Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

“Nah,” kata Chiron. “Tuhan—dengan T besar, Tuhan. Itu masalah yang lain sama sekali. Kita tak akan membahas hal metafisika.”

“Metafisika? Tapi barusan Bapak bicara soal—”

“Ah, dewa-dewi, makhluk-makhluk adikuasa yang mengendalikan kekuatan alam dan kegiatan manusia: dewa-dewi abadi dari Olympus. Itu masalah yang lebih kecil.”

“Lebih kecil?”

“Ya, benar. Dewa-dewi yang kita bahas dalam mata pelajaran bahasa Latin.”

“Zeus,” kataku. “Hera. Apollo. Maksud Bapak, mereka.”

Lalu terdengar lagi—guruh di kejauhan pada hari tanpa awan.

“Anak Muda,” kata Pak D, “sebaiknya kau jangan terlalu sembarangan menyebut-nyebut nama itu.”

“Tapi mereka kan cuma cerita,” kataku. “Cuma—mitos, untuk menjelaskan petir dan musim dan sebangsanya. Cuma keyakinan orang sebelum ada ilmu pengetahuan.”

“Ilmu pengetahuan!” Pak D mendengus. “Dan coba sebutkan, Perseus Jackson”—aku berjengit saat dia mengucapkan nama asliku, yang tak pernah kuceritakan kepada siapa pun—”bagaimana kira-kira pendapat orang tentang ‘ilmu pengetahuanmu’ ini dua ribu tahun dari sekarang?” Pak D melanjutkan. “Hmm? Mereka akan bilang itu cuma mantra primitive. Begitu. Aku suka kok pada manusia—mereka tak punya rasa perspektif sama sekali. Mereka menganggap mereka sudah berhasil meraih kemajuan besaaar. Dan benarkah itu, Chiron? Lihat anak ini dan beri tahu aku.”

Aku tidak terlalu menyukai Pak D, tetapi cara dia menyebutku manusia menyiratkan seolah-olah bahwa dia … bukan manusia. Itu sudah cukup untuk menimbulkan ganjalan di tenggorokanku. Sudah cukup untuk sedikit menjelaskan mengapa Grover menata kartu dengan patuh, mengunyah kaleng soda, dan tutup mulut.

“Percy,” kata Chiron, “kau boleh memilih percaya atau tidak, tetapi kenyataannya adalah makhluk abadi memang hidup abadi. Bisakah kau bayangkan sesaat, tak pernah mati? Tak pernah menua? Berwujud seperti diri kita sekarang, tetapi selamanya?”

Aku hendak menjawab dengan pikiran yang langsung tebersit di kepala, bahwa hidup abadi sepertinya menyenangkan, tetapi nada suara Chiron membuatku ragu.

“Maksud Bapak, baik orang percaya dewa ada atau tidak,” kataku.

“Persis,” kata Chiron menyepakati. “Andai kau ini dewa, apa kau suka kalau kau disebut cuma mitos, kisah lama untuk menjelaskan petir? Bagaimana kalau aku memberitahumu, Perseus Jackson, bahwa suatu hari nanti orang berkata bahwa kau cuma mitos, diciptakan sekadar untuk menjelaskan bagaimana cara seorang anak pulih dari peristiwa kehilangan ibunya?”

Jantungku berdebar-debar. Dia sedang berusaha membuatku marah, entah kenapa, tapi tak akan kubiarkan. Kataku, “Jelas saya tak akan suka. Tapi saya tak percaya ada dewa-dewi.”

“Sebaiknya kau percaya,” gumam Pak D. “Sebelum kau dihanguskan oleh salah satu dari mereka.”

Kata Grover, “T-tolong, Pak. Dia baru kehilangan ibunya. Dia sedang syok.”

“Untunglah,” gerutu Pak D, memainkan sebuah kartu. “Sudah cukup buruk aku terperangkap di pekerjaan menyebalkan ini, bekerja dengan anak-anak yang bahkan tidak percaya!”

Dia melambaikan tangan. Sebuah gelas piala muncul di atas meja, seolah-olah cahaya matahari membelok sesaat, dan menganyam udara menjadi gelas. Gelas itu terisi sendiri dengan anggur merah.

Mulutku menganga, tetapi Chiron tidak menoleh.

“Pak D,” dia memperingatkan, “laranganmu.”

Pak D menatap anggur itu dan berpura-pura kaget.

“Astaga.” Dia menatap ke langit dan berseru, “Kebiasaan lama! Maaf!”

Guruh lagi.

Pak D melambaikan tangan lagi, dan gelas anggur itu berubah menjadi sekaleng penuh Diet Coke. Dia menghela napas sedih, membuka kaleng soda itu, dan kembali ke permainan kartu.

Chiron mengedipkan mata kepadaku. “Belum lama ini Pak D menyinggung perasaan ayahnya, karena jatuh hati pada peri pohon yang sudah dinyatakan terlarang.”

“Peri pohon,” ulangku, masih menatap kaleng Diet Coke yang seolah-olah muncul dari luar angkasa.

“Ya,” Pak D mengaku. “Ayah senang menghukumku. Pertama kalinya, dengan Undang-Undang Anti-Alkohol. Mengerikan! Benar-benar sepuluh tahun yang menyiksa! Yang kedua—yah, dia memang sangat cantik, dan aku tak tahan berjauhan dengannya—kedua kali, dia mengirimku ke sini. Bukit Blasteran. Perkemahan musim panas untuk anak-anak manja sepertimu. ‘Jadilan pengaruh yang baik,’ katanya kepadaku. ‘Binalah kaum muda, jangan merusaknya.’ Ha! Benar-benar tak adil.”

Pak D kedengaran seperti anak umur enam tahun, seperti anak kecil yang merajuk.

“Dan …” aku terbata, “ayah Bapak adalah …”

“Di immortales, Chiron,” kata Pak D. “Kusangka kau sudah mengajari anak ini dasar-dasarnya. Ayahku Zeus, tentu saja.”

Aku mengingat-ingat semua nama berawalan D dalam mitologi Yunani. Anggur. Kulit harimau. Semua satir yang tampaknya bekerja di sini. Cara Grover berjengit, seolah-olah Pak D adalah majikannya.

“Bapak ini Dionysus,” kataku. “Dewa Anggur.”

Pak D memutar mata. “Apa kata orang zaman sekarang, Grover? Apa anak-anak berkata, ‘Ya iyalah!’?”

“I-iya, Pak D.”

“Nah. Ya iyalah! Percy Jackson. Memangnya kau pikir aku ini Aphrodite, barangkali?”

“Bapak ini dewa?”

“Iya, Bocah.”

“Bapak? Dewa?”

Dia menoleh untuk menatapku lurus-lurus. Terlihat semacam api keunguan di matanya, pertanda bahwa lelaki kecil gempal yang merengek-rengek ini baru menunjukkan sedikit saja perangai sejatinya. Kulihat bayangan sulur anggur yang mencekik orang-orang tak percaya hingga mati, para pendekar mabuk yang menjadi gila dengan hasrat bertempur, para pelaut yang menjerit saat tangannya berubah menjadi sirip dan wajahnya memanjang menjadi moncong lumba-lumba. Aku tahu bahwa jika aku mendesaknya, Pak D akan menunjukkan hal-hal yang lebih buruk. Dia akan menanamkan penyakit di dalam otakku, yang akan menyebabkan aku memakai jaket pengaman dalam kamar berdinding lapis karet selama sisa hidupku.

“Kau mau mengujiku, Bocah?” katanya lirih.

“Tidak. Tidak, Pak.”

Api itu padam sedikit. Dia kembali ke permainan kartu. “Sepertinya aku menang.”

“Belum tentu, Pak D,” kata Chiron. Dia meletakkan kartu straight, menghitung nilai, dan berkata, “Permainan ini aku yang menang.”

Kusangka Pak D akan memusnahkan Chiron langsung di kursi rodanya, tetapi dia hanya mengembuskan napas melalui hidung, seolah-olah dia terbiasa dikalahkan oleh si guru bahasa Latin. Dia berdiri, dan Grover juga bangkit.

“Aku capek,” kata Pak D. “Aku mau tidur siang dulu saja, sebelum acara nyanyi bersama malam ini. Tetapi, pertama-tama, Grover, kita perlu bicara, lagi, tentang kinerjamu yang kurang sempurna pada tugas ini.”

Wajah Grover bertaburan peluh. “I-iya, Pak.”

Pak D menoleh kepadaku. “Pondok sebelas, Percy Jackson. Dan jaga kelakuanmu.”

Dia masuk ke dalam rumah pertanian, Grover mengikutinya dengan merana.

“Apa Grover nggak akan apa-apa?” tanyaku kepada Chiron.

Chiron mengangguk, tetapi dia tampak sedikit cemas. “Dionysus Tua tidak benar-benar marah. Dia hanya membenci pekerjaannya. Dia telah … eh, dihukum, barangkali boleh dibilang begitu. Dia tak tahan, harus menunggu seabad lagi sebelum diizinkan pulang ke Olympus.”

“Gunung Olympus,” kataku. “Maksud Bapak, di sana benar-benar ada istana?”

“Nah, memang ada Gunung Olympus yang di Yunani. Tapi, ada juga tempat tinggal para dewa, titik pertemuan kekuatan mereka, yang dulu memang terletak di Gunung Olympus. Tempat itu sekarang masih disebut Gunung Olympus untuk menghormati adat lama, tetapi istana itu berpindah-pindah, Percy, sama seperti para dewa.”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca