Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

“Kau mau tepukan tangan?” tanyaku sinis.

Ia nyengir.

“Aku hanya terkejut,” ia menjelaskan. “Selama kurang-lebih seratus tahun terakhir,” suaranya menggoda, “aku tak pernah membayangan sesuatu seperti ini. Aku tak pernah percaya akan pernah menemukan seseorang dengan siapa aku ingin menghabiskan waktuku… bukan dalam artian seorang adik. Dan menemukan, meskipun semuanya baru bagiku, bahwa aku bisa mengendalikan diriku saat… bersamamu…”

“Kau bisa melakukan apa saja,” ujarku.

Ia mengangkat bahu, menerima pujianku, dan kami tertawa pelan.

“Tapi kenapa sekarang bisa begitu mudah?” desakku. “Sore tadi…”

“Ini tidak mudah,” desahnya. “Tapi sore tadi, aku masih… ragu. Maafkan aku soal itu, benar-benar tak termaafkan sikap seperti itu.”

“Tidak tak termaafkan,” sergahku.

“Terima kasih.” Ia tersenyum. “Kau tahu,” lanjutnya, sekarang menunduk, “aku tak yakin apakah aku cukup kuat…” Ia mengangkat satu tanganku dan menempelkannya lembut ke wajahnya. “Selain kemungkinan aku dapat… menaklukan”—ia menghirup aroma pergelangan tanganku—“aku juga rapuh. Sampai aku memutuskan diriku memang cukup kuat, bahwa sama sekali tak ada kemungkinan aku akan… bahwa aku tak dapat…”

Aku tak pernah melihatnya kesulitan menemukan kata-kata. Begitu… manusiawi.

“Jadi sekarang tidak ada kemungkinan?”

“Tekad yang kuat mengalahkan segala hambatan fisik,” ulangnya, tersenyum, giginya tampak berkilau bahkan dalam kegelapan.

“Wow, itu tadi mudah,” sahutku.

Ia mengedikkan kepala dan tertawa, sepelan bisikan, namun tetap bersemangat.

“Mudah bagimu!” ralatnya, menyentuh hidungku dengan ujung jarinya.

Lalu wajahnya tiba-tiba serius.

“Aku berusaha,” bisiknya, suaranya sedih. “Kalau nanti segalanya jadi… kelewat berat, aku tak yakin akan bisa pergi.”

Aku menatapnya marah. Aku tidak suka membicarakan kepergian.

“Dan akan lebih sulit besok,” lanjutnya. “Aku menyimpan aroma tubuhmu di kepalaku seharian, dan aku jadi luar biasa kebal terhadapnya. Seandainya aku jauh darimu selama apapun, aku harus mengulang semuanya lagi. Tapi tidak benar-benar dari awal, kurasa.”

“Kalau begitu jangan pergi,” timpalku, tak mampu menyembunyikan hasrat dalam suaraku.

“Setuju,” balasnya, wajahnya berubah menjadi senyuman lembut. “Kemarikan borgolnya—aku adalah tawananmu.” Tapi tangannya yang panjang membentuk borgol di sekeliling pergelangan tanganku saat mengatakannya. Ia mengeluarkan tawa merdunya yang pelan. Malam ini ia lebih banyak tertawa daipada seluruh waktu yang kuhabiskan dengannya sebelumnya.

“Kau tampak lebih… ceria dari biasanya,” kataku. “Aku belum pernah melihatmu seperti ini sebelumnya.”

“Bukankah seharusnya seperti ini?” Ia tersenyum. “Keindahan cinta pertama, dan semuanya. Bukankah mengagumkan, perbedaan antara membaca sesuatu, melihatnya di gambar, dan merasakannya sendiri?”

“Sangat berbeda,” timpalku. “Lebih kuat daripada yang pernah kubayangkan.”

“Contohnya”—kata-katanya lebih mengalir sekarang, aku sampai harus berkonsentrasi untuk menangkap semuanya—“perasaan cemburu. Aku telah membacanya ratusan kali, melihatnya dimainkan aktor dalam ribuan pertunjukan dan film. Aku yakin telah memahaminya dengan jelas. Tapi toh itu mengejutkanku…” Ia meringis. “Kau ingat waktu Mike mengajakmu pergi ke pesta dansa?”

Aku mengangguk, meski aku mengingat hari itu untuk alasan berbeda. “Hari itu kau mulai bicara lagi denganku.”

“Aku terkejut karena kemarahan, nyaris murka, yang kurasakan—awalnya aku tidak menyadarinya. Aku bahkan lebih jengkel daripada sebelumnya karena tidak bisa mengetahui apa yang kaupikirkan, mengapa kau menolaknya. Apakah itu hanya semata-mata demi persahabatanmu dengan Jessica? Apakah ada orang lain? Aku tahu bagaimanapun juga aku tak punya hak untuk memedulikannya. Aku berusaha untuk tidak peduli.

“Lalu semuanya mulai jelas,” ia tergelak. Aku menatapnya jengkel dalam gelap.

“Aku menunggu, kelewat ingin mendengar apa yang akan kaukatakan pada mereka, untuk mengamati ekspresimu. Aku tak bisa menyangkal perasaan lega yang kurasakan saat menyaksikan wajahmu yang kesal. Tapi aku tak bisa yakin.

“Itu adalah malam pertama aku datang kesini. Sambil melihatmu tidur, aku bergumul semalaman antara apa yang kutahu benar, bermoral, etis, dengan apa yang kuinginkan. Aku tahu seandainya aku terus mengabaikanmu sebagaimana seharusnya, atau seandainya aku pergi selama beberapa tahun, sampai kau pergi dari sini, suatu hari kelak kau akan mengatakan ya pada Mike, atau seseorang seperti dia. Dan pemikiran itu membuatku marah.”

“Kemudian,” ia berbisik, “ketika kau tidur, kau menyebut namaku. Kau menyebutnya begitu jelas, hingga awalnya kukira kau terbangun. Tapi kau bergulak-gulik gelisah, dan menggumamkan namaku sekali lagi, lalu mendesah. Perasaan yang menyelimutiku kemudian adalah perasaan takut, bahagia. Dan aku pun tahu, aku tak bisa mengabaikanmu lebih lama lagi.” Ia terdiam sebentar, barangkali mendengarkan jantungku yang tiba-tiba berdebar-debar.

“Tapi kecemburuan… adalah hal aneh. Jauh lebih kuat daripada yang kukira. Dan tidak masuk akal! Baru saja, ketika Charlie menanyakan soal si brengsek Mike Newton itu…” Ia menggelengkan kepala keras-keras.

“Aku seharusnya tahu kau pasti menguping,” gerutuku.

“Tentu saja,”

“Dan itu membuatmu cemburu, benarkah?”

“Semua ini hal baru bagiku; kau membangkitkan sisi manusia dalam diriku, dan segalanya terasa lebih kuat karena ini baru.”

“Yang benar saja,” godaku, “itu tidak ada apa-apanya, mengingat aku harus mendengar bahwa Rosalie— Rosalie, penjelmaan kecantikan yang murni, Rosalie—sebenarnya tercipta untukmu. Emmett atau tanpa Emmett, bagaimana aku bisa bersaing dengan kenyataan itu?”

“Tidak ada persaingan.” Giginya berkilauan. Ia menarik tanganku ke punggungnya, membawaku ke dadanya. Aku diam sebisa mungkin, bahkan bernafas dengan hati-hati.

“Aku tahu tidak ada persaingan,” gumamku di kulitnya yang dingin. “Itulah masalahnya.”

“Tentu saja Rosalie memang cantik dengan caranya sendiri,tapi bahkan seandainya dia bukan seperti adik bagiku, bahkan seandainya Emmett tidak bersamanya, dia takkan pernah memiliki sepersepuluh, tidak, seperseratus daya tarikmu terhadapku.” Ia serius sekarang, tulus. “Selama hampir sembilan puluh tahun hidup bersama jenisku sendiri, dan jenis kalian… selama itu aku berpikir bahwa aku sempurna di dalam diriku sendiri, sama sekali tak menyadari apa yang kucari. Dan tidak menemukan apa pun, karena kau belum dilahirkan.”

“Kedengarannya tidak adil,” bisikku, wajahku masih rebah di dadanya, mendengarkan irama napasnya. “Aku sama sekali tak perlu menunggu. Mengapa bagiku semudah itu?”

“Kau benar,” timpalnya senang. “Aku harus membuatnya lebih sulit bagimu, sudah pasti.” Ia melepaskan salah satu tangannya, melepaskan pergelangan tanganku, hanya untuk memindahkannya dengan pelan ke tangannya yang lain. Ia membelai lembut rambut basahku, dari ujung kepala sampai ke pinggang. “Kau hanya perlu membahayakan hidupmu setiap detik yang kauhabiskan bersamaku, dan tentu saja itu tidak terlalu banyak. Kau hanya perlu berpaling dari alam, dari kemanusiaan… seberapa besar harga yang harus kaubayar?”

“Sangat sedikit—aku tak merasa dirugikan untuk apapun.”

“Belum.” Dan sekonyong-konyong suaranya dipenuhi dengan kesedihan yang mendalam.

Aku berusaha menarik diri untuk memandang wajahnya, tapi tangannya mengunci pergelangan tanganku sangat erat.

“Apa—” aku mulai bertanya, tapi tubuhnya menegang. Aku membeku, namun tiba-tiba ia melepaskan tanganku, lalu menghilang. Aku nyaris jatuh terjembap.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka