Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

“Kau mengingatkanku pada seseorang yang kulihat di televisi,” katanya. “Kau ini aktor anak-anak atau apa?”

“Eh … aku pemeran pengganti … untuk banyak aktor anak-anak.”

“Oh! Pantas.”

Kami berterima kasih kepadanya dan cepat-cepat turun di halte berikutnya.

Kami luntang-lantung selama berkilo-kilometer, mencari DOA. Tampaknya tak ada orang yang tahu di mana letaknya. Tempat itu tidak ada di buku telepon.

Dua kali kami menyusup ke gang untuk menghindari mobil polisi.

Aku terpaku di depan jendela toko peralatan rumah karena sebuah televisi menyiarkan wawancara dengan seseorang yang tampak sangat akrab—ayah tiriku, Gabe si Bau. Dia sedang berbicara dengan Barbara Walters—seolah-olah dia semacam selebriti besar. Barbawa mewawancarainya di apartemen kami, di tengah-tengah permainan poker, dan ada seorang gadis pirang yang duduk di sebelahnya, menepuk-nepuk tangannya.

Air mata palsu berkilauan di pipinya. Dia berkata, “Jujur, Nona Walters, andai bukan berkat Sugar, konselor menghadapi duka, aku pasti hancur. Anak tiriku merenggut segala sesuatu yang kupedulikan. Istriku … Camaroku … Ma-maaf. Aku sulit membicarakan hal ini.”

“Demikianlah, Amerika.” Barbara Walters menoleh ke kamera. “Seorang pria yang terkoyak. Seorang remaja laki-laki yang bermasalah serius. Mari saya tunjukkan lagi, foto terakhir pelarian muda yang bermasalah ini, diambil seminggu yang lalu di Denver.”

Layar beralih ke foto kabur yang berisi aku, Annabeth, dan Grover, berdiri di luar restoran Colorado, berbicara kepada Ares.

“Siapakah anak-anak lain dalam foto ini?” Barabara Walters bertanya dengan dramatis. “Siapa lelaki yang bersama mereka itu? Apakah Percy Jackson seorang remaja nakal, teroris, atau mungkin korban cuci otak dalam kultus baru yang mengerikan? Setelah pesan-pesan berikut, kita akan berbincang dengan psikolog anak terkemuka. Jangan ke mana-mana, Amerika.”

“Ayo,” kata Grover kepadaku. Dia menarikku menjauh sebelum aku sempat menonjok dan melubangi jendela toko peralatan itu.

Hari menjadi gelap, dan orang-orang yang tampak kelaparan mulai keluar ke jalan untuk bermain. Nah, jangan salah paham, ya. Aku ini orang New York. Aku tak mudah takut. Tapi, suasana L.A. berbeda sama sekali dengan New York. Di rumah, segala sesuatu terasa dekat. Sebesar apa pun kota itu, orang bisa berjalan ke mana pun tanpa tersesat. Pola jalan dan kereta bawah tanahnya mudah dipahami. Segalanya membentuk suatu sistem. Seorang anak bisa aman asalkan dia tidak bodoh.

L.A. tidak seperti itu. Kota itu luas, kacau-balau, dan sulit dijelajahi. Mengingatkanku pada Ares. L.A. itu bukan hanya luas; ia juga harus membuktikan kebesarannya dengan berisik dan aneh dan sulit dijelajahi. Aku tak tahu bagaimana kami bisa menemukan pintu masuk ke Dunia Bawah sebelum besok, titik balik matahari musim panas.

Kami berjalan melewati anggota geng, gelandangan, dan pedagang kaki lima, yang menatap kami seolah-olah berusaha menimbang apakah mereka mau repot-repot merampok kami.

Saat kami bergegas melewati pintu masuk sebuah gang, sebuah suara dari kegelapan berkata, “Hei, kalian.”

Seperti orang tolol, aku berhenti.

Tahu-tahu saja kami dikepung. Segerombolan anak mengelilingi kami. Seluruhnya ada enam orang—anak kulit putih yang berpakaian mahal dan berwajah kejam. Seperti anak-anak di Akademi Yancy: anak kaya dan manja yang bermain-main menjadi anak nakal.

Secara naluriah, aku membuka tutup Riptide.

Ketika pedang itu muncul begitu saja, anak-anak itu mundur, tetapi pemimpinnya entah sangat bodoh atau sangat pemberani, karena dia terus merangsek dengan pisau lipat.

Aku keliru bertindak, malah mengayun pedang.

Anak itu memekik. Tetapi, dia rupanya seratus persen manusia, karena pedang itu menembus dadanya tanpa melukai. Dia melihat ke bawah. “Apa-apaan ….”

Kusimpulkan aku punya waktu tiga detik sebelum rasa kagetnya berubah menjadi amarah. “Lari!” teriakku kepada Annabeth dan Grover.

Kami mendorong dua anak yang menghalangi dan berlari, tak tahu hendak ke mana. Kami membelok tajam.

“Di sana!” seru Annabeth.

Di blok itu hanya ada satu toko yang tampaknya masih buka, jendelanya mencorong dengan neon. Tanda di atas pintu bertuliskan kira-kira STIANA KASRU ARI CRSTUY.

“Istana Kasur Air Crusty?” Grover menerjemahkan.

Sepertinya bukan tempat yang ingin kukunjungi kecuali dalam keadaan darurat, tetapi saat ini jelas memenuhi syarat sebagai keadaan darurat.

Kami menerjang pintu, berlari ke balik kasur air, dan menunduk. Sedetik kemudian, anak-anak geng berlari lewat di luar.

“Kayaknya kita lolos,” kata Grover, terengah-engah.

Sebuah suara di belakang kami menggelegar, “Lolos dari apa?”

Kami semua terlompat.

Di belakang kami, berdiri seorang pria yang mirip burung pemangsa dalam setelan jas santai. Tingginya paling sedikit 210 cm, kepalanya tak berambut sama sekali. Kulitnya abu-abu seperti kulit samak, matanya berkelopak tebal, senyumnya dingin mirip reptil. Dia menghampiri kami perlahan-lahan, tetapi aku merasa bahwa dia mampu bergerak cepat jika perlu.

Pakaiannya mirip-mirip seragam Kasino Teratai. Jelas-jelas berasal dari era tujuh puluhan. Kemejanya terbuat dari bahan sutra bercorak, tak terkancing hingga setengah dadanya yang tak berbulu. Kelepak jas beledunya selebar landasan pesawat. Kalung rantai perak di lehernya—jumlahnya tak terhitung olehku.

“Aku Crusty,” katanya, dengan senyum kuning-tartar.

Aku menahan desakan hati untuk berkata, Benar sekali.

“Maaf, kami masuk tanpa permisi,” kataku. “Kami cuma, eh, melihat-lihat.”

“Maksudmu, bersembunyi dari anak-anak nakal tadi,” gerutunya. “Mereka berkeliaran setiap malam. Aku jadi dapat banyak pengunjung, berkat mereka. Nah, kalian ingin melihat-lihat kasur air?”

Aku baru akan berkata, Tidak, terima kasih, tetapi dia meletakkan tangannya yang besar di bahuku dan mengarahkanku memasuki ruang pameran.

Ada segala jenis kasur air yang bisa kaubayangkan: bermacam-macam kayu, bermacam-macam pola seprai; ukuran Queen, King, bahkan Emperor.

“Ini model yang paling populer.” Crusty melebarkan tangannya dengan bangga di atas sebuah tempat tidur yang tertutup seprai satin hitam, dengan Lampu Lava yang dibangun langsung di papan di ujung tempat tidur. Kasur itu bergetar, sehingga mirip agar-agar rasa minyak.

“Pijat sejuta tangan,” kata Crusty. “Ayo, coba saja. Malah, sekalian saja tidur di situ. Aku tak keberatan. Toh hari ini belum ada pelanggan.”

“Eh,” kataku, “saya tidak …”

“Pijat sejuta tangan!” seru Grover, dan melompat naik. “Oh, teman-teman! Ini keren.”

“Hmm,” kata Crusty sambil membelai dagunya yang berkulit samak. “Hampir, hampir.”

“Hampir apa?” tanyaku.

Dia menoleh ke Annabeth. “Tolonglah aku dan coba yang di sini, Sayang. Mungkin cocok.”

Annabeth berkata, “Tapi apa—”

Lelaki itu menepuk bahu Annabeth untuk menenangkan hatinya, dan mengajaknya ke model Deluxe Safari, yang ranjangnya diukir singa kayu jati dan selimutnya berpola macan tutul. Ketika Annabeth tak ingin berbaring, Crusty mendorongnya.

Crusty menjentikkan jari. “Ergo!”

Tali muncul dari sisi-sisi kasur, mengikat Annabeth, menahannya pada kasur.

Grover berusaha bangkit, tetapi tali juga keluar dari kasur satin hitamnya, dan mengikatnya.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca