Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

Aku terus berjalan, berusaha menghindari kaki-kaki Chiron. “Centaurus lain belum kelihatan,” komentarku.

“Tidak,” kata Chiron sedih. “Kerabatku itu bangsa yang liar dan barbar, sayangnya. Mereka biasanya berada di alam liar, atau di acara olahraga besar. Tapi tak akan terlihat di sini.”

“Bapak bilang, nama Bapak Chiron. Apakah Bapak benar-benar ….”

Dia tersenyum kepadaku. “Chiron sungguhan dari cerita-cerita itu? Pelatih Hercules dan lain-lain? Ya, Percy, itu aku.”

“Tapi, bukankah semestinya Bapak sudah mati?”

Chiron berhenti sejenak, seolah-olah pertanyaan itu memikat perhatiannya. “Aku benar-benar tak tahu soal semestinya. Sesungguhnya, aku tidak bisa mati. Soalnya, berabad-abad yang lalu para dewa mengabulkan permintaanku. Aku boleh melanjutkan pekerjaan yang kucintai. Aku boleh menjadi guru para pahlawan sepanjang umat manusia membutuhkan. Aku telah memperoleh banyak dari permintaan itu … dan telah mengorbankan banyak hal. Tapi aku masih di sini, jadi aku hanya bisa berasumsi bahwa aku masih dibutuhkan.”

Aku berpikir tentang menjadi guru selama tiga ribu tahun. Itu tak akan masuk menjadi Sepuluh Hal yang Paling Kuinginkan.

“Apa Bapak nggak pernah bosan?”

“Tidak, tidak,” katanya. “Sangat membuat depresi, kadang-kadang, tetapi tak pernah bosan.”

“Kenapa depresi?”

Chiron tampaknya menjadi budek lagi.

“Eh, lihat,” katanya. “Annabeth menunggu kita.”

* * *

Gadis pirang yang kutemui di Rumah Besar sedang membaca buku di depan pondok terakhir di sebelah kiri, nomor sebelas.

Ketika kami sampai di sana, dia memandangku penuh kritik, seolah-olah dia masih teringat seberapa banyak aku mengiler.

Aku berusaha melihat apa yang sedang dibacanya, tetapi aku tak bisa membaca judulnya. Tadinya kusangka disleksiaku kumat lagi. Lalu, kusadari bahwa judulnya memang bukan berbahasa Inggris. Hurufnya kelihatannya huruf Yunani. Benar-benar Yunani. Ada gambar berbagai kuil dan patung dan tiang berbagai jenis, seperti yang ada dalam buku arsitektur.

“Annabeth,” kata Chiron, “aku ada mata pelajaran panah ahli pada tengah hari. Kau bisa mengambil alih Percy?”

“Iya, Pak.”

“Pondok sebelas,” kata Chiron memberitahuku, menunjuk pintu. “Semoga betah.”

Di antara semuanya, pondok sebelas ini yang paling mirip dengan pondok perkemahan musim panas yang biasa, dan tampak tua. Ambangnya sudah lapuk, cat cokelatnya terkelupas. Di atas ada salah satu lambang dokter, tongkat bersayap yang dililit dua ekor ular. Apa namanya …? Caduceus.

Bagian dalam pondok itu dipenuhi orang, baik perempuan maupun lelaki, jauh lebih banyak daripada jumlah tempat tidur tingkat. Kantong tidur tersebar di seluruh lantai. Suasananya mirip gimnasium yang dijadikan pusat pengungsian oleh Palang Merah.

Chiron tidak masuk. Pintu itu terlalu rendah baginya. Tapi, ketika para pekemah melihatnya, mereka semua berdiri dan membungkuk hormat.

“Baiklah,” kata Chiron. “Selamat berjuang, Percy. Sampai ketemu saat makan malam.”

Dia berderap menuju arena panah.

Aku berdiri di pintu, melihat anak-anak itu. Mereka sudah tidak membungkuk lagi. Mereka menatapku, mengukur-ukur. Aku kenal rutinitas ini. Aku sudah mengalaminya di cukup banyak sekolah.

“Jadi?” Annabeth mendesak. “Ayo masuk.”

Tentu saja aku tersandung saat memasuki pintu dan tampak bodoh. Beberapa pekemah cekikikan, tetapi tak ada yang berkata apa-apa.

Annabeth mengumumkan, “Percy Jackson, kuperkenalkan pondok sebelas.”

“Biasa atau belum ditentukan?” tanya seseorang.

Aku tak tahu harus menjawab apa, tetapi Annabeth berkata, “Belum ditentukan.”

Semua orang mengerang.

Seorang anak lelaki yang lebih tua dari yang lain melangkah maju. “Nah, nah, pekemah. Itulah tujuan kita berada di sini. Selamat datang, Percy. Kau boleh menempati lantai di sana.”

Anak itu berumur sekitar sembilan belas tahun, dan kayaknya anaknya cukup asyik. Dia jangkung dan berotot, dengan rambut warna pasir yang dipotong pendek dan senyum ramah. Dia mengenakan tank top jingga, celana ngatung, sandal, dan kalung kulit berhias lima manik warna-warni dari tanah liat. Satu-satunya hal yang membuat tidak nyaman soal penampilannya adalah bekas luka putih dan tebal yang terentang dari tepat di bawah mata kiri ke rahang, seperti luka lama dari sabetan pisau.

“Ini Luke,” kata Annabeth, dan entah bagaimana suaranya terdengar berbeda. Aku melirik dan berani sumpah wajah gadis itu memerah. Dia melihatku melihatnya, dan rautnya mengeras lagi. “Dia pembinamu sementara ini.”

“Sementara ini?” tanyaku.

“Kau belum ditentukan,” Luke menjelaskan dengan sabar. “Mereka tak tahu harus menempatkanmu di pondok mana, jadi kau tinggal di sini dulu. Pondok sebelas menerima semua pendatang baru, semua tamu. Tentu saja kami mau menerima. Hermes, pelindung kami, adalah Dewa Pejalan.”

Aku melihat bagian lantai kecil yang diberikan kepadaku. Aku tak punya apa-apa untuk diletakkan di sana untuk menandainya sebagai milikku, tak ada koper, pakaian, kantong tidur. Hanya tanduk Minotaurus itu. Aku mempertimbangkan meletakkan itu, tetapi lalu aku ingat bahwa Hermes juga Dewa Pencuri.

Aku mengedarkan pandangan, melihat wajah para pekemah. Sebagian bermuka masam dan curiga, sebagian menyeringai tolol, sebagian memandangku seolah-olah sedang menunggu kesempatan mencopetku.

“Berapa lama aku akan di sini?” tanyaku.

“Pertanyaan bagus,” kata Luke. “Sampai kau ditentukan.”

“Berapa lama sampai aku ditentukan?”

Semua pekemah tertawa.

“Ayo,” kata Annabeth kepadaku. “Biar kuperlihatkan lapangan voli.”

“Aku sudah lihat.”

“Ayo.”

Dia menyambar pergelangan tanganku dan menyeretku keluar. Terdengar anak-anak pondok sebelas tertawa di belakangku.

* * *

Ketika kami sudah menjauh beberapa meter, Annabeth berkata, “Jackson, kau harus berusaha lebih keras daripada itu.”

“Apa?”

Dia memutar mata dan menggerutu, “Aku nggak percaya aku pernah berpikir bahwa kau orangnya.”

“Kau kenapa sih?” Aku mulai marah. “Aku cuma tahu, aku membunuh si manusia-banteng—”

“Jangan bicara seperti itu!” kata Annabeth. “Apa kau tahu, berapa banyak anak di perkemahan ini yang ingin mendapat kesempatan yang kau dapatkan?”

“Kesempatan dibunuh?”

“Kesempatan melawan Minotaurus! Memangnya menurutmu buat apa kami berlatih?”

Aku menggeleng. “Dengar. Jika makhluk yang kulawan benar-benar si Minotaurus, makhluk yang sama dengan yang dalam cerita-cerita ….”

“Ya.”

“Berarti hanya ada satu.”

“Ya.”

“Dan dia sudah mati jutaan tahun yang lalu kan? Dibunuh Theseus dalam labirin. Jadi ….”

“Monster nggak bisa mati, Percy. Bisa dibunuh. Tapi nggak mati.”

“Makasih banyak. Semuanya jadi jelas sekarang.”

“Mereka nggak punya jiwa, seperti kau dan aku. Mereka bisa dibuyarkan beberapa lama, mungkin bahkan selama seluruh hidup kita kalau kita beruntung. Tetapi mereka itu kekuatan purba. Chiron menyebutnya arketipe. Pada akhirnya mereka akan terbentuk kembali.”

Aku teringat Bu Dodds. “Maksudmu kalau aku membunuh satu, secara tak sengaja, dengan pedang—”

“Sang Eri … maksudku, guru matematikamu. Benar. Dia masih ada. Kau hanya membuatnya sangat-sangat marah.”

“Dari mana kau tahu soal Bu Dodds?”

“Kau mengigau.”

“Tadi kau hampir menyebut namanya. Seorang Erinyes? Itu penyiksa bawahan Hades, ya?”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca