Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

Aku masuk ke Camaro dan menyuruh ibuku menginjak gas.

* * *

Pondok sewaan kami terletak di pesisir selatan, jauh di ujung Long Island. Pondok itu berbentuk kotak kecil warna pastel yang bertirai luntur, setengah melesak di bukit pasir. Selalu ada pasir di dalam seprai dan laba-laba di dalam lemari. Hampir sepanjang waktu, lautnya terlalu dingin untuk direnangi.

Aku mencintai tempat itu.

Kami selalu ke sana sejak aku masih bayi. Ibuku sudah sering ke sana sebelum itu. Dia tak pernah benar-benar mengatakannya, tapi aku tahu kenapa pantai itu istimewa baginya. Di sanalah dia bertemu dengan ayahku.

Semakin dekat kami ke Montauk, dia seolah-olah semakin muda, tahun-tahun penuh kecemasan dan kerja keras pupus dari wajahnya. Matanya berubah menjadi warna laut.

Kami sampai saat matahari terbenam, lalu membuka semua jendela pondok, dan membersihkan pondok itu, sesuatu yang rutin kami kerjakan. Kami berjalan-jalan di pantai, memberi makan keripik jagung warna biru kepada burung camar, dan mengunyah permen jelly bean warna biru, gula-gula saltwater taffy warna biru, dan semua sampel gratis lain yang dibawa ibuku dari tempat kerja.

Mungkin sebaiknya kujelaskan soal makanan biru itu.

Jadi, begini. Gabe pernah berkata kepada ibuku, bahwa makanan berwarna biru itu tak ada. Mereka bertengkar, yang waktu itu sepertinya cuma cekcok kecil. Namun, sejak saat itu, ibuku sengaja makan makanan biru. Dia membuat kue ulang tahun warna biru. Dia mencampur minuman smoothie dengan blueberry. Dia membeli keripik tortilla jagung warna biru dan membawa pulang permen warna biru dari toko. Ini—termasuk mempertahankan nama gadisnya, Jackson, dan tidak menyebut dirinya Ny. Ugliano—adalah bukti bahwa dia tidak sepenuhnya diperdaya Gabe. Dia memiliki sikap pemberontak, seperti aku.

Saat hari sudah gelap, kami membuat api unggun. Kami memanggang sosis dan marshmallow. Ibuku bercerita tentang masa kecilnya, sebelum orangtuanya meninggal dalam kecelakaan pesawat. Dia bercerita tentang buku-buku yang ingin ditulisnya suatu hari nanti, setelah dia punya cukup uang untuk berhenti bekerja di toko permen.

Akhirnya, aku memberanikan diri menanyakan sesuatu yang selalu kupikirkan setiap kali kami datang ke Montauk—ayahku. Mata Ibu langsung berkaca-kaca. Kupikir, dia akan menceritakan hal-hal yang sama seperti biasa, tetapi aku tak pernah bosan mendengarnya.

“Dia baik hati, Percy,” katanya. “Jangkung, tampan, dan berkuasa. Tapi juga lembut. Kau mewarisi rambut hitamnya, dan mata hijaunya.”

Ibu merogoh permen jelly biru dari kantong permennya. “Andai saja dia bisa melihatmu, Percy. Dia tentu sangat bangga.”

Aku bertanya-tanya bagaimana dia bisa berkata seperti itu. Apa hebatnya aku? Anak yang hiperaktif, mengidap disleksia, mendapat rapor D+, dikeluarkan dari sekolah keenam kalinya dalam enam tahun.

“Berapa umurku waktu itu?” tanyaku. “Maksudku … waktu dia pergi?”

Ibuku menatap lidah-lidah api. “Dia hanya bersama Ibu selama satu musim panas, Percy. Tepat di pantai ini. Pondok ini.”

“Tapi … dia kenal aku sewaktu aku bayi.”

“Tidak, Sayang. Dia tahu Ibu hamil, tapi dia tak pernah melihatmu. Dia harus pergi sebelum kau lahir.”

Aku berusaha mencocokkan itu dengan kenyataan bahwa aku rasanya ingat … sesuatu tentang ayahku. Pendar hangat. Senyum.

Selama ini aku berasumsi bahwa dia kenal aku sewaktu aku bayi. Ibuku memang tak pernah berkata begitu, tetapi tetap saja aku merasa itu pasti benar. Sekarang, diberi tahu bahw adia bahkan tak pernah melihatku ….

Aku marah pada ayahku. Mungkin itu bodoh, tapi aku sebal padanya karena berlayar ke samudra, karena dia tak punya nyali untuk menikahi ibuku. Dia meninggalkan kami, dan sekarang kami terpaksa menerima Gabe si Bau.

“Apa Ibu akan menyuruhku pergi lagi?” tanyaku kepadanya. “Ke sekolah asrama lain?”

Dia menarik sebutir marshmallow dari api.

“Entahlah, Sayang.” Suaranya berat. “Ibu rasa … Ibu rasa kita harus melaku-kan sesuatu.”

“Karena Ibu nggak ingin aku di dekat Ibu?” Aku menyesali kata-kata itu begitu terucap.

Mata ibuku berlinang air mata. Dia meraih tanganku, meremasnya erat-erat. “Oh, Percy, bukan. Ibu—Ibu terpaksa, Sayang. Demi kebaikanmu sendiri. Ibu harus menyuruhmu pergi.”

Kata-katanya mengingatkan aku pada perkataan Pak Brunner—bahwa pilihan terbaik bagiku adalah meninggalkan Yancy.

“Karena aku nggak normal,” kataku.

“Kau menyebutkan hal itu seolah-olah itu hal yang buruk, Percy. Tapi kau tak sadar, betapa penting dirimu. Ibu menyangka Akademi Yancy itu cukup jauh. Ibu menyangka kau akhirnya aman.”

“Aman dari apa?”

Dia memandang mataku, dan ingatan masa lalu pun membanjir. Semua keanehan menakutkan yang pernah terjadi padaku, yang sebagian telah kucoba kulupakan.

Sewaktu aku kelas tiga, seorang lelaki berjas hujan hitam menguntitku di taman bermain. Ketika para guru mengancam akan memanggil polisi, dia pergi sambil menggeram, tetapi tak ada yang percaya saat aku berkata bahwa di bawah topinya yang lebar, lelaki itu hanya bermata satu, pas di tengah-tengah kepalanya.

Sebelum itu—ingatan yang sangat awal. Aku masih di prasekolah, dan seorang guru tak sengaja membaringkanku untuk tidur siang di sebuah ranjang yang telah dimasuki seekor ular. Ibuku menjerit ketika dia datang menjemput dan menemukanku bermain dengan “tali” bersisik yang lemas. Entah bagaimana, ular itu telah kucekik hingga mati dengan tangan mungilku yang gempal.

Di setiap sekolah selalu terjadi sesuatu yang menyeramkan, sesuatu yang tak aman, dan aku terpaksa pindah.

Aku tahu aku semestinya bercerita kepada ibuku tentang ketiga nenek di kios buah, dan Bu Dodds di museum seni, tentang halusinasi anehku bahwa aku menebas guru matematikaku menjadi debu dengan pedang. Tapi, aku tak sanggup memberitahunya. Aku punya firasat aneh bahwa berita itu akan mengakhiri liburan kami di Montauk, dan aku tak ingin itu terjadi.

“Ibu berusaha agar kau sedekat mungkin dengan Ibu,” katanya. “Mereka bilang itu tindakan yang keliru. Tapi hanya ada satu pilihan lain, Percy—ayahmu ingin mengirimmu ke satu tempat lain. Dan Ibu … pokoknya Ibu tak sanggup melakukannya.”

“Ayahku ingin aku ke sekolah khusus?”

“Bukan sekolah,” katanya lirih. “Perkemahan musim panas.”

Kepalaku berputar. Mengapa ayahku—yang bahkan tidak tinggal cukup untuk melihatku dilahirkan—membicarakan perkemahan musim panas dengan ibuku? Dan jika itu sangat penting, mengapa ibuku tak pernah menyebut-nyebutnya sebelum ini?

“Maaf, Percy,” katanya ketika melihat tatapan mataku. “Tapi Ibu tak bisa membicarakan itu. Ibu—Ibu tak bisa mengirimmu ke tempat itu. Itu bisa berarti berpisah denganmu selamanya.”

“Selamanya? Tapi kalau tempat itu cuma perkemahan musim panas ….”

Dia berpaling ke api, dan aku tahu dari raut wajahnya bahwa jika aku bertanya lagi, dia akan mulai menangis.

* * *

Malam itu aku bermimpi jelas sekali.

Badai melandai pantai. Dua ekor hewan yang cantik, seekor kuda putih dan seekor elang emas, sedang berusaha saling membunuh di tepi ombak. Si elang menukik dan menyabet moncong kuda itu dengan cakarnya yang besar. Si kuda mengangkat kaki dan menendang sayap si elang. Sementara mereka bertempur, tanah menggemuruh. Ada suara monster terkekeh di suatu tempat di bawah permukaan tanah, mendorong agar kedua hewan itu berkelahi lebih sengit.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca