Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

Edward menghela napas, akhirnya membuka mata.

“Lebih baik?”

“Tidak juga.”

Aku menunggu, tapi ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia menyandarkan kepala ke kursi, menatap langit-langit mobil. Wajahnya kaku.

“Apa yang terjadi?” bisikku.

“Kadang-kadang aku punya masalah dengan emosiku, Bella.” Ia juga berbisik, memandang ke luar jendela, matanya menyipit. “Tapi tidak akan lebih baik bagiku bila aku berbalik dan memburu…” Ia tidak menyelesaikan kata-katanya, memalingkan wajah, beberapa saat berusaha keras mengendalikan amarahnya lagi. “Setidaknya,” lanjutnya, “itulah yang sedang coba kukatakan pada diriku sendiri.”

“Oh.” Kata itu sepertinya tidak cukup, tapi aku tak bisa memikirkan jawaban yang lebih baik.

Kami duduk diam lagi. Aku melihat jam di dasbor. Sudah lewat 18.30.

“Jessica dan Angela pasti khawatir,” gumamku. “Aku seharusnya menemui mereka.”

Ia menyalakan mesin mobil tanpa mengatakan apa-apa, berbelok mulus dan meluncur kembali menuju kota. Tak lama kemudian kami sudah disinari lampu-lampu jalan, mobilnya masih ngebut, dengan mudah menyalip mobil-mobil yang melaju pelan di jalur boardwalk. Ia memarkir paralel di tempat sempit yang tadinya kukira tak cukup untuk Volvo-nya, tapi ia melakukannya dengan mudah. Aku memandang ke luar dan melihat tulisan La Bella Italia. Jess dan Angel tampak baru saja meninggalkan meja, berjalan waswas menjauhi kami.

“Bagaimana kau tahu dimana…” aku memulai, tapi lalu aku hanya menggeleng-gelengkan kepala. Aku mendengar pintunya terbuka dan melihat ia hendak keluar dai mobil.

“Apa yang kau lakukan?” tanyaku.

“Mengajakmu makan malam,” katanya sedikit tersenyum, tapi sorot matanya tetap tajam. Ia melangkah keluar dari mobil dan membanting pintunya. Kulepaskan sabuk pengamanku, kemudian bergegas keluar dari mobil. Ia menungguku di trotoar.

Ia berbicara mendahuluiku. “Pergilah, hentikan Jessica dan Angela sebelum aku harus mencari mereka juga. Kurasa aku takkan bisa menahan diriku kalau bertemu ‘teman-temanmu’ yang tadi itu lagi.”

Aku bergidik mendengar ancaman dalam suaranya.

“Jess! Angela!” seruku mengejar mereka, melambai ketika mereka menoleh. Mereka bergegas menghampiriku. Kelegaan di wajah mereka langsung berubah jadi terkejut melihat siapa yang berdiri di sampingku. Mereka ragu, enggan mendekat.

“Kau dari mana saja?” suara Jessica terdengar curiga.

“Aku tersesat,” aku mengaku malu-malu. “Kemudian aku berpapasan dengan Edward,” kataku sambil menunjuknya.

“Boleh aku bergabung dengan kalian?” ia bertanya, suaranya lembut dan menggoda. Dari ekspresi mereka yang terkejut, aku tahu Edward belum pernah bicara seperti itu pada mereka.

“Mmm… tentu saja,” dengus Jessica.

“Mmm, sebenarnya, Bella, kami sudah makan ketika menunggumu tadi—maaf,” aku Angela.

“Tidak apa-apa—lagi pula aku tidak lapar.” Aku mengangkat bahu.

“Kurasa kau harus makan sesuatu.” Suara Edward pelan, tapi bernada memerintah. Ia menatap Jessica dan berkata sedikit lebih keras, “Apakah kau keberatan kalau aku saja yang mengantar Bella pulang malam ini? Dengan begitu kalian tak perlu menunggu dia makan.”

“Eehh, tidak masalah, kurasa…” Jessica menggigit bibir, berusaha menebak lewat ekspresiku apakah aku menginginkannya. Aku mengedip padanya. Tak ada yang kuinginkan selain bisa berduaan dengan penyelamatku. Ada begitu banyak pertanyaan yang tak bisa kulontarkan hingga kami tinggal berdua saja.

“Oke.” Angela mendahului Jessica. “Sampai besok, Bella… Edward.” Ia meraih tangan Jessica dan menariknya ke mobil, yang samar-samar kulihat diparkir di seberang First Street. Ketika akan masuk ke mobil, Jess berbalik dan melambai, wajahnya penasaran, Aku balas melambai, menunggu mereka menjauh sebelum berbalik menghadap Edward.

“Sejujurnya, aku tidak lapar,” aku berkeras, mengamati wajahnya. Ekspresinya tak bisa ditebak.

“Kalau begitu, hibur aku.”

Ia berjalan ke pintu restoran dan membukakannya untukku dengan raut keras kepala. Jelas sekali ia tak ingin didebat. Aku berjalan melewatinya ke dalam restoran sambil menghela napas tanda menyerah.

Restorannya tidak ramai—saat ini Port Angeles sedang sepi pengunjung. Kami disambut seorang cewek, dan aku memahai sorot matanya ketika ia menilai Edward. Ia menyambutnya dengan kehangatan yang lebih daripada seharusnya. Aku terkejut menyadari betapa itu menggangguku. Ia lebih tinggi beberapa senti dariku, dan rambutnya dicat pirang.

“Untuk dua orang?” suara Edward terdengar menawan, entah disengaja atau tidak. Kulihat mata si cewek berkilat ke arahku lalu berpaling lagi, puas dengan rupaku yang sangat biasa dan kenyataan bahwa Edward berdiri tidak terlalu dekat denganku.

Aku hendak duduk, tapi Edward menggeleng.

“Barangkali ada tempat yang lebih pribadi?” desaknya lembut. Aku tak yakin, tapi sepertinya Edward menyelipkan tip ke tangan si cewek. Aku tak pernah melihat ada orang yang menolah tawaran meja kecuali di film-film lama.

“Tentu.” Ia juga tampak sama terkejutnya dengan aku. Ia berbalik dan memandu kami ke deretan pojok, semua kursinya kosong. “Bagaimana dengan yang ini?”

“Sempurna.” Edward memamerkan senyumnya yang memukau, membuat cewek itu sesaat terpana.

“Mmm”—ia menggeleng, matanya mengerjap—“pelayan kalian akan segera datang.” Ia berlalu dengan langkah sempoyongan.

“Kau seharusnya tidak melakukan itu padang orang-orang,” aku mengkritiknya. “Tidak adil.”

“Melakukan apa?”

“Membuat mereka terpesona seperti itu—barangkali sekarang ia sedang sesak napas di dapur.”

Ia tampak bingung.

“Oh, ayolah,” aku berkata ragu. “Kau pasti tahu bagaimana reaksi orang terhadapmu.”

Ia memiringkan kepala, sorot matanya perasaran. “Aku membuat orang terpesona?”

“Kau tidak sadar? Kaupikir orang bisa jadi seperti itu dengan mudahnya?”

Ia mengabaikan pertanyaanku. “Apakah aku membuatmu terpesona?”

“Sering kali,” aku mengakuinya.

Pelayan datang, wajahnya penuh harap. Cewek tadi pasti sudah bercerita di belakang, dan cewek yang baru datang ini tidak tampak kecewa. Ia menyelipkan helaian rambut hitam pendeknya di belakang telinga dan tersenyum dibuat-buat.

“Hai. Namaku Amber, dan aku akan menjadi pelayan kalian malam ini. Kalian mau minum apa?” Tentu sja aku menyadari ia hanya bertanya pada Edward.

Edward memandangku.

“Aku mau Coke.” Jawabanku lebih terdengar seperti bertanya.

“Dua,” kata Edward.

“Aku akan segera kembali dengan pesanan kalian,” ia meyakinkan Edward sambil lagi-lagi tersenyum dibuat-buat. Tapi Edward tidak memandangnya. Ia sedang memperhatikanku.

“Kenapa?” tanyaku ketika si pelayan berlalu.

Pandangannya terpaku di wajahku. “Bagaimana perasaanmu?”

“Aku baik-baik saja,” jawabku, terkejut karena kusungguhan hatinya.

“Kau tidak merasa pusing, sakit, kedinginan…?”

“Apakah seharusnya aku merasa seperti itu?”

Ia tergelak mendengar kebingunganku.

“Well, sebenarnya aku menunggumu syok.” Senyum lebar mengembang di wajahnya.

“Kupikir itu tidak bakal terjadi,” kataku setelah bisa bernapas lagi. “Aku selalu pandai menahan diri bila terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan.”

“Sama, aku akan merasa lebih baik kalau kau makan sesuatu atau minum yang manis-manis.”

Pucuk dicinta ulam tiba, si pelayan muncul membawa minuman kami dan sekeranjang roti Prancis. Ia berdiri memunggungiku sambil menaruh barang-barang bawaannya di meja.

“Kau sudah mau memesan?” tanyanya pada Edward.

“Bella?” tanya Edward. Si pelayan dengan enggan berbalik menghadapku.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka