Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

“Bella? Kau baik-baik saja?”

“Aku tidak apa-apa.” Suaraku terdengar aneh. Aku mencoba duduk dan menyadari ia memegangiku sangat erat di satu sisi tubuhnya.

“Hati-hati,” ia mengingatkan ketika aku menggeser tubuhku. “Kurasa kepalamu terbentur cukup keras.”

Aku menyadari rasa sakit yang amat sangat di atas kepala kiriku.

“Aduh,” kataku, terkejut.

“Itulah yang kupikirkan.” Anehnya suara Edward terdengar seperti menahan tawa.

“Bagaimana bisa…” suaraku perlahan menghilang. Aku berusaha menjernihkan pikiran, mengumpulkan kekuatan. “Bagaimana kau bisa sampai disini secepat itu?”

“Aku berdiri di sebelahmu, Bella,” katanya, nada suaranya kembali serius.

Aku mencoba duduk dan kali ini dia membiarkanku, melepaskan pegangannya di pinggangku dan mundur sejauh mungkin di ruang yang sempit itu. Aku memandang wajahnya yang waswas dan polos, dan sekai lagi aku merasa bingung karena kekuatan matanya yang berwarna keemasan. Apa yang kutanyakan padanya tadi?

Lalu mereka menemukan kami, kerumunan orang dengan air mata membasahi wajah mereka, saling berteriak, berteriak kepada kami.

“Jangan bergerak,” seseorang memerintah.

“Keluarkan Tyler dari bawah van!” terdengar teriakan lain. Banyak sekali kesibukan di sekeliling kami. Aku mencoba bangkit, tapi tangan Edward yang dingin menahan bahuku.

“Sekarang jangan bergerak dulu.”

“Tapi dingin,” aku mengeluh. Aku terkejut karena ia tertawa kecil. Ada kegetiran dalam suaranya.

“Kau ada di sebelah sana,” tiba-tiba aku ingat dan tawa kecilnya langsung berhenti. “Kau ada di sebelah mobilmu.”

Ekspresinya berubah kaku. “Tidak.”

“Aku melihatmu.” Sekeliling kami kacau. Aku bisa mendengar suara orang-orang dewasa yang lebih keras mendekat. Tapi aku tetap bersikeras mendebatnya; aku benar, dan ia akan mengakuinya.

“Bella, aku sedang berdiri bersamamu, dan aku menarikmu dari sana.” Ia menyalurkan kekuatan pandangannya padaku, seolah memberitahu sesuatu yang penting.

“Tidak.” Rahangku mengeras.

Warna emas di matanya berkilat-kilat. “Kumohon, Bella.”

“Kenapa?” desakku.

“Percayalah padaku,” ia memohon, suaranya yang lembut mengodaku.

Aku bisa mendengar suara sirene sekarang. “Maukah kau berjanji menceritakan semuanya nanti?”

“Ya,” tukasnya, tiba-tiba terdengar putus asa.

“Oke,” aku mengulanginya dengan nada marah.

Butuh enam petugas medis dan dua guru—Mr. Varner dan Pelatih Clapp—untuk memindahkan van itu cukup jauh dari kami sehingga tandunya bisa dibawa mendekat. Edward dengan kasar menolak, dan aku berusaha melakukan hal yang sama, tapi Edward si penghianat memberitahu mereka kepalaku terbentur dan mungkin mengalami gegar otak. Aku nyaris mati karena malu ketika mereka memasang penyangga di leherku. Sepertinya seluruh sekolah ada di sana, ketika mereka mengangkutku ke dalam ambulans. Edward naik di depan. Menjengkelkan.

Yang membuat segalanya lebih parah, Kepala Polisi Swan tiba sebelum mereka membawaku pergi dengan selamat.

“Bella!” ia berteriak panik ketika menyadari aku ditandu.

“Aku baik-baik saja, Char—Dad,” keluhku. “Aku tidak apa-apa.”

Ia beralih ke petugas paramedis di dekatnya untuk menanyakan keadaanku. Aku berusaha tidak mendengarkan karena kepalaku sudah penuh dengan berbagai pertanyaan. Ketika mereka mengangkatku menjauh dari mobil, aku melihat lekukan dalam di bemper mobil cokelat itu—lekukan sangat dalam yang sesuai dengan kontur bahu Edward… Seolah-olah ia telah menahan mobil itu dengan tenaga yang bisa merusak bingkai baja itu…

Keluarganya tampak di kejauhan, ekspresi mereka beragam, mulai dari protes sampai marah, tapi tak ada sedikitpun kepedulian akan keselamatan saudara mereka.

Aku berusaha mencari solusi masuk akal yang bisa menjelaskan apa yang baru saja kulihat—solusi yang menghilangkan asumsi bahwa aku gila.

Tentu saja polisi mengawal ambulans itu menuju rumah sakit wilayah. Aku merasa konyol ketika mereka menurunkan aku. Yang membuatnya lebih buruk, Edward bisa melewati pintu rumah sakit tanpa bantuan sama sekali. Aku menggertakkan gigiku.

Mereka membawaku ke UGD, ruangan panjang dengan barisan tempat tidur yang dipisahkan oleh tirai berpola warna pastel. Seorang juru rawat meletakkan alat pemeriksa tekanan darah di lenganku dan termometer di bawah lidah. Karena tak ada yang bersedia menarik tirai agar aku mendapatkan privasi, kuputuskan aku tak perlu lagi mengenakan penyangga leher bodoh itu. Ketika juru rawat pergi, aku cepatcepat melepaskan Velcro itu dan melemparnya ke kolong tempat tidur.

Lalu datang pasien lain, sebuah tandu diangkut ke tempat tidur di sebelahku. Aku mengenali Tyler Crowler, temanku di kelas Pemerintahan, balutan perban bernoda darah tampak erat membungkus kepalanya. Tyler kelihatan seratus kali lebih parah daripada yang kurasakan. Ia menatapku waswas.

“Bella, maafkan aku!”

“Aku tidak apa-apa, Tyler—kau tampak buruk, apa kau baik-baik saja?” Ketika kami bicara, para juru rawat mulai melepaskan perban di kepalanya, memperlihatkan luka gores yang jumlahnya banyak di sekujur kening dan pipi kirinya.

Ia mengabaikanku. “Kupikir aku bakal membunuhmu! Aku mengemudi terlalu cepat, dan mobilku selip…” Ia meringis ketika salah satu juru rawat mengelap wajahnya.

“Jangan khawatirkan itu, kau tidak mengenaiku.”

“Bagaimana kau bisa menyingkir secepat itu? Kau ada disana, lalu kau menghilang…”

“Mmm… Edward menarikku.”

Ia terlihat bingung. “Siapa?”

“Edward Cullen—dia berdiri di sebelahku.” Aku tak pernah pandai berbohong, aku sama sekali tidak terdengar meyakinkan.

“Cullen? Aku tidak melihatnya… wow, kurasa semuanya berlangsung cepat sekali. Apa dia baik-baik saja?”

“Kurasa begitu. Dia ada disini entah dimana, tapi mereka tidak mengangkutnya dengan tandu.”

Aku tahu aku tidak sinting. Apa yang terjadi? Tak ada yang bisa menjelaskan apa yang telah kusaksikan.

Lalu mereka mendorongku pergi dengan kursi roda untuk merongent kepalaku. Kukatakan kepada mereka aku baik-baik saja, dan aku benar. Aku bahkan tidak mengalami gegar otak. Aku bertanya apakah aku boleh pergi, tapi juru rawat bilang aku harus bicara dulu dengan dokter. Jadi, aku terperangkap di UGD, menunggu, terganggu dengan Tyler yang terus-menerus meminta maaf dan berjanji akan melakukan apa saja untukku. Tak peduli berapa kali aku mencoba meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja, ia terus saja menyiksa dirinya sendiri. Akhirnya kupejamkan mataku dan mengabaikannya. Ia terus menggumamkan penyesalan.

“Apa dia tidur?” aku mendengar suara yang merdu bertanya. Mataku langsung terbuka.

Edward berdiri di ujung tempat tidurku, nyengir. Aku memandangnya. Tidak mudah—akan lebih wajar jika aku mengerling padanya.

“Hei, Edward, aku sangat menyesal—” Tyler memulai.

Edward mengangkat tangan untuk menghentikannya.

“Tidak ada darah, tidak seru,” katanya, memamerkan giginya yang sempurna. Ia beranjak dan duduk di ujung tempat tidur Tyler, namun menghadap ke arahku. Ia nyengir lagi.

“Jadi, apa kata mereka?” ia bertanya kepadaku.

“Aku baik-baik saja, tapi mereka tidak mengijinkanku pergi,” aku mengeluh. “Bagaimana kau bisa tidak ditandu seperti kami?”

“Itu cuma soal siapa yang kaukenal,” jawabnya. “Tapi jangan khawatir, aku datang untuk menyelamatkanmu.”

Lalu seorang dokter menghampiri, dan mulutku menganga melihatnya. Ia masih muda, pirang… dan lebih tampan dari bintang film manapun yang pernah kulihat. Meski begitu ia pucat, tampak lelah, dengan lingkaran di bawah matanya. Dari yang dideskripsikan Charlie, ini pasti ayah Edward.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.