Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

Bruk!

“Aduh!” teriak Medusa, rambut ularnya mendesis dan meludah-ludah.

Tepat di sebelahku, suara Annabeth berkata, “Percy!”

Aku melompat begitu tinggi, kakiku hampir lebih tinggi dari patung jembalang. “Aduh! Jangan mengagetkan begitu!”

Annabeth mencopot topi Yankees dan menjadi terlihat. “Kau harus memenggal kepalanya.”

“Apa? Kau gila? Ayo kita kabur.”

“Medusa itu berbahaya. Dia jahat. Aku ingin membunuhnya sendiri, tapi ….” Annabeth menelan, seolah-olah akan mengakui hal yang sulit. “Tapi senjatamu lebih bagus. Lagi pula, aku tak mungkin bisa mendekatinya. Dia pasti mencincangku karena ibuku. Kau—kau punya peluang.”

“Apa? Aku nggak bisa—”

“Dengar, kau mau dia mengubah orang tak bersalah lain menjadi patung?”

Dia menunjuk sepasang patung kekasih, lelaki dan perempuan yang saling berpelukan, diubah menjadi batu oleh monster itu.

Annabeth menyambar bola ramalan hijau dari tiang dekat situ. “Perisai yang dipoles sebenarnya lebih bagus,” Dia mempelajari bola itu dengan kritis. “Kecembungan akan menimbulkan distorsi. Ukuran pantulannya akan berbeda dengan faktor—”

“Pakai bahasa yang normal dong!”

“Pakai kok!” Dia melontarkan bola kaca itu kepadaku. “Pokoknya, lihat dia melalui kaca ini. Jangan melihat dia langsung.”

“Teman-teman!” teriak Grover di suatu tempat di atas kami. “Kurasa dia pingsan!”

“Grrrrrr!”

“Nggak ding,” Grover mengoreksi. Dia menukik untuk memukul lagi dengan dahan pohon.

“Cepat,” kata Annabeth. “Penciuman Grover bagus, tetapi dia nanti akan menabrak juga.”

Aku mengeluarkan pena dan melepas tutupnya. Pedang perunggu Riptide memanjang di tanganku.

Aku mengikuti bunyi mendesis dan meludah dari rambut Medusa.

Aku menjaga agar mataku terus melekat pada bola ramal, supaya hanya melihat pantulan Medusa, bukan Medusa sungguhan. Lalu, dalam kaca bernuansa hijau itu, dia terlihat.

Grover sedang menukik untuk memukulnya lagi dengan pentungan, tetapi kali ini dia terbang terlalu rendah. Medusa menyambar dahan itu dan menarik Grover hingga keluar jalur. Anak itu berguling di udara dan menabrak tangan beruang batu dengan “Aduh” yang menyakitkan.

Medusa hendak menerkamnya ketika aku berseru. “Hei!”

Aku mendekatinya. Ini tidak mudah dilakukan, sambil memegang pedang dan bola kaca sekaligus. Jika dia menyerang, aku akan sulit membela diri.

Tapi dia membiarkanku mendekat—enam meter, tiga meter.

Aku dapat melihat pantulan wajahnya sekarang. Pasti wajah itu tidak sejelek itu. Pasti pusaran hijau dalam bola ramal mendistorsinya, sehingga wajahnya tampak lebih buruk.

“Kau tak akan tega menyakiti nenek tua, Percy,” bujuknya. “Aku tahu, kau tak tega.”

Aku ragu, terpana oleh wajah yang kulihat terpantul di kaca—mata yang tampak membakar menembus warna hijau, membuat lenganku melemah.

Dari balik beruang semen, Grover mengerang, “Percy, jangan dengar dia!”

Medusa terkekeh-kekeh. “Terlambat.”

Dia menyerangku dengan cakarnya.

Aku mengayunkan pedang ke atas, mendengar plas! yang memuakkan, lalu desis seperti angin yang bergegas keluar gua—suara monster tercerai-berai.

Sesuatu jatuh ke tanah di sebelah kakiku. Sekuat tenaga aku menahan diri agar tak melihat. Terasa cairan hangat merembes ke kaus kaki, kepala ular-ular kecil sekarat menarik-narik tali sepatuku.

“Idih,” kata Grover. Matanya masih terpejam erat-erat, tetapi kulihat dia dapat mendengar benda itu menggelegak dan mengepul. “Idih banget.”

Annabeth menghampiriku, matanya menatap langit. Dia memegang cadar hitam Medusa. Katanya, “Jangan bergerak.”

Dengan amat-sangat berhati-hati, tanpa melihat ke bawah, dia berlutut dan menyampirkan kain hitam pada kepala monster itu, lalu mengangkatnya. Kepala itu masih menetes-neteskan cairan hijau.

“Kau tak apa-apa?” tanyanya kepadaku, suaranya gemetar.

“Ya,” aku memutuskan, meskipun rasanya mau muntah burger keju daging dobel. “Kenapa … kenapa kepalanya nggak menguap?”

“Begitu kau memenggalnya, kepala ini menjadi rampasan perang,” katanya. “Sama seperti tanduk Minotaurusmu itu. Tapi bungkus kepalanya jangan dibuka. Tatapannya masih bisa mengubahmu menjadi batu.”

Grover mengerang sambil memanjat turun dari patung beruang. Ada bilur besar di keningnya. Topi rasta hijaunya menggantung dari salah satu tanduk kambing kecilnya, dan kaki palsunya terlepas dari kaki kambingnya. Sepatu ajaibnya itu terbang tanpa arah di sekeliling kepalanya.

“Sang Superman,” kataku. “Mantap.”

Dia berhasil menyeringai malu-malu. “Tapi benar-benar nggak menyenangkan. Eh, bagian memukulnya dengan dahan, itu asyik. Tapi menabrak beruang beton. Nggak banget.”

Dia menyambar sepatunya dari udara. Aku menutup kembali pedangku. Bersama-sama, kami bertiga tersaruk-saruk ke gudang.

Kami menemukan beberapa kantong plastik tua di belakang meja camilan dan membungkus kepala Medusa dua kali. Kami meletakkannya di atas meja tempat kami makan malam, dan duduk di sekelilingnya, terlalu lelah untuk berbicara.

Akhirnya aku berkata, “Jadi, berkat Athena, monster ini ada?”

Annnabeth mendelikku dengan sebal. “Sebenarnya, berkat ayahmu. Kau lupa, ya? Medusa itu pacar Poseidon. Mereka memutuskan untuk bertemu di kuil ibuku. Itu sebabnya Athena mengubahnya menjadi monster. Medusa dan kedua saudarinya yang membantunya masuk ke kuil, mereka menjadi ketiga gorgon. Itu sebabnya Medusa ingin mencincangku, tetapi dia ingin mengabadikanmu sebagai patung yang bagus. Dia masih naksir ayahmu. Kau mungkin mengingatkan dia pada ayahmu.”

Wajahku terbakar. “Oh, jadi sekarang aku yang salah kita bertemu Medusa.”

Annabeth menegakkan tubuh. Sambil meniru suaraku, dengan tidak mirip, dia berkata, “’Cuma foto saja, Annabeth. Apa ruginya?’”

“Sudan dong,” kataku. “Nyebelin banget sih.”

“Kau yang menyebalkan.”

“Kau—”

“Hei!” sela Grover. “Kalian berdua membuatku pusing, padahal bangsa satir semestinya nggak pernah merasa pusing. Mau kita apakan kepalanya?”

Aku menatap benda itu. Seekor ular kecil menggelantung dari lubang di plastik. Kata-kata yang tercetak di sisi kantong berbunyi: KAMI MENGHARGAI KUNJUNGAN ANDA!

Aku marah, tak hanya pada Annabeth atau ibunya, tetapi pada semua dewa untuk misi ini, karena menjadikan kami terempas dari jalan dan terlibat dalam dua pertarungan besar pada hari pertama keluar dari perkemahan. Kalau begini terus, kami tak mungkin bisa sampai di L.A. hidup-hidupl, apa lagi sebelum titik balik matahari musim panas.

Apa kata Medusa tadi?

Jangan mau menjadi pion para dewa Olympia, Sayang. Lebih baik kau menjadi patung saja.

Aku bangkit. “Aku pergi sebentar.”

“Percy,” Annabeth memanggilku. “Kau mau apa—”

Aku mencari-cari di belakang gudang sampai menemukan kantor Medusa. Pembukuannya menampilkan enam penjualan terakhirnya, semua kiriman ke Dunia Bawah untuk menghiasi taman Hades dan Persephone. Menurut salah satu tagihan pengangkutan, alamat penagihan Dunia Bawah adalah DOA Recording Studios, West Hollywood, California. Kulipat tagihan itu dan kujejalkan di saku.

Di mesin kasir aku menemukan beberapa lembar dua puluh dolar, beberapa drachma emas, dan beberapa label kemasan untuk Titipan Kilat Semalam Hermes, masing-masing disertai kantong kulit kecil untuk diisi koin. Aku menggeledah sisa kantor sampai menemukan kotak yang berukuran pas.

Aku kembali ke meja piknik, mengemas kepala Medusa, dan mengisi label pengiriman:

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.