Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

Grover mengangkat bahu. “Asalkan di sana ada toko camilan tanpa monster.”

* * *

Gateway Arch terletak sekitar satu setengah kilometer dari stasiun kereta api. Sore hari begitu, antrean masuknya tidak terlalu panjang. Kami berselap-selip melalui museum bawah tanah, melihat-lihat pedati beratap dan rongsokan lain dari tahun 1800-an. Tidak terlalu mengasyikkan, tetapi Annabeth terus menceritakan berbagai fakta menarik tentang cara Gateway Arch dibangun, dan Grover terus memberiku permen jelly bean, jadi aku cukup menikmati.

Namun, aku terus mengedarkan pandangan, memerhatikan orang-orang yang mengantre. “Kau mencium sesuatu?” bisikku kepada Grover.

Dia mengeluarkan hidungnya dari kantor permen jelly bean cukup lama untuk mengendus. “Bawah tanah,” katanya jijik. “Udara bawah tanah selalu berbau seperti monster. Mungkin tak berarti apa-apa.”

Tetapi, ada yang terasa aneh bagiku. Aku mendapat firasat, kami sebaiknya tidak berada di sini.

“Teman-teman,” kataku. “Kalian tahu kan lambang-lambang kekuasaan dewa?”

Annabeth sedang membaca alat konstruksi yang digunakan untuk membangun Gateway Arch, tetapi dia menoleh. “Iya, kenapa?”

“Nah, Hades—”

Grover berdeham. “Kita sedang berada di tempat umum …. Pasti yang kaumaksud adalah teman kita di lantai bawah?”

“Eh, iya,” kataku. “Teman kita di lantai jauh di bawah. Bukankah dia punya topi seperti topi Annabeth?”

“Maksudmu, Helm Kegelapan,” kata Annabeth. “Iya, itu lambang kekuasaan-nya. Aku melihat helm itu di sebelah kursinya pada rapat dewan titik balik matahari musim dingin.”

“Dia hadir di sana?” tanyaku.

Annabeth mengangguk. “Satu-satunya waktu dia diperbolehkan berkunjung ke Olympus—hari tergelap setiap tahun. Tapi, helmnya jauh lebih sakti daripada topi tak kasat mataku, kalau yang kudengar benar …”

“Dengan helm itu, dia bisa menjadi kegelapan,” Grover membenarkan. “Dia bisa meleleh ke dalam bayangan atau menembus tembok. Dia tak bisa disentuh, atau dilihat, atau didengar. Dan dia bisa memancarkan rasa takut yang begitu kuat, sampai-sampai kau bisa menjadi gila atau jantungmu berhenti. Menurutmu, kenapa semua makhluk rasional takut pada kegelapan?”

“Tapi, kalau begitu … bagaimana caranya kita bisa tahu, bahwa dia sekarang nggak berada di sini, mengamati kita?” tanyaku.

Annabeth dan Grover bertukar pandang.

“Kita nggak mungkin tahu,” kata Grover.

“Trims, sangat menghibur,” kataku. “Masih punya permen biru?”

Aku sudah hampir berhasil menguasai rasa gugup ketika kulihat lift kecil mungil yang akan kami tumpangi ke puncak Gateway Arch. Gawat, pikirku. Aku benci tempat sempit. Aku bisa gila.

Kami terjepit di dalam lift oleh seorang wanita gembrot dan anjingnya, seekor Chihuahua berkalung batu diamante. Kusimpulkan bahwa anjing itu mungkin Chihuahua yang membantu orang buta, karena para penjaga tidak menyinggung-nya sama sekali.

Kami mulai naik, di dalam Gateway Arch. Aku belum pernah naik lift yang bergerak melengkung, dan perutku tak terlalu menyukainya.

“Tidak bersama orangtua?” tanya perempuan gembrot itu.

Matanya seperti manik-manik; giginya runcing-runcing dan bernota kopi; topi jins-nya berkelepai, dan pakaian jinsnya yang begitu berlekuk-lekuk, sehingga dia mirip balon jins biru.

“Mereka di bawah,” kata Annabeth. “Takut ketinggian.”

“Oh, kasihan.”

Chihuahua itu menggeram. Kata perempuan itu, “Bocah, jangan nakal.” Anjing itu bermata manik-manik seperti miliknya, cerdas dan jahat.

Kataku, “Bocah. Itu namanya?”

“Bukan,” kata perempuan itu.

Dia tersenyum, seolah-olah itu menjelaskan segalanya.

Di puncak Gateway Arch, dek observasi mengingatkanku pada kaleng timah yang diberi karpet. Berbaris-baris jendela kecil di satu sisi menghadap ke kota dan di sisi lain menghadap sungai. Pemandangannya lumayan, tetapi kalau ada yang lebih tidak kusukai daripada tempat sempit, itu adalah tempat sempit setinggi 180 meter. Sebentar saja, aku sudah ingin pulang.

Annabeth terus berbicara soal penopang struktur, dan bahwa dia lebih suka kalau jendelanya lebih besar, dan ingin merancang lantai tembus pandang. Dia mungkin bisa sampai berjam-jam di sini, tapi untungnya si penjaga mengumum-kan bahwa dek observasi akan ditutup beberapa menit lagi.

Aku menggiring Grover dan Annabeth ke pintu keluar, memasukkan mereka ke dalam lift. Aku sendiri baru akan masuk ketika kusadari sudah ada dua wartawan lain di dalam. Tak ada tempat buatku.

Si penjaga berkata, “Lift berikutnya, Nak.”

“Kami saja yang keluar,” kata Annabeth. “Kai akan menemanimu menunggu.”

Tetapi, itu akan mengacaukan semua orang dan membuang waktu lebih banyak lagi, jadi kukatakan, “Nggak apa-apa kok. Sampai ketemu di bawah.”

Grover dan Annabeth tampak gugup, tetapi mereka membiarkan pintu lift bergeser tertutup. Lift mereka menghilang menuruni lengkungan.

Sekarang yang masih berada di dek observasi tinggal aku, seorang bocah bersama orangtuanya, si penjaga, dan si wanita gembrot yang membawa Chihuahua.

Aku tersenyum kikuk kepada si wanita gembrot. Dia balas tersenyum, lidahnya yang bercabang bergerak-gerak di antara gigi.

Tunggu sebentar.

Lidah bercabang?

Sebelum aku sempat memutuskan apakah barusan aku benar-benar melihat itu, Chihuahua-nya melompat turun dan mulai menyalak kepadaku.

“Nah-nah, Anak Manis,” kata wanita itu. “Ini kan bukan waktu yang tepat? Di sini ada orang-orang baik.”

“Anjing!” kata si anak kecil. “Lihat, ada anjing!”

Orangtuanya menahannya.

Chihuahua itu memamerkan gigi kepadaku, buih menetes-netes dari bibirnya yang hitam.

“Baiklah, Nak,” kata wanita gembrot itu sambil menghela napas. “Kalau kau bersikeras.”

Es mulai terbentuk di perutku. “Eh, Ibu baru menyebut Chihuahua itu anak?”

“Chimera, Sayang,” si wanita gembrot itu mengoreksi. “Bukan Chihuahua. Memang mudah tertukar.”

Dia menggulung lengan baju jins, menyingkapkan kulit lengannya yang berwarna hijau bersisik. Ketika dia tersenyum, kulihat bahwa giginya taring semua. Pupil matanya merupakan celah pipih, seperti mata reptil.

Chihuahua itu menggonggong lebih keras, dan dengan setiap gonggongan, tubuhnya membesar. Pertama hingga sebesar anjing Doberman, lalu sebesar singa. Gonggongan itu menjadi auman.

Bocah kecil itu menjerit. Orangtuanya menariknya ke arah pintu keluar, langsung ke arah si penjaga, yang berdiri mematung, menganga melihat monster itu.

Chimera itu sekarang begitu besar, sehingga punggungnya menyentuh atap. Ia memiliki kepala singa dengan surai yang bermandikan darah, tubuh dan kaki kambing raksasa, ekor berupa ular derik diamondback sepanjang tiga meter yang tumbuh dari pantatnya. Kalung anjing diamante masih tergantung di lehernya, dan peneng anjing yang sebesar piring sekarang mudah dibaca: CHIMERA—BUAS, BERNAPAS API, BERACUN—JIKA DITEMUKAN, HUBUNGI TARTARUS—PESAWAT 954.

Kusadari bahwa aku bahkan belum membuka tutup pedangku. Tanganku mati rasa. Aku berdiri sejauh tiga meter dari moncong Chimera yang berdarah-darah. Aku tahu bahwa begitu aku bergerak, makhluk itu akan menerkam.

Si wanita ular berdesis, mungkin sebenarnya suara tawa. “Kau semestinya tersanjung, Percy Jackson. Raja Zeus jarang mengizinkanku menguji seorang pahlawan dengan salah satu anakku. Karena akulah Induk Monster, Echidna yang mengerikan!”

Aku menatapnya. Yang terpikir olehku hanyalah mengatakan: “Bukannya echidna itu nama semacam pemakan semut?”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca