Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

Mr. Mason mengabsen kami, menyuruh kami mengumpulkan tugas. Pelajaran bahasa Inggris dan Pemerintahan lewat begitu saja, sementara aku waswas bagaimana menjelaskan semuanya kepada Jessica, dan apakah Edward akan benar-benar mendengarkan apa yang kukatakan lewat pikiran Jess. Betapa bakat kecilnya itu sangat membuat tidak nyaman—kalau sedang tidak digunakan untuk menyelamatkan jiwaku.

Kabut nyaris lenyap pada akhir pelajaran kedua, tapi hari masih gelap dan awan mendung masih menutupi langit.

Tentu saja Edward benar. Ketika aku memasuki kelas Trigono, Jessica sudah duduk di deret belakang, nyaris melompat-lompat di bangkunya, penasaran. Dengan enggan aku duduk di sebelahnya, mencoba menyakinkan diriku sendiri lebih baik menyelesaikannya secepat mungkin.

“Ceritakan semuanya!” perintahnya sebelum aku duduk.

“Apa yang ingin kauketahui?” tanyaku hati-hati.

“Apa yang terjadi semalam?”

“Dia mengajakku makan malam, lalu mengantarku pulang.”

Ia memandang marah padaku, wajahnya tegang, sinis. “Bagaimana kau bisa pulang secepat itu?”

“Dia ngebut seperti orang sinting. Mengerikan.” Kuharap Edward mendengarnya.

“Apakah itu semacam kencan—apakah kau memberitahunya untuk menemuimu disana?”

Tidak terpikir olehku hal itu. “Tidak—aku sangat terkejut melihatnya disana.

Bibirnya mencibir, kecewa mendengar kejujuranku.

“Tapi hari ini dia menjemputmu ke sekolah?” ia menganalisis.

“Ya—itu juga kejutan. Dia memperhatikan aku tidak membawa jaket semalam,” aku menjelaskan.

“Jadi, kalian akan berkencan lagi?”

“Dia menawarkan mengantarku ke Seattle Sabtu nanti, karena menurut dia, trukku tidak bakal sanggup—apakah itu masuk hitungan?”

“Ya.” Ia mengangguk.

“Well, kalau begitu, ya.”

“W-o-w.” Ia melebih-lebihkan kata itu menjadi tiga suku kata. “Edward Cullen.”

“Aku tahu,” aku setuju dengannya. ‘Wow’ bahkan tidak cukup mewakili.

“Tunggu!” Tangannya terangkat, telapak tangannya menghadapku, seperti sedang menghentikan laju mobil. “Apakah dia sudah menciummu?”

“Belum,” gumamku. “Bukan begitu.”

Dia kelihatan kecewa. Aku yakin diriku juga.

“Menurutmu hari Sabtu…?” Alisnya terangkat.

“Aku sangat meragukannya.” Kekecewaan terasa nyata dalam suaraku.

“Apa yang kalian obrolkan?” desaknya, berbisik meminta informasi lebih lanjut. Kelas sudah dimulai, tapi Mr. Vanner tidak terlalu memperhatikan dan kami bukan satu-satunya yang masih mengobrol.

“Entahlah, Jess, banyak,” aku balas berbisik. “Kami membicarakan tentang tugas esai bahasa Inggris, sedikit.” Sangat, sangat sedikit. Kurasa dia menyingungnya sekilas.

“Ayolah, Bella,” ia merajuk. “Ceritakan detailnya.”

“Well, baiklah… akan kuceritakan satu. Mestinya kaulihat pelayan restoran merayunya—terangterangan sekali. Tapi dia tidak memperhatikan cewek itu sama sekali.” Biar saja Edward menebak-nebak apa maksud perkataanku itu.

“Itu pertanda baik,” Jessica mengangguk. “Apakah pelayan itu cantik?”

“Sangat—dan barangkali umurnya 19 atau 20.”

“Lebih baik lagi. Dia pasti menyukaimu.”

“Kurasa, tapi sulit mengetahuinya. Sikapnya selalu misterius,” kataku membelanya, seraya menghela napas.

“Aku tak mengira kau berani sekali hanya berduaan dengannya,” desahnya.

“Kenapa?” aku terkejut, tapi ia tidak memahami reaksiku.

“Dia begitu… mengintimidasi. Aku takkan tahu apa yang harus kukatakan padanya.” Wajahnya berubah, barangkali mengingat kejadian pagi ini atau semalam, ketika Edward menebarkan pesona tatapannya pada Jess.

“Tapi aku memang punya beberapa masalah dengan logika ketika bersamanya,” aku mengakui.

“Oh well. Dia memang luar biasa tampan.” Jessica mengangkat bahu seolah-olah apa yang dikatakannya menghapus semua kekurangan Edward. Yang barangkali memang begitulah menurut pandangannya.

“Dia jauh lebih daripada sekedar sangat tampan.”

“Sungguh? Seperti apa?”

Aku berharap tidak perbah mengatakan apa-apa, sama seperti aku berharap Edward hanya bercanda ketika mendengarkan percakapan kami.

“Aku tak bisa menjelaskannya dengan tepat… tapi dia jauh lebih luar biasa di balik wajahnya.” Vampir yang ingin menjadi baik—yang berkeliaran menyelamatkan nyawa orang supaya dirinya tidak menjadi monster… Aku menatap ke depan kelas.

“Apakah itu mungkin?” Jessica cekikikan.

Aku mengabaikannya, mencoba terlihat seperti memperhatikan Mr. Vanner.

“Jadi, kau menyukainnya?” Ia belum mau menyerah.

“Ya,” kataku kasar.

“Maksudku, kau benar-benar menyukainya?” desaknya.

“Ya, kataku lagi, wajahku merona. Kuharap detail itu tidak melekat dalam ingatannya.

Sudah cukup dengan pertanyaan yang hanya membutuhkan jawaban satu kata. “Seberapa suka?”

“Terlalu suka,” aku balas berbisik. “Lebih daripada ia menyukaiku. Tapi aku tak tahu bagaimana mengatasinya.” Aku mendesah, wajahku terus merona.

Kemudian, untungnya, Mr. Vanner menyuruh Jessica menjawab pertanyaan.

Ia tak bisa memulai percakapan lagi selama di kelas, dan begitu bel berbunyi, aku langsung menyelamatkan diri.

“Di kelas Inggris, Mike bertanya apakah kau mengatakan sesuatu tentang Senin malam,” aku memberitahunya.

“Kau bercanda! Apa katamu!?” ia menahan napas, perhatiannya benar-benar teralih.

“Kubilang kau sangat menikmatinya—dia kelihatan senang.”

“Katakan apa persisnya yang dikatakannya, juga jawabanmu.”

Kami menghabiskan perjalanan kami ke kelas selanjutnya, dan juga hampir sepanjang pelajaran Spanyol, dengan menggambarkan ekspresi Mike sampai sedetail-detailnya. Aku tidak bakal repot-repot menggambarkannya selama mungkin kalau tidak khawatir pembicaraan akan berbalik padaku.

Bel istirahat siang berbunyi. Ketika aku melompat dari bangku, memasukkan buku-buku sembarangan ke tas, ekspresi wajahku yang bersemangat pasti membuat Jess menyadari sesuatu.

“Hari ini kau tidak akan duduk bersama kami, kan?” tebaknya.

“Kurasa tidak.” Aku tak yakin Edward tidak akan menghilang seperti yang pernah dilakukannya.

Tapi di luar puntu kelas bahasa Spanyol kami—tampak sangat mirip dewa Yunani—Edward sedang menungguku. Jessica melihatnya, memutar bola mata, lalu pergi.

“Sampai nanti, Bella.” Kata-katanya penuh maksud tersembuyi. Kurasa aku harus mematikan teleponku nanti.

“Halo.” Suara Edward mempesona sekaligus mengusik. Ia tadi mendengarkan. Sudah pasti.

“Hai.”

Aku tak bisa memikirkan perkataan apa lagi, dan ia tidak bicara—kurasa ia mengulur-ulur waktu—jadi perjalanan kami ke kafetaria berlangsung hening. Berjalan di sisi Edward menuju kafetaria pada jam makan siang yang padat seperti ini rasanya mirip hari pertamaku disini; semua otang memandangiku.

Ia membimbingku menuju antrean, masih diam, meski beberapa detik sekali ia memadangku, ekspresinya berubah-ubah. Tampak olehku rasa kesal lebih mendominasi wajahnya daripada perasaan senang. Aku memainkan ritsleting jaketku karena gugup.

Ia maju ke konter dan mengisi nampan dengan makanan.

“Apa yang kau lakukan?” tanyaku. “Kau tidak mengambul itu semua untukku, kan?”

Ia menggeleng, maju untuk membayar makanannya.

“Tentu saja separuhnya untukku.”

Alisku terangkat.

Ia membimbingku ke tempat yang kami duduki bersama terakhir kali. Dari ujung meja sekelompok murid senior menatap kami, terkagum-kagum, sementara kami duduk berhadapan. Edward seperti tidak menyadarinya.

“Ambil apa saja yang kau mau,” katanya seraya mendorong nampannya ke arahku,

“Aku penasaran,” kataku sambil mengambil apel dan menggenggamnya, “apa yang kaulakukan bila ada yang menantangmu makan?”

“Kau selalu penasaran.” Ia meringis, menggeleng-gelengkan kepala. Ia memandangku geram, dan sambil terus menatap mataku ia mengambil pizza dari nampan, dan dengan sengaja menggigitnya besar-besar, cepat-cepat mengunyah, dan menelannya. Aku mengamatinya dengan mata membelalak.

“Kalau seseorang menantangmu makan kotoran, kau bisa melakukannya, ya kan?” tanyanya meremehkan.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka