Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

Aku berlari ke arah mereka. Aku tahu bahwa aku harus mencegah mereka saling membunuh, tetapi gerakanku lambat. Aku tahu aku akan terlambat. Kulihat elang itu menukik, paruhnya ditujukan ke mata kuda yang membelalak, dan aku menjerit, Jangan!

Aku tersentak bangun.

Di luar pondok, badai memang melanda, jenis badai yang menumbangkan pohon dan meruntuhkan rumah. Di pantai tak ada kuda atau elang, hanya kilat yang menerangi sesaat, dan ombak setinggi enam meter yang berdebur di bukit-bukit pasir seperti artileri.

Pada guntur berikutnya, ibuku terbangun. Dia duduk dengan matanya terbelalak, dan berkata, “Topan.”

Aku tahu itu gila. Long Island tak pernah mengalami topan seawal ini dalam musim panas. Tetapi, samudra tampaknya telah lupa. Mengatasi gemuruh angin, terdengar seruan di kejauhan, bunyi marah penuh derita yang membuat bulu kudukku berdiri.

Lalu, bunyi yang jauh lebih dekat, seperti palu pada pasir. Suara putus asa—seseorang berteriak, menggedor-gedor pintu pondok kami.

Ibuku melompat turun dari tempat tidur, hanya berdaster, dan membuka kunci pintu.

Grover berdiri berbingkai pintu, dengan latar hujan deras. Tetapi dia bukan … dia bukan benar-benar Grover.

“Kucari semalaman,” dengapnya. “Apa sih maumu?”

Ibuku memandangku ngeri—bukan takut pada Grover, tetapi pada alasan kedatangannya.

“Percy,” katanya sambil berteriak, agar terdengar mengatasi hujan. “Apa yang terjadi di sekolah? Apa yang tidak kauceritakan kepada Ibu?”

Aku membeku, memandang Grover. Aku tak mengerti apa yang kulihat.

“O Zeu kai alloi theoi!” serunya. “Dia tak jauh di belakangku! Kau tidak cerita ke ibumu?”

Aku terlalu kaget sehingga tak menyadari bahwa dia baru saja mengumpat dalam bahasa Yunani Kuno, dan aku memahaminya dengan sempurna. Aku terlalu kaget sehingga tak mempertanyakan bagaimana Grover bisa sampai ke sini sendirian, tengah malam. Karena Grover tidak bercelana—dan di tempat yang semestinya ada kakinya … di tempat yang semestinya ada kakinya ….

Ibuku menatapku tegas dan berbicara dengan nada yang belum pernah digunakannya: “Percy. Ceritakan pada Ibu sekarang!”

Aku terbata-bata bercerita tentang nenek-nenek di kios buah, dan Bu Dodds. Ibuku menatapku, wajahnya pucat pasi dalam sambaran kilat.

Dia menyambar tasnya, melemparkan jas hujan kepadaku, dan berkata, “Masuk ke mobil. Kalian berdua. Ayo!”

Grover berlari ke Camaro—tetapi dia bukan berlari betulan. Dia berderap, menggoyang kaki belakangnya yang berbulu, dan tiba-tiba cerita Grover tentang gangguan otot di kakinya menjadi masuk akal bagiku. Aku mengerti bagaimana dia bisa berlari begitu cepat dan tetap pincang saat berjalan.

Karena di tempat yang semestinya ada kaki, tak ada kaki. Yang ada adalah kaki hewan yang berkuku belah.

4. Ibuku Mengajariku Bertarung dengan Banteng

Kami melaju menembus malam di sepanjang jalan pedesaan yang gelap. Angin berulang kali mengguncang Camaro. Hujan melecut kaca depan. Entah bagaimana ibuku bisa melihat jalan, tetapi dia tetap menjejakkan kaki pada pedal gas.

Setiap kali ada sambaran petir, kulirik Grover yang duduk di sebelahku di bangku belakang dan bertanya-tanya apakah aku sudah gila, atau dia mengenakan semacam celana karpet berbulu. Tapi, tidak, baunya mirip bau yang kuingat dari karyawisata TK ke kebun binatang—lanolin, seperti dari wol. Bau hewan ternak yang basah.

Aku sudah terpikir untuk berkata, “Jadi, kau dan ibuku … sudah kenal?”

Mata Grover melirik ke kaca spion tengah, meskipun di belakang kami tak ada mobil. “Nggak juga sih,” katanya. “Maksudku, kami belum pernah bertemu langsung. Tapi dia tahu aku mengawasimu.”

“Mengawasiku?”

“Menjagamu. Memastikan kau tak apa-apa. Tapi aku tak cuma berpura-pura menjadi temanmu lho,” tambahnya buru-buru. “Aku benar-benar temanmu.”

“Em … kau sebenarnya apa sih?”

“Itu nggak penting sekarang.”

“Nggak penting? Dari pinggang ke bawah, sahabatku ternyata keledai—”

Grover tahu-tahu bersuara “Mbeeek!” yang tajam dan serak.

Aku pernah mendengar dia berbunyi begitu, tetapi dulu aku selalu menganggap itu cuma tawa gugup. Sekarang aku menyadari bahwa bunyi itu lebih berupa embik kesal.

“Kambing!” serunya.

“Apa?”

“Aku ini kambing dari pinggang ke bawah.”

“Tadi katamu, itu nggak penting.”

“Mbeeek! Banyak satir yang akan menginjak-injakmu kalau dihina seperti itu, tahu”

“Eh. Tunggu. Satir. Maksudmu seperti … mitor Pak Brunner?”

“Apa nenek-nenek di kios buah itu mitos, Percy? Apa Bu Dodds itu mitos?”

“Jadi, kau mengaku Bu Dodds itu pernah ada!”

“Tentu saja.”

“Jadi kenapa—”

“Semakin sedikit yang kautahu, semakin sedikit juga monster yang tertarik padamu,” kata Grover, seolah-olah itu semestinya sudah gamblang. “Kami menyampirkan Kabut pada mata manusia. Tadinya kami berharap bahwa kau menganggap Makhluk Baik itu cuma halusinasi. Tapi sia-sia. Kau mulai menya-dari siapa dirimu.”

“Siapa diri—tunggu, apa maksudmu?”

Suara seruan aneh itu terdengar lagi dari suatu tempat di belakang kami, lebih dekat daripada sebelumnya. Apa pun yang mengejar kami masih terus menguntit.

“Percy,” kata ibuku, “terlalu banyak yang harus dijelaskan dan waktunya tidak cukup. Kita harus membawamu ke tempat yang aman.”

“Aman dari apa? Siapa yang mengejarku?”

“Bukan orang penting kok,” kata Grover, jelas masih sebal soal komentar keledai itu. “Cuma Penguasa Maut dan beberapa kaki tangannya yang paling haus darah.”

“Grover!”

“Maaf, Bu Jackson. Bisa lebih cepat, nggak?”

Aku berusaha memahami apa yang sedang terjadi, tetapi tak mampu. Aku tahu ini bukan mimpi. Aku tuh tak punya imajinasi. Aku tak mungkin bisa mengkhayalkan kejadian seaneh ini.

Ibuku membelok tajam ke kiri. Kami menikung ke jalan yang lebih sempit, melaju melewati rumah-rumah peternakan yang gelap dan bukit-bukit berhutan dan plang PETIK SENDIRI STROBERI pada pagar-pagar putih.

“Kita mau ke mana?” tanyaku.

“Perkemahan musim panas yang Ibu ceritakan tadi.” Suara ibuku tegang; dia berusaha agar tidak takut, demi aku. “Ayahmu ingin kau ke sana.”

“Tapi Ibu nggak ingin aku ke sana.”

“Tolong, Sayang,” ibuku memohon. “Ini sudah cukup sulit. Cobalah mengerti. Kau sedang terancam bahaya.”

“Karena ada nenek-nenek yang menggunting benang.”

“Itu bukan nenek-nenek,” kata Grover. “Itu ketiga Moirae. Kau tahu apa artinya—bahwa mereka muncul di depanmu? Mereka hanya melakukan itu kalau kau akan … kalau seseorang akan mati.”

“Wah. Kau bilang ‘kau’.”

“Nggak. Aku bilang ‘seseorang’.”

“Maksudmu ‘kau’. Tepatnya, aku.”

“Maksudku ‘seseorang’. Bukan kau.”

“Anak-anak!” kata ibuku.

Dia memutar kemudi tajam ke kanan, dan sekilas kulihat sosok yang dihin-darinya dengan membelok—sosok gelap mengepak-ngepak yang kini hilang dalam badai di belakang kami.

“Apa itu tadi?” tanyaku.

“Kita sudah hampir sampai,” kata ibuku, tak menggubris pertanyaanku. “Satu setengah kilometer lagi. Semoga. Semoga. Semoga.”

Aku tak tahu kami sudah hampir sampai ke mana, tetapi aku memajukan tubuh di mobil, menunggu, ingin cepat-cepat tiba.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca