Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

“Kenapa muda sekali kau datang ke sini?”

Dia memutar-mutar cincin di kalungnya. “Bukan urusanmu.”

“Oh.” Aku berdiri diam dan rikuh selama semenit. “Jadi … aku bisa saja melenggang keluar dari sini sekarang kalau mau?”

“Itu sama saja bunuh diri, tapi bisa saja, dengan izin Pak D atau Chiron. Tapi mereka nggak akan member izin sampai akhir sesi musim panas kecuali ….”

“Kecuali?”

“Kau diberi misi. Tapi itu jarang terjadi. Kali terakhir …”

Suaranya menghilang. Dari nadanya. Aku bisa menebak, bahwa yang terakhir kali ini tidak berjalan lancar.

“Sewaktu di kamar sakit,” kataku, “waktu kau memberiku makan itu—”

“Ambrosia.”

“Ya. Kau menanyakan sesuatu tentang titik balik matahari musim panas.”

Bahu Annabeth menegang. “Jadi kau memang tahu sesuatu?”

“Nggak juga sih. Di sekolahku yang laam aku pernah mendengar Grover dan Chiron membicarakannya. Grover menyinggung titik balik matahari musim panas. Dia berkata seperti kita nggak punya banyak waktu, karena tenggat itu. Apa maksudnya?”

Annabeth mengepalkan tangan. “Andai aku tahu. Chiron dan para satir, mereka tahu, tapi nggak mau memberitahuku. Ada masalah di Olympus, sesuatu yang cukup besar. Terakhir kali aku ke sana, segalanya tampak begitu normal.”

“Kau pernah ke Olympus?”

“Beberapa anak pekemah tahunan—Luke dan Clarrise, dan aku, dan beberapa anak lain—kami berkaryawisata ke sana pada titik balik matahari musim dingin. Para dewa mengadakan musyawarah besar setiap tahun pada waktu itu.

“Tapi … bagaimana caranya kau ke sana?”

“Ya naik Kereta Api Long Island, dong. Turun di Stasiun Penn. Empire State Building, lift khusus ke lantai keenam ratus.” Dia menatapku seolah-olah dia yakin aku pasti sudah tahu ini. “Kau betulan orang New York, kan?”

“Iya, sih.” Sejauh yang aku tahu, hanya ada seratus dua lantai di Empire State Building, tetapi aku memutuskan tidak mengingatkan dia soal itu.

“Persis setelah kami berkunjung,” Annabeth melanjutkan, “cuaca menjadi aneh, seolah-olah para dewa mulai berkelahi. Sejak itu, aku beberapa kali tak sengaja mendengar para satir berbicara. Yang bisa kusimpulkan adalah ada sesuatu yang penting yang dicuri. Dan kalau sesuatu itu tidak kembali sebelum titik balik matahari musim panas, aka nada masalah. Waktu kau datang, aku sempat berharap … maksudku—Athena bisa rukun dengan siapa saja, kecuali Ares. Memang sih, dia juga bersaing dengan Poseidon. Tapi, maksudku, meskipun begitu, aku menyangka kita bisa bekerja sama. Kusangka kau tahu sesuatu.”

Aku menggeleng. Aku ingin sekali bisa membantu dia, tapi aku merasa terlalu lapar dan capek dan kewalahan secara mental untuk bertanya lagi.

“Aku harus mendapatkan misi,” gumam Annabeth kepada diri sendiri. “Aku nggak terlalu muda kok. Kalau saja mereka mau kasih tahu apa masalahnya ….”

Tercium aroma asap daging panggang yang berasal tak jauh dari situ. Annabeth rupanya mendengar perutku keruyukan. Dia menyuruhku ke pavilion makan, nanti dia menyusul. Kutinggalkan dia di dermaga, masih mengusap selusur pagar dengan jarinya seolah-olah sedang menggambar rencana perang.

* * *

Saat tiba di pondok sebelas, semua orang sedang mengobrol dan menggurau, menunggu makan malam. Untuk pertama kalinya kusadari bahwa sebagian besar pekemah itu memiliki bentuk wajah yang serupa: hidung tajam, alis melengkung ke atas, senyum jail. Mereka jenis anak-anak yang dipandang guru sebagai pembuat onar. Untungnya, tak ada yang terlalu memerhatikan aku saat aku berjalan ke tempatku di lantai dan mengempaskan diri bersama tanduk minotaurusku.

Si konselor, Luke, menghampiri. Dia juga memiliki kemiripan keluarga Hermes. Wajahnya dirusak oleh bekas luka pada pipi kanannya, tetapi senyumnya tetap utuh.

“Ketemu kantong tidur nih buatmu,” katanya. “Dan ini, kucurikan alat mandi dari toko perkemahan.”

Aku tidak tahu apakah dia bercanda tentang mencuri.

Kataku, “Trims.”

“Sama-sama.” Luke duduk di sampingku, bersandar pada dinding. “Hari pertama yang berat?”

“Aku nggak semestinya berada di sini,” katanya. “Aku bahkan nggak percaya ada dewa.”

“Ya,” katanya. “Kita semua juga mula-mula begitu. Dan setelah mulai percaya? Sama sekali nggak tambah mudah.”

Kegetiran dalam suaranya membuatku heran, karena Luke tampaknya orang yang cukup santai. Dia kelihatan seolah mampu mengatasi apa saja.

“Jadi, ayahmu Hermes?” tanyaku.

Dia mengeluarkan pisau lipat dari saku belakang, dan sesaat kusangka dia mau menikamku, tetapi dia hanya mengerik lumpur dari sol sandalnya. “Iya. Hermes.”

“Si utusan yang kakinya bersayap.”

“Itu dia. Utusan. Pengobatan. Pengembara, pedagang, pencuri. Siapa pun yang menggunakan jalan. Itulah sebabnya kau di sini, menikmati keramahan pondok sebelas. Hermes tidak pilih-pilih soal tamunya.”

Aku menyimpulkan bahwa Luke tidak bermaksud menyebutku sebagai bukan siapa-siapa. Dia cuma lagi banyak pikiran.

“Kau pernah bertemu ayahmu?” tanyaku.

“Sekali.”

Aku menunggu, karena pikirku, kalau dia ingin bercerita kepadaku, dia akan bercerita. Rupanya dia tidak ingin. Aku bertanya-tanya apakah kisahnya berkaitan dengan peristiwa yang menyebabkan dia bercodet.

Luke mengangkat kepala dan memaksakan diri tersenyum. “Jangan khawatir, Percy. Para pekemah di sini kebanyakan orang baik-baik. Toh kita semua keluarga besar kan? Kita saling mengurus.”

Dia tampaknya mengerti betapa kalut diriku, dan aku berterima kasih atas pengertiannya, karena anak yang lebih besar seperti dia—sekalipun dia konselor—biasanya menghindari anak ABG sepertiku. Tapi Luke menyambutku ke pondok. Dia bahkan mencuri alat mandi untukku, hal paling baik hati yang dilakukan orang untukku sehari ini.

Aku memutuskan untuk mengajukan pertanyaan besarku yang terakhir, yang mengusik benakku sepanjang sore. “Clarisse, dari Ares, bercanda denganku tentang ‘Tiga Besar’. Lalu Annabeth … dua kali, dia bilang aku mungkin ‘orangnya’. Katanya aku sebaiknya bicara kepada sang Oracle. Apa maksudnya sih?”

Luke melipat pisaunya. “Aku benci ramalan.”

“Apa maksudmu?”

Wajahnya berkerut di sekeliling codet. “Ringkasnya, aku pernah gagal dan merugikan semua orang. Dua tahun terakhir ini, sejak kegagalan perjalananku ke Taman Kaum Hesperides, Chiron belum pernah memberi misi lagi. Annabeth sudah gatal ingin keluar ke dunia. Dia menggerecoki Chiron terus, sampai Chiron akhirnya member tahu bahwa dia sudah tahu nasib Annabeth. Dia pernah mendapat ramalan dari sang Oracle. Dia nggak mau menceritakan seluruh ramalan itu kepada Annabeth, tapi katanya Annabeth belum ditakdirkan untuk menerima misi. Annabeth harus menunggu sampai … seseorang yang istimewa datang ke perkemahan.”

“Seseorang yang istimewa?”

“Jangan khawatir soal itu, Dik,” kata Luke. “Annabeth ingin menganggap setiap pekemah baru yang masuk ke sini adalah pertanda yang dia tunggu-tunggu itu. Nah, ayo, sudah waktunya makan malam.”

Begitu dia mengatakannya, sebuah trompet ditiup di kejauhan. Entah bagaimana, aku tahu trompet itu berbentuk kerang laut, meskipun aku belum pernah mendengar suaranya.

Luke berseru, “Sebelas, berbaris!”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca