Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

“Aku mengandalkan itu.”

“Jadi, terus terang, apakah sekarang kita berteman?”

“Teman…” sahutnya menerawang, ragu-ragu.

“Atau tidak,” gumamku.

Ia nyengir. “Well, kurasa kita bisa mencobanya. Tapi kuperingatkan kau, aku bukan teman yang baik untukmu.” Di balik senyumnya peringatan itu tampak sangat nyata.

“Kau sering bilang begitu,” aku mengingatkannya, berusaha mengabaikan perutku yang tiba-tiba bergejolak, dan menjada suaraku tetap tenang.

“Ya, karena kau tidak mendengarkan. Aku masih menunggu kau mempercayainya. Kalau pintar, kau akan menghindariku.”

“Kurasa penilaianmu atas intelektualitasku cukup jelas.” Mataku menyipit.

Ia tersenyum menyesal.

“Jadi, selama aku adalah… orang yang tidak pintar, kita akan mencoba berteman?” aku berjuang menyimpulkan pembicaraan yang membingungkan ini.

“Kedengarannya mauk akal.”

Aku menunduk memandang tanganku yang memegangi botol limun, tak yakin apa yang harus kulakukan.

“Apa yang kaupikirkan?” tanyanya penasaran.

Aku memandang matanya yang keemasan, bingung, dan seperti biasa mengatakan yang sejujurnya.

“Aku mencoba menebak siapa sebenarnya kau ini.”

Rahangnya menegang, tapi ia tetap berusaha tersenyum.”

“Apa kau berhasil?” ia bertanya dengan nada tak acuh.

“Tidak terlalu,” akuku.

Ia tertawa. “Apa teorimu?”

Wajahku merona. Selama sebulan terakhir ini, aku sendiri bimbang antara Bruce Wayne dan Peter Parker. Jadi tidak mungkin aku mengungkapkannya.

“Maukah kau memberitahuku?” pintanya, memiringkan kepala ke satu sisi dengan senyuman menggoda yang tak disangka-sangka.

Aku menggeleng. “Terlalu memalukan.”

“Itu sangat memusingkan, kau tahu,” keluhnya.

“Tidak,” aku langsung membantah, mataku menyipit. “Aku tak bisa membayangkan kenapa itu harus memusingkan—hanya karena seseorang menolak menceritakan apa yang mereka pikirkan, meskipun mereka terus menerus melontarkan komentar misterius untuk membuatmu terjaga semalaman dan memikirkan apa sebenarnya maksudnya… nah, kenapa itu memusingkan?”

Ia nyengir.

“Atau lebih baik,” lanjutku, semua pikiran mengganggu yang terpendam selama ini akhirnya bisa kukeluarkan dengan bebas, “katakan saja orang itu juga melakukan hal-hal aneh—mulai dari menyelamatkan nyawamu dari keadaan mustahil pada suatu hari, sampai memperlakukanmu seperti orang asing pada keesokan harinya, dan ia tak pernah menjelaskan apa-apa, bahkan setelah berjanji akan melakukannya. Itu, juga, akan sangat memusingkan.”

“Kau marah, ya?”

“Aku tidak suka bertele-tele.”

Kami bertatapan, tanpa tersenyum.

Ia memandang lewat bahuku, lalu tanpa diduga mencemooh.

“Apa?”

“Pacarmu sepertinya mengira aku bersikap tidak sopan padamu—dia sedang mempertimbangkan untuk menghentikan pertengkaran kita atau tidak.” Ia mencemooh lagi.

“Aku tak tahu apa maksudmu,” kataku dingin. “Lagipula, aku yakin kau salah.”

“Tidak. Aku pernah bilang, kebanyakan orang mudah ditebak.”

“Kecuali aku, tentu saja.”

“Ya, kecuali kau.” Tiba-tiba suasana hatinya berubah, tatapannya muram. “Aku bertanya-tanya kenapa bisa begitu.”

Aku harus berpaling dari tatapannya. Aku berkonsentrasi untuk membuka tutup botol limunku. Aku meneguknya sekali, sambil menatap meja tanpa benar-benar melihatnya.

“Apa kau tidak lapar?” tanyanya, pikirannya teralih.

“Tidak.” Rasanya aku tak ingin memberitahunya perutku sudah kenyang—dengan ketegangan. “Kau?” Kutatap meja yang kosong didepannya.

“Tidak, aku tidak lapar.” Aku tak mengerti raut wajahnya—sepertinya ia merasa lucu dengan ucapannya sendiri.

“Boleh minta tolong?” pintaku setelah beberapa saat merasa ragu.

Sekonyong-konyong is seperti berhati-hati. “Tergantung apa yang kau inginkan.”

“Tidak susah kok,” aku meyakinkannya.

Ia menunggu, waswas namun penasaran.

“Aku hanya bertanya-tanya… kalau-kalau lain kali kau mau mengingatkanku sebelum mengabaikanku, demi kebaikanku sendiri. Jadi aku bisa siap-siap.” Aku memandangi botol limunku ketika mengatakannya, mengitari lingkaran tutupnya dengan kelingkingku.

“Kedengarannya adil.” Ia merapatkan bibirnya supaya aku tidak tertawa ketika aku memandangnya lagi.

“Terima kasih.”

“Lalu apa aku juga boleh minta satu jawaban sebagai gantinya?” pintanya.

“Satu.”

“Ceritakan padaku satu teori.”

Uuppss. “Jangan yang itu.”

“Kau tidak memberi syarat, kau hanya bilang satu jawaban,” ia mengingatkan aku.

“Kau sendiri selalu ingkar janji,” aku balas mengingatkan.

“Hanya satu teori—aku takkan tertawa.”

“Pasti kau bakal tertawa.” Aku yakin mengenai yang satu ini.

Ia menunduk, lalu memandangku dari balik bulu matanya yang lentik, matanya yang kekuningan tampak membara.

“Please?” ia menghela napas, mencondongkan tubuhnya ke arahku.

Aku mengerjap, pikiranku kosong. Sialan, bagaimana ia melakukannya?”

“Mmm, apa?” tanyaku bingung.

“Ceritakan satu teori, sedikit saja.” Matanya yang berkilat-kilat masih menatapku.

“Ehh, well, digigit laba-laba yang mengandung radio aktif?” Apakah dia bisa menghipnotis juga? Atau aku hanya penurut yang tak berdaya?

“Itu sih tidak kreatif,” ejeknya.

“Maaf, cuma itu yang kupunya,” tukasku kesal.

“Kau benar-benar jauh dari kebenaran,” godanya.

“Tidak ada laba-laba?”

“Tidak ada.”

“Dan tidak ada radio aktif?”

“Tidak.”

“Sial,” keluhku.

“Aku juga terkena batu kryptonite,” sahutnya sambil tertawa.

“Kau kan tidak boleh tertawa, ingat?”

Ia berusaha mengendalkan diri.

“Nanti juga aku tahu,” kataku mengingatkan.

“Kuharap kau tidak mencobanya.” Ia berubah serius lagi.

“Karena…?”

“Bagaimana kalau aku bukan superhero? Bagaimana kalau aku orang jahat?” Ia tersenyum mengodaku, tapi aku tak mengerti maksud di balik tatapannya.

“Oh,” kataku, ketika beberapa potongan ucapannya yang misterius tiba-tiba terasa masuk akal. “Aku mengerti.”

“Benarkah?” Wajahnya langsung mengang, seolah-oleh ia khawatir telah tidak sengaja bicara terlalu banyak.

“Kau berbahaya?” aku menebak, denyut nadiku lebih cepat ketika dengan sendirinya aku menyadari kebenaran kata-kataku sendiri. Ia memang berbahaya. Ia telah mencoba memberitahuku selama ini.

Ia hanya memancangku, tatapannya sarat emosi. Aku tidak mengerti.

“Tapi tidak jahat,” bisikku, sambil menggeleng. “Tidak, aku tidak percaya kau jahat.”

“Kau salah.” Suaranya nyaris tak terdengar. Ia menunduk, lalu mengambil tutup botol, dan memutarmutarnya di antara jemarinya. Aku menatapnya, membayangkan kenapa aku tidak merasa takut. Ia sungguhsungguh dengan ucapannya—itu jelas. Tapi aku hanya merasa khawatir, tidak nyaman… dan, lebih dari segalanya, terpesona. Perasaan sama yang selalu kurasakan ketika berada di dekatnya.

Keheningan berlanjut hingga aku tersadar kafetaria sudah hampir kosong.

Aku melompat kaget. “Kita bakal terlambat.”

“Aku tidak ikut pelajaran hari ini,” katanya, memutar tutup botol begitu cepat hingga tampak kabur.

“Kenapa tidak?”

“Membolos itu menyehatkan.” Ia tersenyum padaku, tapi matanya masih waswas.

“Well, aku masuk,” kataku. Aku kelewat pengecut mengenai resiko ketahuan guru.

Ia mengalihkan perhatiannya lagi ke tutup botol bekasnya. “Kalau begitu, sampai ketemu lagi.”

Aku ragu-ragu, bingung, tapi kemudian bunyi bel pertama membuatku bergegas menuju pintu keluar— sambil menatap untuk terakhir kali, memastikan ia tak bergeser dari posisinya.

Ketika aku setengah berlari menuju kelas, kepalaku berputar lebih kencang daripada tutup botol tadi. Hanya sedikit sekali pertanyaan yang telah terjawab, mengingat banyaknya pertanyaan yang muncul. Setidaknya hujan telah reda.

 

Aku beruntung, Mr. Banner belum tiba di kelas ketika aku sampai. Aku bergegas duduk di kursiku, sadar Mike dan Angela menatapku. Mike tampak kesal; Angela kelihatan terkejut, dan sedikit kagum.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka