Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

Aku memilih makanan pertama yang kulihat di menu. “Mmm.. aku mau mushroom ravioli.”

“Kau?” ia berbalik lagi sambil tersenyum.

“Aku tidak pesan,” kata Edward. Tentu saja.

“Panggil aku kalau kau berubah pikiran.” Senyum malu-malu masih mengembang di bibirnya, tapi Edward tidak melihatnya dan si pelayan pergi meninggalkan kami dengan perasaan kecewa.

“Minum,” ia menyuruhku.

Kusesap sodanya dengan patuh, lalu minum lagi lebih banyak. Aku terkejut menyadari betapa hausnya aku. Aku baru sadar telah menegak habis minumanku ketika ia mendorong gelasnya kearahku.

“Terima kasih,” gumamku, masih haus. Rasa sejuk soda yang dingin itu masih terasa di dadaku, membuatku gemetaran.

“Kau kedinginan?”

“Tidak, hanya Coke yang kuminum,” aku menjelaskan, kembali gemetaran.

“Kau tidak punya jaket?” suaranya tidak puas dengan penjelasanku.

“Punya.” Aku memandang kursi kosong di sebelahku. “Oh—ketinggalan di mobil Jessica,” aku tersadar.

Edward menanggalkan jaketnya. Tiba-tiba aku menyadari tak sekalipun aku pernah memperhatikan pakaian yang dikenakannya—bukan hanya malam ini, tapi sejak awal. Sepertinya aku tak bisa berpaling dari wajahnya. Namun sekarang aku melihatnya, benar-benar memperhatikannya. Ia menanggalkan jaket kulit warna krem muda; di baluk jaketnya ia mengenakan sweter turtleneck kuning gading. Sweter itu amat pas di tubuhnya, memperjelas bentuk dadanya yang kekar.

Ia memberikan jaketnya kepadaku, mengalihkan kerlingan mataku.

“Terima kasih,” kataku lagi, sambil mengenakan jaketnya. Rasanya sejuk—seperti ketika pertama kali memakai jaketku di pagi hari. Aku kembali gemetaran. Aromanya menyenangkan. Aku menghirupnya, mencoba mengenali aroma itu. Tidak seperti aroma kolonye. Lengannya kelewat panjang; aku harus mendorongnya naik supaya tanganku kelihatan.

“Warna biru itu kelihatan indah di kulitmu,” katanya memperhatikan. Aku terkejut; lalu menunduk, wajahku memerah tentu saja.

Ia menyorongkan keranjang rotinya ke arahku.

“Sungguh, aku tidak merasa syok,” protesku.

“Kau seharusnya syok—seperti pada umumnya orang normal. Kau bahkan tidak terlihat gemetaran.” Ia tampak khawatir. Ia menatap ke dalam mataku, dan aku melihat betapa matanya terang, lebih terang daripada yang pernah kulihat, cokelat keemasan.

“Aku merasa sangat aman denganmu,” ujarku, begitu terkesima hingga mengatakan yang sebenarnya lagi.

Perkataanku membuatnya tidak nyaman; alisnya yang berwarna pualam mengerut. Ia menggeleng, wajahnya cemberut.

“Ini lebih rumit daripada yang kurencanakan,” gumamnya pada diri sendiri.

Aku mengambil roti dan menggigit ujungnya, sambil menebak ekspresinya. Aku bertanya-tanya kapan saat yang tepat untuk mulai bertanya padanya.

“Biasanya suasana hatimu lebih baik bila warna matamu terang,” ujarku, mencoba mengalihkannya dari pikiran apa pun yang membuatnya cemberut dan murung.

Ia menatapku, terkesima. “Apa?”

“Kau selalu lebih pemarah ketika matamu berwarna hitam—tadi kupikir matamu berubah kelam,” lanjutku. “Aku punya teori tentang itu.”

Matanya menyipit. “Teori lagi?”

“Mm-hm.”Aku mengunyah sepotong kecil roti, berusaha terlihat cuek.

“Kuharap kau lebih kreatif kali ini… atau kau masih mengutip dari buku-buku komik?” Senyumnya mengejek, namun tatapannya masih tegang.

“Well, tidak, aku tidak mendapatkannya dari komik, tapi aku juga tidak menduga-duganya sendiri,” aku mengakui.

“Dan?” sambarnya.

Tapi kemudian si pelayan muncul membawa pesananku. Aku menyadari tanpa sadar kami telah mencondongkan tubuh ke tengah, karena kami langsung duduk tegak lagi ketika si pelayan datang. Ia menaruh makanan itu di depanku—sepertinya lumayan enak—dan langsung berbalik menghadap Edward.

“Apakah kau berubah pikiran?” tanyanya. “Kau tak ingin kubawakan sesuatu?” Aku mungkin saja membayangkan makna ambigu dalam kata-katanya.

“Tidak, terima kasih, tapi kau boleh membawakan soda lagi.” Dengan tangan pucatnya yang jenjang ia menunjuk gelasku yang kosong.

“Tentu.” Ia menyingkirkan gelas-gelas kosong dari meja dan berlalu.

“Apa katamu tadi?” tanya Edward.

“Aku akan menceritakannya di mobil. Kalau…” aku berhenti.

“Ada syaratnya?” Ia mengangkat satu alisnya, suaranya terdengar waswas.

“Tentu saja aku punya beberapa pertanyaan.”

“Tidak masalah.”

Si pelayan kembali dengan dua gelas Coke. Kali ini ia meletakkannya tanpa bicara, lalu pergi.

Aku menyesapnya.

“Well, ayo mulai,” ia mendesakku, suaranya masih tegang.

Aku memulai dengan yang paling sederhana. Atau begitulah menurutku. “Kenapa kau berada di Port Angeles?”

Ia menunduk, perlahan-lahan melipat tangannya yang besar di meja. Meski menunduk, bisa kulihat matanya berkilat menatapku dari balik bulu matanya, menandakan ia mengejekku.

“Berikutnya.”

“Tapi itu yang paling mudah,” ujarku keberatan.

“Berikutnya,” ia mengulangi perkataannya.

Aku menunduk, kesal. Kuambil garpu dan dengan hati-hati membelah ravioli-nya. Pelan-pelan aku memasukkannya ke mulut, masih menunduk, mengunyah sambil berpikir. Jamurnya enak. Aku menelan dan menyesap Coke lagi sebelum mendongak.

“Oke, kalau begitu.” Aku memandangnya marah, dan perlahan melanjutkan pertanyaan. “Katakan saja, secara hipotesis tentu saja, seseorang… bisa mengetahui apa yang dipikirkan orang lain, membaca pikiran, kau tahu—dengan beberapa pengecualian.”

“Hanya satu pengecualian,” ia meralatku, “secara hipotetis.”

“Baik kalau begitu, dengan satu pengecualian.” Aku senang ia berusaha meladeniku, tapi aku berusaha terlihat kasual. “Bagaimana cara kerjanya? Apa saja batasan-batasannya? Bagaimana bisa… seseorang… menemukan orang lain pada saat yang tepat? Bgaimana kau bisa tahu dia sedang dalam kesulitan?” Aku bertanya-tanya apakah pertanyaanku yang kusut ini bisa dimengerti.

“Secara hipotetis?” tanyanya.

“Tentu saja.”

“Well, kalau… seseorang itu…”

“Sebut saja dia Joe,” aku mengusulkan.

Ia tersenyum ironis. “Ya sudah. Kalau Joe memperhatikan, pemilihan waktunya tak perlu setepat itu.” Ia menggeleng, memutar bola matanya. “Hanya kau yang bisa mendapat masalah di kota sekecil ini. Kau bisa membuat angkat tindak kriminal meningkat untuk kurun waktu satu dekade, kau tahu itu.”

“Kita sedang membicarakan kasus secara hipotetis,” aku mengingatkannya dengan nada dingin.

Ia tertawa, matanya hangat.

“Betul juga,” sahutnya menyetujui. “Bisakah kita memanggilmu Jane?”

“Bagaimana kau bisa tahu?” tanyaku, tak mampu lagi membendung rasa penasaranku. Aku menyadari telah mencondongkan tubuhku ke arahnya lagi.

Sepertinya ia sedang bergidik, disiksa dilema yang berkecamuk dalam batinnya. Kami bertatapan, dan kurasa ia sedang membuat keputusan, mengatakan yang sejujurnya atau tidak.

“Kau tahu, kau bisa mempercayaiku,” gumamku. Tanpa berpikir aku mengulurkan tangan dan menyentuh tangannya yang terlipat, tapi ia langsung menariknya, begitu juga aku.

“Aku tak tahu apakah aku masih punya pilihan.” Suaranya nyaris seperti bisikan. “Aku salah—kau lebih teliti daripada yang kukira.”

“Kupikir kau selalu benar.”

“Biasanya begitu.” Ia kembali menggeleng. “Aku juga salah menilaimu mengenai suatu hal. Kau bukan daya tarik terhadap kecelakaan—penggolongan itu tidak cukup luas. Kau daya tarik terhadap masalah. Kalau ada sesuatu yang berbahaya dalam radius sepuluh mil, masalah itu selalu bisa menemukanmu.”

“Dan kau menempatkan dirimu sendiri dalam kategori itu?” tebakku.

Raut wajahnye berubah dingin, tanpa ekspresi. “Tak salah lagi.”

Kuulurkan tanganku sekali lagi—mengabaikan ketika ia mencoba menariknya—dan dengan hati-hati menyentuh punggung tangannya. Kulitnya dingin dan keras, seperti batu.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka