Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

* * *

Pada saat matahari terbenam, taksi menurunkan kami di pantai di Santa Monica. Pemandangannya persis seperti pantai L.A. di film-film, tetapi lebih bau. Ada wahana karnaval di sepanjang Dermaga, pohon kelapa di sepanjang trotoar, gelandangan tidur di bukit pasir, dan cowok peselancar yang menunggu ombak sempurna.

Aku, Grover, dan Annabeth menyusuri tepi pantai.

“Sekarang bagaimana?” tanya Annabeth.

Samudra Pasifik menjadi emas akibat matahari terbenam. Aku memikirkan sudah berapa lama waktu berlalu sejak aku berdiri di pantai di Montauk, di seberang negara ini, memandang samudra yang lain.

Bagaimana mungkin ada seorang dewa yang mampu mengendalikan semua itu? Apa kata guru IPA-ku dulu—dua per tiga permukaan bumi diliputi air? Bagaimana mungkin aku ini putra seseorang yang seberkuasa itu?

Aku melangkah ke ombak.

“Percy?” kata Annabeth. “Kau mau apa?”

Aku terus berjalan, hingga air sepinggang, lalu sedada.

Annabeth berseru kepadaku, “Kau tahu sekotor apa air itu? Ada segala macam racun—”

Pada saat itulah kepalaku masuk ke air.

Pertama-tama aku menahan napas. Sulit rasanya memaksa diri mengisap napas. Akhirnya, aku tak tahan lagi. Aku menarik napas. Benar saja, aku bisa bernapas dengan normal.

Aku berjalan turun ke dasar pasir. Semestinya aku tak bisa melihat di air keruh, tapi entah bagaimana aku bisa tahu letak segala sesuatu. Aku dapat merasakan tekstur dasar yang beralun. Aku dapat melihat koloni sand-dollar[3] yang bertebaran di gunung pasir. Aku bahkan bisa melihat arus, aliran panas dan dingin berpusaran bersama.

Aku merasakan sesuatu menggesek kakiku. Aku melihat ke bawah dan hampir terlompat dari air seperti peluru. Di sebelahku meluncur hiu mako sepanjang satu setengah meter.

Tetapi, hewan itu tidak menyerang. Ia menggosokkan hidung padaku. Mengekor seperti anjing. Dengan ragu kusentuh sirip punggungnya. Hiu itu melonjak sedikit, seolah-olah memintauku memegang lebih erat. Aku memegang sirip itu dengan kedua tangan. Hiu itu melesat, menarikku bersamanya. Ia membawaku turun ke kegelapan. Ia menurunkanku di tepi laut dalam, di tempat bukit pasir menurun menjadi jurang luas. Rasanya seperti berdiri di tepi Grand Canyon pada tengah malam, tak bisa melihat banyak, tetapi tahu lubang itu ada di sana.

Permukaan laut tampak berkilauan sekitar 45 meter di atas sana. Aku tahu aku semestinya hancur oleh tekanan air. Tetapi, aku juga semestinya tak bisa bernapas. Aku bertanya-tanya apakah ada batas kedalaman yang bisa kuturuni, apakah aku bisa tenggelam ke dasar Samudra Pasifik.

Lalu, aku melihat sesuatu berkilauan dalam kegelapan di bawah, yang naik ke arahku dan tampak semakin besar dan terang. Sebuah suara perempuan, seperti suara ibuku, memanggil: “Percy Jackson.”

Sementara dia mendekat, bentuknya semakin jelas. Rambutnya hitam berombak, pakaiannya terbuat dari sutra hijau. Cahaya berkelap-kelip di sekelilingnya, dan matanya begitu indah, sampai-sampai aku hampir tak memerhatikan kuda laut sebesar kuda yang ditungganginya.

Wanita itu turun. Si kuda laut dan si hiu mako melesat pergi dan mulai bermain, sepertinya main kucing-kucingan. Si wanita bawah air tersenyum kepadaku. “Kau telah menempuh jarak yang jauh, Percy Jackson. Hebat.”

Aku tak yakin apa yang harus dilakukan, jadi aku membungkuk. “Kau wanita yang berbicara kepadaku di Sungai Mississippi.”

“Benar, Nak. Aku Nereid, arwah laut. Tidak mudah bagiku, muncul begitu jauh di hulu sungai, tetapi kaum naiad, sepupu air tawarku, membantu mempertahankan kekuatan nyawaku. Mereka menghormati Tuan Poseidon, meskipun mereka bukan anggota istananya.”

“Dan … kau anggota istana Poseidon?”

Dia mengangguk. “Sudah bertahun-tahun tak ada putra Dewa Laut yang lahir. Kami mengamatimu dengan minat besar.”

Tiba-tiba aku teringat wajah-wajah dalam ombak di lepas Pantai Montauk sewaktu aku masih kecil, bayangan wanita-wanita yang tersenyum. Sebagaimana begitu banyak hal aneh dalam hidupku, aku tak pernah terlalu memikirkannya sebelum ini.

“Kalau ayahku begitu tertarik padaku,” kataku, “kenapa dia tidak ke sini? Kenapa dia tak berbicara kepadaku?”

Arus dingin naik dari kedalaman.

“Jangan terlalu keras menilai sang Penguasa Lautan,” kata si Nereid. “Dia sedang berdiri di ambang perang yang tak diinginkan. Banyak hal menyita waktunya. Lagi pula, dia dilarang membantumu secara langsung. Dewa tak boleh terlihat pilih kasih.”

“Bahkan pada anak-anaknya sendiri?”

“Terutama pada mereka. Dewa hanya bisa bekerja dengan pengaruh tak langsung. Itu sebabnya aku memberimu peringatan, dan hadiah.”

Dia mengulurkan tangan. Di telapak tangannya, tiga butir mutiara putih bersinar.

“Aku tahu kau akan pergi ke wilayah Hades,” katanya. “Hanya sedikit manusia yang pernah melakukan ini dan berhasil keluar hidup-hidup: Orpheus, yang memiliki keterampilan musik yang hebat; Hercules, yang memiliki kekuatan besar; Houdini, yang bisa melepaskan diri bahkan dari kedalaman Tartarus. Apakah kau memiliki bakat-bakat ini?”

‘Eh … tidak, sih.”

“Ah, tapi kau memiliki hal lain, Percy. Kau memiliki banyak bakat yang baru mulai kaukenal. Para oracle telah meramalkan masa depan yang besar dan hebat untukmu, jika kau bertahan hidup hingga dewasa. Poseidon tak ingin kau mati sebelum waktumu. Karena itu, ambillah ini. Saat kau membutuhkan bantuan, bantinglah sebutir mutiara ke dekat kakimu.”

“Apa yang akan terjadi?”

“Itu,” katanya, “tergantung pada kebutuhanmu. Tapi ingat: apa yang dimiliki laut akan selalu kembali ke laut.”

“Peringatannya apa?”

Matanya berbinar-binar dengan cahaya hijau. “Ikuti kata hatimu, atau kau akan kehilangan semuanya. Hades semakin kuat dengan adanya keraguan dan keputusasaan. Dia akan mengelabuimu jika dia bisa, membuatmu tak memercayai pikiranmu sendiri. Begitu kau berada di dunianya, dia tak akan pernah membiarkanmu pergi dengan sukarela. Kuatkan hatimu. Semoga berhasil, Percy Jackson.”

Dia memanggil kuda lautnya dan menungganginya ke arah kehampaan.

“Tunggu!” panggilku. “Di sungai waktu itu, kau bilang, jangan percaya pada hadiah. Hadiah apa?”

“Selamat tinggal, Pahlawan Muda,” serunya kembali, suaranya semakin samar ke dalam kegelapan. “Kau harus mendengarkan kata hatimu.” Dia menjadi titik hijau bersinar, lalu dia menghilang.

Aku ingin mengikutinya turun ke kegelapan. Aku ingin melihat istana Poseidon. Tetapi, aku melihat ke atas, pada matahari terbenam yang semakin gelap di permukaan. Teman-temanku menunggu. Waktu kami sedikit sekali ….

Aku menolakkan tubuh ke arah pantai.

Sesampainya aku di pantai, pakaianku langsung kering. Aku menceritakan apa yang terjadi kepada Grover dan Annabeth, dan menunjukkan mutiara itu kepada mereka.

Annabeth meringis. “Tak ada hadiah tanpa biaya.”

“Yang ini gratis.”

“Tidak.” Annabeth menggeleng. “’Tak ada yang namanya makan gratis.’ Itu peribahasa Yunani kuno yang cocok dengan kehidupan Amerika. Akan ada biayanya. Lihat saja.”

Dengan pikiran ceria itu, kami berbalik meninggalkan laut.

* * *

Dengan uang receh dari ransel Ares, kami naik bus ke Hollywood Barat. Kepada sopir kutunjukkan alamat Dunia Bawah yang kuambil dari Pusat Belanja Taman Patung Bibi Em, tetapi dia belum pernah mendengar tentang Studio Rekaman DOA.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca