Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

Aku mendesah. “Mereka menyukaiku. Tapi Rosalie dan Emmett…” aku tidak menyelesaikan katakataku, tak yakin bagaimana caranya mengekspresikan keraguanku.

Ia merengut. “Jangan khawatirkan Rosalie,” katanya, matanya melebar dan persuasif. “Dia akan datang.”

Aku mencibir. “Emmett?”

“Well, dia pikir aku gila, dan dia benar, tapi dia tidak punya masalah denganmu. Dia mencoba berempati dengan Rosalie.”

“Apa yang membuat Rosalie tidak suka?” Aku tak yakin apakah aku ingin mengetahui jawabannya.

Ia menarik napas dalam-dalam. “Rosalie yang paling berjuang keras… menutupi jati diri kami. Sulit baginya bila ada seseorang dari luar mengetahui kebenarannya. Dan dia agak cemburu.”

“Rosalie cemburu padaku?” tanyaku tak percaya. Aku berusaha membayangkan sebuah kehidupan dimana di dalamnya ada seseorang semenawan Rosalie memiliki alasan apapun untuk merasa cemburu pada seseorang seperti aku.

“Kau manusia.” Ia mengangkat bahu. “Dia berharap seandainya dia juga manusia.”

“Oh,” gumamku, masih terkejut. “Bahkan Jasper…”

“Ini benar-benar salahku,” katanya. “Sudah kubilang, dia yang terakhir mencoba cara hidup kami. Aku mengingatkannya untuk menjaga jarak.”

Aku memikirkan alasannya melakukan hal itu, dan bergidik.

“Esme dan Carlisle…?” lanjutku cepat, untuk mencegahnya menyadari kengerianku.

“Senang melihatku bahagia. Sebenarnya, Esme tidak akan peduli seandainya kau punya tiga mata dan kakimu berselaput. Selama ini dia mengkhawatirkan aku, takut ada sesuatu yang hilang dari karakter utamaku, bahwa aku terlalu muda ketika Carlisle mengubahku… Dia sangat senang. Setiap kali aku menyentuhmu, dia nyaris tersedak oleh perasaan puas.”

“Alice tampak sangat… bersemangat.”

“Alice punya caranya sendiri dalam melihat hal-hal,” katanya dengan bibir terkatup rapat.

“Dan kau takkan menjelaskannya, ya kan?”

Sesaat keheningan melintas diantara kami. Ia menyadari bahwa aku tahu ia menyembunyikan sesuatu dariku. Aku tahu ia takkan mengatakan apa-apa. Tidak sekarang.

“Jadi, tadi Carlisle bilang apa padamu?”

Alisnya menyatu. “Aku tahu kau pasti memperhatikan.”

Aku mengangkat bahu. “Tentu saja.”

Ia memandangku lekat-lekat sebentar sebelum menjawab. “Dia ingin memberitahuku beberapa hal— dia tidak tahu apakah aku mau memberitahumu.”

“Apakah kau akan memberitahuku?”

“Aku harus, karena aku akan sedikit… kelewat protektif selama beberapa hari kedepan—atau minggu— dan aku tak mau kau berpikir bahwa sebenarnya aku ini orang yang kejam.”

“Ada apa?”

“Sebenarnya tidak ada apa-apa. Alice hanya melihat akan ada beberapa tamu. Mereka tahu kami ada disini, dan mereka penasaran.”

“Tamu?”

“Ya… well, mereka tidak seperti kami, tentu saja—maksudku dalam kebiasaan berburu mereka. Barangkali mereka sama sekali tidak akan datang ke kota, tapi jelas aku takkan melepaskanmu dari pengawasanku sampai mereka pergi.”

Aku bergidik ngeri.

“Akhirnya, respons yang masuk akal!” gumamnya. “Aku mulai berpikir kau sama sekali tidak menyayangi dirimu.”

Aku mengabaikan gurauannya, memalingkan wajah, mataku sekali lagi menjelajahi ruangan yang luas itu.

Ia mengikuti arah pandanganku. “Tidak seperti yang kauharapkan, ya kan?” tanyanya, suaranya terdengar arogan.

“Tidak,” aku mengakuinya.

“Tidak ada peti mati, tidak ada tumpukan kerangka di sudut; aku bahkan yakin kami tidak memiliki sarang laba-laba… pasti semua ini sangat mengecewakanmu,” lanjutnya mengejek.

Aku mengabaikannya. “Begitu terang… begitu terbuka.”

Ia terdengar lebih serius saat menjawab. “Ini satu-satunya tempat dimana kami tak perlu bersembunyi.”

Lagu yang masih dimainkannya, laguku, tiba di bagian akhir, kord terakhir berganti menjadi not yang lebih melankolis. Not terakhir mengalun sedih dalam keheningan.

“Terima kasih,” gumamku. Aku tersadar air mata merebak di pelupuk mataku. Aku menyekanya, malu.

Ia menyentuh sudut mataku, menyeka titik air mata yang tersisa. Ia mengangkat jarinya, mengamati tetes air itu lekat-lekat. Kemudian, begitu cepat hingga aku tak yakin ia benar-benar melakukannya, ia meletakkan jarinya ke mulutnya untuk merasakannya.

Aku menatapnya bertanya-tanya, dan ia balas memandangku lama sekali sebelum akhirnya tersenyum.

“Apakah kau ingin melihat ruangan lainnya di rumah ini?”

“Tidak ada peti mati?” aku mengulanginya, kesinisan dalam suaraku tak sepenuhnya menyamarkan perasaan waswas yang kurasakan.

Kami menaiki anak tangga yang besar-besar, tanganku menyusuri birai tangga yang halus bagai satin. Ruangan panjang di lantai atas memiliki elemen kayu berwarna kuning madu, sama seperti lantai keramiknya.

“Kamar Rosalie dan Emmett… ruang kerja Carlisle… kamar Alice…” Ia menunjukkannya sambil menuntunku melewati pintu-pintu itu.

Ia bisa saja melanjutkan, tapi aku berhenti mendadak dan terperanjat di akhir ruang besar itu, terkesiap memandang ornamen yang menggantung di dinding di atas kepalaku, Edward tergelak, menertawai ekspresiku yang bingung.

“Kau boleh tertawa,” katanya. “Bisa dibilang ironis.”

Aku tidak tertawa. Tanganku terulus dengan sendirinya, satu jari menunjuk seolah ingin menyentuh salib kayu besar itu, warna permukaannya yang gelap mengkilat, sangat kontras dengan warna dinding yang terang dan ringan. Aku tidak menyentuhnya, meskipun penasaran apakah kayu yang sudah sangat tua itu terasa sama lembutnya seperti kelihatannya.

“Pasti sudah sangat tua,” aku menebaknya.

Ia mengangkat bahu. “Awal 1630-an, kurang lebih.”

Aku mengalihkan pandangan dari salib itu kepada Edward.

“Mengapa kalian menyimpannya disini?” aku bertanya-tanya.

“Nostalgia. Itu milik ayah Carlisle.”

“Dia mengoleksi barang-barang antik?” aku menebak ragu-ragu.

“Tidak. Dia mengukirnya sendiri. Salib ini digantungkan di atas altar rumah gereja tempatnya memberi pelayanan.”

Aku tak yakin apakah wajahku dapat menutupi keterkejutanku, tapi aku kembali memandang salib kuno dan sederhana itu, untuk berjaga-jaga. Aku langsung menghitung dalam hati salib itu berusia lebih dari 370 tahun. Keheningan berlanjut saat aku berusaha menyimpulkan pikiranku mengenai tahun-tahun yang begitu banyak.

“Kau baik-baik saja?” Ia terdengar waswas.

“Berapa umur Carlisle?” tanyaku pelan, mengabaikan pertanyaannya, masih memandangi salib.

“Dia baru saja merayakan ulang tahunnnya yang ke-362,” jawab Edward. Aku kembali menatapnya, berjuta-juta pertanyaan tersimpan di mataku.

Ia memperhatikanku dengan hati-hati ketika berbicara.

“Carlisle lahir di London, pada tahun 1640-an, menurutnya. Lagipula bagi orang-orang awam, saat itu perhitungan waktu belum terlalu tepat. Meski begitu, saat itu tepat sebelum pemerintahan Cormwell.”

Aku tetap menjaga ekspresiku, sadar ia mengamatiku saat aku menyimak. Lebih mudah seandainya aku tidak mencoba mempercayainya.

“Dia putra tunggal seorang pendeta Aglican. Ibunya meninggal saat melahirkannya. Ayahnya berpandangan sempit. Saat penganut Protestan mulai berkuasa, dia begitu semangat membantai umat Katolik Roma dan agama lainnya. Dia juga sangat percaya adanya roh jahat. Dia mengizinkan perburuan penyihir, werewolf… dan vampir.” Tubuhku semakin kaku mendengar kata itu. Aku yakin ia memperhatikan, tapi ia melanjutkannya.

“Mereka membakar banyak orang tak berdosa—tentu saja makhluk-makhluk sesungguhnya yang dicarinya tidak mudah ditangkap.”

“Ketika sang pendeta semakin tua, dia menempatkan anak laki-lakinya yang patuh sebagai pimpinan dalam pencarian. Awalnya kemampuan Carlisle mengecewakan; dia tidak gesit menuduh; untuk menemukan roh-roh jahat diaman mereka tidak eksis. Tapi dia tetap ngotot, dan lebih pintar dari ayahnya. Dia benar-benar menemukan vampir sejati yang hidup tersembunyi di gorong-gorong kota, hanya keluar pada malam hari untuk berburu. Pada masa itu, ketika monster bukan hanya mitos dan legenda, begitulah cara mereka hidup.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka