Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

* * *

Uang hadiah yang kami terima karena mengembalikan Gladiola si pudel hanya cukup untuk membeli karcis hingga ke Denver. Kami tak berhasil mendapat tempat di gerbong tidur, jadi kami tidur di kursi masing-masing. Leherku menjadi kaku. Aku berusaha tidak mengiler saat tidur, karena Annabeth duduk tepat di sebelahku.

Grover terus mendengkur dan mengembik, membuatku terbangun. Sekali waktu dia lasak dan kaki palsunya jatuh. Aku dan Annabeth harus memasangkan-nya lagi sebelum ada penumpang lain yang memerhatikan.

“Jadi,” tanya Annabeth kepadaku, setelah kami menyesuaikan sepatu Grover. “Siapa yang meminta bantuanmu?”

“Apa maksudmu?”

“Barusan, waktu kau tidur, kau mengigau, ‘Aku tak mau membantumu.’ Kau bermimpi tentang siapa?”

Aku enggan berkata apa-apa. Ini kedua kalinya aku bermimpi tentang suara jahat dari lubang. Tapi mimpi itu sangat menggangguku, jadi akhirnya kuceritakan kepada Annabeth.

Gadis itu diam lama sekali. “Kedengarannya tak seperti Hades. Dia selalu tampil di atas singgasana hitam, dan dia tak pernah tertawa.”

“Dia menawarkan ibuku sebagai imbalan. Siapa lagi yang bisa berbuat begitu?”

“Ya mungkin juga sih … kalau dia bermaksud, ‘Bantu aku naik dari Dunia Bawah’. Benar-benar ingin berperang dengan para dewa Olympia. Tapi, buat apa memintamu membawakan petir kalau dia sudah memegangnya?”

Aku menggeleng, menyayangkan bahwa aku tak tahu jawabannya. Aku memikirkan cerita Grover, bahwa para Erinyes sepertinya sedang mencari sesuatu di bus.

Di mana itu? Di mana?

Mungkin Grover merasakan emosiku. Dia mendengus dalam tidurnya, mengigaukan sesuatu tentang sayur, dan berpaling.

Annabeth membetulkan letak topinya agar menutupi tanduk. “Percy, Hades itu nggak bisa diajak tawar-menawar. Kau tahu, kan? Dia penipu, kejam, dan tamak. Aku nggak peduli bahwa Makhluk Baik bawahannya kali ini tidak terlalu agresif—”

“Kali ini?” tanyaku. “Maksudmu, kau pernah bertemu mereka?”

Tangan Annabeth naik ke leher. Dia memainkan manik-manik putih berglasir yang dilukis gambar pohon pinus, salah satu tanda akhir kemah musim panas yang terbuat dari tanah liat. “Pokoknya, aku nggak suka si Penguasa Orang Mati. Kau jangan sampai tergoda membuat perjanjian demi ibumu.”

“Kau sendiri bakal berbuat apa, andai ayahmu yang dalam posisi itu?”

“Itu gampang,” katanya. “Kubiarkan saja dia membusuk.”

“Kau tak serius, kan?”

Mata kelabu Annabeth menatapku lekat-lekat. Air mukanya sama seperti yang tampak di hutan di perkemahan, ketika dia menghunus pedang melawan si anjing neraka. “Ayahku membenciku sejak aku lahir, Percy,” katanya. “Dia nggak ingin punya anak. Sewaktu mendapatkan aku, dia meminta Athena mengambilku kembali dan membesarkanku di Olympus karena dia terlalu sibuk dengan pekerjaan. Athena nggak terlalu senang dengan permintaan itu. Dia memberi tahu ayahku bahwa pahlawan harus dibesarkan oleh orangtua manusianya.”

“Tapi bagaimana … maksudku, kau tentu nggak dilahirkan di rumah sakit ….”

“Aku muncul di depan pintu rumah ayahku, dalam buaian emas, dibawa turun dari Olympus oleh Zephyr si Angin Barat. Kau pasti mengira ayahku mengenang itu sebagai mukjizat kan? Barangkali dia mengambil foto digital atau apa kek. Tapi dia selalu membicarakan kedatanganku seolah-olah itu hal yang paling merepotkan yang pernah terjadi padanya. Waktu aku berumur lima tahun, dia menikah dan melupakan Athena sama sekali. Dia mendapat istri manusia ‘biasa’, dan punya dua anak manusia ‘biasa’, dan berusaha berpura-pura aku nggak ada.”

Aku menatap keluar jendela kereta api. Lampu sebuah kota yang lelap merayap lewat. Aku ingin menghibur Annabeth, tapi tak tahu caranya.

“Ibuku menikahi lelaki yang benar-benar menyebalkan,” aku bercerita. “Kata Grover, dia melakukan itu untuk melindungiku, untuk menyembunyikanku dalam bau keluarga manusia. Mungkin itu yang dipikirkan ayahmu.”

Annabeth terus memain-mainkan kalung. Dia menjepit cincin emas universitas yang tergantung bersama manik-manik. Terpikir olehku bahwa cincin itu pasti milik ayahnya. Aku heran juga, kenapa dia memakainya kalau dia begitu membenci ayahnya.

“Dia nggak peduli padaku,” katanya. “Istrinya—ibu tiriku—memper-lakukanku seperti anak aneh. Dia nggak memperbolehkan aku bermain dengan anak-anaknya. Ayahku menurut saja. Setiap kali terjadi sesuatu yang berbahaya—kau tahu, sesuatu yang berkaitan dengan monster—mereka berdua menatapku dengan sebal, seolah-olah berkata, ‘Berani-beraninya kau membahayakan keluarga kami.’ Akhirnya, aku paham. Aku tidak diinginkan. Aku minggat.”

“Berapa umurmu waktu itu?”

“Sama seperti saat aku mulai masuk perkemahan. Tujuh.”

“Tapi … kau tak mungkin bisa sampai jauh-jauh ke Bukit Blasteran sendirian.”

“Aku memang nggak sendirian. Athena mengawasiku, membimbingku ke orang yang menolong. Aku mendapat dua teman tak terduga yang mengurusku, setidaknya untuk sementara waktu.”

Aku ingin menanyakan apa yang terjadi, tapi Annabeth tampaknya tenggelam dalam kenangan duka. Jadi, aku mendengarkan suara Grover mendengkur dan memandang keluar jendela kereta, sementara padang-padang gelap Ohio melaju lewat.

* * *

Menjelang akhir hari kedua kami di kereta api, 13 Juni, delapan hari sebelum titik balik matahari musim panas, kami melewati beberapa bukit keemasan dan menyeberangi Sungai Mississippi, memasuki St. Louis.

Annabeth menjulurkan leher untuk melihat Gateway Arch, yang bagiku mirip pegangan tas belanja raksasa yang menempel pada kota itu.

“Aku ingin melakukan itu,” Annabeth menghela napas.

“Apa?” tanyaku.

“Membangun sesuatu seperti itu. Kau pernah melihat Parthenon, Percy?”

“Cuma di foto.”

“Kapan-kapan aku akan melihatnya langsung. Aku akan membangun monumen terbesar bagi dewa-dewa. Sesuatu yang bertahan seribu tahun.”

Aku tertawa. “Kau? Jadi arsitek?”

Entah kenapa, aku merasa itu lucu. Membayangkan Annabeth berusaha duduk diam dan menggambar seharian.

Pipinya merona. “Iya, jadi arsitek. Athena mengharapkan anak-anaknya mencipta, bukan hanya menghancurkan seperti seorang dewa gempa bumi yang bisa kusebutkan namanya.”

Aku mengamati air cokelat Sungai Mississippi yang bergolak di bawah.

“Maaf,” kata Annabeth. “Aku jahat barusan.”

“Apa kita nggak bisa bekerja sama?” aku memohon. “Maksudku, apakah Athena dan Poseidon nggak pernah bekerja sama?”

Annabeth harus mengingat-ingat. “Pernah sih … kereta perang,” dia berkata hati-hati. “Ibuku menciptakannya, tetapi Poseidon yang menciptakan kuda dari puncak ombak. Jadi, mereka harus bekerja sama untuk menjadikannya lengkap.”

“Berarti, kita juga bisa bekerja sama. Iya, kan?”

Kami melaju memasuki kota, sementara Annabeth mengamati Gateway Arch menghilang di belakang sebuah hotel.

“Barangkali bisa juga,” katanya akhirnya.

Kami masuk ke stasiun Amtrak di tengah kota. Menurut interkom, kami punya waktu singgah tiga jam sebelum berangkat ke Denver.

Grover menggeliat. Bahkan sebelum benar-benar sadar, dia berkata, “Makanan.”

“Ayo, Bocah Kambing,” kata Annabeth. “Ayo kita cuci mata.”

“Cuci mata?”

“Gateway Arch,” katanya. “Ini mungkin satu-satunya kesempatanku naik ke puncak. Kau mau ikut, nggak?”

Aku dan Grover bertukar pandang.

Aku ingin menolak, tetapi kupikir kalau Annabeth mau ke sana, kami jelas tidak mungkin membiarkan dia pergi sendirian.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca