Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

Di seberang jalan, ketiga nenek itu masih mengamatiku. Nenek yang di tengah menggunting benang, dan aku berani sumpah bunyi kres-nya dapat kudengar, dari seberang empat lajur lalu-lintas. Kedua temannya menggulung kaus kaki warna biru-elektrik itu menjadi bola, membuatku bertanya-tanya untuk siapa gerangan kaus kaki itu—Sasquatch atau Godzilla.

Di belakang bus, si sopir membetot sepotong besar logam berasap dari kompartemen mesin. Bus itu gemetar, dan mesinnya kembali menggerung nyala.

Para penumpang bersorak.

“Gitu dong!” teriak si sopir. Dia menampar bus dengan topinya. “Semuanya naik lagi!”

Setelah bus melaju, aku merasa meriang, seperti kalau sedang flu.

Grover sama parahnya. Dia menggigil dan giginya bergemeretak.

“Grover?”

“Ya?”

“Apa yang kausembunyikan dariku?”

Dia menyeka kening dengan lengan baju. “Percy, apa yang kaulihat di kios buah tadi?”

“Maksudmu, nenek-nenek itu? Mereka itu apa sih? Mereka bukan seperti… Bu Dodds, kan?”

Raut wajahnya sulit dibaca, tetapi aku mendapat firasat bahwa nenek-nenek kios buah itu sesuatu yang jauh lebih buruk daripada Bu Dodds. Dia berkata, “Ceritakan saja apa yang kaulihat.”

Dia memejamkan mata dan membuat gerakan dengan jarinya, seperti membuat tanda salib, tetapi bukan. Gerakan itu hal lain, hal yang hampir—lebih tua.

Dia berkata, “Kau melihatnya menggunting benang.”

“Iya. Memangnya kenapa?” Namun, saat aku mengucapkan kata-kata itu pun, aku tahu hal itu masalah besar.

“Ini nggak mungkin terjadi,” Grover menggumam. Dia mulai menggigiti jempol. “Aku nggak mau kejadiannya seperti yang terakhir kali.”

“Terakhir kali yang mana?”

“Selalu kelas enam. Mereka nggak pernah berhasil melewati kelas enam.”

“Grover,” kataku, karena dia benar-benar mulai membuatku takut. “Kau ini bicara apa sih?”

“Aku boleh menemanimu sampai ke rumah dari stasiun bus, ya. Janji.”

Permintaan ini terasa aneh bagiku, tetapi aku berjanji dia boleh mengantarku.

“Apa ini semacam takhayul atau apa?” tanyaku.

Tak ada jawaban.

“Grover—pengguntingan benang itu. Apa maksudnya ada orang yang akan mati?”

Dia menatapku penuh duka, seolah-olah dia sudah memilih jenis bunga apa yang paling kusukai untuk peti matiku.

3. Grover Kehilangan Celana Secara Tak Terduga

Aku mau mengaku dosa: Grover kutinggalkan begitu kami sampai di terminal bus.

Iya, iya, aku tahu. Itu nggak sopan. Tapi Grover membuatku senewen sih, menatapku seolah-olah aku ini sudah mati, sambbil menggumam “Kenapa ini selalu terjadi?” dan “Kenapa harus selalu di kelas enam?”

Setiap kali dia gundah, kandung kemihnya kumat, jadi aku tak heran bahwa begitu kami turun dari bus, dia memintaku berjanji menunggunya, lalu langsung ke kamar kecil. Alih-alih menunggu, aku mengambil koper, menyelinap ke luar, dan naik taksi pertama ke dalam kota.

“Persimpangan East 104th dan First,” kataku kepada sopir.

* * *

Aku mau bercerita sedikit tentang ibuku, sebelum kau bertemu dengannya.

Namanya Sally Jackson, dan dia orang paling baik sedunia. Ini membuktikan teoriku bahwa orang yang paling baik biasanya bernasib paling jelek. Orangtuanya mati karena kecelakaan pesawat terbang sewaktu dia berumur lima tahun. Dia dibesarkan oleh seorang paman yang tidak terlalu peduli padanya. Dia bercita-cita menjadi novelis, jadi semasa SMA dia bekerja dan menabung gajinya, supaya bisa kuliah di tempat yang menawarkan jurusan penulisan kreatif yang bagus. Lalu, pamannya terkena kanker. Jadi, dia harus berhenti bersekolah pada kelas tiga SMA, untuk merawat pamannya itu. Setelah pamannya meninggal, dia tak punya uang, keluarga, ataupun ijazah.

Satu-satunya nasib baik yang pernah dialaminya adalah bertemu dengan ayahku.

Aku tak punya kenangan apa-apa soal ayahku, kecuali semacam pendar hangat, dan mungkin kenangan samar tentang senyumnya. Ibuku tak suka membicarakan ayahku karena itu membuatnya sedih. Dia tak punya foto ayahku.

Soalnya, mereka tak pernah menikah. Menurut cerita ibuku, ayahku kaya dan orang penting, dan hubungan mereka dirahasiakan. Lalu suatu hari, ayahku berlayar melintasi Samudra Atlantik untuk perjalanan penting, dan tak pernah pulang.

Hilang di laut, kata ibuku. Bukan mati. Hilang di laut.

Ibuku bekerja serabutan, kuliah malam untuk memperoleh ijazah SMA, dan membesarkan aku sendirian. Dia tak pernah mengeluh atau marah. Sekali pun tak pernah. Tapi, aku tahu aku bukan anak yang mudah ditangani.

Akhirnya, dia menikah dengan Gabe Ugliano. Lelalki itu bersikap baik selama tiga puluh detik pertama kami mengenalnya, lalu menunjukkan belangnya sebagai orang berengsek tingkat dunia. Sewaktu aku masih kecil, kujuluki dia Gabe si Bau. Sori, tapi itu benar lho. Bau badannya seperti pizza bawang putih berjamur yang dibungkus celana olahraga.

Kami berdua membuat hidup ibuku cukup sulit. Perlakuan Gabe si Bau padanya, hubungan antara kami berdua … contohnya, lihat apa yang terjadi sewaktu aku pulang.

* * *

Aku masuk ke apartemen kecil kami, berharap ibuku sudah pulang bekerja. Tahunya Gabe si Bau sedang di ruang tamu, bermain poker bersama sobat-sobatnya. Televisi riuh menanyangkan saluran olahraga ESPN. Keripik dan kaleng bir berserakan di karpet.

Hampir tanpa mengangkat kepala, dia berkata di sela-sela cerutunya, “Kau pulang ya.”

“Mana ibuku?”

“Kerja,” katanya. “Punya duit, nggak?”

Itu doang. Nggak ada Selamat datang. Senang ketemu lagi. Bagaimana hidupmu selama enam bulan terakhir?

Gabe tambah gembrot. Dia mirip beruang laut tanpa gading yang memakai baju loak. Di kepalanya cuma ada tiga helai rambut, disisir menutupi kepalanya yang botak, seolah-olah itu bikin dia ganteng atau apa.

Dia mengelola Toko Besar Elektronik di Queens, tetapi dia di rumah hampir sepanjang waktu. Aku tak tahu kenapa dia belum dipecat sejak dulu. Dia terus saja diberi gaji, menghabiskan uang itu untuk membeli cerutu yang bikin aku mual, dan tentu saja untuk membeli bir. Selalu bir. Setiap kali aku di rumah, dia mengharapkan aku menyediakan duit taruhannya. Dia menyebutnya sebagai “rahasia cowok” di antara kami. Maksudnya, kalau aku berani mengadu pada ibuku, aku akan dihajar.

“Aku nggak punya duit,” kataku kepadanya.

Dia mengangkat sebelah alisnya yang berminyak.

Gabe bisa mengendus uang seperti anjing pelacak, kemampuan yang mengherankan, karena bau badannya sendiri mestinya menutupi bau hal lainnya.

“Kau naik taksi dari dari stasiun bus,” katanya. “Bayarnya mungkin pakai dua puluh dolar. Pasti ada kembalian enam atau tujuh dolar. Kalau mau tinggal di bawah atap ini, kau harus ikut menanggung biaya hidup. Benar, nggak, Eddie?”

Eddie, pengawas gedung apartemen ini, memandangiku dengan sedikit simpati. “Sudahlah, Gabe,” katanya. “Anak ini baru sampai.”

“Benar, nggak?” ulang Gabe.

Eddie merengut kepada mangkuk berisi pretzel. Kedua lelaki lainnya kentut serentak.

“Iya deh,” kataku. Aku merogoh segumpal dolar dari kantongku dan melemparkan uang itu ke atas meja. “Mudah-mudahan kau kalah.”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca