Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

“Aku akan pergi ke luar kota, Tyler.” Suaraku agak ketus. Aku harus mengingat-ingat bukan salahnya kalau Mike dan Eric telah menguras kesabaranku hari ini.

“Yeah, Mike sudah bilang,” akunya.

“Lalu kenapa—”

Ia mengangkat bahu. “Aku hanya berharap kau hanya ingin menolaknya secara halus.”

Oke, ini benar-benar salahnya.

“Maaf, Tyler,” kataku, berusaha menyembunyikan kejengkelanku. “Aku benar-benar akan pergi ke luar kota.”

“Oke, tidak apa-apa. Masih ada pesta prom.”

Sebelum aku bisa menyahut, ia sudah berjalan kembali ke mobilnya. Aku tak sabar lagi menunggu Alice, Rosalie, Emmett, dan Jasper masuk ke Volvo. Dari kaca spionnya, mata Edward tertuju padaku. Tak diragukan lagi ia gemetar karena tawa, seolah-olah ia mendengar sendiri setiap kata yang diucapkan Tyler. Kakiku gatal ingin menginjak pedal gas… 1 tabrakan kecil tak akan melukai mereka, paling-paling cuma lecet. Kuinjak pedal gasnya.

Tapi mereka semua sudah masuk di dalam, dan Edward memacu kencang Volvo-nya. Perlahan aku mengemudikan trukku menuju rumah, hati-hati, sambil menggerutu sendiri sepanjang jalan.

Sesampainya di rumah aku memutuskan untuk membuat enchiladas ayam untuk makan malam. Masaknya lama, dan itu bisa membuatku tetap sibuk. Ketika aku sedang menumis bawang dan cabe, telepon berbunyi. Aku nyaris takut mengangkatnya, tapi itu bisa saja Mom atau Charlie.

Ternyata Jessica, dan ia sangat ceria; Mike menemuinya sepulang sekolah dan menerima ajakannya. Aku mengatakan ikut senang sambil mengaduk tumisanku. Ia harus pergi, ia ingin menelepon dan memberitahu Angela dan Lauren. Aku memberinya saran—dengan nada kasual—bahwa Angela, si pemalu yang satu kelas Biologi denganku, bisa mengajak Eric. Dan Lauren, si jutek yang selalu mengabaikanku saat makan siang, bisa mengajak Tyler; kudengar belum ada yang mengajaknya. Jess pikir itu ide bagus. Berhubung sekarang ia yakin dengan Mike, ia terdengar tulus saat mengharapkan kehadiranku di pesta dansa. Lagi-lagi aku menceritakan rencanaku tentang Seattle.

Setelah menutup telepon aku berusaha berkonsentrasi membuat makan malam—terutama mengiris daging ayamnya tipis-tipis, aku tak mau masuk ruang UGD lagi. Tapi kepalaku berputar-putar, mencoba menganalisis setiap perkataan yang dilontarkan Edward hari ini. Apa maksudnya, lebih baik kami tidak berteman?

Perutku bergejolak begitu aku memahami maksudnya. Ia pasti tahu betapa aku sangat terpesona olehnya, ia pasti tidak ingin itu berlanjut… karena itu kami tidak bisa berteman… karena ia sama sekali tidak tertarik padaku.

Tentu saja ia tidak tertarik padaku, pikirku marah, mataku perih—jelas bukan karen irisan bawang. Aku tidak menarik. Sementara Edward sangat. Menarik… dan pintar… dan misterius… dan sempurna… dan tampan…dan barangkali bisa mengangkat van berukuran besar dengan 1 tangan.

Well, tidak apa-apa. Aku bisa melupakannya sekarang. Aku akan meninggalkannya. Aku akan selamat melewati semua pikiran ini, kemudian berharap ada sekolah di barat daya, atau mungkin Hawaii, yang akan menawariku beasiswa. Aku memikirkan pantai-pantai dengan sinar matahari dan pohon palem ketika enchiladas-ku selesai dan aku memasukkannya ke oven.

Charlie tampak curiga ketika ia pulang dan mencium aroma cabe hijau. Aku tak bisa menyalahkannya— makanan Meksiko yang layak dimakan dan dekat dengan Forks barangkali ada di selatan California. Tapi dia polisi, bahkan meskipun polisi kota kecil, jadi dia cukup berani mencicipinya. Sepertinya ia suka. Menyenangkan rasanya melihat ia perlahan-lahan mempercayakan urusan dapur kepadaku.

“Dad?” aku bertanya ketika dia hampir selesai makan.

“Yeah, Bella?”

“Mmm, aku hanyaingin memberitahumu, aku akan berakhir pekan di Seattle Sabtu depan… kalau boleh?” Aku tidak ingin minta izin—itu memberi kesan buruk—tapi aku merasa kasar, jadi aku menyelipkannya di bagian akhir.

“Kenapa?” Ia terkejut, seolah ada sesuatu yang tidak bisa ditawarkan Forks.

“Well, aku ingin membeli beberapa buku—koleksi perpustakan disini sedikit sekali—dan barangkali membeli beberapa pakaian juga.” Uangku lebih banyak dari biasanya, berkat Charlie, mengingat aku tak perlu membeli mobil. Bukan berarti truk itu tidak menghabiskan banyak biaya. Bahan bakarnya boros sekali.

“Barangkali sistem pembuangan truk itu bermasalah,” katanya, menyuarakan pikiranku.

 

 

“Aku tahu, aku akan berhenti di Montesano dan Olympia—dan di Tacoma kalau terpaksa.”

“Apa kau pergi sendirian?” tanyanya, dan aku tak bisa menebak apakah ia curiga aku punya pacar gelap atau hanya mengkhawatirkan trukku.

“Ya.”

“Seattle kota besar—kau bisa tersesat,” ujarnya waswas.

“Dad, Phoenix lima kali lebih besar daripada Seattle—dan aku bisa membaca peta, jangan khawatir.”

“Kau mau aku ikut bersamamu?”

Aku berusaha menyembunyikan rasa ngeriku mendengar ucapannya.

“Tidak apa-apa, Dad, barangkali aku akan seharian menjajal pakaian—sangat membosankan.”

“Oh, oke.” Membayangkan bakal duduk di toko pakaian wanita langsung mematikan niatnya.

“Terima kasih.” Aku tersenyum.

“Apa kau akan kembali saat pesta dansa?”

Grr. Hanya di kota sekecil ini seorang ayah mengetahui kapan pesta dansa sekolah diadakan.

“Tidak—aku tidak berdansa, Dad.” Dari semua orang di dunia ini, harusnya dia mengetahuinya— mengingat aku tidak mewarisi masalah keseimbanganku dari ibuku.

Ia ternyata mengerti. “Oh, ya benar,” katanya.

Keesokan paginya, ketika akan memarkir truk, aku sengaja parkir sejauh mungkin dari Volvo silver itu. Kalau berada di dekatnya, bisa-bisa aku tergoda untuk merusaknya. Ketika keluar dari truk, kunciku terjatuh dari genggaman dan mendarat di kaki. Ketika aku membungkuk untuk mengambilnya, sebuah tangan putih bergerak cepat dan mendahului aku. Aku langsung menegakkan tubuhku. Edward Cullen tampak tepat di sebelahku, bersandar santai di trukku.

“Bagaimana kau melakukannya?” tanyaku kaget sekaligus sebal.

“Melakukan apa?” tanyanya sambil mengulurkan kunci trukku. Ketika aku meraihnya, ia menjatuhkannya di telapak tanganku.

“Muncul tiba-tiba.”

“Bella, bukan salahku kalau kau tidak pernah memperhatikan sekelilingmu.” Seperti biasa suaranya tenang—lembut, merdu.

Kutatap wajahnya yang sempurna. Warna matanya berubah terang lagi hari ini, warna madu keemasan yang kental. Lalu aku menunduk, untuk menenangkan diri.

“Kenapa kau membuat kemacetan kemarin?”tanyaku sambil tetap mengalihkan pandangan. “Kupikir kau seharusnya berpura-pura aku tidak ada, bukannya membuatku kesal setengah mati.”

“Itu demi kebaikan Tyler, bukan aku. Aku harus memberinya kesempatan,” oloknya.

“Kau…” ujarku geram. Aku tak bisa memikirkan kata-kata yang cukup jahat. Seharusnya amarahku ini bisa membakarnya, tapi sepertinya ia malah semakin terhibur.

“Dan aku tidak berpura-pura kau tidak ada,” lanjutnya.

“Jadi, kau sedang berusaha membuatku kesal sampai mati rasanya? Mengingat van Tyler gagal membunuhku?”

Amarah berkilat-kilat di matanya yang kekuningan. Bibirnya terkatup rapat, selera humornya lenyap.

“Bella, kau benar-benar sinting,” katanya, suaranya dingin.

Telapak tanganku memanas—ingin sekali rasanya aku memukul sesuatu. Aku terkejut pada diriku sendiri. Aku biasanya tidak menyukai kekerasan. Aku berbalik dan meninggalkannya.

“Tunggu,” panggilnya. Aku terus berjalan marah, menerobos hujan. Tapi dia menyusulku dengan mudah.

“Maafkan aku, sikapku tadi itu kasar,” katanya sambil berjalan. Aku mengabaikannya. “Aku tidak bilang itu tidak benar,” lanjutnya, “tapi bagaimanapun juga itu kasar.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.