Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

“Bella, tunggu,” serunya.

Hatiku mencelos. Apakah Billy sempat mengatakan sesuatu sebelum aku bergabung dengan mereka di ruang tamu?

Tapi Charlie tampak tenang, di wajahnya masih tersisa senyuman dari kunjungan yang tak disangkasangka tadi.

“Kita belum sempat mengobrol malam ini. Bagaimana harimu?”

“Baik,” aku menyahut enggan, satu kakiku pada undakan pertama, benakku memikirkan informasi mana yang bisa kuceritakan pada Charlie. “Tim bulu tangkisku memenangkan empat nomor pertandingan yang digelar.”

“Wow, aku tak tahu kau bisa bermain bulu tangkis.”

“Well, sebenarnya sih tidak, tapi partnerku sangat hebat,” aku mengakuinya.

“Siapa?” nadanya tertarik.

“Mmm… Mike Newton,” sahutku ogah-ogahan.

“Oh ya—kau pernah bilang kau beretman dengan si Newton itu.” Suaranya penuh semangat. “Keluarganya baik.” Ia terkagum-kagum sebentar. “Kenapa kau tidak mengajaknya ke pesta dansa akhir pekan ini?”

“Dad!” erangku. “Dia berkencan dengan Jessica, temanku. Lagipula kau kan tahu aku tidak bisa berdansa.”

“Oh iya,” gumamnya. Lalu ia tersenyum menyesal padaku. “Jadi kurasa bagus bagimu untuk pergi Sabtu nanti… Aku berencana pergi memancing bersama teman-temanku sepulang kerja. Cuaca seharusnya cukup hangat. Tapi kalau kau ingin menunda perjalananmu hingga ada yang bisa menemanimu, aku akan di rumah saja. Aku tahu aku terlalu sering meninggalkanmu sendirian di rumah.

“Dad, kau oke.” Aku tersenyum, berharap kelegaanku tidak kentara. “Aku tak pernah keberatan tinggal di rumah sendirian—kita kan mirip.” Aku mengerling padanya hingga sudut-sudut matanya mengerut.

Tidurku lebih pulas malam itu, kelewat lelah untuk bermimpi. Ketika aku terbangun di pagi hari yang kelabu, suasana hatiku bahagia. Malam yang menegangkan bersama Billy dan Jacob kelihatannya tidak terlalu berbahaya lagi sekarang; jadi kuputuskan untuk melupakan semuanya. Aku mendapati diriku bersiul ketika menjepit rambutku, dan lagi ketika aku melompat-lompat menuruni tangga. Charlie memperhatikan.

“Pagi ini kau ceria sekali,” sahutnya saat sarapan.

Aku mengangkat bahu. “Ini Jumat.”

Aku bergegas, sehingga begitu Charlie berangkat aku sudah siap. Tasku sudah siap, sepatu sudah kukenakan, gigi sudah bersih, namun meskipun aku bergegas ke pintu sudah hilang dari pandangan, ternyata Edward lebih cepat dariku. Ia sedang menanti di mobilnya yang mengkilap, jendelanya terbuka, mesinnya mati.

Kali ini aku tidak ragu-ragu lagi, langsung masuk ke jok penumpang, supaya lebih cepat memandang wajahnya. Ia tersenyum lebar padaku, membuat napas dan jantungku berhenti. Aku tak bisa membayangkan malaikat bisa lebih indah daripada dia. Tak ada yang bisa menandinginya dalam hal apa pun.

“Bagaimana tidurmu semalam?” tanyanya. Aku bertanya-tanya apakah ia menyadari, betapa menggoda suaranya.

“Baik. Bagaimana dengan malammu?”

“Menyenangkan.” Senyumnya memukau; aku merasa ada humor di dalamnya yang tak berhasil kutangkap.

“Boleh aku bertanya apa saja yang kaulakukan?” tanyaku.

“Tidak.” Ia nyengir. “Hari ini masih milikku.”

Hari ini ia ingin tahu tentang orang-orang dalam hidupku: lebih banyak tentang Reneé, hobinya, apa yang kami lakukan bersama-sama waktu senggang. Kemudian satu-satunya nenek yang kutahu, beberapa teman sekolah—membuatku malu ketika ia menanyakan tentang cowok-cowok yang berkencan denganku. Aku lega karena tak pernah benar-benar berkencan, jadi topik yang satu itu tidak berlangsung lama. Ia, sama seperti Jessica dan Angela, terkejut mendengar sejarah kehidupan percintaanku yang sama sekali nol.

“Jadi kau tak pernah bertemu orang-orang yang ingin kau jumpai?” tanyanya serius, membuatku bertanya-tanya apa yang dipikirkannya.

Dengan enggan aku mengakuinya. “Tidak di Phoenix.”

Bibirnya terkatup erat.

Saat ini kami di kafetaria. Hari berlalu begitu cepat dalam kelebatan yang segera berubah jadi rutinitas. Aku memanfaatkan diamnya untuk menggigit bagelku.

“Aku seharusnya membiarkanmu mengemudi sendiri hari ini,” katanya, sama sekali tak ada hubungannya, sementara aku mengunyah.

“Kenapa?” tanyaku.

“Aku akan pergi dengan Alice setelah makan siang.”

“Oh.” Mataku mengerjap, bingung dan kecewa. “Tidak masalah, berjalan kaki tidak terlalu jauh kok.”

Ia menatapku tidak sabaran. “Aku takkan membiarkanmu pulang jalan kaki. Kami akan mengambil trukmu dan meninggalkannya di parkiran.

“Aku tidak membawa kuncinya,” desahku. “Aku benar-benar tidak keberatan berjalan kaki.” Yang membuatku keberatan adalah kehilangan waktu bersamanya.

Ia menggeleng. “Trukmu akan ada disini, kuncinya tergantung di lubang starter—kecuali kau khawatir seseorang akan mengambilnya.” Ia menertawai perkataannya sendiri.

“Baiklah,” aku menyetujuinya, bibirku merengut. Aku cukup yakin kunciku ada di kantong jins yang kupakai hari Rabu, di tumpukan pakaian di ruang cuci. Bahkan kalaupun ia menerobos masuk ke rumahku, atau apapun yang direncanakannya, ia takkan menemukannya. Ia sepertinya merasa tertantang dengan jawabanku tadi. Ia nyengir, terlalu percaya diri.

“Jadi, kau mau kemana?” tanyaku sewajar mungkin.

“Berburu,” jawabnya dingin. “Kalau aku berduaan denganmu besok, aku akan melakukan tindakan pencegahan apapun yang kubisa.” Wajahnya bertambah muram… dan memelas. “Kau boleh membatalkannya kapan saja, kau tahu itu.”

Aku menunduk, khawatir akan tatapannya yang persuatif. Aku menolak merasa takut padanya, tak peduli berapa nyata bahaya yang mungkin menghadang. Itu tak masalah, ulangku dalam benakku.

“Tidak,” bisikku, balas menatapnya. “Aku tak bisa.”

“Barangkali kau benar,” gumamnya putus asa. Warna matanya berubah gelap ketika kuperhatikan.

Aku mengubah topik kami. “Jam berapa kita ketemu besok?” tanyaku, sudah merasa sedih memikirkan ia bakal pergi.

“Tergantung… itu kan Sabtu, tidakkah kau ingin bangun lebih siang?” ia menawarkan.

“Tidak,” aku menjawab terlalu cepat. Ia menahan senyum.

“Kalau begitu waktu yang sama seperti biasa,” katanya. “Charlie akan ada di rumah?”

“Tidak, besok dia pergi mancing,” ujarku membayangkan betapa semuanya berjalan lancar.

Suaranya berubah tajam. “Dan kalau kau tidak pulang, apa yang akan dipikirkannya?”

“Aku tidak tahu,” jawabku tenang. “Dia tahu aku berencana mencuci pakaian. Barangkali dipikirnya aku terjatuh ke dalam mesin cuci.”

Ia memandangku marah dan aku membalasnya. Kemarahannya jauh lebih mengesankan daripada kemarahanku.

“Kau akan berburu apa malam ini?” tanyaku akhirnya, ketika yakin telah kalah dalam adu tatapan marah.

“Apa saja yang bisa kami temukan. Kami tidak pergi jauh-jauh.” Ia tampak heran dengan sikapku yang biasa saja menanggapi rahasia gelapnya.

“Kenapa kau pergi dengan Alice?” tanyaku.

“Alice yang paling… mendukung.” Dahinya mengerut ketika mengatakan itu.

“Dan yang lain?” tanyaku hati-hati. “Mereka apa?”

Sesaat ia mengernyitkan alis. “Bisa dibilang tidak percaya.”

Aku langsung menoleh ke arah keluarganya. Mereka duduk, memandang ke berbagai arah, persis ketika pertama kali melihat merka. Hanya saja sekarang mereka berempat, saudara laki-laki mereka yang menawan dan berambut perunggu duduk berseberangan denganku, matanya yang keemasan tampak gelisah.

“Mereka tidak menyukaiku,” aku mencoba menebak.

“Bukan itu,” protesnya, tapi tatapannya kelewat polos. “Mereka tidak mengerti kenapa aku tak bisa meninggalkanmu.”

Aku meringis. “Untuk masalah ini, aku juga tidak mengerti.

Edward menggeleng pelan, matanya memandangin langit-langit sebelum menatapku lagi. “Sudah kubilang—kau sendiri sama sekali tidak memahami dirimu. Kau tidak seperti orang-orang yang pernah kukenal. Kau membuatku kagum.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka