Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

Aku mengambil sebatang tongkat besar dari ransel—tiang tempat tidur yang kupatahkan dari kasur Deluxe Safari Crusty. Aku mengangkatnya, dan berusaha memancarkan bayangan anjing yang menyenangkan ke arah Cerberus—iklan makanan anjing, anak anjing kecil yang lucu-lucu, hidran kebakaran. Aku berusaha tersenyum, seolah-olah aku belum akan mati sebentar lagi.

“Hei, Sobat Besar,” panggilku. “Pasti kau jarang diajak bermain.”

“GRRRRRRRRRR!”

“Anjing pintar,” kataku lemah.

Aku mengayun-ayunkan tongkat itu. Kepala tengah anjing itu mengikuti gerakannya. Kedua kepala yang lain memasang mata kepadaku, tak menghiraukan para arwah sama sekali. Aku mendapat perhatian penuh Cerberus. Aku tak yakin itu hal yang bagus.

“Ambil!” Aku melemparkan tongkat itu ke dalam gelap, lemparan yang kuat dan jauh. Kudengar tongkat itu tercemplung ke dalam Sungai Styx.

Cerberus mendelik kepadaku, tak terkesan. Matanya bengis dan dingin.

Gagal deh rencananya.

Cerberus kini membuat geraman jenis baru, lebih dalam di ketiga tenggorokannya.

“Eh,” kata Grover. “Percy?”

“Ya?”

“Barangkali kau ingin tahu.”

“Ya?”

“Cerberus? Dia bilang kita punya waktu sepuluh detik untuk berdoa kepada dewa pilihan kita. Setelah itu … yah … dia lapar.”

“Tunggu!” kata Annabeth. Dia mulai menggeledah ranselnya.

Gawat, pikirku.

“Lima detik,” kata Grover. “Kita lari saja sekarang?”

Annabeth mengeluarkan bola karet merah seukuran jeruk bali. Bola itu bertuliskan WATERLAND, DENVER, CO. Sebelum aku sempat menghentikannya, dia mengangkat bola itu dan berderap lurus ke Cerberus.

Dia berteriak, “Lihat bola ini? Kau mau bolanya, Cerberus? Duduk!”

Cerberus tampak tertegun, sama seperti kami.

Ketiga kepalanya ditelengkan. Enam lubang hidung melebar.

“Duduk!” seru Annabeth lagi.

Aku yakin bahwa sebentar lagi dia akan menjadi biskuit anjing terbesar di dunia.

Namun, Cerberus malah menjilat tiga pasang bibirnya, menurunkan kaki belakang, dan duduk, langsung saja meremukkan belasan arwah yang sedang lewat di kolong tubuhnya dalam barisan KEMATIAN MUDAH. Arwah-arwah mendesis saat tubuhnya membuyar, seperti udara yang keluar dari ban.

Annabeth berkata, “Anjing pintar!”

Dia melemparkan bola itu kepada Cerberus.

Anjing itu menangkapnya dengan mulut tengah. Bola itu agak terlalu kecil untuk dikunyahnya, dan kedua kepala lain mulai menggigit-gigit ke arah si kepala tengah, berusaha mendapatkan mainan baru itu.

“Lepaskan!” perintah Annabeth.

Kepala-kepala Cerberus berhenti berkelahi dan menatapnya. Bola itu terselip antara dua giginya seperti sepotong permen karet kecil. Dia merintih keras dengan nada ketakutan, lalu melepaskan bola itu, yang sekarang berlendir dan nyaris tergigit jadi dua, di kaki Annabeth.

“Anjing pintar.” Dia memungut bola itu, tak memedulikan ludah si monster yang mengotorinya.

Dia menoleh kepada kami. “Pergi sekarang. Baris KEMATIAN MUDAH—lebih cepat.”

Kataku, “Tapi—”

“Sekarang!” Perintahnya, dengan nada seperti yang digunakannya pada si anjing.

Aku dan Grover beringsut maju dengan hati-hati.

Cerberus mulai menggeram.

“Tetap di tempat!” perintah Annabeth kepada si monster. “Kalau kau mau bola, tetap di tempat!”

Cerberus merintih, tetapi dia tetap di tempat.

“Kau bagaimana?” tanyaku pada Annabeth saat kami melewatinya.

“Aku tahu harus bagaimana, Percy,” gumamnya. “Setidaknya, aku cukup yakin ….”

Aku dan Grover berjalan di antara kaki monster itu.

Tolong, Annabeth, aku berdoa. Jangan menyuruhnya duduk lagi.

Kami berhasil lewat. Cerberus tetap saja menyeramkannya meskipun dilihat dari belakang.

Kata Annabeth, “Anjing baik!”

Dia mengangkat bola merah yang koyak itu, dan mungkin menyimpulkan hal yang sepertiku—jika dia memberi hadiah kepada Cerberus, tak ada yang tersisa untuk membuat tipuan lain.

Annabeth tetap melempar bola itu. Mulut kiri si monster segera menangkapnya, dan langsung diserang oleh kepala tengah, sementara kepala kanan mengerang protes.

Sementara perhatian si monster tersita, Annabeth berjalan cepat di kolong perutnya dan bergabung dengan kami di detektor logam.

“Kok kau bisa begitu sih?” tanyaku kagum.

“Sekolah kepatuhan,” katanya terengah-engah, dan aku kaget melihat ada air di matanya. “Waktu aku masih kecil, di rumah ayahku, kami punya seekor Doberman ….”

“Itu nggak penting,” kata Grover sambil menyentakkan kemejaku. “Ayo!”

Kami baru saja akan melesat di barisan KEMATIAN MUDAH ketika Cerberus mengerang dengan mengenaskan dari ketiga mulutnya. Annabeth berhenti.

Dia berbalik untuk menghadap anjing itu, yang telah berputar 180 derajat untuk melihat kami.

Cerberus terengah-engah penuh harap, bola merahnya yang kecil itu tercabik-cabik dalam genangan air liur di kakinya.

“Anjing baik,” kata Annabeth, tetapi suaranya terdengar sedih dan ragu.

Kepala-kepala monster itu dimiringkan, seolah-olah mencemaskan Annabeth.

“Nanti kubawakan bola lagi,” janji Annabeth samar. “Kau mau, kan?”

Monster itu merintih. Aku tidak perlu menguasai bahasa anjing untuk mengetahui bahwa Cerberus masih menunggu bola itu.

“Anjing pintar. Aku akan segera berkunjung lagi. Aku—aku berjanji.” Annabeth menoleh kepada kami. “Ayo.”

Aku dan Grover melewati detektor logam, yang langsung saja menjerit dan menyalakan lampu merah yang berdenyar-denyar “Benda tanpa izin! Sihir terdeteksi!”

Cerberus mulai menggonggong.

Kami cepat-cepat melewati gerbang KEMATIAN MUDAH, yang memicu alarm lain lagi, dan berlari ke Dunia Bawah.

Beberapa menit kemudian, kami sedang bersembunyi di atas batang busuk sebuah pohon hitam raksasa, kehabisannapas, sementara siluman keamanan berlari lewat, berteriak meminta bala bantuan dari para Erinyes.

Grover menggumam, “Nah, Percy, apa pelajaran kita hari ini?”

“Bahwa anjing berkepala tiga lebih suka bola karet merah daripada tongkat?”

“Bukan,” kataku kepadanya. “Kita belajar bahwa rencanamu benar-benar menggigit!”

Aku tidak yakin soal itu. Kupikir, mungkin aku dan Annabeth memiliki pikiran yang benar. Bahkan di sini, di Dunia Bawah, semua makhluk—bahkan monster—memerlukan sedikit perhatian sekali-sekali.

Aku memikirkan hal itu sambil menunggu para siluman lewat. Aku berpura-pura tak melihat Annabeth mengusap air mata dari pipinya saat dia mendengar lolongan sedih Cerberus di kejauhan, merindukan teman barunya.

19. Kami Mengetahui Keadaan Sesungguhnya, Kira-Kira

Bayangkan keramaian penonton konser terbesar yang pernah kaulihat, lapangan stadion yang disesaki jutaan penggemar.

Sekarang bayangkan lapangan yang berjuta kali lipat lebih besar, dijejali dengan orang, dan bayangkan listrik sedang mati, dan tak ada bunyi, tak ada cahaya, tak ada bola pantai yang terambul-ambul di antara keramaian. Telah terjadi peristiwa yang tragis di belakang panggung. Kelompok-kelompok orang berbisk-bisik hanya luntang-lantung dalam bayangan, menunggu konser yang tak akan pernah dimulai.

Kalau bisa membayangkan itu, kau mengetahui kira-kira seperti apa Padang Asphodel itu. Rumput hitam telah diinjak-injak oleh jutaan kaki mati. Angin hangat dan lembap bertiup seperti bau rawa-rawa. Pohon-pohon hitam—kata Grover, itu pohon poplar—tumbuh berkelompok di sana-sini.

Langit-langit gua sangat tinggi di atas kami, mirip kumpulan awan badai, tetapi ada stalaktitnya, yang bersinar abu-abu samar dan tampak sangat runcing. Aku berusaha tidak membayangkan bahwa stalaktit itu bisa jatuh menimpa kami kapan saja, tetapi di seluruh lapangan memang ada beberapa yang telah jatuh dan menancap di rumput hitam. Barangkali kaum mati tidak perlu mencemaskan bahaya-bahaya kecil seperti tertusuk stalaktit seukuran roket peluncur.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca