Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

“Tapi dia berhasil kan!”

“Aku mungkin setuju denganmu,” kata Chiron. “Tapi bukan aku yang bertugas menentukan hal itu. Dionysus dan Dewan Tetua Berkuku Belah yang harus memutuskan. Sayangnya, mungkin mereka tak akan menganggap tugas ini berhasil dilaksanakan. Bagaimana pun, Grover kehilangan dirimu di New York. Lalu ada nasib ibumu yang … eh … tidak terlalu baik. Belum lagi kenyataan bahwa Grover sedang pingsan saat kau menyeretnya melewati batas wilayah. Dewan mungkin mempertanyakan apakah hal ini menunjukkan keberanian di pihak Grover.”

Aku ingin protes. Tak satu pun peristiwa itu salah Grover. Aku juga merasa sangat-sangat bersalah. Andai aku tidak meninggalkan Grover di stasiun bus, dia mungkin tak akan terkena masalah.

“Dia akan mendapat kesempatan kedua, kan?”

Chiron meringis. “Sayangnya, tugas ini adalah kesempatan kedua Grover, Percy. Dewan sebenarnya agak enggan memberinya kesempatan ini, setelah peristiwa pada tugas pertama, lima tahun yang lalu. Sungguh, aku menasihatinya agar menunggu lebih lama sebelum mencoba lagi. Dia masih sangat kecil untuk usianya ….”

“Berapa umurnya?”

“Oh, dua puluh delapan.”

“Apa! Dan dia masih kelas enam?”

“Kecepatan tumbuh satir itu setengah kecepatan manusia, Percy. Selama enam tahun terakhir, Grover setara dengan anak SMP.”

“Seram sekali.”

“Memang,” Chiron setuju. “Namun, Grover tetap termasuk yang pertumbuhannya terlambat, bahkan untuk ukuran satir, dan belum terlalu mahir sihir rimba. Namun, dia bersemangat mengejar impiannya. Mungkin sekarang dia harus mencari karier lain ….”

“Itu nggak adil,” kataku. “Apa yang terjadi pada tugas pertama? Memangnya seburuk itu?”

Chiron cepat berpaling. “Mari kita lanjutkan ke tempat lain.”

Tetapi, aku belum siap melepaskan topik itu. Suatu pikiran terlintas di kepalaku ketika Chiron berbicara tentang nasib ibuku, seolah-olah dia sengaja menghindari kata kematian. Benih gagasan—api kecil penuh harap—mulai terbentuk dalam benakku.

“Chiron,” kataku. “Kalau dewa-dewi dan Olympus dan semuanya nyata ….”

“Ya, Nak?”

“Apa itu berarti Dunia Bawah Tanah juga nyata?”

Raut Chiron menggelap.

“Ya, Nak.” Dia berhenti sejenak, seolah memilih kata dengan hati-hati. “Ada tempat yang dituju arwah setelah kematian. Tetapi sementara ini … sampai kita tahu lebih banyak … kuanjurkan kau menyingkirkan itu dari benakmu.”

“Apa maksud Bapak, ‘sampai kita tahu lebih banyak’?”

“Ayo, Percy. Kita lihat-lihat hutan.”

* * *

Sementara kami mendekat, kusadari betapa besarnya hutan itu. Hutan itu meliputi setidaknya seperempat lembah itu, dengan pohon yang begitu rapat dan lebat, kau bisa membayangkan bahwa tak ada yang pernah masuk ke sana sejak orang Pribumi Amerika.

Chiron berkata, “Hutan itu dilengkapi pasokan, kalau kau ingin mencoba peruntungan, tapi jangan masuk tanpa senjata.”

“Pasokan apa?” tanyaku. “Senjata apa?”

“Lihat saja nanti. Permainan tangkap bendera diadakan malam Sabtu. Kau punya perisai dan pedang sendiri?”

“Sendiri—?”

“Tidak,” kata Chiron. “Tentu kau tidak punya. Kurasa ukuran lima akan pas. Nanti aku ke gudang senjata.”

Aku ingin bertanya, perkemahan musim panas macam apa yang memiliki gudang senjata, tetapi terlalu banyak hal lain yang perlu dipikirkan, jadi acara keliling itu dilanjutkan. Kami melihat arena panah, danau kano, istal (yang tampaknya tak begitu disukai Chiron), arena lembing, amfiteater bernyanyi bersama, dan arena yang menurut Chiron merupakan tempat pertempuran pedang dan tombak.

“Pertempuran pedang dan tombak?” tanyaku.

“Tanding antarpondok dan semacamnya,” dia menjelaskan. “Tidak mematikan. Biasanya. Oh ya, itu aula makan.”

Chiron menunjuk sebuah paviliun di udara terbuka, yang dibingkai tiang-tiang putih bergaya Yunani, di atas bukit yang menghadap ke laut. Ada selusin meja piknik dari batu. Tak ada atap. Tak ada dinding.

“Bagaimana kalau hujan?” tanyaku.

Chiron menatapku seolah-olah aku agak aneh. “Kita tetap harus makan, kan?” Kuputuskan untuk tak melanjutkan topik itu.

Akhirnya, dia mengajakku melihat pondok. Semuanya berjumlah dua belas, terlindung pepohonan di tepi danau. Pondok itu ditata berbentuk U, dengan dua di dasar dan lima berbaris di kedua sisi. Dan tak pelak lagi, semuanya adalah kumpulan gedung paling aneh yang pernah kulihat.

Selain kenyataan bahwa setiap pondok dipasangi nomor kuningan besar di atas pintu (nomor ganjil di kiri, nomor genap di kanan), semuanya sama sekali tidak mirip. Nomor sembilan memiliki beberapa cerobong asap, seperti pabrik mungil. Tembok pondok nomor empat ditumbuhi sulur tomat dan atapnya terbuat dari rumput sungguhan. Nomor tujuh tampaknya terbuat dari emas murni, yang begitu berkilau dalam cahaya matahari sehingga hampir tak bisa dipandang. Semuanya menghadap ke halaman bersama yang berukuran sekitar besar lapangan sepak bola, ditebari patung Yunani, air mancur, petak bunga, dan beberapa keranjang bola basket (yang lebih cocok dengan seleraku).

Di tengah lapangan terdapat lubang perapian besar yang bertepi batu. Meskipun udara sore itu panas, perapian itu membara. Seorang gadis sekitar sembilan tahun menjaga api, menyodok-nyodok arang dengan tongkat.

Sepasang pondok di ujung lapangan, nomor satu dan dua, mirip dengan pusara sepasang suami-istri, berupa dua kubus besar dari marmer putih, dengan tiang-tiang besar di depan. Pondok satu adalah pondok terbesar dan terluas di antara kedua belas pondok. Pintu-pintu perunggunya yang mengilat cemerlang seperti hologram, sehingga dari berbagai sudut tampak seolah-olah sambaran petir menyambar di permukaannya. Pondok dua entah bagaimana tampak lebih anggun, tiangnya lebih ramping, dihiasi dengan buah delima dan bunga-bungaan. Dinding-dindingnya diukir dengan gambar merak.

“Zeus dan Hera?” tebakku.

“Benar,” kata Chiron.

“Pondok mereka sepertinya kosong.”

“Beberapa pondok memang kosong. Benar. Tak ada yang pernah tinggal di pondok satu dan dua.”

Oke. Jadi, setiap pondok memiliki dewa yang berbeda-beda, seperti maskot. Dua belas pondok untuk dua belas dewa dewi Olympus. Tetapi kenapa ada yang kosong?

Aku berhenti di depan pondok pertama di sebelah kiri, pondok tiga.

Pondok itu tidak semewah pondok satu, tetapi panjang dan rendah dan kokoh. Tembok luarnya terbuat dari batu kelabu kasar yang dihiasi dengan potongan cangkang laut dan karang, seolah-olah lempeng-lempeng itu dipotong langsung dari dasar laut. Aku mengintip ke dalam pintu yang terbuka dan Chiron berkata, “Sebaiknya jangan!”

Sebelum sempat menarikku mundur, aku menangkap aroma asin bagian dalam, seperti angin di pesisir di Montauk. Dinding bagian dalamnya berpendar seperti abalone[2]. Ada enam tempat tidur tingkat yang kosong, dengan seprai supra terbalik. Tapi tak ada tanda-tanda pernah ditiduri. Tempat itu terasa begitu sedih dan sepi, aku lega ketika Chiron meletakkan tangannya di bahuku dan berkata, “Mari, Percy.”

Sebagian besar pondok lain dipenuhi pekemah.

Nomor lima merah cerah—catnya benar-benar jelek, seolah-olah warna itu disiramkan dengan ember dan tangan. Atapnya dilapisi kawat berduri. Di atas pintu tergantung kepala celeng liar yang diawetkan, dan matanya seolah-olah mengikutiku. Di dalam telrihat sekelompok anak yang bertampang jahat, baik lelaki maupun perempuan, bermain panco dan bertengkar sementara musik rock membahana. Yang terlantang adalah seorang gadis yang berusia mungkin tiga belas atau empat belas. Dia mengenakan kaus PERKEMAHAN BLASTERAN ukuran XXXL di balik jaket loreng tentara. Dia melihatku dan menyeringai jahat kepadaku. Dia mengingatkanku pada Nancy Bobofit, meskipun gadis pekemah ini jauh lebih besar dan lebih tangguh, dan rambutnya panjang dan tipis, dan warnanya cokelat bukan merah.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca