Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

“Jangan takut,” bisiknya lagi sambil mendekat, dengan amat perlahan. Ia duduk luwes, dengan gerakan tak bergegas yang disengaja, hingga wajah kami sejajar, hanya terpisah tiga puluh senti.

“Kumohon maafkan aku,” pintanya. “Aku bisa mengendalikan diri. Kau membuatku tak berdaya. Tapi sekarang aku dalam keadaan sangat terkendali.”

Ia menunggu, tapi aku masih tak sanggup bicara.

“Sejujurnya, hari ini aku tidak merasa haus.” Ia mengedipkan mata.

Mendengar itu aku harus tertawa, meski suaraku gemetar dan tertahan.

“Apakah kau baik-baik saja?” tanyanya lembut, perlahan dan hati-hati mengulurkan tangannya yang bak pualam dan kembali menggenggam tanganku.

Aku memandang tangannya yang dingin dan halus, lalu matanya. Mata itu lembut, penuh penyesalan. Aku kembali menatap tangannya, kemudian dengan sengaja menelusuri garis tangannya dengan ujung jariku. Aku memandangnya dan tersenyum gugup.

Senyuman balasannya sungguh mempesona.

“Jadi, tadi kita sampai dimana, sebelum aku bersikap kasar?” tanyanya dengan aksen tempo dulu yang lembut.

“Sejujurnya, aku tidak bisa mengingatnya.”

Ia tersenyum, tapi wajahnya tampak malu. “Kurasa kita sedang membicarakan kenapa kau merasa takut, disamping alasan yang sudah jelas.”

“Oh, benar.”

“Jadi?”

Aku menunduk menatap tangannya, dan dengan lembut menggerak-gerakkan tanganku di telapak tangannya yang berkilauan. Detik demi detik pun berlalu.

“Betapa mudahnya aku marah,” desahnya. Aku menatap matanya, dengan cepat memahami bahwa setiap kejadian ini adalah hal baru baginya, juga bagiku. Dan terlepas dari begitu banyaknya hal yang tak terpahami yang dialaminya bertahun-tahun. Ini juga masih sama sulitnya baginya. Kubersarkan hatiku melihat kenyataan ini.

“Aku takut… karena, untuk, well, alasan yang jelas, aku tak bisa terus berada di dekatmu. Dan aku takut keinginan untuk terus bersamamu lebih kuat dari seharusnya.” Aku menunduk menatap tangan-tangannya ketika mengatakan semua itu. Sulit bagiku untuk menyatakannya secara gamblang.

“Ya,” timpalnya pelan. “Jelas, itu sesuatu yang perlu ditakutkan. Keinginan untuk bersamaku. Itu sungguh bukan keinginanmu yang terbaik.”

Aku cemberut.

“Aku seharusnya pergi sejak lama,” desahnya. “Aku seharusnya pergi sekarang. Tapi aku tak tahu apakah aku bisa.”

“Aku tak ingin kau pergi,” gumamku sedih, seraya menunduk lagi.

“Itulah sebabnya aku harus pergi. Tapi jangan khawatir. Pada dasarnya aku makhluk egois. Aku selalu menginginkan kehadiranmu untuk melakukan apa yang seharusnya kulakukan.”

“Aku senang.”

“Jangan!” Ia menarik tangannya, kali ini lebih lembut; suaranya lebih parau daripada biasanya. Parau untuk ukurannya, tapi toh masih lebih indah daripada suara manusia mana pun. Sulit rasanya untuk mengikutinya—perubahan suasana hatinya yang tiba-tiba selalu membuatku terlambat memahami situasi, dan bingung.

“Bukan hanya keberadaanmu yang kuinginkan! Jangan pernah lupakan itu. Jangan pernah lupa aku lebih berbahaya bagimu daripada bagi orang lain.” Ia berhenti, dan aku melihatnya diam-diam memandang ke dalam hutan.

Aku berpikir sesaat.

“Sepertinya aku tidak mengerti apa yang sebenarnya kau maksud—terutama bagian terakhir,” kataku.

Ia kembali menatapku dan tersenyum, belum apa-apa suasana hatinya lagi-lagi berubah.

“Bagaimana aku menjelaskannya?” godanya. “Tanpa membuatmu takut lagi…. hmmmm.” Tanpa terlihat memikirkannya, ia meletakkan tangannya dalam genggamanku; dan aku menggenggamnya erat-erat dengan kedua tanganku. Ia memandang tangan kami.

“Kehangatan ini luar biasa menyenangkan.” Ia mendesah.

 

Sesaat berlalu saat ia mengumpulkan pikirannya.

“Kau tahu bagaimana orang-orang menikmati rasa yang berbeda-beda?” Ia memulai. “Beberapa orang menyukai es krim cokelat, yang lain memilih stroberi?”

Aku mengangguk.

“Maaf aku menggunakan makanan sebagai perumpamaan—aku tak tahu cara lain untuk menjelaskannya.”

Aku tersenyum. Ia balas tersenyum menyesal.

“Kau tahu, setiap orang punya aroma berbeda, inti berbeda. Bila kau mengunci seorang peminum dalam ruangan penuh bir basi, dia akan dengan senang meminumnya. Tapi dia bisa menolaknya, kalau ia memang ingin, kalau ia bukan peminum lagi. Sekarang misalnya kautaruh sebotol brendi berumur ratusan tahun di ruangan itu, cognac langka terbaik—dan memenuhi ruangan itu dengan aromanya yang hangat— menurutmu, apa yang akan dilakukannya?”

Kami duduk diam, saling menatap—mencoba membaca pikiran satu sama lain.

Dialah yang akhirnya mengakhiri keheningan itu.

“Barangkali itu bukan perbandingan yang tepat. Barangkali terlalu mudah untuk menolak brendi. Mungkin aku harus mengganti si peminum dengan pecandu heroin.”

“Jadi maksudmu, aku semacam heroin bagimu?” godaku, berusaha mencairkan suasana.

Ia langsung tersenyum, sepertinya menghargai usahaku. “Ya, kau adalah heroin bagiku.”

“Apakah itu sering terjadi?” tanyaku.

Ia memandang melampaui puncak pohon, memikirkan jawabannya.

“Aku membicarkan hal ini dengan saudara laki-lakiku.” Ia masih memandang kejauhan. “Bagi Jasper, kalian manusia kurang-lebih sama. Dialah yang terakhir bergabung dalam keluarga kami. Sulit baginya untuk sama sekali berpantang. Dia tak punya waktu untuk menumbuhkan kepekaan untuk membedakan aroma, juga rasa.” Ia memandangku, raut wajahnya menyesal.

“Maaf,” katanya.

“Aku tak keberatan. Kumohon jangan khawatir kau akan membuatku tersinggung, atau takut, atau apapun. Begitulah caramu berpikir. Aku bisa mengerti, atau setidaknya mencoba. Jelaskan saja sebisamu.”

Ia menghela napas dalam-dalam dan kembali menatap langit.

“Jadi, Jasper tak yakin apakah dia pernah menemukan seseorang yang sama”—ia ragu, mencari-cari kata yang tepat—“menariknya seperti kau bagiku. Yang membuatku tidak menggunakan akal sehat. Emmett, bisa dibilang sudah lebih lama bersama kami, jadi dia mengerti maksudku. Dia mengatakan sudah dua kali mengalaminya, yang kedua lebih kuat daipada yang pertama.”

“Dan kau?”

“Tidak pernah.”

Kata itu melayang sesaat di sana, dalam embusan angin yang hangat.

“Apa yang dilakukan Emmett?” tanyaku memecah keheningan.

Pertanyaan yang salah. Wajahnya menjadi gelap, tangannya mengepal dalam genggamanku. Ia membuang muka. Aku menunggu, tapi ia takkan menjawab.

“Kurasa aku tahu,” kataku akhirnya.

Ia melirik; wajahnya muram, memohon.

“Bahkan yang terkuat di antara kita pun pernah khilaf, bukan begitu?”

“Apa yang kauminta dariku? Izinku?” Suaraku lebih tajam daripada yang kuinginkan. Aku mencoba membuat suaraku lebih ramah—aku bisa menebak harga yang harus dibayarnya karena telah bersikap jujur. “Maksudku, apakah tidak ada harapan lagi?” Betapa tenangnya aku membahas kematianku sendiri!

“Tidak, tidak!” Ia langsung menyesal. “Tentu saja ada harapan! Maksudku, tentu saja aku tidak akan…” Ia tidak menyelesaikan kalimatnya, matanya nanar menatapku. “Kisah kita berbeda. Emmett.. dia tidak mengenal kedua gadis itu, mereka hanya kebetulan berpapasan denganya. Kejadiannya sudah lama sekali, dan dia tidak… setangkas dan sehati-hati sekarang.”

Ia terdiam dan mengamatiku lekat-lekat ketika aku merenungkannya.

“Jadi kalau kita bertemu… oh, di lorong gelap atau apa…” Nyaliku ciut.

“Aku harus mengerahkan segenap kemampuan agar tidak melompat ke tengah kelas penuh murid dan—“ Sekonyong-konyong ia berhenti, memalingkan wajah. “Ketika aku berjalan melewatiku, aku bisa saja menghancurkan semua yang Carlisle bangun untuk kami, saat itu juga. Seandainya aku tidak menyangkal rasa hausku sejak, yah, bertahun-tahun yang lalu, aku takkan sanggup menghentikan diriku sendiri.” Ia berhenti, memandang geram pepohonan.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka