Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

Aku membuka mata.

Aku bersandar di tempat tidur di ruang rawat di Rumah Besar, tanganku dibalut sepergi gada. Argus berjaga di sudut. Annabeth duduk di sampingku, memegangi gelas nektar, dan mengusapkan waslap di keningku.

“Kita di sini lagi deh,” kataku.

“Dasar tolol,” kata Annabeth, jadi aku tahu bahwa dia gembira melihatku siuman. “Kau sudah berwarna hijau dan hampir abu-abu saat ditemukan. Andai bukan berkat penyembuhan Chiron ….”

“Nah, nah,” kata suara Chiron. “Kondisi fisik Percy yang bagus juga ikut mempercepat penyembuhan.”

Dia duduk di dekat kaki tempat tidurku dalam bentuk manusia, dan itulah sebabnya tadi aku tak menyadari kehadirannya. Bagian bawah tubuhnya secara ajaib dipadatkan ke dalam kursi roda, bagian atas tubuhnya berpakaian jas dan dasi. Dia tersenyum, tetapi wajahnya tampak lelah dan pucat, seperti yang selalu terjadi kalau dia begadang menilai ujian bahasa Latin.

“Bagaimana perasaanmu?” tanyanya.

“Seperti bagian dalam tubuhku dibekukan, lalu dimasukkan ke microwave.”

“Cocok, mengingat bahwa kamu terkena racun kalajengking lubang. Sekarang kamu harus menceritakan, kalau bisa, apa persisnya yang terjadi.”

Sembari menghirup nektar, aku bercerita kepada mereka.

Ruangan itu hening lama sekali.

“Aku nggak bisa percaya kalau Luke ….” Suara Annabeth menghilang. Air mukanya marah dan sedih. “Ya. Ya, aku bisa percaya. Semoga dewa-dewa mengutuknya … Dia memang nggak pernah sama sejak misinya.”

“Ini harus dilaporkan ke Olympus,” gumam Chiron. “Aku akan segera berangkat.”

“Luke ada di luar sana sekarang,” kataku. “Aku harus mengejarnya.”

Chiron menggeleng. “Tidak, Percy. Para dewa—”

“Bahkan tak mau membicarakan Kronos,” sergahku. “Zeus menyatakan masalah ini ditutup!”

“Percy, aku tahu ini sulit. Tapi kau tak boleh tergesa-gesa keluar untuk membalas dendam. Kau belum siap.”

Aku tidak suka, tapi sebagian diriku merasa bahwa Chiron benar. Sekali melihat tanganku, aku langsung tahu aku belum bisa bermain pedang lagi dalam waktu dekat. “Pak Chiron … ramalan Bapak dari si Oracle … tentang Kronos ya? Apakah saya disebut dalam ramalah itu? Dan Annabeth?”

Chiron melirik langit-langit dengan gugup. “Percy, tidak pada tempatnya aku—”

“Bapak diperintahkan agar jangan membicarakannya dengan saya ya?”

Matanya bersimpati, tetapi sedih. “Kau akan menjadi pahlawan besar, Nak. Aku akan berusaha sebaik-baiknya mempersiapkanmu. Tetapi, kalau aku benar tentang jalan di hadapanmu ….”

Guntur menggelegar di langit, menggetarkan jendela.

“Baiklah!” teriak Chiron. “Baik!”

Dia menghela napas frutrasi. “Para dewa punya alasannya sendiri, Percy. Mengetahui terlalu banyak tentang masa depanmu tak pernah berbuah baik.”

“Kita tak bisa cuma berpangku tangan,” kataku.

“Kita tak akan berpangku tangan,” janji Chiron. “Tapi, kau harus berhati-hati. Kronos menginginkanmu dicincang. Dia ingin hidupmu rusak, pikiranmu diselubungi rasa takut dan marah. Jangan sampai kau memenuhi keinginannya. Berlatihlah dengan sabar. Waktumu akan tiba.”

“Kalau aku masih hidup.”

Chiron meletakkan tangan di pergelangan kakiku. “Kau harus percaya padaku, Percy. Kau akan hidup. Tapi, pertama-tama kau harus memutuskan jalanmu untuk tahun mendatang. Aku tak bisa memberitahumu pilihan yang benar …” Aku mendapat firasat bahwa dia punya pendapat yang sangat jelas, dan perlu menahan diri sekuat tenaga agar tak memberiku nasihat. “Tapi kau harus memutuskan, apakah au tinggal di Perkemahan Blasteran sepanjang tahun, atau kembali ke dunia manusia untuk menempuh kelas tujuh dan menjadi pekemah musim panas saja. Pikirkan itu. Setelah aku kembali dari Olympus, kau harus memberitahuku keputusanmu.”

Aku ingin memprotes. Aku ingin bertanya lagi. Tetapi, air mukanya menyatakan bahwa diskusi sudah berakhir, dia sudah mengatakan sebanyak yang bisa dikatakannya.

“Aku akan kembali secepatnya,” janji Chiron. “Argus akan menjagamu.”

Dia melirik kepada Annabeth. “Oh, dan Manis … kapan pun kau siap, mereka sudah sampai ke di sini.”

“Siapa yang sampai ke sini?” tanyaku.

Tak ada yang menjawab.

Chiron menggulirkan kursi keluar kamar. Aku mendengar roda kursinya berderap berhati-hati, menuruni tangga depan, dua-dua.

Annabeth memerhatikan es di dalam minumanku.

“Ada apa?” tanyaku.

“Nggak.” Dia meletakkan gelas itu di meja. “Aku … cuma menuruti nasihatmu tentang sesuatu. Kau … eh … perlu apa?”

“Ya. Bantu aku bangun. Aku mau keluar.”

“Percy, sebaiknya jangan.”

Aku menggeser kaki turun dari tempat tidur. Annabeth menangkapku sebelum aku ambruk ke lantai. Rasa mual melandaku.

Annabeth berkata, “Sudah kubilang ….”

“Aku nggak apa-apa,” aku bersikeras. Aku tak ingin berbaring di tempat tidur seperti orang cacat sementara Luke berada di luar sana, berencana menghancurkan dunia Barat.

Aku berhasil maju selangkah. Lalu selangkah lagi, sambil bersandar pada Annabeth. Argus mengikuti kami keluar, tetapi menjaga jarak.

Saat kami mencapai beranda, wajahku sudah bersimbah keringat. Perutku melilit-lilit. Tetapi, aku berhasil berjalan sampai ke langkan.

Hari senja. Perkemahan tampak lengang. Pondok-pondok gelap dan lapangan voli sunyi. Tak ada kano yang membelah permukaan danau. Di seberang pohon dan ladang stroberi, Selat Long Island berkilauan dengan cahaya terakhir matahari.

“Kau akan bagaimana?” tanya Annabeth.

“Nggak tahu.”

Aku memberitahunya bahwa aku mendapat perasaan bahwa Chiron ingin aku tinggal sepanjang tahun, untuk menambah waktu pelatihan pribadi, tetapi aku tak yakin apakah itu yang kuinginkan. Aku mengakui aku merasa tak enak meninggalkan Annabeth sendirian, hanya ditemani Clarisse …

Annabeth meruncingkan bibir, lalu berkata lirih, “Aku akan pulang tahun ini, Percy.”

Aku menatapnya. “Maksudmu, ke rumah ayahmu?”

Dia menunjuk ke puncak Bukit Blasteran. Di sebelah pohon pinus Thalia, di tepi perbatasan ajaib perkemahan, sebuah keluarga berdiri dalam siluet—dua anak kecil, seorang perempuan, dan seorang lelaki jangkung berambut pirang. Mereka tampaknya sedang menunggu. Lelaki itu memegang ransel yang mirip dengan ransel yang diambil Annabeth dari Waterland di Denver

“Aku menyuratinya setelah kita pulang,” kata Annabeth. “Seperti saranmu. Aku berkata … aku minta maaf. Aku mau pulang untuk tahun ajaran ini kalau dia masih menginginkanku. Dia langsung membalas. Kami memutuskan … kami akan mencoba sekali lagi.”

“Itu tindakan berani.”

Dia meruncingkan bibir. “Kau nggak akan mencoba melakukan hal bodoh sepanjang tahun ajaran ini, kan? Setidaknya … tanpa mengirimiku pesan-Iris?”

Aku berhasil tersenyum. “Aku nggak akan mencari-cari masalah. Biasnaya juga nggak perlu dicari.”

“Saat aku kembali musim panas depan,” katanya, “kita akan memburu Luke. Kita akan meminta misi. Tapi kalau kita tidak diizinkan, kita akan menyelinap keluar dan tetap melakukannya. Sepakat?”

“Sepertinya rencana yang layak bagi Athena.”

Dia mengulurkan tangan. Aku menjabatnya.

“Hati-hati, Otak Ganggang,” kata Annabeth. “Tetapi waspada, ya.”

“Kamu juga, Nona Genius.”

Aku mengamatinya berjalan menaiki bukit dan bergabung dengan keluarganya. Dia memeluk ayahnya dengan kikuk, dan menoleh lagi ke lembah untuk terakhir kali. Dia menyentuh pohon pinus Thalia, lalu membiarkan dirinya dituntun menuruni puncak dan memasuki dunia manusia.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca