Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

Annabeth melirik tanah dengan gugup, seolah-olah dia menduga tanah akan terbuka dan menelannya. “Nama mereka nggak boleh disebut-sebut, tahu. Di sini sekalipun. Kita sebut mereka Makhluk Baik, jika memang harus dibicarakan.”

“Repot. Apakah ada yang bisa kita bicarakan tanpa menimbulkan guruh?” Aku terdengar merengek, bahkan bagi diriku sendiri, tetapi saat itu aku tak peduli. “Kenapa sih aku harus tinggal di pondok sebelas? Kenapa semua orang berkumpul berjejal-jejal? Masih banyak tempat tidur kosong di sana.”

Aku menunjuk beberapa pondok pertama, dan Annabeth memucat. “Kita nggak bisa asal memilih pondok, Percy. Itu tergantung siapa kedua orangtuamu. Atau … salah satu orangtuamu.”

Dia menatapku, menungguku mencernanya.

“Ibuku Sally Jackson,” kataku. “Dia bekerja di toko permen di Grand Central Station. Setidaknya, dulu.”

“Maaf soal ibumu, Percy. Tapi bukan itu maksudku. Aku bicara soal orangtuamu yang satu lagi. Ayahmu.”

“Dia sudah mati. Aku nggak pernah kenal dia.”

Annabeth menghela napas. Tampak jelas bahwa dia sudah pernah mengalami percakapan ini dengan anak-anak lain. “Ayahmu belum mati, Percy.”

“Bagaimana kau bisa bilang begitu? Memangnya kau kenal?”

“Nggak, jelas nggak.”

“Jadi, bagaimana kau bisa bilang—”

“Karena aku kenal kau. Kau nggak mungkin berada di sini kalau kau bukan seperti kami.”

“Kau tak tahu apa-apa tentangku.”

“Oh ya?” Dia mengangkat sebelah alis. “Pasti kau sering pindah-pindah sekolah. Pasti kau dikeluarkan dari sebagian besar sekolah itu.”

“Bagaimana—”

“Didiagnosis mengidap disleksia. Mungkin GPPH juga.”

Aku berusaha menelan rasa Maluku. “Tapi apa hubungannya itu dengan hal lain?”

“Jika digabung, itu pertanda yang hampir pasti. Huruf seperti melayang-layang pada halaman kalau kau membaca kan? Itu karena otakmu terprogram untuk membaca huruf Yunani kuno. Dan GPPH—kau impulsive, nggak bisa diam di kelas. Itu refleks medan perang. Dalam pertempuran sungguhan, refleks itu membuatmu bertahan hidup. Dan soal sulit memerhatikan, itu karena kau melihat terlalu banyak, Percy, bukan terlalu sedikit. Indramu lebih baik daripada manusia biasa. Tentu saja para guru ingin kau diobati. Sebagian besar gurumu itu monster. Mereka nggak ingin kau melihat wujud mereka sesungguhnya.”

“Kau sepertinya … kau mengalami hal yang sama?”

“Sebagian besar anak di sini begitu. Kalau kau nggak seperti kami, kau nggak mungkin berhasil bertahan hidup melawan Minotaurus, apalagi ambrosia dan nektar.”

“Ambrosia dan nektar.”

“Makanan dan minuman yang kami berikan supaya kau sembuh. Makanan itu bisa membunuh anak biasa. Mengubah darahmu menjadi api dan tulangmu menjadi pasir dan kau pasti mati. Hadapilah. Kau anak blasteran.”

Blasteran.

Aku dikitari begitu banyak pertanyaan, aku tak tahu harus mulai dari mana.

Lalu sebuah suara serak berseru. “Wah! Anak baru!”

Aku menoleh. Si gadis besar dari pondok merah jelek sedang melenggang ke arah kami. Ada tiga gadis lain di belakangnya, semuanya besar dan jelek dan jahat seperti dia, semuanya mengenakan jaket loreng.

“Clarisse,” Annabeth menghela napas. “Asah saja tombakmu sana!”

“Tentu, Nona Tuan Putri,” kata si gadis besar. “Supaya aku bisa menusukmu dengan tombak itu malam Sabtu.”

“Erre es korakas!” kata Annabeth, yang entah bagaimana kupahami sebagai bahasa Yunani untuk ‘Pergi ke burung gagak sana!’ meskipun aku punya firasat bahwa ucapan itu adalah umpatan yang lebih kasar daripada yang terdengar. “Kau nggak mungkin bisa.”

“Kami akan mengganyangmu,” kata Clarisse, tetapi matanya berkedut. Mungkin dia nggak yakin bisa melaksanakan ancamannya. Dia menoleh kepadaku. “Siapa cebol kecil ini?”

“Percy Jackson,” kata Annabeth, “perkenalkan Clarisse, Putri Ares.”

Aku berkedip. “Maksudmu … Dewa Perang itu?”

Clarisse mencibir. “Kau punya masalah dengan itu?”

“Nggak,” kataku sambil memulihkan otakku. “Itu menjelaskan bau busuk yang kucium.”

Clarisse menggeram. “Ada upacara inisiasi untuk anak baru, Prissy.”

“Percy.”

“Terserah. Ayo, kutunjukkan.”

“Clarisse—” Annabeth berusaha berkata.

“Jangan ikut campur, Sok Pintar.”

Annabeth tampak tersinggung, tetapi dia tidak ikut campur, dan aku nggak terlalu ingin dibantu olehnya. Aku anak baru. Aku harus meraih reputasiku sendiri.

Aku menyerahkan tanduk minotaurku kepada Annabeth dan bersiap-siap berkelahi, tetapi tahu-tahu saja Clarisse sudah mencengkeram leherku dan menyeretku ke gedung balok semen yang langsung kutahu adalah kamar mandi.

Aku menendang-nendang dan meninju-ninju. Aku sudah sering berkelahi, tetapi Clarisse si gadis bongsor ini punya tangan seperti besi. Dia menyeretku ke kamar mandi anak perempuan. Ada jajaran toilet di satu sisi dan jajaran bilik pancuran di sisi lain. Baunya seperti kamar mandi umum mana pun, dan aku berpikir—sebatas yang bisa kupikir dengan Clarisse menjenggut rambutku—bahwa jika tempat ini milik para dewa, semestinya mereka mampu membiayai toilet yang lebih berkelas.

Teman-teman Clarisse semua tertawa, dan aku berusaha menemukan kekuatan yang kugunakan untuk melawan Minotaurus, tetapi kekuatan itu tidak ada.

“Tingkahnya seolah-olah dia anak ‘Tiga Besar’ saja,” kata Clarisse sambil mendorongku ke salah satu toilet. “Mana mungkin. Minotaurus itu barangkali mati ketawa, melihat tampangnya yang begitu tolol.”

Teman-temannya tertawa licik.

Annabeth berdiri di sudut, menonton melalui sela-sela jari.

Clarisse membuatku berlutut dan membungkukkan tubuhku dan mulai mendorong kepalaku ke mangkuk toilet. Bauya seperti pipa berkarat dan, yah, seperti benda yang masuk ke toilet. Aku berusaha mengangkat kepala. Aku menatap air kotor itu, berpikir, aku tak akan masuk ke situ. Tak akan.

Lalu, sesuatu terjadi. Terasa sentakan di perutku. Kudengar perpipaan menggerumuh, pipa-pipa gemetar. Cengkeraman Clarisse pada rambutku melonggar. Air muncrat dari toilet, melengkung melewati kepalaku, dan tahu-tahu saja aku terkapar di ubin kamar mandi sementara Clarisse berteriak-teriak di belakangku.

Aku menoleh persis ketika air muncrat dari toilet lagi, telak mengenai wajah Clarisse, begitu keras sehingga dia terjengkang. Air itu terus menyemburnya seperti semprotan slang pemadam kebakaran, mendorongya mundur ke dalam bilik pancuran.

Dia meronta-ronta, megap-megap, dan teman-temannya mulai menghampiri-nya. Tetapi lalu toilet lain meledak juga, dan enam arus air toilet lagi mendorong mereka mundur. Pancuran juga bertingkah, dan bersama-sama semua perlengkap-an menyemprot gadis-gadis jaket loreng itu keluar kamar mandi, memutar-mutar mereka seperti sampah yang digelontor.

Begitu mereka keluar pintu, kurasakan sentakan di perutku mereda, dan air itu mati secepat dimulainya.

Seluruh kamar mandi banjir. Annabeth tidak terkecuali. Dia basah kuyup, tetapi tidak terdorong keluar pintu. Dia berdiri di tempat yang persis sama, menatapku terlongong-longong.

Aku melihat ke bawah dan menyadari bahwa aku duduk di satu-satunya tempat kering di seluruh kamar. Ada lingkaran lantai kering di sekelilingku. Pakaianku tidak terkena setetes air pun. Setetes pun tidak.

Aku berdiri, kakiku gemetar.

Kata Annabeth, “Bagaimana kau …”

“Nggak tahu.”

Kami berjalan ke pintu. Di luar, Clarisse dan teman-temannya terkapar di lumpur, dan sekumpulan pekemah lain telah berkerumun untuk melihat sambil terbelalak. Rambut Clarisse menempel pada wajahnya. Jaket lorengnya basah kuyup dan dia bau seperti selokan. Dia melemparkan pandangan kebencian mutlak kepadaku. “Kau cari mati, Anak Baru. Kau benar-benar cari mati.”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca