Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

“Kau pernah melihat api unggun driftwood?” Mike bertanya. Aku duduk di kursi pantai yang terbuat dari tulang diwarnai; cewek-cewek lain berkumpul, bergosip ceria di sebelahku. Mike berlutut di depan api unggun, menyalakan ranting terpendek dengan korek api.

“Belum,” kataku ketika dengan hati-hati ia meletakkan ranting yang menyala di tumpukan itu.

“Kalau begitu kau akan menyukai ini—perhatikan warna-warnanya.” Ia membakar satu ranting kecil lagi dan menaruhnya di sebelah ranting pertama. Apinya dengan cepat mulai menjilati kayu yang kering.

“Warnanya biru,” kataku kagum.

“Itu karena garam. Cantik ya?” Ia menyalakan sebatang ranting kecil lagi, dan menaruhnya di tempat yang belum terjilat api, lalu duduk di sebelahku. Untung Jess ada di sisinya yang lain. Ia berbalik menghadap Mike dan mencoba menarik perhatiannya. Aku memperhatikan api hijau dan biru aneh itu menyeruak ke angkasa.

Setengah jam setelah mengobrol, beberapa cowok ingin mendaki ke kolam pasang-surut terdekat. Ini benar-benar dilema. Di satu sisi aku menyukai kolam pasang-surut. Aku sudah menyukainya sejak kecil; kolamkolam inilah yang kunanti-nantikan setiap kali aku datang ke Forks. Di sisi lain aku juga sering tenggelam disana. Bukan masalah besar ketika kau berumur tujuh tahun dan sedang bersama ayahmu. Ini mengingatkanku pada permintaan Edward—agar tidak jatuh ke lautan.

Lauren-lah yang menyuarakan keputusanku. Ia tidak ingin mendaki, dan jelas ia mengenakan sepatu yang tidak cocok untuk mendaki. Kebanyakan cewek lain kecuali Angela dan Jessica memutuskan untuk tetap di pantai. Aku menunggu sampai Tyler dan Eric memutuskan untuk tetap bersama mereka. Lalu aku bangkit diam-diam menuju anak-anak yang ingin mendaki. Mike tersenyum lebar ketika melihatku bergabung.

Pendakiannya tidak terlalu panjang, meski aku benci kehilangan langit di tengah hutan. Cahaya hijau yang dipancarkan hutan terasa aneh ditingkahi suara tawa para remaja, terlalu kelam dan berbahaya untuk diselingi senda gurau di sekitarku. Aku harus berhati-hati melangkah, menghindari akar-akar yang menyembul di bawah, dan ranting-ranting di atas kepalaku, dan aku pun langsung tertingal dari yang lain. Akhirnya aku berhasil melewati kungkungan hutan yang hijau dan menemukan pantai berbatu lagi. Ombaknya rendah, dan sungai tampak mengalir melewati kami menuju lautan. Sepanjang tepiannya yang berbatu-batu, kolam-kolam dangkal yang tak pernah benar-benar kering tampak hidup.

Aku sangat berhati-hati agar tidak mencondongkan tubuhku terlalu jauh ke atas kolam. Yang lain sepertinya tak kenal takut, melompat-lompat di atas bebatuan, bertengger di ujung tebing berbahaya. Aku menemukan batu yang sepertinya cukup mantap di ujung salah satu kolam terbesar, lalu duduk hati-hati disana, terpesona pada pemandangan akuarium di bawahku. Rangkaian anemon yang indah bergoyang tanpa henti di karang-karang yang sekarang tampak jelas. Samar-samar kepiting merangkak di antaranya, bintang laut tersangkut tak bergerak di bebatuan yang bersisian, sementara belut kecil hitam bergaris putih menggeliat melewati rumput laut yang hijau, menunggu ombak menyeretnya kembali ke laut. Aku begitu terlena, kecuali satu bagian kecil pikiranku yang membayangkan apa yang sedang dilakukan Edward sekarang, dan berusaha membayangkan apa yang akan dikatakannya bila ia berada disini bersamaku.

Akhirnya cowok-cowok kelaparan, dan aku pun bangkit dengan tubuh kaku dan mengikuti mereka. Kali ini aku mencoba lebih keras untuk mengikuti kecepatan mereka melintasi hutan, hingga beberapa kali aku terjatuh. Telapak tanganku beberapa kali tergores, dan bagian lutut jinsku bernoda hijau, tapi bisa saja lebih parah.

Ketika kami kembali ke First Beach, jumlah orang disana sudah bertambah. Ketika makin dekat, kami bisa melihat para pendatang baru itu berambut hitam panjang berkilauan, kulit mereka berwarna tembaga.

Rupanya para remaja dari reservasi datang untuk bersosialisasi. Makanan sudah diedarkan dan para cowok buru-buru meminta jatah mereka sementara Eric memperkenalkan kami satu per satu sambil memasuki lingkaran. Angela dan aku tiba terakhir, dan, ketika Eric memperkenalkan nama kami, aku memperhatikan cowok lebih muda yang duduk di batu dekat perapian menatapku tertarik. Aku duduk di sebelah Angela, dan Mike membawakan kami sandwich dan beberapa minuman bersoda, sementara seorang cowok yang sepertinya lebih tua menyebutkan tujuh nama lain yang ikut bersamanya. Yang bisa kutangkap adalah salah satunya juga bernama Jessica, dan si cowok yang memerhatikanku bernama Jacob.

Duduk bersama Angela sangat menenangkan; ia memang tipe yang membuat orang yang berada di dekatnya merasa nyaman—ia merasa tak perlu mengisi keheningan dengan percakapan. Ia membiarkanku makan dengan tenang sambil berpikir. Aku berpikir betapa waktu di Forks berlalu dengan tidak teratur, sering kali samar-samar, dengan satu bayangan tampak lebih jelas dari yang lain. Lalu pada saat lain setiap detik begitu penting, dan melekat dalam pikiranku. Aku tahu benar apa yang menyebabkan perbedaan ini, dan hal itu menggangguku.

Selama makan siang awan mulai berkumpul, perlahan-lahan menutupi langit biru, kadang-kadang menghalangi matahari, menciptakan bayangan panjang sepanjang pantai, dan membuat ombak berubah gelap. Selesai makan orang-orang mulai berpencar dalam kelompok yang lebih kecil, berdua atau bertiga. Beberapa menghampiri gelombang yang menyapu bibir pantai, mencoba melompati bebatuan yang permukaannya kasar. Yang lain bersama-sama mengadakan ekspedisi menuju kolam pinggir laut. Mike— bersama Jessica yang selalu mengekorinya—beranjak ke toko di pedesaan. Beberapa anak setempat ikut bersama mereka; yang lain ikut mendaki. Ketika mereka sudah berpencar dengan urusan masing-masing, aku duduk sendirian di seonggok kayu, bersama Lauren dan Tyler yang sibuk mendengarkan CD yang dibawa satu dari kami. Tiga remaja dari reservasi mengitari api, termasuk cowok bernama Jacob dan cowok lebih tua yang sepertinya berperan sebagai juru bicara.

Beberapa menit setelah Angela pergi bersama para pendaki, Jacob pindah duduk di sebelahku, menggantikan Angela. Sepertinya dia berumur 14, mungkin 15, rambutnya yang panjang mengkilap diikat di tengkuk. Kulitnya menawan, halus dan kecoklatan; matanya gelap, sangat cekung karena tulang pipinya tinggi. Ia masih tampak kekanak-kanakan karena dagunya yang agak gemuk. Secara keseluruhan wajahnya sangat tampan. Bagaimanapun juga penilaian positifku mengenai rupanya langsung berubah akibat kata-kata pertama yang keluar dari mulutnya.

“Kau Isabella Swan, kan?”

Rasanya seolah pengalaman hari pertama sekolah terulang kembali.

“Bella,” keluhku.

“Aku Jacob Black.” Ia mengulurkan tangan dengan ramah. “Kau membeli truk ayahku.”

“Oh,” sahutku lega, sambil menjabat tangannya yang ramping. “Kau putra Billy. Mungkin seharusnya aku mengingatmu.”

“Bukan, aku yang bungsu—kau pasti ingat kakak-kakakku.”

“Rachel dan Rebecca,” tiba-tiba aku teringat. Charlie dan Billy sering menyuruh kami bermain bersama setiap kali aku berkunjung ke Forks, agar mereka bisa pergi memancing. Kami semua pemalu sehingga sulit untuk bisa berteman. Tentu saja ketika umurku 11 tahun, aku selalu membuat ayahku marah sehingga acara memancing pun terhenti.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka