Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

Itu CD yang sama. Aku mengamati sampulnya yang tak asing lagi, sambil terus menunduk.

Sepanjang hari itu terus berlanjut seperti itu. Sambil mengantarku ke kelas Bahasa Inggris, ketika menemuiku seusai kelas Bahasa Spanyol, sewaktu makan siang, ia terus-menerus menanyakan detail-detail remeh dalam hidupku. Film yang kusuka dan tidak kusuka, beberapa tempat yang pernah kukunjungi, dan mengenai buku-buku—untuk yang satu ini tak ada habisnya.

Aku tidak bisa mengingat terakhir kali aku bicara sebanyak itu. Sering kali aku tersadar, pasti aku telah membuatnya bosan. Tapi ia kelihatannya menyerap semua informasi yang kusampaikan, dan rentetan pertanyaannya yang bertubi-tubi memaksaku meneruskannya. Kebanyakan pertanyaannya mudah, hanya sedikit sekali yang membuat wajahku merona merah. Tapi ketika wajahku akhirnya toh merah padam, ia malah mulai melontarkan rentetan pertanyaan baru lagi.

Seperti ketika ia menanyakan batu kesukaanku, dan aku langsung menjawab topaz tanpa berpikir. Ia menderaku dengan pertanyaan-pertanyaan itu begitu cepat sehingga aku merasa sedang menjalani psikotes saat kau langsung menyebutkan kata pertama yang terlintas dalam benakmu. Aku yakin ia pasti akan melanjutkan daftar pertanyaan dalam benaknya, kalau saja wajahku tidak merah padam. Wajahku memerah karena, selama ini batu kesukaanku adalah garnet. Ketika memandang matanya yang bertanya matanya yang berwarna topaz, mustahil aku tidak ingat alasannya mengapa aku kini menyukai topaz. Dan, tentu saja, ia takkan menyerah hingga aku mengakui mengapa aku jadi malu.

“Katakan,” akhirnya ia memerintahkan setelah bujukkannya tidak berhasil—dadal hanya karena aku berhasil mengelak menatap wajahnya.

“Itu warna matamu hari ini,” desahku, pasrah, memandangi tanganku yang bermain-main dengan rambutku. “Kurasa kalau kau menanyakannya dua mingu lalu, aku akan bilang onyx.” Aku mengatakan terlalu banyak dari seharusnya, dan aku khawatir ini akan menimbulkan kemarahan aneh yang muncul setiap kali aku

salah bicara dan mengungkapkan obsesiku terlalu jelas.

Tpai ia terdiam hanya sedetik.

“Kau suka bunga apa?” desaknya lagi.

Aku menghela napas lega, dan terus menjawab pertanyaannya.

Kelas Biologi menjadi masalah lagi. Edward terus melontarkan pertanyaan sampai Mr. Banner memasuki kelas, sambil menarik kereta audiovisual lagi. Ketika guru itu mendekati panel lampu, aku melihat Edward menggeser kursinya agak sedikit jauh. Tapi itu tidak membantu. Begitu ruangan gelap, percikan listrik itu muncul lagi, hasrat yang sama untuk mengulurkan tangan dan menyentuh kulitnya yang dingin seperti kemarin telah kembali.

Aku mencondongkan tubuh ke meja, meletakkan dagu di atas lengan yang kulipat, jemariku yang tersembunyi meremas ujung meja saat aku berusaha mengabaikan hasrat konyol yang membuaku resah. Aku tak melihat ke arahnya, khawatir ia juga sedang memandangku, dan itu hanya membuatku sulit mengendalikan diri. Aku mencoba menonton dengan sungguh-sungguh, namun pada akhir pelajaran aku tak tahu apa yang baru saja kusaksikan. Aku menghela napas lega ketika Mr. Banner menyalakan lampu kembali, akhirnya memandang Edward; ia sedang menatapku, sorot matanya bingung.

Tanpa berkata-kata ia bangkit dan diam tak bergerak, menungguku. Kami berjalan ke gymnasium tanpa bicara, seperti kemarin. Dan seperti kemarin juga ia menyentuh wajahku tanpa berkata-kata—kali ini dengan punggung tangannya yang dingin, membelai kening hingga rahangku—sebelum akhirnya berbalik dan pergi.

Pelajaran Olahraga berlalu cepat ketika aku menyaksikan Mike berlaga dalam nomor tunggal bulu tangkis. Ia tidak berbicara padaku hari ini, entah karena ekspresiku yang hampa atau karena ia masih marah karena pertengkaran kami kemarin. Di suatu tempat, di sudut benakku, aku merasa bersalah. Tapi aku tak bisa berkonsentrasi padanya.

Setelah itu aku langsung mengganti pakaian, gelisah, tahu semakin cepat aku bergerak, semakin cepat pula aku akan menemui Edward. Tekanan itu membuatku lebih tegang daripada biasanya, tapi akhirnya aku melangkah keluar, merasakan kelegaan yang sama ketika melihatnya berdiri disana. Senyum lebar mengembang di wajahku. Ia balas tersenyum sebelum mengamatiku lebih dalam.

Pertanyaan-pertanyaannya berbeda sekarang, tak mudah untuk dijawab. Ia ingin tahu apa yang kurindukan dari rumahku, ia memaksaku menggambarkan apa saja yang tidak biasa baginya. Berjam-jam kami duduk di depan rumah Charlie, langit mulai gelap dan hujan sekonyong-konyong turun membasahi sekeliling kami.

Aku berusaha menggambarkan hal-hal abstrak seperti aroma antiseptik—pahit, agak lengket, tapi masih menyenangkan—bunyi cicada yang melingking dan agak lantang, pepohonan kering yang rapuh, luasnya langit, warna biru dan putih yang membentang sepanjang kaki langit, nyaris tak terselingi pegununganpegunungan rendah dengan bebatuan vulkanik ungu. Hal tersulit yang harus kujelaskan adalah mengapa itu semua begitu indah bagiku—untuk menjelaskan keindahan yang tidak ada hubungannya dengan tumbuhtumbuhan berduri yang sering tampak sekarat, keindahan yang lebih berkaitan dengan lekuk tanah yang menonjol, dengan lembah-lembah yang menekuk dangkal di antara bukit-bukit berbatu, dan cara menggapai matahari. Aku sadar menggunakan kedua tanganku ketika menggambarkan semua itu padanya.

Pertanyaannya yang sederhana namun menyelidik membuatku terus berbicara dengan bebasnya. Dalam cahaya temaram badai, aku dibuatnya lupa untuk merasa malu karena telah memonopoli pembicaraan. Akhirnya, ketika aku selesai mendeskripsikan kamarku yang berantakan di rumah, bukannya melontarkan pertanyaan lain, ia malah terdiam.

“Kau sudah selesai?” tanyaku lega.

“Hampir selesai pun tidak—tapi ayahmu sebentar lagi pulang.”

“Charlie!” Aku tiba-tiba menyadari keberadaannya, dan mendesah. Aku menerawang ke langit yang gelap karena derasnya hujan, tapi aku tak tahu jam berapa sekarang. “Jam berapa sekarang?” tanyaku sambil melihat jam. Aku kaget melihat waktu—Charlie sedang dalam perjalanan pulang sekarang.

“Sudah twilight—rembang petang,” gumam Edward, memandang langit barat yang gelap tertutup awan. Nada suaranya melamun, seolah pikirannya jauh entah dimana. Aku menatapnya ketika ia memandang ke luar kaca depan mobil.

“Ini saat paling aman bagi kami,” katanya, menjawab tatapanku yang bertanya-tanya. “Saat termudah, tapi juga yang paling sedih, mengingat… ini adalah akhir satu hari lain, kembalinya sang malam. Kegelapan begitu mudah ditebak, bukankah begitu?” Ia tersenyum muram.

“Aku suka malam. Tanpa kegelapan kita takkan pernah melihat bintang.” Aku mengerutkan kening. “Meski disini tak banyak yang bisa dilihat.”

Ia tertawa, dan suasana di tengah-tengah kami tiba-tiba ceria lagi.

“Charlie akan sampai sebentar lagi. Jadi, kecuali kau mau memberitahunya kau akan memberitahunya kau akan bersamaku Sabtu nanti…” Alisnya naik sebelah.

“Terima kasih, tapi tidak!” Kukumpulkan buku-bukuku, tubuhku kaku karena terlalu lama duduk. “Jadi, kalau begitu besok giliranku?”

“Tentu saja tidak!” Wajah marahnya menggodaku. “Aku sudah bilang belum selesai, kan?”

“Ada apa lagi sih?”

“Kau akan tahu besok.” Ia mencondongkan tubuh meraih pegangan pintuku dan membukakannya. Kedekatannya yang tiba-tiba membuat jantungku berdetak liar.

Tapi tangannya membeku di pegangan pintu.

“Kacau,” gumamnya.

“Apa?” aku terkejut melihat rahangnya terkunci erat, tatapannya gelisah.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.