Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

Meja satpam itu berupa podium tinggi, jadi kami harus mendongak untuk melihat si satpam.

Dia jangkung dan anggun, kulitnya berwarna cokelat dan rambutnya yang berwarna pirang putih dipotong model tentara. Dia mengenakan kacamata hitam cangkang kura-kura dan setelan jas sutra Italia yang serasi dengan rambutnya. Mawar hitam disematkan di kelepak di bawah kartu nama perak.

Aku membaca kartu nama itu, lalu menatapnya bingung. “Namamu Chiron?”

Dia membungkuk di atas meja. Aku tak bisa melihat apa-apa di kacamatanya kecuali bayanganku sendiri, tetapi senyumnya manis dan dingin, seperti senyum ular piton, sesaat sebelum ia memakanmu.

“Bocah yang manis.” Dia memiliki aksen aneh—aksen Inggris mungkin, tetapi seolah-olah juga dia belajar bahasa Inggris sebagai bahasa asing. “Katakan, sobat, apakah aku mirip centaurus?”

“Ti-tidak.”

“Pak,” tambahnya mulus.

“Pak,” kataku.

Dia menjepit kartu nama itu dan menunjuk huruf-hurufnya. “Kau bisa membaca ini, Bung? Tulisannya C-H-A-R-O-N. Ikuti aku, baca: KE-RON.”

“Charon.”

“Luar biasa! Sekarang: Pak Charon.”

“Pak Charon,” kataku.

“Bagus.” Dia bersandar. “Aku benci disangka manusia-kuda tua itu. Nah, ada yang bisa kubantu, anak-anak mati?”

Pertanyaannya menghantam perutku seperti lemparan bola. Aku menoleh kepada Annabeth, meminta bantuan.

“Kami ingin ke Dunia Bawah,” katanya.

Mulut Charon berkedut. “Wah, baru sekarang ada yang begini.”

“Oh ya?” tanya Annabeth.

“Jujur dan langsung. Tidak menjerit-jerit. Tidak berkata ‘Ini pasti keliru, Pak Charon.’” Dia mengamati kami. “Bagaimana cara kalian mati?”

Aku menyikut Grover.

“Oh,” katanya. “Eh … tenggelam … di bak mandi.”

“Kalian bertiga?” tanya Charon.

Kami mengangguk.

“Bak mandinya besar sekali.” Charon tampak sedikit terkesan. “Saya kira, kalian pasti belum punya koin untuk tarif penumpang. Biasanya, untuk orang dewasa, misalnya, aku bisa menagih kartu kredit American Express, atau menambahkan ongkos feri ke tagihan kabel terakhir. Tapi untuk anak-anak … sayangnya, kalian biasanya tidak siap mati. Sepertinya kalian harus duduk selama beberapa abad.”

“Kami punya koin kok.” Aku meletakkan tiga drachma emas di meja, sebagian uang yang kutemukan di meja kantor Crusty.

“Wah…” Charon membasahi bibir. “Drachma betulan. Drachma emas betulan. Sudah lama aku tidak melihat ini ….”

Jemarinya melayang tamak di atas koin.

Kami nyaris berhasil.

Lalu, Charon menatapku. Tatapan dingin di belakang kacamata itu seolah-olah mengebor lubang di dadaku. “Tunggu,” katanya. “Kau tak bisa membaca namaku dengan benar. Kau disleksia, Nak?”

“Tidak,” kataku. “Aku sudah mati.”

Charon memajukan tubuh dan mengendus. “Kau belum mati. Semestinya sudah kuduga. Kau anak dewa.”

“Kami harus ke Dunia Bawah,” aku bersikeras.

Charon menggeram, jauh di dalam tenggorokannya.

Langsung saja semua orang di ruang tunggu itu bangkit dan mulai mondar-mandir, gelisah, menyalakan rokok, menyugar rambut, atau memeriksa arloji.

“Pergilah kalian, selagi masih bisa,” kata Charon kepada kami. “Biar yang ini kuambil, dan aku akan melupakan pernah melihatmu.”

Dia bergerak meraih koin itu, tetapi aku menyambarnya kembali.

“Tak ada layanan, tak ada tip.” Aku berusaha terdengar lebih pemberani daripada yang kurasakan.

Charon menggeram lagi—suara yang berat dan membekukan darah. Arwah orang mati mulai menggedor-gedor pintu lift.

“Sayang,” aku menghela napas. “Padahal persediaan koinnya masih banyak.”

Aku mengangkat satu kantong penuh dari simpanan Crusty. Aku mengeluarkan segenggam drachma dan membiarkan koin itu terjatuh melalui jemariku.

Geraman Charon berubah menjadi bunyi yang lebih mirip dengkuran singa. “Kau pikir saya bisa dibeli, anak dewa? Eh … sekadar ingin tahu, berapa banyak isi di kantong itu?”

“Banyak,” kataku. “Pasti gajimu dari Hades tidak cukup untuk kerja keras seperti ini.”

“Soal gaji sih belum seberapa. Coba saja kau urus arwah-arwah ini sepanjang hari. Selalu berisik, ‘Tolong jangan biarkan aku mati’ atau ‘Tolong bantu aku menyeberang gratis.’ Gajiku tak pernah dinaikkan selama tiga ribu tahun. Kau pikir setelan seperti ini murah?”

“Bapak layak mendapatkan lebih,” aku sepakat. “Sedikit penghargaan. Penghormatan. Gaji tinggi.”

Dengan setiap kata, aku menumpuk satu koin emas lagi di meja.

Charon melirik jas sutra Italia-nya, seolah-olah membayangkan dirinya memakai setelan yang lebih bagus lagi. “Harus kubilang, Nak, bicaramu sekarang sedikit masuk akal. Sedikit.”

Aku menumpuk beberapa koin lagi. “Saya bisa menyinggung soal kenaikan gaji saat saya berbicara dengan Hades.”

Dia menghela napas. “Perahunya kebetulan hampir penuh. Biarlah kutambah-kan, kalian bertiga supaya bisa berangkat.”

Dia berdiri, meraup uang kami, dan berkata, “Ikut aku.”

Kami menyeruak di antara kerumunan arwah yang menunggu, yang mulai menggapai-gapai pakaian kami seperti angin, suara mereka membisikkan hal-hal yang tak bisa kupahami. Charon mendorong mereka ke samping, menggerutu, “Benalu.”

Dia menemani kami ke lift, yang sudah dipenuhi jiwa orang mati, masing-masing memegang karcis hijau. Charon menyambar dua arwah yang berusaha naik bersama kami dan mendorong mereka kembali ke lobi.

“Bagus. Nah, jangan macam-macam selama aku pergi,” katanya kepada ruang tunggu. “Dan kalau ada yang mengubah setelan radio dari stasiun easy-listening lagi, akan kupastikan kalian berada di sini seribu tahun lagi. Mengerti?”

Dia menutup pintu. Dia memasukkan kartu kunci di celah di panel lift dan kami mulai turun.

“Apa yang terjadi pada arwah yang menunggu di lobi?” tanya Annabeth.

“Tak ada,” kata Charon.

“Sampai berapa lama?”

“Selamanya, atau sampai aku ingin bermurah hati.”

“Oh,” kata Annabeth. “Itu … adil.”

Charon mengangkat alis. “Siapa bilang kematian itu adil, Nona Muda? Tunggu saja sampai giliranmu tiba. Kalian pasti segera mati, kalau menuju tempat yang kalian tuju.”

“Kami akan keluar hidup-hidup,” kataku.

“Ha.”

Aku tiba-tiba merasa pusing. Kami sudah tidak lagi bergerak turun, tetapi maju. Udaranya menjadi berkabut. Arwah-arwah di sekitarku mulai berubah. Pakaian modern mereka berkedip-kedip, berubah menjadi jubah bertudung warna abu-abu. Lantai lift mulai berayun.

Aku mengerjap-ngerjapkan mata. Saat aku membuka mata, setelan Italia warna krem milik Charon sudah berganti menjadi jubah hitam panjang. Kacamata cangkang kura-kura hilang. Di tempat yang semestinya ditempati matanya, hanya ada dua lubang kosong—seperti mata Ares, tetapi mata Chiron benar-benar gelap, penuh dengan malam, kematian, dan keputusasaan.

Dia melihatku menatap dan berkata, “Apa?”

“Tidak,” aku berhasil bicara.

Aku merasa dia menyeringai, tetapi tidak persis itu. Daging wajahnya menjadi tembus pandang, sehingga tengkoraknya terlihat.

Lantai terus berayun.

Kata Grover, “Kayaknya aku mulai mabuk laut.”

Ketika aku berkedip lagi, lift itu bukan lift lagi. Kami berdiri di atas perahu kayu. Charon sedang bergalah, membawa kami menyeberangi sungai gelap yang berminyak, berputar-putar dengan tulang, ikan mati, dan hal-hal lain yang lebih aneh—boneka plastik, bunga anyelir yang hancur, ijazah bertepi emas yang basah.

“Demi Sungai Styx,” gumam Annabeth. “Sungai ini begitu ….”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca