Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

Bu Dodds melecutkan cambuk sehingga melingkari tanganku yang memegang pedang, sementara Erinyes di kedua sisiku menerkamku.

Tanganku terasa dibungkus lelehan timah panas, tetapi aku berhasil mempertahankan Riptide. Aku menyodok Erinyes di sebelah kiri dengan gagang pedang, membuatnya terjengkang di kursi. Aku berbalik dan menyabet Erinyes di sebelah kanan. Begitu pedang mengenai lehernya, dia menjerit dan meledak menjadi debu. Annabeth memeluk Bu Dodds dari belakang dan menyentakkannya ke belakang sementara Grover merebut cambuk dari tangannya.

“Aduh!” jerit Grover. “Aduh! Panas! Panas!”

Erinyes yang kutonjok dengan gagang tadi menyerangku lagi, dengan cakar siap-siaga, tetapi aku mengayunkan Riptide dan dia pecah seperti piñata.

Bu Dodds berusaha melepaskan diri dari Annabeth di punggungnya. Dia menendang, mencakar, mendesis, dan menggigit. Tetapi, Annabeth terus bertahan sementara Grover mengikat kaki Bu Dodds dengan cambuknya sendiri. Akhirnya mereka mendorongya mundur ke lorong. Bu Dodds berusaha bangkit, tetapi tak ada ruang untuk mengepakkan sayap kelelawarnya, jadi dia terus terjatuh-jatuh.

“Zeus akan menghancurkanmu!” janjinya. “Hades akan menggenggam jiwamu!”

“Braccas meas vescimini!” teriakku.

Aku tak tahu dari mana asalnya bahasa Latin itu. Kayaknya artinya adalah “Rasakan!”

Guntur mengguncang bus. Bulu kudukku berdiri.

“Keluar!” teriak Annabeth kepadaku. “Sekarang!” Aku tak perlu disuruh dua kali.

Kami bergegas keluar dan menemukan penumpang lain mondar-mandir dengan bingung, bertengkar dengan sopir, atau berlari berputar-putar sambil berteriak, “Kita akan mati!” Seorang wisatawan berkemeja Hawaii yang membawa kamera mengambil fotoku sebelum aku sempat menutup pedang.

“Tas kita!” Grover menyadari. “Tas kita tertinggal—”

BLAAAAAAM!

Jendela bus meledak sementara penumpang berlari untuk berlindung. Petir mengoyakkan kawah besar di atap, tetapi lolongan marah dari dalam menandakan bahwa Bu Dodds belum mati.

“Lari!” kata Annabeth. “Dia memanggil bala bantuan! Kita harus pergi dari sini!”

Kami masuk ke dalam hutan sementara hujan turun deras, bus terbakar di belakang kami, dan hanya kegelapan yang tampak di depan kami.

11. Kami Mengunjungi Pusat Belanja Taman Patung

Dalam satu segi, enak rasanya mengetahui bahwa dewa-dewa Yunani itu ada, karena ada yang bisa disalahkan kalau terjadi masalah. Misalnya, kalau kita sedang berjalan menjauhi sebuah bus yang baru saja diserang oleh nenek monster dan diledakkan oleh petir, ditambah lagi hujan turun, sebagian besar orang mungkin bahwa itu hanya nasib sial; kalau kita anak blasteran, kita mengerti bahwa ada suatu kekuatan dewata yang memang berusaha merusak harimu.

Jadi, begitulah kami, aku dan Annabeth dan Grover, berjalan di hutan di sepanjang tepi sungai New Jersey, pendar Kota New York menjadikan langit malam berwarna kuning di belakang kami, dan bau Sungai Hudson busuk menusuk hidung.

Grover menggigil dan mengembik, sangat ketakutan, mata kambingnya yang besar berubah menjadi berpupil pilih. “Tiga si Baik. Ketiga-tiganya sekaligus.”

Aku sendiri cukup syok. Ledakan jendela bus masih terngiang-ngiang di telingaku. Tapi Annabeth terus menarik kami maju, berkata “Ayo! Semakin jauh kita, semakin baik.”

“Semua uang kita ada di sana,” kuingatkan dia. “Makanan dan pakaian kita. Semuanya.”

“Yah, mungkin kalau kau tidak memutuskan untuk terjun ke pertempuran—”

“Kau ingin aku bagaimana? Membiarkan kalian terbunuh?”

“Aku nggak perlu kaulindungi, Percy. Tanpamu turun tangan, aku pasti baik-baik saja.”

“Diiris seperti roti lapis,” celetuk Grover, “tapi baik-baik saja.”

“Tutup mulut, Bocah Kambing,” kata Annabeth.

Grover mengembik sedih. “Kaleng timah … sekantong kaleng timah yang enak.”

Kami berkecipak-kecipuk di tanah becek, menembus pepohonan yang berpuntir-puntir jelek yang baunya seperti rendaman pakaian kelamaan.

Setelah beberapa menit, Annabeth menjajariku. “Dengar, aku ….” Suaranya menghilang. “Aku berterima kasih, kau kembali untuk menyelamatkan kami lagi, oke? Tindakanmu sangat pemberani.”

“Kita satu tim, kan?”

Dia diam selama beberapa langkah lagi. “Hanya saja, kalau kau mati … selain pasti nggak enak buatmu, itu berarti misi ini berakhir. Ini mungkin satu-satunya peluangku melihat dunia nyata.”

Badai guntur akhirnya berhenti. Pendar kota memudar di belakang kami, sehingga kami berada dalam kegelapan yang hampir gulita. Aku tak bisa melihat Annabeth sama sekali, selain kilau rambut pirangnya.

“Kau belum pernah meninggalkan Perkemahan Blasteran sejak umur tujuh tahun?” tanyaku.

“Belum … hanya untuk karyawisata pendek. Ayahku—”

“Dosen sejarah itu.”

“Ya. Tinggal di rumah ternyata nggak cocok buatku. Maksudku, Perkemahan Blasteran itulah rumahku.” Kata-katanya berhamburan keluar sekarang, seolah-olah dia takut dihentikan orang. “Di perkemahan, kita teurs-menerus berlatih. Dan itu memang keren, tetapi monster itu berada di dunia nyata. Di dunia nyata kita tahu apakah kita memang lihai atau tidak.”

Andai aku tidak mengenalnya, aku berani sumpah aku bisa mendengar keraguan dalam suaranya.

“Kau cukup lihai menggunakan pisau,” kataku.

“Benarkah?”

“Siapa pun yang bisa main kuda-kudaan dengan Erinyes, menurutku cukup lihai.”

Aku tak bisa melihat dengan jelas, tetapi kurasa dia mungkin tersenyum.

“Kau tahu,” katanya, “mungkin sebaiknya kukatakan … Ada yang aneh di bus tadi …”

Apa pun yang ingin dikatakannya tersela oleh tut-tut-tut melengking, seperti bunyi burung hantu yang disiksa.

“Hei, sulingku nggak rusak,” seru Grover. “Kalau aku bisa ingat lagu ‘cari jalan’, kita bisa keluar dari hutan ini!”

Dia meniupkan beberapa nada, tetapi lagunya tetap saja terdengar mirip lagu Hilary Duff.

Bukannya menemukan jalan, aku malah langsung menabrak pohon dan kepalaku benjol lumayan besar.

Tambah satu lagi daftar kekuatan super yang nggak kumiliki: penglihatan inframerah.

Setelah tersandung dan mengumpat dan pokoknya merasa sengsara setelah sekitar dua kilometer kemudian, aku mulai melihat cahaya di depan: warna-warni plang neon. Tercium bau makanan. Makanan goreng, berminyak, lezat. Kusadari bahwa aku belum pernah makan makanan sehat apa pun sejak aku tiba di Bukit Blasteran. Di sana kami hanya makan anggur, roti, keju, dan daging panggang tanpa lemak yang disiapkan oleh bangsa peri. Anak ini perlu burger keju daging dobel.

Kami terus berjalan sampai terlihat jalan dua jalur terbengkalai di antara pepohonan. Di seberangnya terdapat pompa bensin yang sudah tutup, papan iklan koyak untuk film 1990-an, dan satu toko yang buka, sumber lampu neon dan bau lezat itu.

Bukan restoran siap-saji seperti yang kuharapkan. Toko itu jenis toko barang aneh yang sering ada di tepi jalan, yang menjual patung flamingo untuk hiasan halaman, orang Indian kayu, beruang dari semen, dan barang-barang seperti itu. Gedung utamanya berupa gudang rendah yang panjang, dikelilingi berhektare-hektare patung. Aku tak mungkin bisa membaca tanda neon di atas gerbang. Bagi disleksiaku, bahasa Inggris biasa saja sudah susah dibaca, apalagi bahasa Inggris dalam lampu neon merah yang melingkar-lingkar.

Bagiku, tanda neon itu sepertinya berbunyi: PTSUA BIALNEA TMANA PTUANG BBII ME.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca