Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

Tapi jalan kecil itu masih disana, aman dan jelas, berkelok di antara labirin hijau yang menetes-netes. Aku bergegas mengikutinya, tudung jaketku menutup rapat kepalaku. Ketika aku nyaris berlari di antara pepohonan, aku terkejut menyadari betapa dalamnya aku telah memasuki hutan itu. Aku mulai bertanyatanya apakah arahku benar, atau aku malah mengikuti jalan setapak ini semakin dalam ke hutan yang rapat. Sebelum kelewat panik, aku mulai melihat ruang terbuka di antara ranting-ranting pepohonan yang bertautan. Lalu aku bisa mendengar suara mobil melintasi jalanan, dan aku pun terbebas, pekarangan Charlie membentang di hadapanku, rumahnya memberi isyarat padaku, menjanjikan kehangatan dan pakaian kering.

Hari sudah siang ketika aku masuk ke rumah. Aku naik ke kamar dan mengganti pakaianku dengan jins dan T-shirt, berhubung aku tidak kemana-mana. Tidak terlalu sulit untuk berkonsentrasi mengerjakan PR-ku hari iru, makalah tentang Macbeth yang harus dikumpulkan hari Rabu. Aku menguraikan versi singkatnya dengan senang hati, lebih tenang daripada yang kurasakan sejak… well, Kamis sore sejujurnya.

Aku memang selalu seperti itu. Membuat keputusan adalah sesuatu yang menyakitkan bagiku, bagian yang paling membuatku menderita. Tapi begitu keputusan diambil, aku tinggal menjalaninya—biasanya dengan perasaan lega karena pilihan sudah dibuat. Terkadang perasaan lega itu bercampur dengan penderitaan, seperti keputusanku datang ke Forks. Tapi tetap masih lebih baik daripada bergulat dengan pilihan-pilihan lainnya.

Anehya keputusan ini mudah dijalani. Mudah sekaligus berbahaya.

Akhirnya hari itu berlalu dengan tenang, produktif—aku menyelesaikan makalahku sebelum jam delapan. Charlie pulang membawa tangkapan besar, dan aku langsung mencatat dalam ingatanku untuk membeli buku resep masakan ikan ketika pergi ke Seattle minggu depan. Perasaan waswas yang merambati punggungku setiap kali memikirkan perjalanan ini tidak ada bedanya dengan yang kurasakan sebelum aku berjalan-jalan dengan Jacob Black. Keduanya seharusnya berbeda, pikirku. Aku seharusnya takut—aku tahu aku mestinya merasa takut, tapi aku tak bisa merasakan rasa takut, tapi aku tak bisa merasakan rasa takut yang seharusnya.

Malam aku tidur tanpa mimpi, kelelahan karena telah memulai hari itu sangat awal, padahal malamnya aku kurang tidur. Untuk kedua kali sejak tiba di Forks, aku terbangun melihat cahaya kuning terang, pertanda hari bakal cerah. Aku melompat ke jendela, tercenung melihat nyaris tak ada awan di langit, hanya ada guratan kecil seperti kapas yang tak mungkin membawa air hujan. Kubuka jendela—terkejut karena tak ada bunyi deritan, mulus, padahal entah berapa lama hendela itu tak pernah dibuka—dan menghirup udara yang kering. Udara nyaris hangat dan sama sekali tak berangin. Darahku bagai meledak-ledak dalam nadiku.

Charlie telah menyelesaikan sarapannya ketika aku turun, dan sambutannya sama riangnya dengan suasana hatiku.

“Hari yang bagus untuk berada di luar,” komentarnya.

“Ya,” aku menimpalinya sambil tersenyum.

Ia balas tersenyum, mata cokelatnya berkerut di sudut-sudutnya. Ketika Charlie tersenyum, sangat mudah memahami kenapa ia dan ibuku cepat-cepat memutuskan menikah. Hampir seluruh sisi romantis masa mudanya telah memudar sebelum aku mengenalnya. Rambut cokelat ikalnya—jika bukan teksturnya, warnanya sama dengan rambutku—telah menipis, perlahan memperlihatkan dahinya yang mengkilat. Tapi ketika ia tersenyum, aku bisa melihat sedikit bagian dari pria yang kawin lari dengan Reneé ketika umurnya masih 2 tahun lebih tua dari umurku sekarang.

Aku menyantap sarapanku dengan ceria, memperhatikan debu-debu berterbangan di antara sinar matahari yang menyelinap masuk lewat jendela belakang. Charlie meneriakkan ucapan perpisahan, dan aku mendengar mobil patrolinya menjauh. Ketika melewati ambang pintu aku ragu sejenak, tanganku memegang jas hujan. Sambil menghela napas kutaruh jas hujan itu di lipatan tanganku dan melangkah ke dalam terangnya cahaya yang sudah berbulan-bulan tak pernah kulihat.

Dengan menuangkan banyak pelumas, aku bisa membuat kedua jendela trukku membuka sampai ke bawah. Aku menjadi salah satu murid pertama yang tiba di sekolah; aku bahkan tak sempat melihat jam ketika terburu-buru meninggalkan rumah tadi. Kuparkir trukku dan menuju bangku piknik yang jarang digunakan di sisi selatan kafetaria. Bangku-bangku itu masih sedikit lembab, jadi aku duduk beralaskan jas hujan, senang bisa menggunakannya. PR-ku sudah selesai—hasil kehidupan sosial yang menyedihkan—tapi ada beberapa soal Trigono yang jawabannya masih meragukan. Kukeluarkan bukuku dengan penuh semangat, tapi di tengah soal pertama aku mulai melamun, memperhatikan sinar matahari bermain-main dengan pepohonan red-barked. Aku mencorat-coret pinggiran kertas PR-ku. Beberapa menit kemudian tiba-tiba aku menyadari telah menggambar lima pasang mata berwarna gelap. Kuhapus gambar-gambar itu dengan penghapus.

“Bella!” Aku mendengar seseorang memanggilku, kedengarannya seperti Mike. Aku memandang berkeliling dan menyadari sekolah sudah penuh. Semua anak menggunakan T-shirt, bahkan beberapa mengenakan celana pendek meskipun suhunya tak mungkin lebih dari 15° C. Mike menghampiriku. Ia mengenakan celana pendek khaki dan T-shirt rugby bergaris, dan sedang melambai ke arahku.

“Hei, Mike,” sapaku sambil balas melambai, tak mampu untuk tidak bersemangat di pagi secerah ini.

Ia duduk di sebelahku, rambut spike-nya bersinar keemasan, senyum merekah di bibirnya. Ia sangat senang bertemu denganku, hingga mau tak mau aku senang juga.

“Baru sekarang kuperhatikan—rambutmu ada semburat merahnya,” katanya sambil meraih sejumput rambutku yang berkibaran di jemarinya.

“Hanya di bawah sinar matahari.”

Aku merasa agak jengah ketika ia menyelipkannya di belakang telingaku.

“Hari yang indah, bukan?”

“Hari yang kusuka,” sahutku.

“Apa yang kaulakukan kemarin?” Nada suaranya sedikit terdengar seolah-olah aku pacarnya.

“Seharian mengerjakan esai.” Aku tidak bilang sudah menyelesaikannya—tak perlulah menyombongkan diri.

Ia menepuk dahi dengan punggung tangan. “Oh iya.. dikumpulkan Kamis, kan?”

“Mmm, kurasa Rabu.”

“Rabu?” sahutnya, dahinya berkerut. “Gawat… esaimu tentang apa?”

“Apakah perlakukan Shakespeare terhadap karakter-karakter wanita meremehkan atau tidak.”

Ia menatapku seolah-olah aku baru saja bicara dalam bahasa Latin.

“Kurasa aku harus mengerjakannya malam ini,” katanya, kecewa. “Padahal aku ingin mengajakmu kencan.”

“Oh.” Aku tersadar. Kenapa aku tak bisa lagi bercakap-cakap dengan Mike tanpa merasa canggung seperti ini?

“Well, kita bisa pergi makan malam atau apa… dan aku bisa mengerjakan esaiku nanti.” Ia tersenyum penuh harap.

“Mike…” aku jengkel didesak seperti ini. “Kupikir itu bukan ide bagus.”

Wajahnya kecewa. “Kenapa?” ia bertanya, matanya siaga. Pikiranku tertuju pada Edward, membayangkan apakah Mike juga memikirkan yang sama.

“Kupikir… dan kalau kau beritahukan apa yang kukatakan ini kepada orang lain, dengan senang hati aku akan menghajarmu sampai mati,” ancamku, “tapi kurasa itu akan membuat Jessica patah hati.

Ia keheranan, jelas itu sama sekali tak terpikir olehnya. “Jessica?”

“Sungguh, Mike, kau ini buta ya?”

“Oh,” ia menarik napas—jelas bingung. Aku menggunakan kesempatan ini untuk kabur dari situ.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka