Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

Poseidon menggeleng. “Dari waktu ke waktu, selama sekian abad, Kronos bergerak. Dia memasuki mimpi buruk manusia dan mengembuskan pikiran jahat. Dia membangkitkan monster-monster gelisah dari kedalaman. Tetapi, menyatakan bahwa dia dapat naik dari lubang, itu berbeda lagi.”

“Itu yang diniatkannya, Ayah. Itu yang dia katakan.”

Poseidon lama terdiam.

“Dewa Zeus telah menutup pembahasan masalah ini. dia tak mengizinkan pembicaraan tentang Kronos. Kau telah menuntaskan misimu, Nak. Hanya itu yang perlu kaulakukan.”

“Tapi—”Aku menahan diri. Tak ada gunanya berdebat. Sangat mungkin, aku malah akan membuat marah satu-satunya dewa yang memihakku. “Ba … baik, Ayah.”

Senyum samar bermain di bibirnya. “Bersikap patuh itu tidak mudah bagimu, ya?”

“Tidak … Ayah.”

“Kukira, aku ikut bersalah membentuk watak itu. Laut tidak suka dikekang.” Dia bangkit hingga tinggi menjulang dan mengambil trisulanya. Lalu, tubuhnya bergetar dan menyusut menjadi ukuran manusia biasa, berdiri tepat di depanku. “Kau harus pergi, Nak. Tapi pertama-tama, ketahuilah bahwa ibumu telah kembali.”

Aku menatapnya dengan tercengang. “Ibuku?”

“Kau akan menemukannya di rumah. Hades mengirimnya saat kau menemukan helmnya. Penguasa Maut sekalipun harus melunasi utangnya.”

Jantungku memukul-mukul. Aku tak percaya. “Apakah Ayah … maukah Ayah….”

Aku ingin bertanya apakah Poseidon mau ikut denganku untuk menemui ibuku, tetapi kemudian kusadari bahwa itu konyol. Aku membayangkan memasukkan sang Dewa Laut ke dalam taksi dan membawanya ke Upper East Side. Andai dia ingin bertemu dengan ibuku selama sekian tahun ini, dia tentu sudah menemuinya. Lalu, masih ada urusan Gabe si Bau.

Mata Poseidon tampak sedikit sedih. “Setelah kau pulang nanti, Percy, kau harus membuat pilihan penting. Akan ada sebuah paket yang menunggu di kamarmu.”

“Paket?”

“Kau akan mengerti saat melihatnya. Tak ada yang bisa memilihkan jalanmu, Percy. Kau yang harus memutuskan.”

Aku mengangguk, meskipun aku tak tahu apa yang dia maksud.

“Ibumu adalah ratu di antara wanita,” kata Poseidon sendu. “Aku belum pernah bertemu wanita manusia seperti itu dalam seribu tahun. Tapi … aku menyesal kau terlahir, Nak. Aku menimpakannasib seorang pahlawan padamu, dan nasib pahlawan tak pernah bahagia. Nasib pahlawan selalu tragis.”

Aku berusaha tidak merasa sakit. Ini ayahku sendiri, mengatakan bahwa dia menyesal bahwa aku dilahirkan. “Aku tak keberatan, Ayah.”

“Mungkin belum,” katanya. “Belum. Tapi ini kesalahanku yang tak termaafkan.”

“Aku mohon diri, kalau begitu.” Aku membungkuk dengan kikuk. “Aku—aku tak akan mengganggumu lagi.”

Aku sudah lima langkah dari situ saat dia memanggil, “Perseus.”

Aku menoleh.

Ada cahaya lain di matanya, jenis kebanggaan yang berapi-api. “Kau melaksanakan misimu dengan baik, Perseus. Jangan salah paham padaku. Apapun yang kaulakukan, ketahuilah bahwa kau anakku. Kau adalah putra sejati Dewa Laut.”

Saat aku kembali berjalan di kota, semua percakapan berhenti. Para Mousai menghentikan konser. Manusia dan satir dan naiad semua menoleh kepadaku, wajah mereka penuh rasa hormat dan syukur. Saat aku lewat, mereka berlutut, seolah-olah aku ini semacam pahlawan.

* * *

Lima belas menit kemudian, masih dengan pikiran nanar, aku kembali menyusuri jalan Manhattan.

Aku naik taksi ke apartemen ibuku—membunyikan bel, dan di sanalah dia—ibuku yang cantik, yang wangi peppermint dan akar manis, rasa lelah dan cemas menguap dari wajahnya begitu dia melihatku.

“Percy! Oh, syukurlah. Oh, Sayangku.”

Dia memelukku hingga aku tak bisa bernapas. Kami berdiri di lorong sementara dia menangis dan membelai rambutku.

Harus kuakui—mataku juga sedikit berkaca-kaca. Tubuhku berguncang, saking lega bertemu dengannya.

Dia memberitahuku bahwa dia tahu-tahu saja muncul di apartemen tadi pagi, membuat Gabe kaget setengah mati. Dia tidak ingat apa-apa sejak peristiwa Minotaurus itu, dan tidak percaya saat Gabe memberitahunya bahwa aku penjahat yang buron, menyeberangi Amerika, meledakkan monumen nasional. Ibuku cemas setengah mati seharian karena dia tdiak menonton berita. Gabe memaksanya kembali bekerja. Kata Gabe, ibuku harus menutupi gaji sebulan yang hilang dan sebaiknya dia cepat-cepat memulai.

Aku menelan amarahku dan menceritakan kisahku sendiri. Aku berusaha membuat cerita itu tidak semenakutkan kejadian sebenarnya, tetapi itu tidak mudah. Aku baru saja mulai bercerita tentang pertempuran dengan Ares, ketika suara Gabe menganggu dari ruang tamu. “Hei, Sally! Daging panggangnya sudah selesai, belum?”

Ibuku memejamkan mata. “Dia tak akan senang bertemu denganmu, Percy. Tokonya mendapat setengah juta telepon hari ini dari Los Angeles … sesuatu tentang peralatan gratis.”

“Oh iya. Soal itu ….”

Ibuku berhasil tersenyum lelah. “Pokoknya jangan membuat dia tambah marah, ya? Ayo.”

Selama sebulan aku pergi, apartemen itu telah menjadi Negeri Gabe. Sampah menumpuk setinggi pergelangan kaki di atas karpet. Sofa telah dilapisi dengan kaleng bir. Kaus kaki dan celana dalam kotor bergantungan di tudung lampu.

Gabe dan ketiga teman gilanya sedang bermain poker di meja.

Ketika Gabe melihatku, cerutunya jatuh dari bibir. Mukanya menjadi lebih merah daripada lava. “Berani-beraninya kau datang ke sini, Anak Ingusan. Kusangka polisi—”

“Dia ternyata bukan buronan,” sela ibuku. “Bagus kan, Gabe?”

Gabe memandang bolak-balik di antara kami. Tampaknya dia tidak merasa kepulanganku sebagus itu.

“Sudah cukup jelek aku harus mengembalikan uang asuransi jiwamu, Sally,” dia menggeram. “Ambilka telepon. Aku mau menghubungi polisi.”

“Gabe, jangan!”

Dia mengangkat alis. “Barusan kau bilang ‘jangan’? Kaupikir aku mau menoleransi bocah ingusan ini lagi? Aku masih bisa menuntutnya karena merusak Camaroku.”

“Tapi—”

Gabe mengangkat tangan, dan ibuku berjengit.

Untuk pertama kalinya, aku menyadari sesuatu. Gabe sudah pernah memukul ibuku. Aku tak tahu kapan, atau seberapa sering. Tetapi, aku yakin dia pernah memukul. Mungkin telah terjaid bertahun-tahun, saat aku tidak di rumah.

Gelembung amarah mulai mengembang di dalam dadaku. Aku menghampiri Gabe, secara naluriah mengambil pena dari saku.

Dia hanya tertawa. “Apa, Bocah? Kau mau menulisiku? Kalau berani sentuh, kau akan masuk penjara selamanya, mengerti?”

“Hei, Gabe,” sela temannya Eddie. “Dia cuma anak-anak.”

Gabe menatapnya dengan sebal dan meniru suara temannya yang cempreng: “Cuma anak-anak.”

Teman-temannya yang lain tertawa seperti orang tolol.

“Aku akan bersikap baik padamu, Bocah Ingusan.” Gabe memperlihatkan giginya yang bernoda tembakau. “Kau akan kuberi waktu lima menit untuk mengambil barang-barangmu dan pergi. Setelah itu, aku akan memanggil polisi.”

“Gabe!” ibuku memohon.

“Dia minggat,” kata Gabe. “Biar saja dia minggat terus.”

Aku gatal ingin membuka tutup Riptide, tapi andai kubuka pun, pedang itu tak bisa menyakiit manusia. Dan Gabe, dengan definisi terlonggar pun, adalah manusia.

Ibuku memegang lenganku. “Tolong, Percy. Ayo. Kita ke kamarmu.”

Aku membiarkan ibuku menarikku menjauh, tanganku masih gemetar dengan amarah.

Kamarku telah penuh berisi rongsokan Gabe. Ada tumpukan aki mobil bekas, seubah karangan bunga berduka cita yang sudah membusuk, disertai kartunya, dari seseorang yang menonton wawancara Gabe dengan Barbara Walters.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca