Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

Dia memberi kami kartu kredit plastik warna hijau masing-masing satu.

Aku yakin pasti ada kekeliruan. Jelas dia menganggap kami anak seorang jutawan. Tetapi, kuterima kartu itu dan berkata, “Berapa besar nilainya?”

Alisnya bertaut. “Maksudnya?”

“Maksudku, kapan nilai tunainya habis?”

Dia tertawa. “Oh, kau sedang bercanda. Boleh juga. Nikmati kunjungan kalian.”

Kami naik lift ke lantai atas dan memeriksa kamar kami. Ternyata kamarnya mewah, terdiri atas tiga kamar tidur dan bar yang diisi permen, soda, dan keripik. Sambungan telepon langsung ke bagian layanan kamar. Handuk empuk dan kasur air serta bantal bulu. Televisi layar besar yang dilengkapi parabola dan internet berkecepatan tinggi. Balkonnya memiliki bak mandi air panas sendiri, dan benar saja, ada mesin pelontar target dan senapan, jadi kita bisa meluncurkan burung dara tanah liat langsung ke atas langit Las Vegas dan menembaknya dengan senapan. Aku merasa itu tak mungkin legal, tapi kupikir cukup keren. Pemandangan menghadap ke daerah Strip dan padang pasirnya sangat indah, meskipun aku ragu kami akan sempat melihat pemandangan, kalau kamarnya seperti ini.

“Wah, asyik,” kata Annabeth. “Tempat ini ….”

“Asyik,” kata Grover. “Benar-benar asyik.”

Ada pakaian di lemari, dan ukurannya pas. Aku mengerutkan kening, merasa ini agak aneh.

Kulemparkan ransel Ares ke keranjang sampah. Tak diperlukan lagi. Saat kami pergi nanti, aku tinggal menagihkan ransel baru di toko hotel.

Aku mandi. Segar sekali rasanya, setelah seminggu bepergian dengan tubuh kotor. Aku bertukar pakaian, makan sekantong keripik, minum tiga Coke, dan setelahnya merasa lebih baik daripada yang kurasakan beberapa hari ini. Di sudut benakku ada masalah kecil yang terus mengusik. Aku bermimpi atau apa … aku perlu berbicara dengan teman-temanku. Tetapi, aku yakin itu bisa menunggu.

Aku keluar dari kamar tidur dan mendapati bahwa Annabeth dan Grover juga sudah mandi dan berganti pakaian. Grover sedang makan keripik kentang sepuasnya, sementara Annabeth menyalakan saluran National Geographic di televisi.

“Tersedia segala macam stasiun di situ,” kataku kepadanya, “kau malah menyalakan National Geographic. Sudah gila, ya?”

“Acaranya kan menarik.”

“Aku merasa enak,” kata Grover. “Aku suka tempat ini.”

Tanpa ia sadari, sayap tumbuh dari sepatunya dan mengangkatnya 30 cm dari lantai, lalu turun lagi.

“Jadi, sekarang apa?” tanya Annabeth. “Tidur?”

Aku dan Grover bertukar pandang dan menyeringai. Kami berdua mengangkat kartu plastik Tunai-Teratai kami yang berwarna hijau itu.

“Waktunya bermain,” kataku.

Aku tak ingat kapan terakhir kali aku asyik bermain seperti itu. Aku berasal dari keluarga yang relatif miskin. Berfoya-foya ala kami adalah keluar makan di Burger King dan menyewa video. Hotel bintang lima di Vegas? Mana mungkin.

Aku melompat bungee dari lobi lima atau enam kali, meluncur di perosotan air, berselancar salju di turunan ski tiruan, dan bermain kucing-kucingan laser realitas-virtual, dan permainan penembak jitu FBI. Aku melihat Grover beberapa kali, berpindah-pindah permainan. Dia benar-benar menyukai permainan pemburu terbalik—yaitu rusa keluar dan menembaki pemburu. Kulihat Annabeth bermain game tanya-jawab dna permainan otak lainnya. Di sana ada permainan simulasi 3-D raksasa, dan kita bisa membangun kota sendiri, dan benar-benar bisa melihat gedung hologram mencuat pada papan tampilan. Aku tak terlalu terkesan, tetapi Annabeth suka sekali.

Aku tak tahu kapan persisnya aku pertama kali menyadari ada yang aneh.

Mungkin saat aku memerhatikan seorang pemuda berdiri di sampingku di penembak jitu VR. Umurnya sekitar tiga belas tahun, kira-kira, tapi pakaiannya aneh. Aku menyangka dia anak seorang peniru Elvis. Dia memakai jins cutbrai dan kemeja merah berlengan hitam, dan rambutnya dikeriting dan diminyaki seperti rambut anak perempuan New Jersey pada malam pesta.

Kami bermain penembak-jitu bersama dan dia berkata, “Aduhai, sobat. Aku baru dua minggu di sini, dan permainannya makin lama makin keren.”

Aduhai?

Kemudian, saat kami mengobrol, aku mengomentari sesuatu sebagai “gue banget”, dan dia menatapku agak heran, seolah-olah belum pernah mendengar kata itu digunakan seperti itu sebelumnya.

Katanya namanya Darrin, tetapi begitu aku mulai banyak bertanya, dia bosan denganku dan mulai kembali ke layar komputer.

Kataku, “Hei, Darrin?”

“Apa?”

“Sekarang tahun berapa?”

Dia merengut kepadaku. “Di dalam game?”

“Bukan. Di dunia nyata.”

Dia harus mengingat-ingat. “1977.”

“Masa,” kataku, merasa agak takut. “Sungguh.”

“Hei, bung. Pemali. Aku lagi main.”

Setelah itu, dia benar-benar tidak menggubrisku.

Aku mulai mengajak bicara beberapa orang, dan ternyata tak mudah. Mereka lengket ke layar televisi, atau layar video, atau makanan, atau apa pun. Aku menemukan seorang pemuda yang mengatakan bahwa sekarang tahun 1985. Seorang lagi mengatakan sekarang tahun 1993. Mereka semua mengaku belum terlalu lama berada di sini, beberapa hari, paling lama beberapa minggu. Mereka tidak tahu persis dan mereka tidak peduli.

Lalu, terpikir olehku, sudah berapa lama aku berada di sini? Rasanya baru beberapa jam, tetapi apa benar?

Aku berusaha mengingat mengapa kami berada di sini. Kami sedang menuju Los Angeles. Kami semestinya mencari pintu masuk ke Dunia Bawah. Ibuku …. Selama satu detik mengerikan, aku kesulitan mengingat namanya. Sally. Sally Jackson. Aku harus mencarinya. Aku harus menghentikan Hades memicu Perang Dunia III.

Kutemukan Annabeth masih membangun kota.

“Ayo,” kataku. “Kita harus pergi.”

Tak ada tanggapan.

Kuguncang dia. “Annabeth?”

Dia mengangkat kepala, kesal. “Apa?”

“Kita harus pergi.”

“Pergi? Kau bicara apa sih? Aku baru saja membangun menara—”

“Tempat ini jebakan.”

Dia tidak menjawab sampai kuguncang lagi. “Apa?”

“Dengar. Dunia Bawah. Misi kita!”

“Oh, ayolah, Percy. Beberapa menit lagi.”

“Annabeth, ada orang-orang yang sudah berada di sini sejak tahun 1977. Anak-anak yang nggak pernah bertambah tua. Begitu masuk, kita akan tinggal selamanya.”

“Lalu?” tanyanya. “Bisakan kau membayangkan tempat yang lebih asyik?”

Aku mencengkeram pergelangan tangannya dan menyentakkannya dari permainan itu.

“Hei!” Dia menjerit dan memukulku, tetapi orang lain bahkan tak mau repot menoleh. Mereka terlalu sibuk.

Aku memaksanya menatap mataku langsung. “Kataku, “Laba-laba. Laba-laba besar yang berbulu.”

Itu menyentakkannya. Penglihatannya menjernih. “Demi dewa-dewa,” katanya. “Berapa lama kita—”

“Nggak tahu, tapi kita harus mencari Grover.”

Kami mencari, dan menemukan dia masih bermain Rusa Pemburu Virtual.

“Grover!” kami berdua berteriak.

Dia berkata, “Matilah, manusia! Matilah, pencemar jahat yang bodoh!”

“Grover!”

Dia mengarahkan senapan plastik itu kepadaku dan mulai menembak, seolah-olah aku hanya salah satu gambar di layar.

Aku menoleh kepada Annabeth, dan kami bersama-sama memegang lengan Grover dan menyeret dia pergi. Sepatu terbangnya menjadi aktif dan mulai menarik-narik kakinya ke arah lain sementara dia berteriak, “Nggak mau! Aku baru sampai ke level baru! Nggak!”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca