Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

“Ha ha.” Mataku masih terpejam, tapi aku merasa semakin pulih.

“Sejujurnya—aku pernah melihat mayat dengan warna lebih baik. Aku khawatir aku mungkin harus membalas pembunuhmu.”

“Kasihan Mike. Aku berani bertaruh dia pasti marah.”

“Dia sangat membenciku,” kata Edward senang.

“Kau tak mungkin tahu pasti hal itu,” bantahku, tapi tiba-tiba aku membayangkan kemungkinan itu.

“Aku lihat wajahnya—aku tahu.”

“Bagaimana kau menemukanku? Kupikir kau membolos.” Aku nyaris pulih sekarang, meski rasa mual ini barangkali bakal hilang lebih cepat kalau aku makan sesuatu waktu makan siang. Tapi kalau dipikir-pikir, barangkali ada untungnya perutkku kosong.

“Aku sedang di mobil, mendengarkan CD.” Jawaban yang masuk akal—tapi mengejutkanku.

Aku mendengar suara pintu terbuka, lalu membuka mata. Perawat datang membawa kompres dingin.

“Ini dia, Sayang.” Ia meletakkannya di dahiku. “Kau kelihatan lebih baik,” tambahnya.

“Kurasa aku baik-baik saja,” kataku sambil bangkit duduk. Telingaku berdenging sedikit, tapi aku tak lagi pusing. Dinding berwarna hijau mint di sekelilingku tidak berputar-putar lagi.

Aku tahu ia akan menyuruhku berbaring lagi, tapi kemudian pintunya terbuka, dan Miss Cope menjulurkan kepala ke dalam.

“Kita punya korban lagi,” katanya.

Aku melompat turun supaya pasien berikutnya bisa menempat tempat tidur itu.

Kuserahkan kompresnya pada perawat. “Ini, aku tidak memerlukannya.”

Lalu Mike berjalan terhuyung-huyung melewati pintu, ia memapah Lee Stephens, temanku dari kelas Biologi, yang tampak pucat. Edward dan aku merapat ke dinding supaya mereka bisa lewat.

“Oh tidak,” gumam Edward. “Keluar dari sini, Bella.”

Aku menatapnya, keheranan.

“Percayalah—ayo keluar.”

Aku berputar menangkap pintu sebelum tertutup lagi, bergegas keluar dari ruang perawatan. Bisa kurasakan Edward tepat di belakangku.

“Kau benar-benar menuruti perkatanku.” Ia terperangah.

“Aku mencium bau darah,” kataku, mengerutkan hidung. Lee tidak sakit karena menyaksikan yang dilakukan orang lain, seperti aku.

“Manusia tidak bisa mencium darah,” bantahnya.

“Well, aku bisa—itulah yang membuatku sakit. Baunya seperti karat… dan garam.”

Edward menatapku dalam-dalam.

“Apa?” tanyaku.

“Bukan apa-apa.”

Lalu Mike melangkah terhuyung-huyung melewati pintu, menatapku dan Edward bergantian. Tatapan yang dilontarkannya pada Edward memastikan kebenciannya. Mike ganti menatapku, matanya kelam.

“Kau kelihatan lebih baik,” tuduhnya.

“Jangan ikut campur,” aku mengingatkannya.

“Sudah tidak ada darah lagi,” gumamnya. “Apa kau akan kembali ke kelas?”

“Kau bercanda? Aku pasti harus diangkut kemari lagi.”

“Yeah, kurasa begitu… Jadi kau ikut akhir pekan ini? Ke pantai?” Sambil bicara Mike melirik Edward yang bersandar di konter yang berantakan, tak bergerak bagai patung, tatapannya kosong.

Aku berusaha terdengar seramah mungkin. “Tentu saja, kan sudah kubilang aku akan ikut.”

“Kita berkumpul di toko ayahku jam 10.” Matanya berkilat-kilat menatap Edward, bertanya-tanya apakah ia telah berbicara terlalu banyak. Bahasa tubuhnya cukup menjelaskan bahwa undangan itu tak berlaku untuk Edward.

“Aku akan datang,” aku berjanji.

“Kalau begitu, sampai ketemu di gymnasium,” kata Mike, berjalan gontai ke pintu.

“Daahh,” balasku. Ia menatapku sekali lagi, wajahnya yang bulat cemberut sedikit, kemudian ketika ia berjalan pelan melewati pintu, bahunya merosot. Perasaan simpati menyeruak dalam diriku. Aku membayangkan melihat wajahnya yang kecewa lagi, di gymnasium.

“Gymnasium,” erangku.

“Aku bisa mengaturnya.” Aku tidak memperhatikan Edward pindah ke sisiku, tapi suaranya terdengar jelas sekarang. “Duduklah dan perlihatkan wajah pucatmu,” gumamnya.

Ini sama sekali bukan tantangan; wajahku memang selalu pucat, dan pingsan yang baru saja kualami menyisakan selapis keringat di wajahku. Aku duduk di kursi lipat yang berderik dan menyandarkan kepalaku di dinding, mata terpejam. Mantra pingsan selalu membuatku lemas.

Aku mendengar Edward berbicara pelan pada seseorang di konter.

“Miss Cope?”

“Ya?” Aku tak mendengar ia sudah kembali ke mejanya.

“Setelah ini Bella ada pelajaran Olahraga, dan kurasa dia belum pulih benar sekarang. Sebenarnya au berpikir akan mengantarnya pulang sekarang. Apakah Anda bisa memintakan izin untuknya?” Suaranya semanis madu dan memabukkan. Bisa kubayangkan betapa memukau matanya.

“Apa kau juga perlu izin, Edward?” tanya Miss Cope agak memprotes. Kenapa aku tak bisa melakukan itu?

“Tidak, Mrs. Goff takkan keberatan.”

“Oke, kalau begitu semuanya beres. Kau merasa lebih baik, Bella?” serunya. Aku mengangguk lemah, mencoba tampak selemah mungkin.

“Apa kau bisa berjalan, atau kau perlu kugendong lagi?” Karena sekarang ia memunggungi Miss Cope, ekspresinya kembali mengejek.

“Aku jalan saja.”

Aku berdiri hati-hati, dan aku baik-baik saja. Ia membukakan pintu untukku, senyumnya ramah tapi matanya mengejek. Aku berjalan menembus udara dingin dan kebut tebal yang baru saja mulai turun. Rasanya menyenangkan—pertama kalinya aku menikmati tetesan hujan yang turun dari langit—aku bisa membersihkan wajahku dari keringat yang lengket.

“Terima kasih,” kataku ketika ia mengikutiku keluar. “Asyik juga bisa membolos Olahraga.”

“Sama-sama.” Ia menatap lurus ke depan, menyipitkan mata menembus hujan.

“Jadi, kau pergi nggak? Maksudku, Sabtu ini?” Aku berharap jawabannya ya, meskipun mustahil. Aku tak bisa membayangkan ia berdesak-desakkan di mobil bersama anak-anak lain; ia bukan tipe seperti itu. Tapi aku hanya berharap ia mungkin saja memberiku semangat yang kurasakan kalau pergi berpiknik.

“Sebenarnya kalian mau ke mana?” Ia masih menatap ke depan, tanpa ekspresi.

“La Push, ke First Beach.” Kuamati wajahnya, mencoba membacanya. Sepertinya mata Edward nyaris terpejam.

Ia menunduk dan melirikku, tersenyum ironis. “Sepertinya aku benar-benar tidak diundang.”

Aku menghela napas. “Aku baru saja mengundangmu.”

“Sudahlah, sebaiknya kau dan aku tidak mendesak Mike lagi minggu ini. Kita tidak ingin di marah, kan?” Sorot matanya menari-nari, ia menikmati gagasan ini lebih daripada seharusnya.

“Mike-schmike,” gumamku, terpesona dengan caranya mengucapkan ‘kau dan aku’. Aku sangat menyukainya dari seharusnya.

Sekarang kami sudah berada di dekat parkiran. Aku berbelok ke kiri menuju trukku. Sesuatu menarik jaketku hingga aku tertahan.

“Pikirmu kau mau kemana?” tanyanya, marah. Dicengkramnya jaketku hanya dengan satu tangan.

Aku bingung. “Pulang.”

“Apa tadi kau tidak dengar aku berjanji mengantarmu pulang dengan selamat? Pikirmu aku akan membiarkanmu mengemudi dalam kondisi seperti ini?” Suaranya masih marah.

“Kondisi apa? Lalu trukku bagaimana?” keluhku.

“Akan kusuruh Alice mengantarnya sepulang sekolah nanti.” Sekarang ia menarikku ke mobilnya, bih tepatnya menarik jaketku. Hanya itu yang bisa kulakukan agar tidak terjengkang ke belakang. Kalaupun aku jatuh, barangkali ia akan tetap menyeretku.

“Lepaskan!” desakku. Ia mengabaikanku. Aku berjalan terseret-seret sepanjang jalan yang basah hingga kami sampai di tempat Volvo Edward diparkir. Lalu akhirnya ia melepaskanku—aku terhuyung ke pintu penumpang.

“Kau kasar sekali!” gerutuku.

“Sudah terbuka,” cuma itu reaksinya. Lalu ia masuk ke kursi pengemudi.

“Aku sangat mampu menyetir sendiri sampai rumah!” Aku berdiri di sisi mobil, marah. Hujan turun semakin deras, dan aku tidak mengenakan tudung jaketku, jadi air menetes-netes ke punggungku.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka