Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

“Tercemar,” kata Charon. “Selama ribuan tahun, kalian manusia telah melemparkan segala hal ke sungai ini saat menyeberang—harapan, impian, hasrat yang tak pernah terwujud. Pengelolaan limbah yang tak bertanggung jawab, menurutku sih.”

Kaubt mengepul dari air kotor. Di atas kami atap stalaktit nyaris tak terlihat dalam kekelaman. Di depan, pesisir seberang berkilauan dengan cahaya kehijauan, warna racun.

Panik mencekik tenggorokanku. Sedang apa aku di sini? Orang-orang di sekitarku … mereka sudah mati.

Annabeth menggenggam tanganku. Dalam situasi biasa, ini pasti membuatku jengah, tetapi aku memahami perasaan gadis itu. Dia ingin diyakinkan bahwa ada orang lain yang hidup di perahu ini.

Aku mendapati diriku menggumamkan doa, meskipun aku tak yakin berdoa kepada siapa. Di bawah sini, hanya satu dewa yang penting, dan untuk menghadapi dialah aku datang.

Tepi pantai Dunia Bawah mulai tampak. Bebatuan bergerigi dan pasir gunung api hitam membentang ke dalam pulau sekitar seratus meter, hingga ke dasar sebuah tembok batu tinggi, yang membentang ke kedua arah, sepanjang yang terlihat. Sebuah bunyi datang dari suatu tempat di dekat situ dalam kekelaman hijau, menggaung dari bebatuan—lolongan seekor hewan besar.

“Si Tua Bermuka Tiga sedang lapar,” kata Charon. Senyumnya menjadi tengkorak dalam cahaya kehijauan. “Nasib sial buat kalian, anak-anak dewa.”

Dasar perahu kami menyusup ke atas pasir hitam. Kaum mati mulai turun. Seorang wanita memegang tangan anak perempuan. Sepasang kakek dan nenek tertatih-tatih sambil bertautan tangan. Seorang bocah, yang tidak lebih tua dariku, menyeret kaki tanpa suara di dalam jubah kelabunya.

Kata Charon, “Aku ingin mengucapkan semoga beruntung, Bung, tapi di sini tidak ada kemujuran. Ingat, jangan lupa menyinggung kenaikan gajiku.”

Dia memasukkan koin emas kami ke dompetnya sambil dihitung, lalu mengambil galahnya. Dia menyanyikan lagu yang mirip-mirip lagu Barry Manilow, sambil mengayuh perahu kosong itu kembali menyeberangi sungai.

Kami mengikuti para arwah di jalan yang sering dilalui itu.

* * *

Aku tak yakin apa yang kuharapkan—Gerbang Mutiara, atau pintu besi yang hitam dan besar, atau sesuatu. Namun, pintu masuk ke Dunia Bawah seperti perpaduan antara keamanan bandara dan pintu tol.

Ada tiga pintu masuk di bawah sebuah gerbang hitam raksasa yang bertanda ANDA MEMASUKI KAWASAN EREBUS. Setiap pintu masuk memiliki pintu detektor logam, yang di atasnya dipasangi kamera keamanan. Setelahnya, ada kios-kios tol yang dijaga oleh siluman berjubah hitam seperti Charon.

Lolongan hewan kelaparan itu sekarang sangat lantang, dan aku tak bisa melihat dari mana asalnya. Si anjing berkepala tiga, Cerberus, yang semestinya menjaga pintu Hades, tidak terlihat di mana pun.

Kaum mati mengantre dalam tiga baris, dua bertandakan ADA PETUGAS, dan satu yang bertandakan KEMATIAN MUDAH. Antrean KEMATIAN MUDAH bergerak dengan cepat. Yang dua lagi merayap.

“Bagaimana menurutmu?” tanyaku kepada Annabeth.

“Antrean yang lancar pasti langsung menuju Padang Asphodel,” katanya. “Tanpa sanggahan. Mereka tak ingin mengambil risiko menghadapi penghakiman dari pengadilan, karena mungkin saja keputusannya tidak memihak mereka.”

“Ada pengadilan untuk orang mati?”

“Ya. Tiga hakim. Pemegang jabatan itu berganti-ganti. Raja Minos, Thomas Jefferson, Shakespeare—orang-orang seperti itu. Kadang-kadang mereka melihat suatu kehidupan dan memutuskan bahwa orang itu layak diberi hadiah istimewa—Padang Elysium. Kadang-kadang mereka memutuskan hukuman. Tetapi, sebagian besar orang, ya, mereka cuma menjalani hidup. Tak ada yang istimewa, baik ataupun buruk. Jadi, mereka masuk ke Padang Asphodel.”

“Lalu, melakukan apa?”

Kata Grover, “Bayangkan berdiri di ladang gandum di Kansas. Selamanya.”

“Gawat,” kataku.

“Tidak segawat itu,” gumam Grover. “Lihat.”

Beberapa siluman berjubah hitam menarik seorang arwah ke samping dan menggeledahnya di meja keamanan. Wajah orang mati itu tampak tak asing.

“Itu pendeta yang masuk berita, kan?” tanya Grover.

“Oh, iya.” Sekarang aku ingat. Kami pernah melihatnya di televisi beberapa kali di asrama Akademi Yancy. Dia penginjil televisi dari New York utara yang menyebalkan, menggalang dana jutaan dolar untuk rumah-rumah yatim piatu, lalu tertangkap memakai uang itu untuk barang-barang di rumah mewahnya, seperti dudukan toilet berlapis emas, dan lapangan golf mini dalam ruangan. Dia mati saat dikejar polisi, ketika “Lamborghini untuk Tuhan”-nya terjun ke jurang.

Kataku, “Apa yang mereka lakukan padanya?”

“Hukuman khusus dari Hades,” tebak Grover. “Orang yang benar-benar jahat mendapat perhatian pribadi darinya begitu mereka tiba. Para Erin—Makhluk Baik akan menyiapkan siksa abadi baginya.”

Membayangkan Erinyes membuatku menggigil. Kusadari bahwa aku sedang berada di wilayah mereka sekarang. Bu Dodds tua akan menjilat-jilat bibir dengan bersemangat.

“Tapi, kalau dia pendeta,” kataku, “dan dia meyakini neraka yang berbeda ….”

Grover mengangkat bahu. “Siapa yang tahu, apakah dia melihat tempat ini seperti yang kita lihat sekarang. Manusia melihat apa yang mereka ingin lihat. Kalian sangat keras kepala—eh, gigih, dalam hal itu.”

Kami semakin mendekati gerbang. Lolongan itu kini begitu keras sehingga mengguncang tanah di bawah kakiku, tetapi aku masih belum bisa menyimpulkan dari mana asalnya.

Lalu, sekitar lima belas meter di depan kami, kabut hijau bergetar. Di tempat jalan itu bercabang menjadi tiga, berdirilah seekor monster raksasa yang tapak berbayang.

Tadi aku tak melihatnya karena monster itu setengah tembus-pandang, seperti kaum mati. Kalau tidak bergerak,makhluk itu menyatu dengan apa pun yang berada di belakangnya. Hanya mata dan giginya yang tampak padat. Dan mata itu menatap lurus-lurus kepadaku.

Rahangku membuka. Aku cuma bisa berkata, “Itu anjing Rottweiler.”

Sejak dulu aku membayangkan Cerberus sebagai anjing mastiff besar berbulu hitam. Tapi, dia jelas-jelas murni Rottweiler, tetapi tentu saja ukurannya dua kali lipat mamut, nyaris tembus pandang, dan memiliki tiga kepala.

Kaum mati berjalan tepat ke arahnya—tidak takut sama sekali. Baris-baris ADA PETUGAS bercabang di sebelah kiri dan kanan anjing itu. Arwah KEMATIAN MUDAH berjalan tepat di antara kaki depannya dan di bawah perutnya, yang dapat mereka lakukan tanpa membungkuk sedikit pun.

“Aku mulai bisa melihatnya dengan lebih jelas,” gumamku. “Kenapa ya?”

“Kurasa …” Annabeth membasahi bibir. “Aku khawatir, itu karena kita semakin dekat dengan kematian.”

Kepala tengah si anjing menjulur ke arah kami. Ia mengendus udara dan menggeram.

“Ia bisa mencium bau orang hidup,” kataku.

“Tapi, nggak masalah,” kata Grover, gemetar di sebelahku. “Karena kita punya rencana.”

“Benar,” kata Annabeth. Aku belum pernah mendengar suaranya begitu lirih. “Rencana.”

Kami bergerak ke arah monster itu.

Si kepala tengah menggeram kepada kami, lalu menggonggong begitu lantang sehingga bola mataku bergetar.

“Kau bisa memahami dia?” tanyaku kepada Grover.

“Bisa sekali,” katanya. “Aku bisa mengerti.”

“Apa katanya?”

“Menurutku, tak ada kata empat-huruf dalam bahasa manusia yang bisa dijadikan terjemahan perkataannya.”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca