrolan kami adalah mengenai perjalanan menuju La Push Ocean Park dua minggu mendatang yang diprakarsai Mike. Aku diajak, dan telah setuju untuk ikut. Bukan karena ingin, tapi lebih karena tidak enak menolaknya. Pantai seharusnya panas dan kering.

Hari Jumat dengan nyaman aku memasuki ruang kelas Biologiku, tak lagi menghawatirkan Edward. Yang kutahu, ia telah meninggalkan sekolah. Aku berusaha tidak memikirkannya, tapi aku tak bisa benar-benar menekan kekhawatiran bahwa akulah yang bertanggung jawab atas absennya Edward. Memang konyol sih.

Akhir pekan pertamaku di Forks berlalu tanpa insiden. Charlie, yang tidak terbiasa menghabiskan waktu di rumah yang biasanya kosong, memilih bekerja sepanjang akhir pekan. Aku membersihkan rumah, mengerjakan PR, dan menulis e-mail yang lebih ceria untuk ibuku. Hari Sabtu aku pergi ke perpustakaan, tapi berhubung koleksinya sangat sedikit, aku tidak jadi membuat kartu anggota; aku harus segera membuat jadwal untuk segera mengunjungi Olympia atau Seattle dan menemukan toko buku bagus disana. Iseng, aku membayangkan seberapa jauh jarak tempuh truk ini… dan bergidik memikirkannya.

Sepanjang akhir pekan hujan gerimis, tenang, sehingga aku bisa tidur nyenyak.

Hari Senin orang-orang menyapaku di parkiran. Aku tidak tahu nama mereka masing-masing, tapi aku balas melambai dan tersenyum pada semuanya. Pagi ini cuaca lebih dingin, tapi untungnya tidak hujan. Di kelas bahasa Inggris, seperti biasa Mike duduk di sebelahku. Ada ulangan mendadak mengenai Wuthering Heights. Sejujurnya, ulangan itu sangat mudah.

Secara keseluruhan aku merasa jauh lebih nyaman daripada yang kusangka bakal kurasakan pada titik ini. Lebih nyaman daripada yang pernah kuperkirakan.

Ketika kami berjalan keluar kelas, udara dipenuhi butiran putih yang berputar-putar. Aku bisa mendengar orang-orang berteriak kesenangan. Angin menerpa pipi dan hidungku.

“Wow,” kata Mike. “Salju.”

Aku memandang butiran kapas kecil yang mulai menggunung di sepanjang jalan setapak dan berputarputar di wajahku.

“Uuuh.” Salju. Hilang sudah hari baikku.

Mike tampak terkejut. “Tidakkah kau suka salju?”

“Tidak. Itu berarti terlalu dingin untuk turun hujan.” Jelas. “Selain itu, kupikir seharusnya salju turun dalam bentuk kepingan—tahu kan, masing-masing bentuknya unik dan sebagainya. Ini sih hanya kelihatan seperti ujung cotton bud.”

“Kau pernah melihat salju tidak sih?” tanyanya heran.

“Tentu saja pernah.” Aku terdiam. “Di TV.”

Mike tertawa. Lalu bola salju besar dan lembut menghantam bagian belakang kepalanya. Kami berbalik untuk melihat darimana asalnya. Aku curiga itu perbuatan Eric, yang berjalan jauh memunggungi kami—dan bukannya menuju kelasnya. Sepertinya Mike memiliki dugaan yang sama. Ia membungkuk dan mulai membentuk bola putih.

“Kita bertemu lagi saat makan siang, oke?” aku berkata sambil terus berjalan. “Begitu orang-orang mulai melemparkan bola-bola basah itu, aku langsung masuk.”

Mike hanya mengangguk, matanya tertuju pada sosok Eric yang semakin menjauh.

Sepagian itu semua orang membicarakan salju dengan perasaan senang, rupanya ini salju pertama di tahun baru. Aku tidak mengatakan apa-apa. Tentu saja lebih kering daripada hujan—sampai saljunya mencair di kaus kakimu.

Aku berjalan waspada menuju kafetaria bersama Jessica seusai kelas bahasa Spanyol. Bola-bola salju melesat dimana-man. Aku memegang binder di tanganku, siap menggunakannya sebagai pelindung bila diperlukan. Jessica menganggapku konyol, tapi sesuatu pada ekspresiku menahannya untuk tidak melemparkan bola salju ke arahku.

Mike menghampiri ketika kami sampai di pintu. Ia tertawa, gumpalan es meleleh di rambutnya. Ia dan Jessica bicara penuh semangat tentang perang salju ketika kami antre membeli makanan. Di luar kebiasaan aku memandang sekilas ke meja di pojok. Lalu aku berdiri mematung. Ada 5 orang di meja itu.

Jessica menarik lenganku.

“Halo? Bella? Kau mau apa?”

Aku menunduk, telingaku panas. Aku tak punya alasan untuk merasa malu, aku mengingatkan diriku sendiri. Aku tidak melakukan sesuatu yang salah.

“Bella kenapa sih?” Mike bertanya pada Jessica.

“Tidak apa-apa,” jawabku. “Hari ini aku minum soda saja.” Aku berjalan pelan ke ujung antrean.

“Kau tidak lapar?” tanya Jessica.

“Sebenarnya, aku merasa sedikit tidak enak badan,” kataku, mataku masih tertuju ke lantai.

Aku menunggu Mike dan Jessica mengambil makanan mereka, lalu mengikuti mereka ke meja, mataku menatap ke bawah.

Aku menghirup sodaku pelan-pelan, perutku keroncongan. Dua kali Mike menanyakan keadaanku, dengan kekhawatiran yang sebenarnya tidak perlu. Kukatakan aku baik-baik saja, tapi dalam hati berpikir apakah sebaiknya aku bersandiwara saja dan menyembunyikan diri di UKS selama 1 jam kedepan.

Konyol. Aku seharusnya tak perlu melarikan diri.

Aku memutuskan untuk melirik sekali lagi ke meja tempat keluarga Cullen berada. Kalau ia menatapku, aku akan bolos kelas Biologi, seperti pengecut.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka