Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

Si pelayan Teratai bergegas menghampiri. “Wah, apakah kalian siap untuk kartu platinum?”

“Kami mau pergi,” kataku.

“Sayang sekali,” katanya, dan aku merasa dia memang sungguh-sungguh, bahwa kami akan membuatnya patah hati kalau kami pergi. “Kami baru saja menambah satu lantai penuh yang berisi permainan untuk anggota pemilik kartu platinum.”

Dia menyodorkan kartunya, dan aku ingin satu. Aku tahu bahwa kalau aku mengambil satu, aku tak akan pernah pergi. Aku akan tinggal di sini, bahagia selamanya, bermain game selamanya, dan tak lama kemudian melupakan ibuku, misiku, bahkan mungkin namaku sendiri. Aku akan bermain penembak virtual bersama Darrin Disco yang aduhai itu selamanya.

Grover meraih kartu itu, tetapi Annabeth menarik tangannya dan berkata, “Tidak, terima kasih.”

Kami berjalan ke arah pintu, dan sementara kami berjalan, aroma makanan dan bunyi permainan terasa semakin mengundang. Aku teringat kamar kami di lantai atas. Kami bisa saja menginap hanya satu malam, tidur di tempat tidur betulan sekali ini ….

Lalu, kami melewati pintu Kasino Teratai dan berlari menyusuri trotoar. Sepertinya hari sedang sore, kira-kira waktu yang sama seperti saat kami masuk ke kasino, tetapi ada yang aneh. Cuacanya telah berubah sama sekali. Ada badai, dengan petir panas menyambar-nyambar di padang pasir.

Ransel Ares tersampir di bahuku. Aneh. Aku yakin ransel itu sudah kubuang di keranjang sampah di kamar 4001, tetapi saat itu ada masalah lain yang harus kucemaskan.

Aku berlari ke kios koran terdekat dan membaca tahunnya dulu. Untunglah, tahunnya masih sama dengan tahun kami masuk. Lalu, aku membaca tanggalnya: dua puluh Juni.

Kami berada di dalam Kasino Teratai selama lima hari.

Kami hanya punya sisa waktu satu hari sebelum titik balik matahari musim panas. Satu hari untuk menuntaskan misi kami.

17. Kami Berbelanja Kasur Air

Ini ide Annabeth.

Dia menyuruh kami masuk ke kursi belakang sebuah taksi Vegas seolah-olah kami punya uang, dan berkata kepada si sopir, “Los Angeles.”

Si sopir mengunyah cerutunya dan menilai penampilan kami. “Jaraknya hampir lima ratus kilometer. Untuk itu, kalian harus bayar di muka.”

“Terima kartu debit kasino, nggak?” tanya Annabeth.

Dia mengangkat bahu. “Beberapa. Sama seperti kartu kredit. Harus kugesek dulu.”

Annabeth memberinya kartu Tunai-Teratai hijau itu.

Si sopir memandangnya kurang percaya.

“Gesek saja,” desak Annabeth.

Si sopir menggeseknya.

Argonya mulai berderak. Lampu berkedip-kedip. Akhirnya lambang tak-terhingga muncul di sebelah tanda dolar.

Cerutu itu jatuh dari bibir si sopir. Dia menoleh kepada kami dengan mata terbeliak. “Los Angeles sebelah mana… eh, Yang Mulia?”

“Dermaga Santa Monica.” Annabeth duduk lebih tegak. Aku tahu dia menyukai sebutan “Yang Mulia” itu. “Kalau bisa mengantar kami ke sana dengan cepat, kau boleh menyimpan kembaliannya.”

Mungkin Annabeth semestinya tidak bilang begitu.

Spidometer taksi itu tak pernah turun di bawah 150 km per jam di sepanjang perjalanan menyeberangi Padang Pasir Mojave.

* * *

Di jalan, kami punya banyak waktu untuk mengobrol. Aku menceritakan mimpi terbaruku kepada Annabeth dan Grover, tetapi semakin aku berusaha mengingatnya, perinciannya semakin kabur. Kasino Teratai itu sepertinya membuat ingatanku korsleting. Aku tak bisa ingat suara si pelayan tak kasat mata itu, meskipun aku yakin orang itu kukenal. Si pelayan menyebut monster di lubang itu dengan gelar selain “tuanku” … nama atau gelar khusus…

“Sang Bisu?” usul Annabeth. “Sang Kaya? Keduanya julukan untuk Hades.”

“Mungkin …” kataku, meskipun keduanya terasa tidak pas.

“Ruang singgasana itu kedengarannya seperti ruang milik Hades,” kata Grover. “Biasanya ruangan itu digambarkan seperti itu.”

Aku menggeleng. “Ada yang aneh. Ruang singgasana itu bukan bagian utama mimpi itu. Dan suara dari lubang itu … entahlah. Cuma nggak terasa seperti suara dewa.”

Mata Annabeth melebar.

“Apa?” tanyaku.

“Eh … nggak. Aku cuma—Nggak, itu pasti Hades. Mungkin dia mengutus pencuri ini, orang yang nggak kelihatan ini, untuk mengambil petir asali, lalu timbul masalah—”

“Apa misalnya?”

“Nggak—nggak tahu,” katanya. “Tapi, kalau dia mencuri lambang kekuatan Zeus dari Olympia, dan para dewa memburunya, banyak masalah yang bisa timbul, kan? Jadi, pencuri ini terpaksa menyembunyikan petir itu, atau entah bagaimana dia kehilangan barangnya. Pokoknya, dia gagal membawanya ke Hades. Itu yang dibilang suara di dalam mimpimu kan? Orang itu gagal. Itu bisa menjelaskan apa yang dicari Erinyes saat mereka menyerang kita di bus. Mungkin mereka menyangka kita sudah mengambil petir itu.”

Aku heran Annabeth punya masalah apa. Dia tampak pucat.

“Tapi, kalau aku sudah mengambil petir itu,” kataku, “buat apa aku pergi ke Dunia Bawah?”

“Untuk mengancam Hades,” usul Grover. “Untuk menyogok atau memerasnya demi mendapatkan kembali ibumu.”

Aku bersiul. “Pikiranmu licik juga, untuk ukuran kambing.”

“Wah, terima kasih.”

“Tapi, makhluk di lubang itu berkata, dia menunggu dua benda,” kataku. “Kalau petir asali itu satu, satu lagi apa?”

Grover menggeleng, jelas bingung.

Annabeth menatapku seolah-olah dia tahu pertanyaanku berikutnya, dan diam-diam berharap agar aku tidak bertanya.

“Kau punya dugaan soal makhluk apa yang berada di lubang itu, ya?” tanyaku kepadanya. “Maksudku, kalau itu bukan Hades?”

“Percy … jangan bicarakan itu. Karena kalau bukan Hades …. Tidak. Pasti Hades.”

Tanah gersang bergerak lewat. Kami melewati tanda yang bertuliskan PERBATASAN NEGARA BAGIAN CALIFORNIA, 19 KM.

Aku merasa bahwa ada satu keping informasi yang penting tapi sederhana, yang luput dari perhatianku. Rasanya seperti saat aku menatap sebuah kata umum yang semestinya kukenal, tetapi aku tak bisa memahaminya karena satu-dua hurufnya melayang-layang. Semakin kupikirkan isiku, semakin aku yakin bahwa mengonfrontasi Hades bukanlah jawaban yang tepat. Ada hal lain yang sedang terjadi, sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Masalahnya: kami melaju menuju Dunia Bawah dengan kecepatan 150 km per jam, bertaruh bahwa Hades memegang petir asali itu. Kalau kami sampai di sana dan menemukan bahwa kami salah, kami tak akan punya waktu untuk memperbaikinya. Tenggat titik balik matahari musim panas akan berlalu dan perang akan dimulai.

“Jawabannya berada di Dunia Bawah,” Annabeth meyakinkanku. “Kau melihat arwah orang mati, Percy. Itu hanya mungkin ada di satu tempat. Yang kita lakukan ini sudah benar.”

Dia berusaha membangkitkan semangat kami dengan mengusulkan berbagai strategi cerdik untuk masuk ke Negeri Orang Mati, tetapi hatiku tidak berselera. Terlalu banyak faktor yang tak diketahui. Rasanya seperti mengebut belajar untuk suatu ujian tanpa tahu topiknya. Dan percayalah, itu sih sudah cukup sering kulakukan.

Taksi itu melaju ke barat. Setiap tiupan angin melalui Death Valley terdengar seperti arwah orang mati. Setiap kali rem sebuah truk berdesis, aku teringat pada suara reptil Echinda

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca