Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

“Kita nggak bisa memakai telepon, kan?”

“Maksudku bukan dengan telepon.”

Kami keluyuran di alun-alun sekitar setengah jam, meskipun aku tak tahu apa yang dicari Annabeth. Udara kering dan panas, yang terasa aneh setelah kelembapan St. Louis. Ke mana pun kami membelok, Pegunungan Rocky seolah-olah menatapku, bagaikan ombak pasang yang akan berdebur ke kota.

Akhirnya, kami menemukan tempat cuci mobil swalayan. Kami membelok ke bilik yang terjauh dari jalan, sambil memasang mata kalau-kalau ada mobil patroli. Kami tiga remaja yang luntang-lantung di tempat cuci mobil tanpa mobil; polisi mana pun yang cukup pintar tentu menyimpulkan bahwa kami sedang membuat onar.

“Apa persisnya yang akan kita lakukan??” tanyaku, sementara Grover mengambil semprotan.

“Tujuh puluh lima sen,” gerutunya. “Aku cuma punya dua keping 25 sen. Annabeth?”

“Jangan lihat aku,” katanya. “Gerbong restoran meludeskan uangku.”

Aku merogoh uang receh yang terakhir dan memberikan 25 sen kepada Grover. Itu menyisakan dua keping 10 sen dan satu drachma dari tempat Medusa.

“Bagus,” kata Grover. “Ini bisa kita lakukan dengan botol semprot, tentu saja, tetapi koneksinya tidak terlalu bagus, dan tanganku capek memompa.”

“Kau bicara paa sih?”

Dia memasukkan koin dan menyetel tombol ke KABUT HALUS. “I-M.”

“Instant messaging?”

“Iris-messaging,” Annabeth mengoreksi. “Dewi Pelangi Iris membawa pesan kepada para dewa. Kalau kita tahu cara memintanya, dan dia tak terlalu sibuk, dia juga mau membawa pesan untuk blasteran.”

“Kau memanggil dewi dengan semprotan air?”

Grover mengarahkan semprotan ke udara dan air mendesis keluar menjadi kabut putih yang tebal. “Kecuali kau tahu cara yang lebih mudah untuk membuat pelangi.”

Benar saja, cahaya sore tersaring melalui uap dan terurai menjadi warna-warni.

Annabeth menyodorkan tangan kepadaku. “Minta drachmanya.”

Aku menyerahkannya.

Dia mengangkat koin itu ke atas kepala. “Wahai dewi, terimalah persembahan kami.”

Dia melemparkan drachma itu ke pelangi. Koin itu menghilang dalam pendar keemasan.

“Bukit Blasteran,” Annabeth meminta.

Sesaat, tak terjadi apa-apa.

Lalu, aku melihat ladang stroberi melalui kabut itu, dan Selat Long Island di kejauhan. Kami tampaknya berada di teras Rumah Besar. Di langkan, seorang pemuda berdiri memunggungi kami, pemuda yang berambut warna pasir, bercelana pendek, dan berkemeja jingga. Dia memegang pedang perunggu dan tampaknya sedang menatap sesuatu di padang rumput lekat-lekat.

“Luke!” panggilku.

Dia berbalik, dengan mata membelalak. Aku berani sumpah dia berdiri satu meter di depanku melalui tabir kabut, tetapi aku hanya bisa melihat bagian tubuhnya yang tampak dalam pelangi.

“Percy!” Wajah bercodetnya menyeringai. “Apa itu Annabeth juga? Terpujilah dewa-dewa! Kalian nggak apa-apa?”

“Kami … eh … baik,” Annabeth terbata-bata. Dia sibuk merapikan kemejanya yang kotor, berusaha menyisir rambut kusut dari wajahnya. “Kami pikir—Chiron—maksudku—”

“Dia sedang di pondok.” Senyum Luke memudar. “Sedang ada masalah dengan pekemah. Dengar, apakah semua baik-baik saja? Grover baik?”

“Aku di sini,” seru Grover. Dia memegang semprotan ke satu sisi dan melangkah ke dalam garis pandang Luke. “Masalah apa?”

Saat itu sebuah mobil Lincoln Continental masuk ke tempat cuci mobil, stereonya memperdengarkan lagu hip-hop bersuara nyaring. Sementara mobil itu masuk ke bilik sebelah, bas dari subwoofer-nya bergetar keras, sampai-sampai trotoar berguncang.

“Chiron harus—suara berisik apa itu?” teriak Luke.

“Biar kubereskan!” Annabeth balas berteriak, tampak sangat lega karena punya alasan untuk keluar dari pandangan. “Grover, ayo!”

“Apa?” kata Grover. “Tapi—”

“Berikan semprotan itu kepada Percy dan ayo!” perintahnya.

Grover menggerutu soal anak perempuan lebih sulit dipahami daripada sang Oracle di delphi, lalu dia menyerahkan semprotan kepadaku dan mengikuti Annabeth.

Aku menyesuaikan slang, supaya aku dapat mempertahankan pelangi sambil tetap bisa melihat Luke.

“Chiron harus melerai perkemahan,” teriak Luke kepadaku mengatasi bunyi musik. “Keadaannya cukup tegang di sini, Percy. Kabar bocor tentang perselisihan Zeus-Poseidon. Kami masih belum tahu bagaimana caranya—mungkin bajingan yang memanggil anjing neraka itu. Sekarang pekemah mulai berpihak. Sepertinya bakal seperti Perang Troya lagi. Aphrodite, Ares, dan Apollo mendukung Poseidon, kurang-lebih. Athena mendukung Zeus.”

Aku menggigil, membayangkan pondok Clarisse akan memihak ayahku dalam hal apa pun. Di bilik sebelah, terdengar Annabeth dan seorang lelaki bertengkar, lalu volume musik mengecil secara drastis.

“Jadi, bagaimana status misimu?” Luke bertanya. “Chiron pasti menyesal, tak sempat mengobrol denganmu sekarang.”

Aku menceritakan hampir semuanya, termasuk mimpiku. Senang sekali rasanya melihat dia, merasa seperti aku kembali di perkemahan meskipun hanya beberapa menit. Aku sampai tak merasa berapa lama aku berbicara sampai alarm berbunyi di mesin semprot. Kusadari aku hanya punya waktu satu menit sebelum air mati.

“Andai aku bisa di sana,” kata Luke. “Sayang, kami tak bisa banyak membantu dari sini, tetapi dengar … pasti Hades yang mencuri petir asali itu. Dia hadir di Olympus pada titik balik matahari musim dingin. Aku yang memandu karyawisata dan kami melihat dia.”

“Tapi kata Chiron, dewa tak bisa mengambil benda ajaib dewa lain secara langsung.”

“Benar juga,” kata Luke, tampak risau. “Tapi … Hades punya helm kegelapan. Bagaimana mungkin orang lain bisa menyelinap ke ruang singgasana dan mencuri petir asali? Orangnya harus tidak kelihatan.”

Kami berdua diam, sampai Luke tampaknya menyadari perkataannya.

“Eh,” dia memprotes. “Maksudku bukan Annabeth. Dia dan aku sudah lama kenal. Dia tak mungkin … Maksudku, dia sudah seperti adik bagiku.”

Aku bertanya-tanya apakah Annabeth menyukai sebutan adik itu. Di bilik di sebelah kami, musik berhenti sama sekali. Seorang lelaki menjerit ketakutan, pintu-pintu mobil dibanting, dan mobil Lincoln itu keluar dari tempat cuci mobil.

“Sebaiknya kau periksa ada masalah apa itu,” kata Luke. “Eh, kau memakai sepatu terbang itu, kan? Perasaanku lebih enak kalau aku tahu sepatu itu bermanfaat bagimu.”

“Oh … eh, iya!” Aku berusaha tidak terdengar seperti pembohong yang bersalah. “Ya, sepatunya bermanfaat.”

“Benar?” Dia menyeringai. “Ukurannya pas?”

Airnya mati. Kabut mulai menguap.

“Jaga dirimu di Denver,” kata Luke, suaranya semakin sayup. “Dan bilang pada Grover, kali ini akan lebih baik! Tak akan ada yang berubah menjadi pohon pinus asalkan dia—”

Tetapi, kabut itu hilang, dan bayangan Luke memudar hingga hilang. Aku berdiri sendirian di bilik cuci mobil yang kosong dan basah.

Annabeth dan Grover muncul dari tikungan sambil tertawa, tetapi berhenti ketika melihat wajahku. Senyum Annabeth memudar. “Apa yang terjadi, Percy? Apa kata Luke?”

“Nggak banyak,” aku berbohong, perutku terasa sekosong pondok Tiga Besar. “Ayo, kita cari makan.”

* * *

Beberapa menit kemudian kami sudah duduk di sebuah bilik di restoran krom yang berkilap. Di sekeliling kami, keluarga-keluarga menyantap burger dan minum susu, serta soda.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca