Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

“Maksud Bapak, dewa-dewi Yunani sekarang ada di sini? Maksudku … di Amerika?”

“Tentu saja. Para dewa berpindah-pindah mengikuti jantung Barat.”

“Mengikuti apa?”

“Masa nggak tau. Yang kau sebut ‘peradaban Barat’. Kau pikir itu cuma konsep abstrak? Bukan, itu kekuatan yang hidup. Kesadaran kolektif yang berkobar terang selama ribuan tahun. Dewa-dewi termasuk di dalamnya. Bahkan boleh dibilang, merekalah sumbernya, dan setidaknya, mereka terikat erat dengannya sehingga mereka tak mungkin memudar, kecuali jika seluruh peradaban Barat dihancurkan. Api itu dimulai di Yunani. Lalu, seperti yang kau ketahui—aku berharap kau tahu, karena kau lulus mata pelajaranku—jantung api itu pindah ke Roma, demikian pula dewa-dewinya. Mungkin namanya memang baru—Jupiter untuk Zeus, Venus untuk Aphrodite, dan seterusnya—tetapi kekuatan yang sama, dewa-dewi yang sama.”

“Lalu mereka mati.”

“Mati? Tidak. Apakah dunia Barat mati? Para dewa cuma pindah, ke Jerman, ke Prancis, ke Spanyol, beberapa lama. Di mana pun api itu paling terang, di situlah para dewa. Mereka melewatkan beberapa abad di Inggris. Kita tinggal melihat arsitekturnya. Orang tak pernah melupakan para dewa. Di setiap tempat mereka berkuasa, selama tiga ribu tahun terakhir, mereka tampil dalam lukisan, dalam patung, pada gedung-gedung terpenting. Dan benar, Percy, tentu saja mereka sekarang berada di Amerika Serikatmu. Lihat saja lambang negaramu, elang Zeus. Lihat saja Prometheus di Rockefeller Center, ukiran Yunani gedung-gedung pemerintah di Washington. Coba kau temukan kota Amerika mana yang tidak menampilkan dewa-dewi Olympia secara menonjol di berbagai tempat. Suka tidak suka—dan yakinlah, dulu juga banyak orang yang tak menyukai Roma—Amerika adalah jantung api itu sekarang. Di sinilah kekuatan Barat yang besar. Maka, Olympus juga berada di sini. Dan kita berada di sini.”

Keterangan ini terlalu banyak, terutama kenyataan bahwa aku tampaknya disertakan dalam kita yang diucapkan Chiron, seolah-olah aku termasuk klub entah apa.

“Siapa Bapak sebenarnya? Siapa … siapa aku?”

Chiron tersenyum. Dia beringsut seolah-olah hendak bangkit dari kursi roda, tetapi aku tahu itu mustahil. Dia lumpuh dari pinggang ke bawah.

“Siapa kau?” dia bertanya. “Nah, kita semua ingin pertanyaan itu terjawab, bukan? Tetapi, sementara ini, sebaiknya kau tidur di pondok sebelas. Ada teman-teman baru yang akan kau temui. Dan besok ada banyak waktu untuk pelajaran. Lagi pula, malam ini akan ada acara lagi di api unggun, dan aku sangat suka cokelat.”

Lalu, dia benar-benar bangkit dari kursi roda. Tetapi, cara dia melakukan itu agak aneh. Selimutnya terjatuh dari kakinya, tetapi kaki itu tidak bergerak. Pinggangnya terus saja memanjang, naik di atas sabuknya. Pertama-tama, kusangka dia mengenakan celana dalam beludru putih yang sangat panjang. Tetapi, saat dia terus bangkit dari kursi roda, lebih tinggi daripada manusia mana pun, kusadari bahwa celana dalam beludru itu bukan celana dalam, melainkan bagian depan seekor hewan, otot dan urat di balik bulu putih yang kasar. Dan kursi roda itu bukan kursi, melainkan semacam wadah, kotak raksasa beroda. Kursi itu pasti kursi ajaib, karena ukurannya tak mungkin bisa menampung seluruh tubuh Chiron. Sebuah kaki keluar, panjang dan berlutut menonjol, dengan kuku kaki besar yang berkilat. Lalu satu lagi kaki depan, lalu kaki belakang, lalu kotak itu kosong, sekadar selongsong logam yang ditempeli sepasang kaki manusia palsu.

Aku menatap kuda yang baru saja keluar dari kursi roda itu: seekor kuda jantan putih yang sangat besar. Tetapi, di tempat yang semestinya ditempati leher, ada bagian atas tubuh guru Latinku, secara mulus terpasang pada tubuh kuda.

“Lega rasanya,” kata si centaurus. “Sudah lama sekali aku terkurung di situ, bulu kakiku sudah kebas. Nah, mari, Percy Jackson. Mari kita temui para pekemah lain.”

6. Aku Menjadi Penguasa Tertinggi Kamar Mandi

Setelah aku mampu menerima bahwa guru bahasa Latinku seekor kuda, kami menikmati acara jalan-jalan berkeliling perkemahan, tetapi aku berhati-hati agar tidak berjalan di belakangnya. Aku sudah pernah beberapa kali bertugas membersihkan kotoran di Pawai Hari Thanksgiving dari toko Macy, dan, maaf saja, aku tak memercayai bagian pantat Chiron sebesar aku memercayai bagian depannya.

Kami melewati lapangan bola voli. Beberapa pekemah saling menyikut. Seseorang menunjuk tanduk minotaurus yang kubawa. Seorang lagi berkata, “Dia orangnya.”

Sebagian besar pekemah lebih tua dariku. Teman-teman satir mereka lebih besar daripada Grover, yang kesemuanya berlari-lari mengenakan kaus PERKEMAHAN BLASTERAN warna jingga, tanpa pakaian lain untuk menutupi kaki belakang gondrong mereka yang telanjang. Aku biasanya tidak pemalu, tetapi cara mereka menatapku membuatku rikuh. Aku merasa mereka mengharapkan aku bersalto atau apa.

Aku menoleh ke belakang, ke rumah pertanian itu. Rumah itu jauh lebih besar daripada yang sebelumnya kusadari—tingginya empat tingkat, berwarna biru langit dengan pinggiran putih, seperti sanggraloka tepi laut kelas atas. Aku sedang memerhatikan gada-gada berbentuk elang perunggu di atap, ketika sesuatu menarik perhatianku, sebuah bayangan di jendela teratas di cerucup loteng. Sesuatu menggerakkan tirai, sedetik saja, dan aku merasakan kesan jelas bahwa aku sedang diamati.

“Ada apa di atas sana?” tanyaku kepada Chiron.

Dia melihat ke arah yang kutunjuk, dan senyumnya memudar. “Cuma loteng.”

“Ada yang tinggal di sana?”

“Tak ada,” katanya tegas. “Tak satu pun makhluk hidup.”

Aku merasa bahwa dia berbicara jujur. Tetapi, aku juga yakin ada yang menggerakkan tirai itu.

“Ayo, Percy,” kata Chiron, nadanya yang ringan kini agak dipaksakan. “Banyak yang harus dilihat.”

* * *

Kami melintasi ladang stroberi. Para pekemah memetik berkeranjang-keranjang stroberi sementara seorang satir memainkan lagu dengan seruling.

Chiron bercerita bahwa perkemahan itu menghasilkan panen yang lumayan untuk dijual ke restoran-restoran New York dan Gunung Olympus. “Ini menutupi pengeluaran kami,” katanya menjelaskan. “Dan menanam stroberi ini hampir tak memerlukan usaha.”

Katanya, Pak D berpengaruh baik pada tumbuhan buah: semuanya tumbuh melimpah saat dia ada. Pengaruh itu paling bagus pada anggur untuk minuman, tetapi Pak D dilarang menanam itu, jadi mereka menanam stroberi saja.

Aku mengamati si satir bermain seruling. Musiknya menyebabkan barisan-barisan kumbang meninggalkan petak stroberi ke segala arah, seperti pengungsi yang melarikan diri dari api. Aku bertanya-tanya apakah Grover dapat menyihir dengan musik seperti itu. Aku bertanya-tanya apakah dia masih di dalam rumah pertanian, disemprot oleh Pak D.

“Grover nggak akan dihukum terlalu berat, kan?” tanyaku kepada Chiron. “Maksudku … dia pelindung yang baik. Sungguh.”

Chiron menghela napas. Dia menanggalkan jaket wol dan menyampirkannya di punggung kudanya seperti pelana. “Grover punya impian besar, Percy. Mungkin besarnya sudah tak lagi masuk akal. Untuk mencapai tujuannya, dia pertama-tama harus menunjukkan keberanian besar, dengan cara menjadi penjaga yang berhasil, yaitu mencari pekemah baru dan membawanya dengan selamat ke Bukit Blasteran.”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca