Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

Aku lega karena bisa menempati meja itu sendirian, berhubung Edward tidak masuk. Aku terus-terusan mengingatkan diriku, tapi aku tak bisa mengenyahkan kecurigaan bahwa akulah alasan ketidakhadirannya. Betapa konyol dan narsis mengira diriku bisa mempengaruhi orang seperti itu. Tidak mungkin. Tapi toh aku tak bisa berhenti mengkhawatirkan bahwa itu benar.

Ketika sekolah akhirnya usai, dan rona di pipiku akibat kecelakaan waktu main voli tadi mulai memudar, aku buru-buru mengenakan kembali jins dan sweter biru tentaraku. Aku bergegas meninggalkan kamar ganti cewek, senang karena untuk sementara berhasil melepaskan diri dari temanku yang suka mengekor. Aku berjalan cepat menuju parkiran. Tempat itu dipenuhi murid yang lalu-lalang. Aku masuk ke truk dan mengaduk-aduk tas, memastikan semua ada disitu.

Semalam aku mengetahui Charlie tidak bisa memasak kecuali membuat telur goreng dan bacon. Jadi aku meminta diberi tugas memasak selama tinggal bersamanya. Charlie dengan senang hati menyerahkan urusan itu kepadaku. Aku juga mendapati Charlie tidak menyimpan makanan apapun di rumah. Jadi aku membuat daftar belanjaan, lalu mengambil uang dari stoples bertuliskan UANG MAKANAN uang disimpan di lemari, dan sekarang akan menuju Thriftway.

Aku menyalakan mesin truk yang menggelegar, mengabaikan kepala-kepala yang menengok, dan mundur pelan menuju mobil yang mengantre keluar dari parkiran. Ketika aku menunggu, mencoba berpurapura bahwa deru yang memekakkan telinga ini berasal dari mobil orang lain, aku melihat Cullen bersaudara, dan si kembar Hale masuk ke mobil mereka. Volvo baru yang mengkilap. Tentu saja. Sebelumnya aku tidak memperhatikan pakaian mereka—aku kelewat terpesona dengan rupa mereka. Karena sekarang aku memperhatikan, jelas sekali mereka berpakaian sangat bagus; simpel, namun bermerek. Dengan rupa mereka yang luar biasa keren, gaya mereka, mereka bisa saja memakai lap tangan dan tetap kelihatan keren. Rasanya berlebihan sekali memiliki keduanya: wajah rupawan dan uang. Tapi sejauh yang kutahu, hidup memang lebih sering seperti itu. Dan sepertinya kenyataan itu tak lantas membuat mereka diterima disini.

Tidak, aku tak percaya sepenuhnya. Mereka memang suka menyendiri; tak bisa kubayangkan tak ada yang tidak mau menyambut ketampanan dan kecantikan seperti itu.

Mereka memandang trukku yang berisik ketika aku melewati mereka, sama seperti yang lain. Pandanganku tetap terarah ke muka dan aku merasa lega ketika akhirnya keluar dari lahan sekolah.

The Thriftway tak jauh dari sekolah, hanya beberapa blok ke selatan, selepas jalan raya. Rasanya menyenangkan bisa berada di supermarket; rasanya normal. Di tempat asalku akulah yang berbelanja, dan aku menyukainya. Supermarket itu cukup luas sehingga aku tak dapat mendengar tetesan air hujan di atap yang mengingatkan keberadaanku sekarang.

Sesampai di rumah aku mengeluarkan semua barang belanjaan, lalu menyumpalkannya dimana-mana. Kuharap Charlie tidak keberatan. Kubungkus kentang dengan aluminium dan kumasukkan ke oven lalu memanggangnya, melapisi steak dengan saus marinade, dan meletakkannya di atas sekarton telur di kulkas.

Selesai melakukannya, aku membawa tas sekolahku ke atas. Sebelum mengerjakan PR, aku mengganti pakaian dengan yang kering, mengikat rambutku yang lembab jadi kuncir kuda, dan memeriksa e-mail-ku untuk pertama kali. Aku mendapat 3 pesan.

“Bella,” tulis ibuku…

Kirimi aku kabar begitu kau sampai. Ceritakan bagaimana penerbanganmu. Apakah hujan? Aku sudah merindukanmu. Aku hampir selesai mengepak untuk ke Florida, tapi aku tak bisa menemukan blus pinkku. Kau tahu dimana meletakkannya? Phil kirim salam. Mom.

Aku mendengus dan membaca pesan berikutnya. Pesan itu dikirim 8 jam setelah pesan pertama. “Bella,” tulisnya…

Kenapa kau belum kirim e-mail? Apa sih yang kau tunggu? Mom.

Yang terakhir dikirim pagi ini Isabella, Kalau sampai jam 5.30 sore ini aku belum juga mendengar kabar darimu, aku akan menelepon Charlie.

 

Aku melihat jam. Aku masih punya waktu 1 jam, tapi ibuku sangat terkenal suka meledak-ledak.

Mom, Tenang saja. Aku sedang menulis sekarang. Jangan konyol. Bella.

Aku mengirimnya, dan memulai lagi.

Mom,

Semua baik-baik saja. Tentu saja disini hujan. Aku menunggu sampai punya cerita yang bisa kubagikan. Sekolahku tidak jelek, hanya sedikit mengulang pelajaran. Aku bertemu beberapa anak yang baik yang makan siang bersamaku.

Blus pinkmu ada di dry clean—kau harus mengambilnya hari Jumat.

Charlie memberikan aku truk, kau percaya? Aku menyukainya. Mobil tua, tapi benar-benar ‘bandel’, yang berarti bagus, kau tahu kan, buatku.

Aku juga rindu padamu. Aku akan menulis lagi nanti, tapi aku takkan mengecek email-ku setiap 5 menit sekali. Tenang, tarik napas. Aku sayang Mom.

Bella

Kuputuskan untuk membaca Wuthering Heights—novel yang sedang kami pelajari di kelas bahasa Inggris—demi kesenangan, dan itulah yang kulakukan ketika Charlie pulang. Aku lupa waktu, dan bergegas turun mengeluarkan kentang dari oven serta memanggang steaknya.

“Bella?” panggil ayahku ketika mendengar aku menuruni tangga. Memangnya ada orang lain? pikirku.

“Hei, Dad. Sudah pulang?”

“Ya.” Ia menggantungkan sabuk senjatanya dan melepaskan botnya sementara aku sibuk di dapur.

Setahuku, ia tak pernah menembakkan senapannya selama bertugas. Tapi senjatanya itu selalu siaga. Waktu aku datang kesini, ketika masih kanak-kanak, Dad selalu mengosongkan pelurunya begitu dia masuk ke rumah. Kurasa sekarang dia sudah menganggapku cukup dewasa sehingga tidak akan dengan sengaja menembak diriku sendiri, dan tidak depresi sehingga mencoba bunuh diri.

“Kita makan malam apa?” tanya Dad hati-hati. Ibuku juru masak imajinatif, dan percobaannya tak selalu

aman untuk dimakan. “Steak dan kentang,” jawabku, dan Dad tampak lega. Sepertinya dia merasa salah tingkah berada di dapur tanpa melakukan apa-apa; jadi dia pergi ke ruang

tamu dengan langkah diseret lalu menonton TV sementara aku bekerja di dapur. Ini lebih nyaman buat kami berdua. Aku membuat salad sementara steaknya sedang dipanggang, kemudian menyiapkan meja makan. Aku memanggil ayahku ketika makan malam sudah siap, dan ia mengendus nikmat sambil menuju

ruang makan. “Aromanya lezat, Bell.” “Terima kasih.” Selama beberapa menit kami makan dalam diam. Namun diam yang nyaman. Tak satupun dari kami

terusik keheningan itu. Dalam beberapa hal, kami sangat cocok hidup bersama. “Jadi, bagaimana sekolahmu? Apa kau sudah dapat teman baru?” Dad berkata setelah mengulur waktu.

“Well, aku mengambil beberapa kelas bersama cewek bernama Jessica. Saat makan siang, aku duduk bersama teman-temannya. Lalu ada cowok, Mike, yang sangat bersahabat. Semuanya kelihatan lumayan baik.” Dengan satu pengecualian mencolok.

“Itu pasti Mike Newton. Anak baik—keluarganya baik. Ayahnya memiliki toko perlengkapan olahraga di luar kota. Karena banyak backpacker datang kesini, dia cukup berhasil.

“Apa kau mengenal keluarga Cullen?” tanyaku ragu-ragu. “Mereka… anak-anaknya… agak berbeda. Sepertinya mereka tak bisa beradaptasi dengan baik di sekolah.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka