Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

“Kenapa kau tidak meninggalkanku sendirian?” gerutuku.

“Aku ingin menanyaimu sesuatu, tapi kau menghalangiku,” ia tertawa. Sepertinya selera humor Edward sudah kembali.

“Kau ini berkepribadian ganda ya?” tanyaku ketus.

“Kau melakukannya lagi.”

Aku menghela napas. “Baik kalau begitu. Apa yang ingin kau tanyakan?”

“Aku sedang bertanya-tanya, seminggu setelah Sabtu depan—kau tahu, pesta dansa musim semi—”

“Kau sedang melucu ya?” aku menyelanya, mengitarinya. Wajahku jadi basah kuyup saat menengadah memandangnya.

Matanya bersinar jail. “Izinkan aku menyelesaikannya.”

Aku menggigit bibir, dan mengatupkan kedua telapak tangan serta mengaitkan jemariku, sehingga aku tak bisa melakukan hal-hal berbahaya.

“Aku dengar kau mau ke Seattle hari itu, dan aku juga bertanya-tanya apakah kau memerlukan tumpangan.”

Benar-benar tak terduga.

“Apa?” Aku tak yakin maksud perkataannya.

“Apa kau butuh tumpangan ke Seattle?”

“Dengan siapa?” tanyaku terkesima.

“Tentu saja aku.” Ia mengucapkan setiap suku kata perlahan-lahan, seolah-olah bicara dengan orang cacat mental.

Aku masih tertegun. “Kenapa?”

“Well, aku berencana pergi ke Seattle beberapa minggu lagi, dan, sejujurnya, aku tak yakin trukmu bisa sampai kesana.”

“Trukku baik-baik saja, terima kasih banyak untuk kepedulianmu.” Aku mulai berjalan lagi, tapi terlalu terkejut hingga tidak semarah tadi.

“Tapi apakah trukmu bisa sampai dengan sekali mengisi bensin?” Ia berhasil menyusulku.

“Kupikir itu bukan urusanmu.” Dasar pemilik Volvo silver tolol.

“Penyia-nyiaan sumber daya yang tak dapat diperbaharui adalah urusan semua orang.”

“Jujur saja, Edward.” Aku merasakan kebahagiaan merasukiku ketika menyebut namanya, dan aku membencinya. “Aku tak mengerti maksudmu. Kupikir kau tak mau berteman denganku.”

“Aku bilang akan lebih baik kalau kita tidak berteman, bukannya tidak mau menjadi temanmu.”

“Oh, terima kasih, sekarang semuanya jelas.” Sindiran tajam. Aku sadar ternyata aku sudah berhenti melangkah. Kami berada di bawah atap kafetaria, jadi aku bisa lebih mudah melihat wajahnya. Yang jelas itu tidak membantuku berpikir lebih jelas.

“Akan lebih bijaksana bagimu untuk tidak berteman denganku,” ia menjelaskan. “Tapi aku sudah lelah berusaha menjauh darimu, Bella.”

Tatapannya begitu lekat ketika ia mengucapkan kalimatnya yang terakhir, suaranya berapi-api. Aku sampai tak ingat bagaimana caranya bernafas.

“Maukah kau pergi ke Seattle bersamaku?” tanyanya, masih menatapku tajam.

Aku masih belum bisa bicara, jadi aku hanya mengangguk.

Ia hanya tersenyum sekilas, lalu wajahnya kembali serius.

“Kau benar-benar harus menjauh dariku,” ia mengingatkan. “Sampai ketemu di kelas.”

Ia langsung berbalik dan berjalan kembali ke arah kami datang tadi.

 

 

5. Golongan darah

Aku berjalan menuju kelas bahasa Inggris dengan setengah melamun. Aku bahkan tidak menyadari ketika aku

sampai, pelajaran sudah dimulai.

“Terima kasih sudah datang, Miss Swan,” sindir Mr. Mason.

Wajahku merah padam dan aku bergegas ke tempat dudukku.

Ketika pelajaran berakhir, barulah aku menyadari Mike tidak duduk di sebelahku seperti biasa. Aku merasakan cubitan rasa bersalah. Tapi ia dan Eric menungguku di pintu seperti biasa, jadi aku menyimpulkan mereka sudah sedikit memaafkanku. Mike sudah lebih cerewet ketika kami berjalan, dan semakin bersemangat ketika membicarakan prakiraan cuaca untuk akhir pekan ini. Hujan diperkirakan akan berhenti sebentar, dan itu berarti berita baik untuk rencananya jalan-jalan ke pantai. Aku berusaha terdengar bersemangat, sebagai ganti karena telah membuatnya kecewa kemarin. Tetap saja: hujan atau tidak hujan, suhunya paling-paling sekitar 4°C, kalau kami beruntung.

Sisa pagi itu berlangsung samar-samar. Sulit dipercaya, bahwa aku tidak hanya mengkhayalkan perkataan Edward, dan sorot matanya. Barangkali itu hanya mimpi yang sangat nyata hingga sulit membedakannya dengan kenyataan sebenarnya. Kelihatannya itu lebih mungkin.

Jadi aku merasa tidak sabar dan sekaligus ngeri ketika Jessica dan aku memasuki kafetaria. Aku ingin melihat wajahnya, aku ingin tahu apakah ia telah berubah dingin dan tidak peduli lagi, seperti yang kulihat beberapa minggu terakhir ini. Atau barangkali, berkat sebuah keajaiban, aku benar-benar mendengar yang kudengar tadi pagi. Jessica terus saja berceloteh tentang rencananya di pesta dansa—Lauren dan Angela sudah mengajak Eric dan Tyler dan mereka akan pergi bersama-sama. Ia benar-benar tidak menyadari sikapku yang tak menyimak.

Kekecewaan menyergapku ketika pandanganku tertuju ke mejanya. Keempat saudaranya ada disana, tapi dia tidak ada. Apakah dia pulang? Aku antre di belakang Jessica yang masih terus mencerocos. Hatiku hancur. Selera makan siangku lenyap—aku hanya membeli sebotol limun. Aku cuma ingin duduk dan mengasihani diriku.

“Edward Cullen sedang memandangimu lagi,” kata Jessica, akhirnya membuyarkan lamunanku. “Aku kepingin tahu kenapa ya dia duduk sendirian hari ini.”

Kuangkat kepalaku cepat-cepat. Aku mengikuti tatapan Jessica dan menemukan Edward, tersenyum lebar, menatapku dari meja kosong di seberang kafetaria tepat dari tempat dia biasanya duduk. Begitu kami beradu pandang, ia mengangkat tangan dan mengarahkan telunjuknya kepadaku, mengajakku bergabung dengannya. Ketika aku menatapnya tidak percaya, ia mengedipkan mata.

“Apakah maksudnya kau?” Jessica bertanya, suaranya terkejut.

“Mungkin dia butuh bantuan untuk mengerjakan PR Biologi,” gumamku menenangkannya. “Mmm, sebaiknya aku cari tahu apa yang diinginkannya.”

Aku merasakan tatapan Jessica ketika pergi menghampiri Edward.

Setibanya di meja cowok itu, aku berdiri di belakang kursi di seberangnya, ragu-ragu.

“Duduklah bersamaku hari ini,” pintanya sambil tersenyum.

Aku duduk, hati-hati mengawasinya. Ia masih tersenyum. Sulit dipercaya seseorang setampan ini begitu nyata. Aku khawatir ia bisa menghilang tiba-tiba di balik asap, lalu aku terbangun dari mimpi.

Ia sepertinya menungguku mengatakan sesuatu.

“Ini tidak seperti biasanya,” akhirnya aku berkata.

 

 

“Well…” ia berhenti, lalu sisanya terurai begitu saja. “Kuputuskan mengingat aku toh bakal pergi ke neraka, lebih baik kulakukan semuanya saja sekalian.”

Aku menunggu ia mengatakan sesuatu yang masuk akal. Waktu pun berlalu.

“Tahu nggak, aku sama sekali tidak mengerti apa maksudmu,” akhirnya aku mengaku.

“Aku tahu.” Ia tersenyum lagi, lalu mengubah topik. “Kurasa teman-temanmu marah padaku karena telah menculikmu.”

“Mereka akan baik-baik saja.” Bisa kurasakan mereka mulai bosan menatapku.

“Aku mungkin saja takkan mengembalikanmu,” katanya sambil mengedip jail.

Aku menelan ludah.

Ia tertawa. “Kau tampak khawatir.”

“Tidak,” kataku, tapi konyolnya suaraku bergetar. “Sebenarnya aku terkejut… apa yang menyebabkan ini semua?”

“Sudah kubilang—aku capek berusaha menjauh darimu. Jadi aku menyerah.” Ia masih tersenyum, tapi matanya yang kekuningan tampak serius.

“Menyerah?” ulangku bingung.

“Ya—menyerah berusaha bersikap baik. Sekarang aku hanya melakukan apa yang kuinginkan, dan membiarkan semuanya terjadi sebagaimana mestinya.” Senyumnya memudar ketika ia menjelaskan, dan suaranya terdengar serius.

“Lagi-lagi kau membuatku bingung.”

Senyum menawan itu muncul lagi.

“Aku selalu berkata terlalu banyak kalau bicara denganmu—itu salah satu masalahnya.”

“Jangan khawatir—aku tak mengerti satu pun ucapanmu,” sindirku.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka