Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

Tembok air setinggi dua meter menghantam mukanya dengan telak, membuatnya mengumpat dan meludah-ludah karena mulutnya penuh ganggang. Aku mendarat di air di belakangnya dan melakukan serangan tipuan ke arah kepalanya, seperti yang sebelumnya kulakukan. Dia berputar cepat dan sempat mengangkat pedang, tetapi kali ini dia sedang pusing, dia tidak mengantisipasi tipuan itu. Aku mengubah arah, merangsek ke pinggir, dan menghunjamkan Riptide lurus ke dalam air, menusukkan ujungnya ke tumit sang dewa.

Auman yang menyusul begitu keras, gempa Hades pun tampak seperti peristiwa kecil jika dibandingkan. Laut pun terdorong mundur dari Ares, menyisakan lingkaran pasir basah selebar lima belas meter.

Ichor, darah keemasan bangsa dewa, mengalir dari luka di sepatu bot si dewa perang. Air mukanya sudah lebih dari benci. Nyeri, kaget, tak percaya bahwa dia telah dilukai.

Dia terpincang-pincang ke arahku, mengumpat-umpat dengan bahasa Yunani kuno.

Sesuatu menghentikannya.

Seolah-olah sebuah awan menutupi matahari, tetapi lebih buruk. Cahaya memudar. Suara dan warna pun surut. Suatu sosok yang dingin dan berat meliputi pantai, melambatkan waktu, menurunkan suhu hingga membeku, dan membuatku merasa bahwa dalam hidup ini sudah tak ada harapan lagi, bertarung tidak berguna lagi.

Kegelapan terangkat.

Ares tampak tercenung.

Mobil-mobil polisi terbakar di belakang kami. Kerumunan penonton sudah kabur. Annabeth dan Grover berdiri di pantai, terpana, melihat air membanjir kembali ke sekeliling kaki Ares, ichor keemasannya yang bercahaya melarut ke dalam air pasang.

Ares menurunkan pedang.

“Kau telah mendapat musuk, Anak Dewa,” katanya kepadaku. “Kau telah mengundang nasib buruk bagimu sendiri. Setiap kali kau mengangkat pedang untuk bertempur, setiap kali kau mengharapkan sukses, kau akan merasakan kutukanku. Awas, Perseus Jackson. Awas.”

Tubuhnya mulai bersinar.

“Percy!” seru Annabeth. “Jangan dilihat!”

Aku berpaling sementara Dewa Ares memperlihatkan bentuk abadinya yang sejati. Entah bagaimana, aku tahu bahwa jika melihatnya, aku akan musnah menjadi abu.

Cahaya itu padam.

Aku menoleh kembali. Ares sudah menghilang. Air pasang pun menyurut, menampakkan helm kegelapan Hades yang terbuat dari perunggu. Aku memungutnya dan berjalan ke arah teman-temanku.

Tetapi, sebelum aku sampai ke situ, kudengar kepakan sayap berkulit. Tiga nenek bertampang jahat dengan topi renda dan cambuk berapi melayang turun dari langit dan mendarat di depanku.

Erinyes yang di tengah, yang pernah menjadi Bu Dodds, melangkah maju. Taringnya diperlihatkan, tetapi sekali ini dia tidak kelihatan mengancam. Dia lebih kelihatan kecewa, seolah-olah sudah berencana melahapku, tetapi kemudian memutuskan bahwa aku ungkin akan membuatnya sakit perut.

“Kami melihat seluruh kejadiannya,” desisnya. “Jadi … benar-benar bukan kau?”

Aku melemparkan helm itu kepadanya, yang ditangkapnya dengan kaget.

“Kembalikan itu ke Dewa Hades,” kataku. “Ceritakan yang sebenarnya. Suruh dia membatalkan perang.”

Dia ragu, lalu membasahi bibir berkulit hijaunya dengan lidah bercabang. “Jalani hidup dengan baik, Percy Jackson. Jadilah pahlawan sejati. Karena kalau tidak, kalau kau pernah jatuh ke dalam genggamanku lagi …”

Dia terkekeh, menikmati pikiran itu. Lalu, dia dan saudari-saudarinya terbang dengan sayap kelelawar, melayang ke langit yang penuh asap, lalu menghilang.

Aku bergabung dengan Grover dan Annabeth, yang menatapku kagum.

“Percy …,” kata Grover. “Itu benar-benar ….”

“Mengerikan,” kata Annabeth.

“Keren!” Grover mengoreksi.

Aku tidak merasa ngeri. Aku jelas tidak merasa keren. Aku capek dan penat dan kehabisan tetangga sama sekali.

“Apa kalian merasakan itu … apa pun itu?” tanyaku.

Mereka berdua mengangguk resah.

“Pasti itu gara-gara Erinyes yang terbang,” kata Grover.

Tetapi, aku tak seyakin itu. Sesuatu telah mencegah Ares membunuhku, dan apa pun yang bisa melakukan itu tentu jauh lebih kuat daripada Erinyes.

Aku menatap Annabeth, dan kami pun saling memahami. Aku tahu sekarang makhluk apa yang berada di lubang itu, apa yang telah berbicara dari pintu masuk Tartarus.

Aku mengambil kembali ranselku dari Grover dan melihat ke dalamnya. Petir asali masih ada di situ. Betapa kecilnya benda yang nyaris menyebabkan Perang Dunia III ini.

“Kita harus kembali ke New York,” kataku. “Sebelum malam ini.”

“Tapi itu mustahil,” kata Annabeth, “kecuali kalau kita—”

“Terbang,” aku menyetujui.

Dia menatapku. “Terbang, maksudmu naik pesawat, sesuatu yang telah diperingatkan agar jangan pernah kamu lakukan, kalau-kalau Zeus menendangmu dari langit, sambil membawa senjata yang memiliki kekuatan penghancur lebih besar dairpada bom nuklir?”

“Ya,” kataku. “Kira-kira begitu. Ayo.”

21. Aku Membereskan Utang-Piutang

Lucu juga bagaimana otak manusia dapat menalarkan segala sesuatu dan mencocokkanya dengan versi realitas mereka. Dulu sekali Chiron sudah memberitahuku soal itu. Seperti biasa, aku baru memahami kebenarannya lama kemudian.

Menurut berita L.A., ledakan di pantai Santa Monica terjadi ketika seorang penculik gila menembakkan senapan ke mobil polisi. Secara tak sengaja dia mengenai pipa utama gas, yang pecah selagi gempa bumi.

Si penculik gila ini (alias Ares) adalah lelaki yang menculikku dan dua remaja lain di New York dan membawa kami menyeberangi Amerika dalam perjalanan sepuluh hari yang mengerikan.

Percy Jackson cilik yang malang ternyata bukan penjahat internasional. Dia membuat onar di bus Greyhound di New Jersey karena sedang berusaha melarikan diri dari si penculik (dan setelahnya, para saksi bahkan bersumpah bahwa mereka melihat seorang lelaki berbaju kulit di bus—”Kenapa sebelumnya aku tidak ingat dia, ya?”). Si lelaki gila itulah yang menyebabkan ledakan di Gateway Arch di St. Louis. Lagi pula, tak mungkin seorang anak kecil bisa melakukan itu. Seorang pelayan yang cemas di Denver melihat lelaki itu mengancam para korbannya di luar restoran, menyuruh seorang teman memfotonya, dan melapor ke polisi. Akhirnya, Percy Jackson si pemberani (aku mulai menyukai anak ini) mencuri senapan dari penculiknya di Los Angeles dan bertempur adu senapan dengannya di pantai. Polisi tiba pada waktu yang tepat. Tapi, dalam ledakan hebat itu, lima mobil polisi hancur dan si penculik melarikan diri. Tidak ada korban jiwa. Percy Jackson dan kedua temannya kini aman dalam perlindungan polisi.

Para wartawan menceritakan seluruh kisah ini kepada kami. Kami hanya mengangguk dan berpura-pura menangis dan lelah (tidak sulit dilakukan), dan berpura-pura menjadi korban untuk kamera.

“Aku cuma ingin,” kataku, sambil menahan air mata, “bertemu lagi dengan ayah tiriku yang pengasih. Setiap kali aku melihat dia di televisi, menyebutku anak nakal yang ingusan aku tahu … entah bagaimana … bahwa kami akan biak-baik saja. Dan aku tahu dia pasti ingin memberi hadiah kepada setiap warga di kota indah Los Angeles ini dengan peralatan rumah tangga dari tokonya secara gratis. Ini nomor teleponnya.” Polisi dan wartawan merasa begitu terharu, sehingga mereka mengedarkan kotak sumbangan dan menggalang dana untuk membeli tiga tiket pesawat berikutnya ke New York.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca